
" Mbak, aku yang bawa motornya, ya!" ujar Karina saat Kirania mengeluarkan motor yang biasa dia pakai jika dia ada di rumahnya dari ruang tamu.
" Jangan, Dek. Kalau jarak jauh, Mbak khawatir kalau kamu yang bawa motor. Kamu juga belum ada SIM, kalau ada polisi gimana?"
" Polisi nggak akan tilang orang cantik, Mbak." Karina tergelak.
" Dih, narsis banget kamu, Dek." Kirania menyindir tapi akhirnya ikut tertawa juga.
" Rania ..." Suara seseorang memanggil namanya membuat Kirania menoleh ke arah suara tadi. " Kamu ada di sini?" tanya suara tadi.
" Kak Gilang?" Kirania sedikit terkesiap mendapati seseorang yang menyapanya tadi. Gilang adalah kakak kelasnya waktu dia duduk di SMA dulu, dan kebetulan rumah mereka tak berjauhan hanya berjarak kurang dari seratus meter.
" Ih, Kak Gilang sinyalnya kuat, deh. Tahu saja Mbak Rania ada di sini." Karina berkelakar.
" Namanya rejeki plus jodoh, Rin." Gilang berseloroh membalas ucapan Karina.
" Idiiiihhh ... main ngaku-ngaku saja. Kalau berani lamar langsung, dong! Jangan omong doang, weeekk ..." cibir Karina.
" Kapan pun Mbak kamu siap, Kak Gilang siap melamar, kok, Rin." Gilang menyahuti dengan mengembangkan senyuman.
" Tapi masalahnya Mbak Rania nggak pernah siap, Kak Gilang kurang maksimal, sih, perjuangannya," sindir Karina kembali.
" Sudah jangan ngobrol saja, ayo cepat naik, Dek!" seru Kirania yang sudah menyalakan mesin motornya.
" Kalian mau ke mana?" tanya Gilang.
" Gokana GCM, Kak." Karina menyahuti. " Mau ikut?" Kirania langsung mendelik saat adiknya itu malah memberi tawaran.
" Kenapa pakai ajak-ajak orang segala, sih?" bisik Kirania protes.
" Lumayan, Mbak. Kita butuh penyandang dana, daripada potong jatah uang bulanan dari mama." Karina terkikik menjawab protes kakaknya.
" Aku boleh ikut, nih?" tanya Gilang menyeringai.
" Boleh saja, asal mau bayarin kita, sih." Karina menjawab enteng.
" Ga masalah." Dengan cepat pula Gilang menyahuti. " Naik mobil saja, yuk. Aku ambil dulu sebentar di rumah." Gilang menawarkan.
" Boleh, Kak."
" Nggak usah, Kak!"
Karina dan Kirania saling berpandangan karena jawaban mereka berbeda.
" Nggak usah, Kak. Kita naik motor saja!" tegas Kirania memutuskan.
" Ya sudah kalau begitu kita ketemu di sana, ya. Aku ke rumah sebentar, nanti segera menyusul ke sana." Gilang pun melajukan motornya segera meninggalkan kedua kakak beradik itu.
" Ck, kamu pakai ajak dia segala." Kirania mencebik
" Nggak apa-apa kali, Mbak. Kasih kesempatan Kak Gilang, dong! Kasian, lho. Dari jaman SMA, pedekate nggak ditanggapin terus sama Mbak Rania. Padahal Kak Gilang lumayan gitu tampangnya, kerja di Bank pula. Lumayan 'kan buat pendamping hidup. Memangnya Mbak cari yang seperti apa lagi?" tanya Karina.
__ADS_1
" Mbak carinya yang bos!" celetuk Kirania asal.
" Hahaha ... Mbak, ih ... kalau menghayal jangan ketinggian, dong!" ledek Karina.
" Namanya juga menghayal pasti yang tinggi-tinggi, Dek. Sudah ayo cepat naik!" perintah Kirania kepada adiknya agar cepat menaiki motornya.
***
" Kuliah kamu gimana, Ran?" tanya Gilang selepas mereka menyantap ramen.
" Alhamdulillah, lancar, Kak." sahut Kirania.
" Lagi cuti kuliah?" tanya Gilang lagi.
" Iya." Singkat jawaban yang diberikan Kirania.
" Ehem." Karina berdehem. " Sepertinya aku jadi obat nyamuk, deh, di sini." Karina kemudian bangkit. " Aku ke atas saja, deh. Mau ke CGV mau lihat-lihat film yang bagus, daripada mengganggu kalian.
" Karina!" Kirania langsung mencengkram lengan adiknya hingga dia terduduk kembali.
" Kak Gilang juga nggak bisa lama, kok, Rin. Mesti kembali ke kantor." Gilang mengerti jika Kirania tidak ingin ditinggal sendirian dengannya. Dari dulu sikap Kirania selalu seperti itu terhadapnya.
" Jadi Kak Gilang duluan pulang, nih?" tanya Karina.
" Iya, lain kali kita jalan lagi. Kamu lama di sini, Ran?" Gilang menatap Kirania yang sedari awal bertemu tidak juga menunjukkan wajah ceria.
" Entahlah." Kirania mengedikkan bahunya menjawab pertanyaan Gilang.
" Oke, deh. Kalau begitu aku duluan, ya." Gilang kemudian memberikan uang lembaran seratus ribu sebanyak lima lembar. " Untuk kalian barangkali mau belanja-belanja."
" Iisshh, kenapa ditolak, sih, Mbak? Rejeki tahu ...!" Karina kemudian mengambil uang itu. " Nggak apa-apa 'kan aku ambil uangnya, Kak?" tanya Karina kepada Gilang.
" Nggak apa-apa, kok. Kan, Kak Gilang sudah niat memberi." Gilang tersenyum melihat perbedaan sikap kakak beradik di hadapannya.
" Kak, kalau aku sudah lulus SMA, kalau Mbak Rania tetap nggak mau, Kak Gilang sama Karina saja, deh, Kak." Karina terkekeh.
" Dek !!" Kirania mendelik ke arah adiknya.
" Kamu pikirkan sekolah saja dulu, ya!" Gilang mengacak rambut Karina tapi tak ditepis oleh Karina. Gadis itu malah tergelak.
" Ya sudah, aku pamit." Gilang mengembangkan senyuman sebelum akhirnya meninggalkan Kirania dan Karina.
" Dek, kamu ini memalukan! Kamu nggak boleh seperti itu. Nanti kamu kembalikan uangnya ke Kak Gilang!" Kirania terlihat kesal menanggapi sikap adiknya yang terlihat matre.
" Astaga, Mbak. Yang namanya rejeki itu nggak boleh ditolak, pamali tahu nggak, sih?!" sanggah Karina tak merasa bersalah.
" Tapi kamu nggak bisa menerima pemberian orang begitu saja, Dek. Bagaimana jika orang itu ada pamrih? Kita nanti malah kebebanan."
" Iya memang Kak Gilang ada pamrih, dia 'kan ingin dijadikan pacar Mbak Rania."
" Nah, itu ... itu yang jadi masalah. Aku nggak mau dia kasih-kasih sesuatu ke kita. Ujung-ujungnya dia nuntut yang macam-macam." Kirania memberengut kesal.
__ADS_1
" Sudah, deh, Mbak. Terima saja coba. Atau jangan-jangan Mbak Rania ada pacar di Jakarta sampai nggak mau terima Kak Gilang? Hayo, deh. Ngaku saja, jangan malu-malu ..." selidik Karina.
" Nggak! Nggak ada pacar-pacaran! Kuliah yang benar dulu, cari uang baru mikir cari pendamping," tegas Kirania.
" Yaahh keburu tua duluan, dong." sindir Karina.
" Pokoknya, Mbak minta nanti kamu kembalikan uang ini ke Kak Gilang."
" Kalau nggak mau?"
" Mbak akan bilang sama mama atau kalau perlu Mbak akan lapor pada Pakde Danang, kalau kamu terima uang dari laki-laki yang nggak jelas!" ancam Kirania.
" Astaga!! Ancamannya sadis amat, sih, Mbak." Karina mencebikkan bibirnya. " Lalu aku harus mengembalikannya gimana, dong? Kak Gilang pasti nggak akan mau aku balikin uang ini."
" Kamu ke rumahnya nanti, kasihkan sama Tante Dini, bilang saja tadi pinjam, atau cari alasan lain yang masuk akal."
" Iya, deh." Karina tertunduk, sebenarnya dia agak berat untuk mengikuti apa yang diperintahkan Kirania, tapi dengan terpaksa daripada kena omong mamanya apalagi sampai kena omel pakdenya, dia memilih menuruti apa yang diminta Kirania.
***
Sejak pagi Kirania membantu mamanya berjualan di pasar. Sejak dua puluh tahun lalu papanya berjualan sembako di pasar. Toko milik papanya tidak terlalu besar tapi sangat ramai pelanggan. Karena harga yang dijual cukup murah juga karena kedua orang tua Kirania sangat ramah terhadap pelanggan hingga membuat pelanggan betah berbelanja di toko kelontong milik papanya.
" Sudah sholatnya, Ran?" tanya Mama Saras saat melihat Kirania kembali ke toko.
" Sudah, Ma." Kirania menyahuti. Dia melihat beberapa pembeli yang belum dilayani, dengan sergap dia melayani pembeli itu. " Cari apa, Bu?" tanyanya ramah.
" Ini, Mbak." Pembeli itu menyodorkan kertas berisi pesanan yang hendak dibelinya.
" Telur, beras, minyak ..." Kirania membaca sebagian catatan tersebut dan segera menyiapkan pesanan pembeli itu.
Setelah beberapa saat dia menyiapkan pesanan pembeli tadi. " Ma, tolong itu dihitung totalnya berapa ditambah beras lima kilo yang harga sebelas ribu, sebentar Rania timbang dulu." Kirania kemudian mengambil plastik dan mengisi beras dalam plastik itu, saat tiba-tiba mamanya berbicara pada seseorang yang baru saja datang di toko kelontongnya.
" Cari apa, Mas?" tanya Mama Saras.
" Saya cari anak ibu ..."
Deg
Kirania seketika menghentikan aktivitasnya mengisi beras dalam plastik saat dia mendengar suara yang terdengar begitu jelas di telinganya. Dengan segera dia menoleh asal suara tadi dan matanya langsung membulat sempurna saat mendapati seseorang yang sudah berdiri tak jauh darinya yang kini sedang menatapnya dengan sedikit senyum terlukis di sudut bibir orang itu.
*
*
*
Bersambung
Otor minta sumbangan like & komennya ya para reader budiman. Like & komen kalian sangat berharga untuk otor
Terima kasih untuk yang selama ini sudah mendukung, semoga Allah SWT membalas kebaikan reader tercintaš Aamiin
__ADS_1
Selamat Berpuasa
Happy Readingā¤ļø