
Dirga langsung meraih ponselnya yang tadi sempat dibanting Kirania, dan segera menyusul langkah Kirania yang entah berjalan ke mana, karena dia tidak kembali ke arah toko orang tuanya.
" Rania tunggu ...!!" teriak Dirga mencoba menghentikan langkah cepat Kirania, tapi wanita itu tidak menggubrisnya.
" Rania ...!" Dirga mencengkram lengan Kirania saat dia berhasil menyusul langkah wanita itu.
" Lepaskan!!" Kirania menghempaskan tangan Dirga yang mencengkram lengannya. " Mau kamu apa, sih? Kamu nggak puas nyakitin aku? Kamu masih belum puas bikin malu aku?!" hardik Kirania dengan emosi yang meledak-ledak di dada. Kirania bahkan tidak menyadari jika beberapa orang yang ada di sekitarnya memperhatikan mereka, layaknya adegan sinetron sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
" Ran, aku minta maaf ...."
" Aku nggak butuh permintaan maaf kamu, aku cuma minta kamu menjauh dari aku. Biarkan aku kembali hidup tenang tanpa gangguan kamu." Kirania menyeka air matanya yang tanpa permisi terus berjatuhan di pipinya.
" Ran, aku minta kamu kasih aku kesempatan ...."
" Kesempatan kamu sudah habis dan aku juga sudah bosan dengar kamu bicara itu. Lagi pula kesempatan untuk apa? Agar kamu bisa menuntaskan rasa penasaran kamu ke aku? Kamu masih belum puas mempermainkan aku?!" Kirania kembali terisak, sesak rasa di dadanya harus mengeluarkan segala macam unek-unek di hatinya.
" Aku nggak mempermainkan kamu, Ran. Aku sayang sama kamu."
" Bohong!! Kamu nggak pernah sayang sama aku! Kamu nggak pernah suka sama aku! Kamu cuma anggap aku taruhan kamu!" Semakin Kirania berucap semakin banyak orang yang memperhatikan mereka berdua.
" Kita bicara di tempat lain, ya? Nggak enak dilihat banyak orang." Ucapan Dirga membuat Kirania tersadar jika saat ini dirinya sedang berada di tempat umum. Seketika itu juga Kirania terkesiap mendapati orang-orang yang sedang memperhatikannya. Rasa emosi sudah menutup akal sehatnya, Membuat dia langsung menundukkan kepalanya menahan malu.
" Kamu sudah makan? Aku lapar banget, kita bicara sambil makan, ya?" Dirga mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya kemudian mengusapkan air mata di pipi Kirania. Tapi segera ditepis Kirania.
" Nggak usah sok manis, nggak usah sok perhatian!" ketus Kirania membuat Dirga terkekeh.
" Nggak perlu sok manis segala, Aku sudah manis, kok." ucap Dirga menggoda Kirania yang masih memberengut. " Kita makan di mana? Aku nggak tahu daerah sini."
" Aku nggak mau, Kamu pulang saja sana!"
" Ya ampun, kamu tega banget, sih, Yank! Aku jauh-jauh ke sini malah diusir."
" Siapa suruh kamu ke sini?!"
" Suruh hati aku dan rasa rindu aku yang menggunung ke kamu yang membuatku datang kemari."
Kirania mendengus seraya melemparkan pandangan ke lain arah, malas menanggapi rayuan pria di hadapannya.
" Kita mau makan di mana? Kita naik becak saja ya? Kelihatannya enak, romantis gitu buat pacaran." Dirga kembali terkekeh, dia sama sekali tak memperdulikan Kirania yang masih merasa jengkel terhadapnya.
" Bang, becak ...!" Dirga menepuk telapak tangannya memanggil abang becak membuat Kirania mendelik.
" Aku nggak mau!"
" Nurut, dong. Sama calon imam kamu ini."
__ADS_1
" Yang ada aku sesat kalau pilih kamu jadi imam aku!" ketus Kirania. Membuat Dirga tergelak mendengar ucapan Kirania tadi.
" Mendi, Mas?" ( Ke mana, Mas?) tanya Abang becak saat sampai di depan Dirga.
" Aku mau tahu makanan khas sini, dong. Kamu bisa jadi guide ku, kan?" Seketika Kirania teringat ucapan Yoga beberapa waktu lalu.
" Kapan-kapan kalau kamu ada di Cirebon dan aku mampir ke kota itu, boleh dong, kamu jadi guide nya jalan-jalan keliling kota Cirebon."
Siapa sangka justru bukan Yoga yang mesti dihadapinya tapi pria menyebalkan di hadapannya itu.
"Bang, restoran yang jual makanan khas Cirebon di mana?" tanya Dirga pada abang becak.
"Akeh, Mas. Mas'e pengene ning endi?" (Banyak, Mas. Mas nya maunya di mana?) Abang becak balik bertanya.
Dirga yang tak paham ucapan abang becak itu langsung menoleh ke arah Kirania. "Abang becaknya bicara apa tadi?"
"Dia bilang kamu nggak diterima di sini, sebaiknya segera pulang ke negara asal kamu!" ucap Kirania kesal.
Dirga tergelak. "Masa bilang gitu? Bang, maaf, kami ini suami istri perantauan di sini. Kami nggak paham bahasa di sini. Bisa pakai bahasa Indonesia saja, Bang?" Perkataan Dirga langsung mendapat pukulan dari Kirania.
"Oh, maaf, Mas. Saya kira sesama orang Cirebon juga. Mas nya mau maka nya di mana? Di sini yang jualan makanan khas Cirebon banyak, Mas. Ada Nasi Jamblang, Nasi Lengko, Empal Gentong, Docang. Mas sama Mbak nya mau yang mana?" tanya abang becak lagi.
"Yang enak yang mana, Bang?" pertanyaan Dirga membuat abang becak tertawa kecil.
"Semua enak, Mas. Kalau Mas makannya didampingi istrinya yang cantik ini." Abang becak itu berkelakar, membuat Kirania berasa jadi bulan-bulanan dua mahluk berwujud laki-laki tersebut.
" Jadi mau ke mana, Mas?"
" Kita ke mana, Yank? Kasian Abang becaknya nungguin." Seolah tak terjadi sesuatu, Dirga langsung naik ke becak.
Akhirnya dengan sangat. terpaksa Kirania mengikuti kemauan Dirga. " Ayam Goreng Bahagia saja, Mang." ucap Kirania sebelum dia naik.
***
Kirania merasa tak nyaman harus satu becak dengan Dirga. Tubuh Dirga yang atletis rasanya sudah menghabiskan satu tempat duduk, hingga membuatnya harus duduk berhimpitan.
" Aku minta maaf, ya, atas kesalah pahaman kita." Dirga memulai pembicaraan serius.
" Nggak ada salah paham, semuanya sudah jelas, kok!"
" Sudah jelas apa?"
Malas sebenarnya Kirania mesti mengulang membahas hal ini.
" Tentang taruhan itu?" Dirga tiba-tiba mengelus pucuk kepala Kirania.
__ADS_1
" Kamu jangan kurang ajar pegang kepala orang." Kirania berusaha menepis tapi karena tempat yang sempit justru membuat posisinya terlihat semakin intim dengan Dirga, apalagi saat Dirga malah melingkarkan lengannya di bahu Kirania.
" Kurang ajar gimana, sih? Orang aku lagi berusaha romantis, kok. Di Jakarta kita nggak mungkin begini. Ini 'kan berasa romantis satu becak berdua." Dirga terkekeh.
Beberapa saat setelah mereka selesai makan.
" Kamu marah karena video itu? Itu nggak semuanya benar. Sejujurnya aku suka sama kamu sebelum video itu ada. Teman-teman aku nggak percaya kalau aku benar-benar suka sama kamu. Mereka pikir aku cuma iseng sama kamu. Mereka bahkan menyangsikan aku nggak akan bisa mendapatkan kamu, mereka yang menentukan taruhan itu, bukan aku. Karena aku terpancing aku malah dengan bodohnya menyetujui rencana mereka." Dirga tersenyum miris.
" Aku benar-benar suka sama kamu, aku bahkan nggak pernah senekat ini menyusul wanita yang aku suka sampai ke kampung halamannya seperti ini." Dirga menggenggam tangan Kirania tapi Kirania langsung menarik tangannya dan menyembunyikannya di bawah meja.
" Kamu bohong, kamu bilang suka sama aku, tapi kamu bisa tuh jalan sama wanita lain," sindir Kirania merasa kesal saat Dirga pergi bersama mahasiswi lain.
" Wanita lain? Siapa? Bella?" Dirga terkekeh. " Bella itu sepupu aku, aku sengaja meminta bantuan dia supaya bikin kamu cemburu."
" Cih, nggak akan aku cemburu." Kirania membuang muka tak ingin menatap wajah Dirga.
" Benar nggak cemburu??" Ucapan Dirga terdengar meledek.
" Kamu juga berkata kasar ke aku." Kirania mengalihkan pembicaraan, dia tak ingin terpancing oleh ucapan Dirga tadi.
" Yang mana?"
" Pikir saja sendiri!"
Dirga terkekeh. " Yang aku bilang lu gue? Aku salah strategi, lho. Aku pikir bikin kamu cemburu dengan pergi sama Bella, dan bersikap cuek sama kamu bikin kamu tersiksa. Eh, bukannya tersiksa malah kesempatan buat kamu jalan sama pria lain, sial banget 'kan, namanya?" Dirga terkekeh, menertawakan kebodohannya sendiri, malah membuka peluang untuk Yoga menjadi dekat dengan Kirania.
" Aku nggak suka kamu melecehkan aku!" Kirania kembali teringat kejadian memalukan saat itu.
" Aku cemburu kamu dekat Prayoga, aku nggak rela kamu dekat dengan pria lain."
" Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya melecehkan aku, kamu pikir aku wanita murahan?!" hardik Kirania.
" Aku bersedia kamu hukum untuk itu. Aku akan lakukan apapun yang kamu mau, asal bukan menyuruhku untuk menjauhi kamu."
*
*
*
Bahasa Cirebon yang dipakai di bab ini, bahasa yang banyak dipakai sehari-hari ya gaes jadi agak kasar, kalau bahasa bebasannya sendiri ada, tapi ga banyak dipakai masyarakat umum, kebanyakan dari keturunan atau lingkungan keraton atau orang-orang paruh baya. Tapi pada umumnya masyarakat di Cirebon ini menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi sehari-hari.
Bersambung ...
Mohon support untuk like juga komennya ya para Reader Budiman, Makasih🙏
__ADS_1
Bersambung❤️