
Kirania dan Gilang langsung menoleh ke pintu saat terdengar suara seseorang berkata.
" Karena bukan kamu yang dia cintai, itu jawabannya."
Suara itu sudah pasti berasal dari Dirga, yang sedari tadi menunggu di mobil dengan gelisah. Kehadiran Dirga sontak membuat kecemasaan Kirania semakin membuncah. Sedang Gilang sendiri wajahnya langsung memerah karena murka saat mendapati kehadiran Dirga di rumahnya.
" Kau?! Dasar breng*sek!!" Gilang dengan cepat menyerang Dirga dengan sebuah pukulan di wajah Dirga hingga membuat Dirga terhuyung.
" Astaghfirullahal adzim!! Kak Gilang hentikan!!" pekik Kirania dengan berurai air mata saat Gilang kembali memukul bagian perut Dirga.
" Kau ingin mengambil milikku?! Jangan harap kau bisa lakukan itu!!" Gilang kembali memukul wajah Dirga berkali-kali. Sementara Dirga sama sekali tak melakukan perlawanan
" Kak Gilang, hentikan!! Kak Dirga tidak bersalah!!" Kirania mencoba melerai dengan memegang lengan Gilang tapi Gilang seakan tak memperdulikan.
" Kak, tolong hentikan!! Kakak bisa membunuhnya!!" teriak Kirania histeris.
" Aku tak akan biarkan siapapun mengambil apa yang menjadi milikku!" amuk Gilang penuh amarah
Gilang kembali menarik Dirga dan kembali membuat Dirga semakin sempoyongan dengan pukulan-pukulan Gilang.
Dirga tetap bergeming, dia tidak menangkis apalagi melakukan perlawanan, padahal dia bisa saja membalas apa yang dilakukan Gilang terhadapnya.
Sikap Dirga yang terkesan mengalah membuat Kirania semakin khawatir. Kirania yang takut dengan mimpinya akan menjadi kenyataan langsung berlari merangkul tubuh Dirga untuk melindungi tubuh pria yang dicintainya itu.
" Kak Gilang, tolong jangan sakiti Kak Dirga. Aku yang salah, aku yang melibatkan Kak Gilang, hiks ... maafkan aku, Kak. Aku yang sudah memanfaatkan Kak Gilang ...."
" Rania ...." Dirga memotong perkataan Kirania, agar Kirania tidak menceritakan alasan wanita itu menyetujui pertunangan.
" Aku ... aku yang sudah menjadikan Kak Gilang sebagai pelarian karena ... karena aku takut terluka, karena aku takut tersakiti. Maafkan aku, Kak. Hiks ... semua ini akulah penyebabnya, semua ini kesalahan aku, Kak. Tolong jangan lukai Kak Dirga, kalau Kak Gilang ingin menghukum, hukumlah aku. Kalau Kak Gilang ingin memukul, pukul aku saja. Jangan Kak Dirga, karena Kak Dirga tidak bersalah."
Wajah Gilang semakin memancarkan aura kelam, penjelasan Kirania sungguh sangat melukai hatinya. Dia bisa menerima jika Kirania belum bisa mencintainya. Dia bahkan bisa menerima jika Kirania hanya menjadikannya pelarian. Karena dia akan berusaha membuat Kirania mencintainya.
Tapi nyatanya sekarang setelah Kirania bertemu kembali dengan Dirga, wanita itu malah ingin meninggalkannya, mencampakkannya. Dan itu benar-benar suatu penghinaan untuknya.
" Aku yang salah, Kak. Aku yang membuat kekacauan ini. Jangan salahkan Kak Dirga, karena aku yang telah gegabah mengambil keputusan ini. Maafkan aku, Kak." Kirania terus menangis seraya memeluk tubuh Dirga yang kini terduduk karena dia harus menahan beberapa pukulan di bagian wajah dan perutnya.
" Pergi kalian berdua!! Pergi ...!!!" Bentak Gilang dengan nada sangat tinggi mengusir Kirania.
__ADS_1
" Maafkan aku, Kak," lirih Kirania.
" Keluar ...!!!" geram Gilang seraya melempar vas bunga ke dinding hingga hancur berkeping-keping.
Kirania sampai harus memejamkan mata dan menahan nafasnya sejenak melihat amarah Gilang yang meledak-ledak. Suatu hal yang tidak pernah dia jumpainya dari pria yang selama ini selalu dia kenal berpembawaan tenang itu.
Kirania kemudian membantu tubuh Dirga berdiri dengan melingkarkan lengan pria itu ke pundaknya. Dia memapah Dirga berjalan perlahan keluar rumah Gilang.
" Maafkan aku, Kak." Kirania mencoba meminta maaf kembali saat melewati Gilang, namun Gilang membuang muka sama sekali tak berniat melihatnya. Kirania pun melangkah perlahan meninggalkan rumah Gilang karena dia harus menopang tubuh besar Dirga.
Praaanngg
Kirania sampai tersentak kaget saat kembali mendengar suara benda pecah dari dalam rumah Gilang. Kirania sungguh sangat merasa bersalah dan sangat menyesal karena akhirnya membuat pria yang selama ini selalu baik terhadapnya, akhirnya kini justru membencinya.
Sesampainya di dalam mobil pun Kirania tak berhenti terisak, rasa bersalah benar-benar menghantui dirinya. Sungguh dia tak pernah berpikir akan sejauh ini kejadiannya. Akhirnya dua orang pria yang selama ini baik terhadapnya sama-sama tersakiti.
" Kak, maafkan aku, hiks ...."
" Sssttt ... sudah jangan menangis terus." Dirga mencoba menyeka air mata di pipi Kirania. " Sshhh ..." Dirga meringis menahan sakit di perutnya akibat hantaman penuh emosi Gilang terhadapnya dan hal itu justru semakin membuat Kirania semakin terisak bukannya mereda.
" Kita ke mana, Pak?" tanya Adit setelah dia sampai menggunakan ojek online ke dekat perumahan Gilang.
" Kita ke rumah sakit saja, Pak Adit." Seraya menghapus air mata yang sepertinya susah sekali berhenti mengalir Kirania meminta Adit membawa Dirga ke rumah sakit.
" Jangan, Dit. Langsung ke apartemen saya saja," tolak Dirga menentang permintaan Kirania.
" Tapi, Kak ...."
" Aku nggak apa-apa, kamu nggak usah khawatir. Hal seperti ini untuk seorang pria adalah hal yang wajar." Dirga meyakinkan Kirania agar wanita itu tidak khawatir. Lalu tangannya merangkul pundak Kirania dan membiarkan Kirania menyandarkan kepalanya di bahu kokoh pria itu.
***
" Ssshh ..." Dirga kembali meringis saat Kirania mengompreskan luka lebam Dirga dengan air dingin. " Sakit, Yank ..." Dirga berucap manja.
" Kamu kenapa nggak melakukan perlawanan tadi Kak?" Akhirnya Kirania menanyakan hal yang sedari tadi membuatnya penasaran.
" Kamu mau aku melawan? Membuatnya bonyok seperti aku ini?"
__ADS_1
Kirania mengeryitkan keningnya tak memahami maksud perkataan Dirga.
" Kamu memutuskan pertunangan saja sudah sangat menyakitkan untuknya apalagi kalau ditambah luka pukulan. Jadi aku tadi memilih diam tak membalas, karena bagaimanapun juga aku ikut andil dalam putusnya pertunangan kalian."
Kirania kembali menunduk, dia benar-benar sangat menyesali keputusannya yang akhirnya berakibat fatal.
" Setelah semua yang terjadi dengan kita selama ini, apa kau masih mau pergi lagi dariku? Apa kamu masih mau bersembunyi dan menghindar dariku?"
Kirania kini mengangkat wajahnya dan menatap lekat wajah tampan Dirga yang kini dihiasi lebam. Matanya kini kembali berkaca-kaca siap menumpahkan buliran air mata.
" Sudah jangan menangis terus. Lihat matamu sudah tertutup seperti itu. Malu ... besok kita pulang ke kotamu, menemui mamamu, menemui keluarga Gilang untuk menjelaskan semuanya, setelah itu kita menikah secepatnya."
Kirania terkesiap mendengar ucapan Dirga.
" Menikah?"
" Kenapa? Kamu nggak ingin menikah denganku?"
Kirania menggelengkan kepala. " Bukan seperti itu, Kak. Tapi apa nggak terlalu cepat?"
" Terlalu cepat? Waktu menunggu selama enam tahun ini kamu bilang terlalu cepat?"
" Bu-bukan begitu, Kak. Tapi aku baru saja memutuskan ikatan pertunangan dengan Kak Gilang. Apa nggak terlalu cepat pernikahan kita ini?"
" Tidak, aku nggak mau kamu berubah pikiran lagi. Aku harus mengikat kamu secepatnya. Mengikatmu dalam satu ikatan pernikahan." Dirga mengakhiri ucapannya dengan mengecup lembut bibir Kirania.
*
*
*
Bersambung
MSI udah mulai up bab season 2 ya, silahkan mampir di sanaš
Happy Readingā¤ļø
__ADS_1