RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Bersikaplah Elegan


__ADS_3

Hari ini Karina mulai bekerja di Angkasa Raya Group, dan bekerja sebagai staff dari Ricky.


" Walaupun kamu adalah adik dari Nyonya Dirga, tapi bukan berarti kamu bisa bekerja berleha-leha di sini. Kamu harus bisa bersikap profesional." ujar Ricky.


" Baik, Pak."


" Harus fokus dalam bekerja dan ..." Ricky berjalan mendekat ke arah Karina. " Jangan baper terhadap saya."


Karina membelalakkan matanya saat mendengar kata-kata Ricky tadi.


" Bapak tidak usah khawatir tentang hal itu, saya bisa bersikap profesional, Pak." Karina menjawab dengan sedikit kesal dengan perkataan Ricky.


" Baguslah kalau begitu," ucap Ricky seraya berlalu dari hadapan Karina.


" Kepedean banget sih itu om-om, siapa juga yang mau baper sama dia? Nggak akan aku baper sama om-om tua bau tanah seperti itu." Karina menggerutu.


***


Siang ini Dirga mengajak Kirania, Ricky dan Karina makan siang bersama di sebuah restoran khas Sunda.


" Kamu makan apa itu, Yank? Sayuran mentahan semua kamu makan? Nggak dimasak dulu?" tanya Dirga heran melihat makanan yang disajikan di hadapan Kirania.


" Ini yang namanya karedok. Abang mau coba? Rasanya enak, lho. Apalagi dimakan sama nasi hangat seperti ini." Kirania lalu menyuapkan satu sendok karedok ke mulut Dirga.


Dirga langsung menautkan kedua alisnya saat mencium aroma dari makanan itu.


" Hmmm, bau apa ini? Nggak enak sekali baunya." Dirga langsung menutup mulut dan hidungnya membuat Kirania terkekeh.


" Abang lebay banget, deh. Kaya anak kecil yang menolak disuruh makan obat saja." Kirania mencibir suaminya.


" Itu makanannya sehat nggak, Yank?" tanya Dirga masih dengan mulut dan hidung tertutup.

__ADS_1


" Sehat, dong. Memang Abang belum pernah coba?"


Dirga menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Kirania. " Baunya saja nggak enak seperti itu." Dirga mengedikkan bahunya.


" Itu yang namanya kencur, Abang." Kirania terkikik " Abang harus sering-sering makan makanan yang merakyat seperti ini. Jadi kalau suatu saat aku minta Abang menemani makan makanan di tepi jalan Abang nggak kaget," ucap Kirania.


" Tapi kalau baunya nggak enak seperti itu aku nggak suka."


" Abang harus membiasakan diri." Kirania kemudian menyendok kembali karedok dan menyuapkan ke mulut Dirga. " Buka mulutnya, tutup saja hidungnya jadi pas makan nggak perlu cium baunya." Kirania memaksa suaminya itu memakan makanan yang disodorkannya. Membuat Dirga menuruti apa yang diperintahkan istrinya itu.


Pasangan suami istri itu tidak menyadari dengan kehadiran dua orang manusia yang juga satu meja dengan mereka, Karina dan Ricky. Karina yang memperhatikan Dirga dan Kirania hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum. Namun tak lama senyumnya sirna. Dia berpikir seandainya saja dia dan Gilang bisa seperti kakak dan kakak iparnya itu, pasti dia akan sangat bahagia sekali.


Mengingat akan Gilang membuat Karina mendesah lalu membuang pandangannya yang akhirnya malah terpaut pada Ricky yang juga sedang menatapnya. Ricky mengulum senyuman yang sanggup mengetarkan hati para wanita hingga membuat dia mengerjap. Namun tak lama kemudian dia menundukkan wajahnya. Dia tak ingin berlama-lama menatap Ricky karena tentu dia tidak ingin tersihir dengan pesona pria dewasa di hadapannya itu.


***


" Rick, nanti kau kembali ke kantor dengan Karina, aku dan Kirania ada urusan dalu," ucap Dirga setelah mereka selesai makan siang.


" Ayo, Sayang." Dirga langsung merangkul pundak istrinya yang merasa heran dengan ucapan suaminya itu.


" Lho, memang kita mau ada urusan ke mana?" tanya Kirania kepada suaminya saat mereka berjalan menuju mobil.


" Kembali ke kantor."


" Kalau kembali ke kantor kenapa Karina nggak ikut kita saja, Abang?" tanya Kirania heran.


" Kamu ini kok nggak pengertian sekali sih, Yank. Kita itu sengaja meninggalkan mereka, agar mereka itu semakin akrab." Dirga terkekeh.


" Ya ampun, aku kira ada apa ..." Kirania menggelengkan kepalanya tak percaya suami akan berbuat seperti itu.


" Pak, saya mau ke toilet dulu sebentar." Karina meminta ijin kepada Ricky saat mereka hendak meninggalkan restoran.

__ADS_1


" Cepatlah kalau tidak ingin saya tinggal." Ricky menjawabnya enteng, membuat Karina mencebikkan bibirnya sebelum berlalu dari hadapan Ricky.


Setelah beberapa menit menyelesaikan urusannya di toilet, Karina pun lalu menemui Ricky dan berjalan keluar restoran. Saat Karina melewati pintu masuk restoran pandangannya tertuju pada seorang pria yang berjalan berlawanan arah dengannya hendak masuk ke dalam restoran.


" Kak Gilang?" Saat itu juga jantung Karina berdegup sangat kencang saat mendapati pria yang beberapa hari lalu pernah bercumbu dengannya. Seketika rona merah terbias di wajah cantik wanita itu saat mengingat kejadian beberapa hari lalu. Namun saat pandangannya terarah pada sosok wanita cantik yang berjalan berdampingan dengan Gilang sambil mengajak pria itu berbincang, dan Gilang pun merespon baik obrolan wanita di samping pria itu, saat itu juga dadanya terasa bergemuruh, hingga sesak yang dia rasa sekarang. Siapa wanita itu? Apa hubungan dengan Gilang? Dua pertanyaan itu yang terus saja menari-nari di benaknya.


Tak berbeda jauh dengan Karina, Gilang pun yang melihat keberadaan Karina saat akan melewati pintu masuk langsung terkesiap saat melihat Karina. Tentu saja ada rasa canggung saat harus kembali bersua dengan wanita yang sempat menjadi partnernya saat melakukan aktivitas yang hampir memacu li*bido hingga naik ke ubun-ubun. Namun dia merasa terusik dengan kehadiran seorang pria dewasa yang mempunyai wajah cukup rupawan yang berada di sebelah Karina. Pandangan matanya kini bergantian menatap Karina dan Ricky. Pandangan mata tak bersahabat yang terpancar dari sorot mata Gilang.


" Ayo, Von ..." Tangan Gilang tiba-tiba meraih dan menggenggam jemari Vonny, wanita yang bersamanya saat itu. Membuat Vonny terkesiap karena secara tiba-tiba Gilang meraih jemari tangannya dan menautkan dengan jemari-jemari kokoh Gilang, membuat wanita itu tertegun namun tak lama dia tersadar saat Gilang membawanya masuk ke dalam restoran


Bukan hanya Vonny yang terkejut dengan sikap Gilang. Karina justru lebih syok saat melihat Gilang menggenggam tangan wanita lain di hadapannya. Rasa cemburu seketika berkobar-kobar. Dadanya serasa ingin meledak saat itu juga. Bahkan bola matanya kini sudah mulai berembun dan tak lama cairan bening itu menetes di pipi mulus Karina.


" Kamu mau kembali ke kantor atau mau tetap menangisi pria itu?" suara Ricky sontak membuat Karina terkesiap. Dengan cepat dia menyeka air mata di pipinya.


" Apa kamu merasa nyaman mencintai laki-laki yang mencintai kakak kamu? Apa jadinya jika kalian berkumpul, tiba-tiba pria tadi malah asyik memandangi wajah kakak kamu itu?" cibir Ricky yang melihat Karina meneteskan air matanya.


" Cinta memang buta, kita bisa nekat melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang kita inginkan tanpa berpikir itu hal yang logis atau tidak. Kamu masih muda dan cantik, bersikaplah elegan agar pria mau memandang dan mengejarmu, bukan merendahkan diri dengan mengemis pada pria yang jelas-jelas sama sekali tidak mencintaimu." Ricky langsung beranjak meninggalkan Karina menuju mobilnya setelah mengucapkan kata-kata itu.


*


*


*


Bersambung ...


Akun IG aku yang lama ilang😭😭😭 Follow lagi aja akun barunya ya rez.zha29 kalo yg lama.pake _ yg baru pake . ya ...


Jangan kendor kasih dukungan like & komen untuk semua karyaku ya Readers budiman... hatur nuhun🙏🙏


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2