
" Pak Reyhan, saya bisa minta tolong, Bapak?"
Pertanyaan Kirania membuat dua orang di hadapannya itu terkesiap, ditanggapi beda oleh mereka berdua. Reyhan yang langsung mengembangkan senyumannya, sedang Dirga langsung mengeratkan giginya.
" Kamu mau minta tolong apa, Ran? Katakan saja, saya pasti bantu," sahut Reyhan bersemangat.
Sementara emosi Dirga seketika membuncah. Reyhan adalah dosennya, tidak mungkin dia mengintimidasi Reyhan seperti yang dilakukan dirinya kepada Yoga. Akhirnya dengan mendengus kesal dan tanpa ingin tahu apa yang diinginkan Kirania, Dirga langsung melangkah pergi meninggalkan Kirania dan Reyhan berdua.
Kirania menatap punggung pria yang dicintainya itu yang terlihat kecewa dan marah. Sungguh di dalam lubuk hatinya yang terdalam dia sangat sakit.
" Kamu mau minta tolong apa, Kirania?" pertanyaan Reyhan langsung menyadarkan Kirania jika masih ada orang lain di depannya.
" Hmmm, maaf, Pak. Saya nggak jadi. Permisi ..." Kirania dengan cepat melangkah menuju toilet. Meninggalkan Reyhan yang seketika tercenung. Senyuman yang tadi mengembang langsung menyurut seketika.
***
" Awww ... sakit, Kak!" Kirania memekik saat Dirga menarik tangannya saat dia keluar dari kelas selepas jam kuliah dia selesai.
" Kak Dirga ..."
" Diam kalian!!" hardik Dirga menghentikan ucapan Sabilla dan Hasna.
Dan dengan langkah cepat Dirga membawa Kirania menjauh dari teman-temannya menuju halaman di mana mobilnya terparkir. Sejak kembali menjalin asmara dengan Kirania, Dirga lebih suka memakai mobil ketimbang motor sportnya. Karena Dirga ingin memberikan kenyamanan pada kekasihnya itu.
Kirania sendiri memilih diam tak ingin membantah apa yang dilakukan Dirga, Karena dia sangat paham watak Dirga yang keras kepala.
" Apa maksud kamu tadi, hahh? Apa tujuan kamu dekat-dekat, Pak Reyhan? Apa kamu sedang mencoba menarik perhatiannya? Apa anaknya itu sudah meminta kamu untuk menjadi mama tirinya? Apa tujuan kamu sebenarnya, hahh?!" tanya Dirga dengan geram.
" Aku ingin kita putus!" tegas Kirania,
Dirga menghentikan secara mendadak mobilnya, membuat Kirania memejamkan mata seraya menahan nafas sesaat.
__ADS_1
" Apa katamu? Katakan sekali lagi, apa yang kamu katakan tadi?!" tanya Dirga dengan sorot mata menghunus tajam ke arah Kirania.
Kirania menghela nafas perlahan, dia butuh kekuatan untuk bisa melancarkan apa yang dia ingin katakan selanjutnya.
" Sebaiknya kita mencari tempat untuk membicarakan hal ini," ucap Kirania.
Akhirnya Dirga membawa Kirania ke taman kota yang tak jauh dari posisi mereka tadi.
" Aku ingin kita menyudahi hubungan ini." ucap Kirania tanpa ingin menatap ke arah Dirga saat mereka kini duduk berdua di kursi taman.
" Kamu pasti bercanda 'kan, Yank?" Dirga masih menganggap apa yang dikatakan Kirania tidaklah serius. " Lihat aku, tatap aku jika kamu berbicara padaku. Katakan kalau kamu nggak serius dengan ucapanmu tadi."
" Aku serius Dirgantara!" tegas Kirania seraya menolehkan wajah dan menatap wajah Dirga.
Dirga dibuat terkesiap saat Kirania menyebut nama Dirgantara. Karena selama ini dia tidak pernah mendengar Kirania menyebut namanya seperti itu.
" A-aku ingin kita putus." Kirania mengalihkan kembali pandangannya ke arah depan, dia tak ingin menatap lebih lama sorot mata Dirga yang mungkin akan melemahkan niatnya untuk mengakhiri hubungannya dengan pria di sampingnya ini. " Jujur, selama menjalankan hubungan ini aku merasa tertekan. Aku merasa nggak nyaman. Aku merasa hilang kebebasan dan aku sangat tidak bahagia." Kirania menjeda ucapannya untuk menghela nafas sesaat. " Aku menjalankan ini karena keterpaksaan, karena kamu memaksa aku untuk menjadi pacar kamu. Aku merasa lelah untuk meneruskan semua ini. Jadi aku mohon, kita sudahi saja hubungan kita ini. Biarkan aku bebas mencari kebahagiaanku sendiri." Kirania tidak perduli alasannya ini masuk akal atau tidak. Dia tidak perduli Dirga akan percaya atau tidak. Kalimat Sabilla yang dia cerna adalah membuat Dirga kecewa dan membencinya. Itu yang dia harapkan saat ini.
Kirania menggelengkan kepala. " Aku nggak pernah sungguh-sungguh mencintai kamu." Kirania mendustai hatinya sendiri.
" Bohong! Kamu bohong! Nggak mungkin kamu selalu cemaskan aku jika aku nggak kasih kabar. Nggak mungkin kamu akan menangis seperti kejadian saat bertemu mama dan Nadia jika kamu nggak cinta aku." Dirga mencoba menampik semua argumen yang diberikan Kirania. " Kenapa kamu berdusta pada hatimu sendiri? Apa ada yang mengancammu? Mama? Nadia?" Dirga mulai curiga dengan perubahan sikap Kirania.
Kirania menggeleng, kemudian kembali memberanikan diri menatap wajah Dirga. Mungkin ini adalah terakhir kali dia bisa menatap wajah rupawan ini dengan jarak dekat.
" Tolong lepaskan aku. Menjauhkan dariku. Biarkan aku jalani kehidupan sesuai keinginanku tanpa ada paksaan dan intimidasi dari kamu. Aku ingin bahagia dengan jalanku sendiri." Kirania berkata lirih.
" Apa ini ada hubungannya dengan dosen itu?" tanya Dirga dingin.
" Jangan menyalahkan orang lain dalam hal ini."
" Benar ternyata. Apa anaknya yang telah mempengaruhimu?" tanya Dirga masih dengan nada yang sama.
__ADS_1
Kirania menelan salivanya, dadanya mulai diserang rasa sesak. Belum lagi dia harus menahan agar tidak menangis saat itu juga.
" Biarkan aku bahagia dengan jalanku. Lupakan aku. Anggap aku nggak pernah hadir di hatimu, di dalam kehidupanmu." Dada Kirania serasa ingin meledak saat mengucapkan kalimat itu.
" Shit!!!" Dirga memukul keras kursi taman yang terbuat dari besi.
Kirania sampai memejamkan mata, untung saja air matanya tidak sampai luruh.
" Baik ... baiklah. Jika itu yang kamu mau, mulai saat ini kita putus. Aku tidak akan mengganggumu. Dan aku anggap kita tidak pernah saling kenal sebelumnya!" pungkas Dirga dengan nada penuh emosi sebelum akhirnya melangkah lebar meninggalkan Kirania sendirian di taman.
Sepeninggal Dirga, Kirania langsung menenggelamkan wajah pada kedua telapak tangannya. Dia terisak hingga membuat bahunya bergetar. Kirania tidak memperdulikan apakah saat itu ada orang atau tidak yang melihatnya. Kesedihannya seolah menutup logikanya. Menyakiti hati orang dia sayangi sama saja dengan dia menyakiti dirinya sendiri
***
Sejak pertemuan terakhir di taman, sejak saat itu juga Kirania tidak pernah lagi menjumpai Dirga di kampusnya. Pria itu seperti hilang entah ke mana. Hanya ada selentingan gosip yang masih saja beredar jika Dirga jalan dengan cewek A, selang waktu lagi terdengar kabar Dirga menggandeng cewek B. Tentu saja hati Kirania sering terasa sakit jika mendengar berita yang beredar. Karena bagaimanapun Dirga adalah satu-satunya pria yang telah membuatnya jatuh hati. Tapi keputusan dia sudah diambil. Dia harus menjauhi Dirga. Walaupun resikonya dia akhirnya dibenci oleh orang yang dicintainya itu. Dan tentu saja, menoreh luka di hatinya sendiri.
Hari-hari terus berlalu hingga akhirnya mahasiswa angkatan Dirga wisuda. Dan sekali lagi, saat acara wisuda pun, Dirga sama sekali tak menampakkan dirinya. Kirania sangat kecewa. Karena ini adalah moment terakhir dia bisa melihat pria yang akhirnya selalu dirindukannya itu.. Karena sejak mereka putus, dia hanya bisa memendam rasa rindu itu, yang tak bisa dia sampaikan kepada pemiliknya.
*
*
*
Yeay akhirnya kelar juga🙌🙌🙌 Finish, Thor? Tenang ini masih berlanjut. Next kita akan menuju ke 6 tahun kemudian. Akan seperti apa kisah mereka berdua? Please jangan berhenti membaca dan mengikuti kisah ini, ya. Beri dukungan terus kepada othor amatiran yang sering typo sana-sini ini🤭🤭, dan jangan lupa yang belum baca kisahnya Kang Ojol ganteng kesanyangan mak² ikuti kisahnya Di MENGEJAR SUAMI IMPIAN kisahnya lebih ringan, santai, kocak dengan tokoh couple Yoga & Tata ( alumnus pembaca MSI memberi predikat couple mes yum & narsis ) Trus lanjut di novel terbaru KISAH CINTA AZZAHRA. Dukung terus dengan like, komen dan lain² biar makin semangat nulisnya. Makasih🙏
Bersambung...
__ADS_1
Happy Reading ❤️