RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Memutuskan Hubungan


__ADS_3

Dirga memperhatikan wanita cantik yang kini sedang memeluk tubuhnya. Nadia, wanita yang sejak dia SMA menjadi kekasihnya. Wanita yang pernah begitu dicintainya.


" Boo, kamu kok diam saja? Biasanya kamu peluk cium aku. Kamu nggak senang lihat aku pulang?" Tangan Nadia terulur membelai wajah tegas Dirga.


" Hmmm, Nad ... aku rasa, ada yang perlu kita bicarakan." Akhirnya Dirga mengeluarkan perkataannya.


" Bicara? Ya sudah bicara saja. Kamu mau bicara apa?" tanya Nadia tanpa melepas pelukannya.


" Tidak di sini. Kita bicara di luar saja," ucap Dirga mencoba mengurai tangan Nadia yang membelit pinggangnya.


Setengah jam kemudian ...


" Kamu mau bicara apa, Boo?" tanya Nadia saat mereka berdua berada di Western Restaurant.


" Hmmm, aku ingin membicarakan soal hubungan kita." Dirga masih terlihat agak kikuk berhadapan dengan Nadia. Entah kenapa dia merasa seperti sedang berhadapan dengan orang asing yang belum pernah ditemuinya.


" Ah iya, aku juga mau bilang sama kamu. Kalau Mamiku sudah mengijinkan aku kembali tinggal di Jakarta asalkan kita bertunangan. Mamiku sudah bicara dengan mama kamu tentang masalah itu. Dan aku memutuskan akan pindah kuliah ke sini. Aku akan kembali pindah ke Jakarta. Akhirnya kita bisa bersama lagi tanpa dipisah jarak yang jauh. Aku senang banget, Boo." Nadia menyilangkan tangan di dadanya mendramatisir dengan wajah berbinar-binar.


Deg


Dirga sampai harus menelan salivanya mendengar penjelasan Nadia. Dia memperhatikan wajah ceria saat wanita itu menceritakan rencananya dan rencana kedua orang tua mereka.


" Nad, aku rasa ... aku nggak bisa melakukan itu." Dengan suara tercekat Dirga mengatakan penolakannya.


" Maksud kamu apa, Boo? Apa yang nggak bisa kamu lakukan?" Nadia mengerutkan keningnya.


Dirga menarik nafas sejenak. " Aku nggak bisa melanjutkan hubungan kita, Nad."

__ADS_1


Nadia tersentak, bola matanya membulat mendengar ucapan Dirga.


" Kamu bercanda 'kan, Boo? Memangnya kenapa dengan hubungan kita? Ya memang dua tahun ini aku nggak berkunjung ke Indonesia. Tapi bukan berarti hubungan kita ada masalah. Hubungan kita selama ini baik-baik saja 'kan, Boo?!" Mata Nadia sudah mulai berembun dan siap menumpahkan cairan bening yang akan membasahi pipinya.


" Nad, bukankah saat itu aku sudah katakan ke kamu, kalau aku meragukan hubungan jarak jauh. Aku pernah bilang ke kamu, kan? Aku nggak bisa menjamin hubungan kita akan baik-baik saja, saat kita berada di negara yang berbeda. Dari awal aku sudah membebaskan kamu untuk memilih pria lain jika kamu menemukan pria yang kamu sukai di Italy."


" Tapi aku nggak menginginkan pria lain, Boo. Aku hanya cinta kamu, Boo. Aku hanya mau kamu." Air mata kini sudah benar-benar tumpah di pipi Nadia. " Aku ke Italy karena orang tua aku pindah tugas ke sana. Bukan untuk mengejar ego atau karir aku. Kenapa kamu nggak mengerti itu, Boo?" Nadia terisak. Untung saja Dirga memilih private room, karena dia tahu, hal ini tidak akan mudah diterima Nadia.


" Maafkan aku, Nad. Mungkin karena aku yang terlalu egois menginginkan kamu tetap ada di sisi aku saat itu. Maafkan aku karena aku nggak tegas. Mestinya aku bisa langsung mengambil keputusan agar kamu nggak jadi terluka seperti ini."


" Apa karena ada wanita lain di hati kamu saat ini?"


Pertanyaan Nadia membuat Dirga kembali menelan salivanya. Tidak mungkin juga dia mengatakan jika saat ini dia memang mencintai wanita lain. Dirga tidak ingin sosok Kirania yang akan jadi disalahkan. Karena dia merasa perasaan cintanya kepada Nadia itu sudah hilang jauh sebelum dirinya mengenal Kirania. Rasa cinta Dirga semakin menipis dan akhirnya menghilang bersama waktu yang terus berputar dan semakin jauh jarak di antara mereka.


" Kita tidak perlu menyalahkan orang lain dalam hal ini. Akulah yang salah. Akulah penyebab semua ini, Nad. Aku nggak bisa menjaga cinta aku. Aku yang membiarkan rasa itu pergi dan akhirnya hilang tak tersisa. Aku benar-benar minta maaf, Nad."


***


" Kamu sakit, Kak? Dari tadi kelihatannya murung terus?" tanya Kirania menempelkan punggung tangannya ke kening Dirga saat waktu jeda mereka berada di taman kampus.


" Aku cuma lelah, Yank." Dirga mencoba menutupi apa yang sebenarnya dia pikirkan saat ini.


Meskipun kemarin dirinya sudah menjelaskan bagaimana perasaannya sekarang untuk Nadia. Dan menutuskan hubungannya dengan Nadia. Tapi Dirga tidak bisa mengesampingkan mamanya begitu saja. Dia sangat yakin mamanya itu akan menentang keputusannya itu.


" Kalau lelah istirahat saja, Kak. Tiduran saja di teras depan Musholla sana." Kirania menganjurkan.


" Kalau kamu ijinkan aku inginnya tidur di pangkuan kamu, Yank."

__ADS_1


" Ck, mulai, deh!" Kirania memberengut. " Ya sudah sana, tiduran di teras depan Musholla."


" Aku mau di sini saja. Temani kamu selamanya."


Ada nada yang terdengar berbeda di kalimat yang diucapkan Dirga. Tapi Kirania tidak terlalu ingin tahu kenapa. Karena pria itu sendiri sepertinya tak ingin bercerita kepadanya.


" Kak, nanti pulang kuliah aku ingin cari buku di Gra media. Kalau kamu lelah, sebaiknya kamu nggak usah antar aku deh, Kak. Biar nanti aku jalan sendiri saja cari bukunya."


" Aku ikut. Aku akan antar kamu," ucap Dirga cepat.


" Tapi tadi kamu bilang lelah. Aku nggak mau memaksa kamu, Kak." Kirania merasa khawatir.


" Aku nggak merasa terpaksa. Untuk kamu, aku lakukan semuanya dengan senang hati."


" Kamu gombal banget sih, Kak." Wajah Kirania langsung bersemu.


" Ya ampun, aku serius dibilang gombal." Dirga mencebikkan bibirnya.


" Pantas banyak wanita yang takluk sama kamu. Kamu jago merayu seperti itu. Pasti sama mantan-mantan kamu dulu, kamu sering seperti ini ya, Kak?"


Perkataan Kirania membuat Dirga tak berkata apa-apa. Bukan karena kata pandai merayu wanita, tapi karena kata mantan. Tidak tahukah wanita di hadapannya ini, jika saat ini justru itulah yang mengganggu pikirannya. Kehadiran Nadia kembali, dia rasakan akan menjadi jalan terjal hubungannya dengan Kirania. Dirga baru saja merasakan manisnya hubungan dengan Kirania, wanita sederhana yang sanggup memporak-porandakan hatinya. Baru saja dia merasakan indahnya rasa cinta saat restu dari Pakde Danang dia dapatkan. Apa yang akan terjadi jika Kirania tahu tentang kisah cintanya dengan Nadia yang ternyata masih diharapkan oleh wanita masa lalunya itu. Lantas apakah orang tuanya akan merestui kedekatannya dengan Kirania. Setelah dia menolak bertunangan dengan Nadia nantinya.


Bersambung ...


Di novelnya Yoga MENGEJAR SUAMI IMPIAN disitu ada clue tentang kisah cinta Dirga & Kirania ke depannya akan seperti apa. Yang penasaran silahkan ditengok aja. Dijamin makin tambah penasaran😂


Next part nya tomorrow, ya.🙏

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2