RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Penolakan


__ADS_3

Mama Saras memperhatikan Kirania yang sedang packing baju-baju yang akan dibawanya. Besok Kirania memang harus ke Jakarta, karena Senin pagi dia sudah mulai aktivitasnya di kantor pusat.


" Kamu jaga diri baik-baik di sana ya, Ran. Dulu waktu masih ada pakde kamu, Mama bisa tenang. Sekarang kamu sendirian di kota sebesar Jakarta, Mama jadi khawatir, Ran." Mama Saras terasa berat melepas Kirania sendiri di Jakarta. Karena Pakde Danang sudah meninggal dua tahun lalu, sedangkan Bude Arum memilih kembali ke keluarganya di Purwokerto, karena mereka tidak mempunyai anak.


" Iya, Mah."


" Kamu benar sudah dapat tempat tinggal di sana, Ran?"


" Iya, Mah. katanya sih disediakan fasilitas tempat kost gitu," sahut Kirania.


" Mama masih belum rela melepas kamu sendiri, Ran." Mama Saras langsung memeluk tubuh putri sulungnya itu.


" Mama nggak usah khawatir, Rania akan baik-baik saja kok, Ma." Kirania mengelus lembut punggung mamanya. Sesungguhnya dia sendiri merasa berat harus kembali meninggalkan Mama Saras dan Karina


***


Kirania berangkat menuju kota Jakarta Minggu pagi ini, menggunakan mobil dinasnya yang selama ini dia gunakan untuk operasional dia selama dia bekerja di kantor cabang dulu. Dia meminta bantuan Pak Beni, salah satu supir di kantor dulu, untuk mengantarnya ke Jakarta, jadi mobil yang selama ini dia pakai bisa dibawa pulang Pak Beni kembali.


Sebelumnya Kirania sudah dapat konfirmasi dari kantor barunya, di mana dia akan tinggal nanti. Dia sudah mengatur jadwal dengan salah satu karyawan di sana yang akan mengantarkan ke tempat tinggalnya nanti.


Kirania menatap sebuah bangunan sederhana yang kini tampak kosong. Beberapa tahun silam, dia pernah tinggal selama empat tahun di rumah kecil itu. Rumah Almarhum Pakde Danang dan Bude Arum. Banyak kenangan di rumah kecil itu, membuatnya merasa sangat kehilangan sosok pria pengganti papanya setelah papanya pergi. Tapi sekarang Pakde Danang pun sudah pergi menyusul papanya. Tanpa terasa air mata menetes di pipi mulusnya.


" Ini ... Rania bukan, ya?"


Seseorang menyapa Kirania yang masih berdiri tercenung di depan rumah pakdenya dulu.


" Mbak Lulu?" Kirania mengenali wanita yang menyapanya. Dia buru-buru menyeka air matanya.


" Kamu kok ada di sini? Mau tinggal di sini lagi, Ran?" tanya Lulu yang merupakan tetangga depan rumah Pakde Danang dulu.


" Nggak, Mbak. Kebetulan saja aku sedang ada di Jakarta, jadi kangen tempat ini." Kirania kembali menatap rumah yang kini terlihat kosong tak berpenghuni, karena saat mengutarakan niatnya kembali ke Purwokero, setelah berdiskusi dengan mamanya, Bude Arum memutuskan untuk menjual rumah itu.


" Oh ya, Bude kamu gimana kabarnya?" tanya Lulu lagi.


" Bude juga Alhamdulillah baik, Mbak." Walau sudah kembali ke kampung halamannya tapi komunikasi dia dan budenya tetap terjalin.


" Jadi kangen juga dengan Bude kamu," kata Lulu.

__ADS_1


" Tan, aku pulang dulu, ya." teriak seorang gadis yang keluar dari dalam rumah Lulu.


Kirania mendapati seorang anak gadis kisaran usia sepuluh tahun berjalan mendekat ke arah Lulu.


" Na, sini ... kamu masih ingat nggak, ini siapa?_ Lulu merangkul gadis muda itu lalu menunjuk ke arah Kirania.


Gadis muda itu menatap Kirania seraya mengeryitkan keningnya mencoba mengingat.


" Memang siapa, Tan?"


Kirania sedikit menautkan kedua alisnya, mengetahui gadis muda itu tak mengenalinya.


" Ini Reyna ya, Mbak?" Kirania sendiri mengenali wajah gadis muda itu walaupun terakhir ketemu gadis muda itu masih di bawah usia lima tahun.


" Iya, Ran. Ini Reyna anaknya Mas Reyhan,". sahut Lulu. " Reyna masa nggak ingat sama Kak Rania? Dulu waktu kecil kamu dekat sama Kak Rania ini, lho. Dulu kamu selalu panggil Kak Rania ini dengan panggilan Kak Kilan, karena dulu kamu masih cadel." Lulu berusaha mengingatkan keponakannya itu.


" Hmmm, maaf Tante, saya nggak ingat siapa Tante."


Kirania menanggapi ucapan Reyna, yang kini memanggilnya dengan sebutan Tante dengan senyuman. Dia mengerti kenapa Reyna kini tak mengenali dirinya. Mungkin karena saat itu Reyna masih terlalu kecil untuk mengingat suatu kejadian, atau mungkin juga karena penolakan yang dilakukannya kepada oleh Reyna dulu.


Sejak berita Dirga - Kirania putus, Reyhan semakin getol mendekati Kirania. Dengan alasan Reyna, Reyhan selalu menemukan alasan yang tepat untuk membuatnya bisa dekat dengan Kirania. Bahkan gosip yang tersebar luas tentang hubungan dosen dan mahasiswinya itu diartikan sebagai penyebab putusnya hubungan Dirga dan Kirania.


Kirania sebenarnya jengah dengan berita itu. Kirania kini berusaha menjauh dan menjaga jarak dengan dosennya itu. Apalagi kedua sahabatnya pun juga sudah mewanti-wanti.


" Kalau kamu nggak ada hati dengan Pak Reyhan sebaiknya kamu jangan terlalu dekat dengan Pak Reyhan, Ran. Jangan memberi harapan palsu. Apalagi Pak Reyhan itu dosen kita."


" Iya, Ran. Apalagi anaknya Pak Reyhan itu dekat banget sama kamu. Takutnya anaknya itu terlalu berharap sama kamu."


Kedua sahabat Kirania memberikan nasehat kepada Kirania saat itu. Dan kekhawatiran sahabatnya itu terbukti, saat tiba-tiba dosennya itu mengungkapkan isi hatinya pada Kirania tepat dua bulan sejak Kirania dan Dirga putus.


" Ran, nanti malam boleh ajak kamu keluar?" tanya Reyhan selepas mengajar, Reyhan sempat menghampiri Kirania dan membisikkan kata-kata tadi.


" Hmmm, ada apa ya, Pak?" Kirania merasa canggung karena saat itu Hasna dan Sabilla menatapnya dengan sorot mata tajam.


" Ada yang ingin saya sampaikan."


" Apa nggak bisa disampaikan di sini saja, Pak?" tanya Kirania lagi.

__ADS_1


Reyhan tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


" Nggak bisa, Ran. Ini masalah pribadi dan masalah hati. Nggak bisa dibicarakan di depan banyak orang.* Reyhan menatap Hasna dan Sabilla bergantian.


Dan di sinilah Kirania berada, berdua dengan dosennya yang berselisih usia sepuluh tahun darinya. Mereka berdua duduk berhadapan di sebuah restoran.


" Bapak ingin bicara apa?" tanya Kirania. Dia bukannya tidak sabar ingin segera tahu, tapi dia ingin cepat-cepat pulang jika Reyhan telah mengatakan maksudnya.


" Makanlah dulu, nanti kita bicara selepas makan."


Kirania berdecak mendengar jawabannya Reyhan. Akhirnya dengan terpaksa Kirania mengikuti apa yang diperintahkan Reyhan.


" Ran, kamu tahu 'kan jika Reyna dekat dengan kamu. Reyna terlihat cocok dengan kamu. Kalau kamu berkenan, selepas kamu wisuda nanti, saya ingin melamar kamu menjadi ibu sambung Reyna, menjadi istri saya."


Deg


Kirania menelan salivanya. Inilah yang dia takutkan. Dia khawatir kedekatannya dengan Reyna disalah artikan oleh dosennya itu.


" Hmmm ... maaf, Pak. Saya rasa saya nggak pantas untuk mendampingi Pak Reyhan." Kirania mencari alasan yang tak menyinggung dosennya.


" Siapa bilang nggak pantas? Buat saya wanita yang bisa mengambil hati Reyna, yang bisa membuat Reyna merasa nyaman itu lebih dari pantas menjadi ibu sambung Reyna."


" Saya nggak bisa, Pak. Maaf ... saya permisi." Kirania langsung beranjak pergi meninggalkan Reyhan yang akhirnya terbengong melihat kepergian Kirania.


Sejak saat itu juga Kirania benar-benar selalu menghindari Reyhan, begitu juga dengan Reyna. Setiap kali anak kecil itu berkunjung ke rumah Pakde Danang untuk menemuinya, Kirania tidak pernah ingin menemuinya dan bersembunyi dari Reyna.


Flashback off


" Reyna pulang deh, Tan." pamit Reyna kepada Lulu.


" Ya sudah hati-hati. Pak Ali sudah jemput?" tanya Lulu.


" Sudah di depan." Reyna mencium punggung tangan Lulu. Reyna melewatkan Kirania, kemudian berlalu pergi menjauh.


Bersambung..


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2