
Karina terlihat asyik mengamati foto-foto yang tergantung di ruangan, saat tiba-tiba terdengar suara seorang pria berkata ...
" Siapa Anda? Dan apa yang sedang Anda lakukan di ruangan saya?"
Karina tersentak hingga dia membulatkan mata indahnya. Dengan perlahan akhirnya dia memutar tubuhnya untuk mengetahui siapa yang orang yang sudah menegurnya tadi. Dan kini pandangan matanya mendapati sesosok pria dewasa dengan wajah tampan dengan postur tubuh atletis berdiri menjulang di hadapannya seraya berkacak pinggang. Wajah pria yang sangat mirip dengan orang yang ada di foto itu.
" Apa yang sedang Anda lakukan di ruangan saya?" tanya pria itu lagi.
" Hmmm, maaf kalau saya lancang masuk ke ruangan Bapak. Saya tadi ... hanya ingin melihat-lihat saja." Karina tersenyum kaku kepada pria itu.
" Sudah selesai lihatnya? Ada yang membuat kamu tertarik?" tanya pria itu lagi seraya menyandarkan bo*kongnya di tepi meja.
" Ah, tidak-tidak ... hanya iseng saja." Karina salah tingkah.
" Kenapa kamu bisa ada di kantor sini? Salah masuk kantor?" Pria itu terlihat mengintimidasi Karina dengan beberapa pertanyaan.
" Oh, bukan ... saya hanya menemani kakak saya, Pak." Karina menjawab.
" Apa kakak kamu kerja di sini?" tanya pria itu lagi.
" Hmmm ...."
" Karina, kamu ada di sini ternyata ..." tiba-tiba suara Kirania terdengar memecah ketegangan yang melanda Karina. " Pak Ricky? Hmmm, kalian sedang bereuni rupanya?" sindir Kirania tersenyum menatap bergantian Ricky dan Karina.
" Maksud Mbak apa?" Karina dibuat bingung oleh perkataan Kirania.
" Kamu dan Pak Ricky ini." Kirania menunjuk Ricky dengan arahan mengangkat dagunya.
" Aku nggak paham deh, Mbak." Karina semakin tidak mengerti dengan kata-kata kakaknya itu.
" Nyonya Dirga, apa Nyonya mengenal Nona ini?" tanya Ricky pada istri bosnya itu.
" Lho, memang Pak Ricky nggak kenal Karina? Bukankah anak buah Bapak melibatkan adik saya ini saat penculikan saya dulu?" sindir Kirania kembali.
" Oh, jadi dia adik Anda, Nyonya? Maaf saya lupa namanya, kebetulan saya juga belum sempat melihat orangnya." Ricky menjelaskan.
" Memangnya dia ini siapa, Mbak?" tanya Karina berbisik.
" Pak Ricky ini asistennya Abang kamu. Dan dia ini otak dibalik penculikan Mbak dulu." Kirania menjelaskan dengan suara pelan.
__ADS_1
" Oh, jadi Bapak ini dalangnya." Celetukan Karina membuat Ricky tersenyum tipis.
" Ya sudah, kita kembali ke dalam. Sudah waktunya makan siang." Kirania menggandeng tangan Karina. " Permisi, Pak Ricky ..." pamit Kirania.
" Silahkan, Nyonya." Ricky mengulurkan tangannya mempersilahkan.
Karina pun berjalan mengikuti langkah Kirania. Dia sempat menoleh ke belakang ke arah Ricky yang tersenyum kepadanya, membuat Karina gelagapan hingga dia buru-buru memalingkan wajahnya.
***
Sementara itu di ruang kerjanya Gilang nampak memijat pelipisnya. Rasa pusing yang dia rasa dari semalam tidak juga hilang.
Flashback on
Gilang melangkah cepat menuju kamarnya dengan dada bergemuruh. Percikan gairah yang sudah dia kobarkan sekuat tenaga coba dia redam. Bagaimanapun juga dia adalah pria normal. Keindahan tubuh Karina yang ada di hadapannya tadi hampir saja meluruhkan imannya. Untung saja dia masih bisa mengendalikan diri hingga dia tidak kehilangan akal sehat dan sampai menodai wanita itu.
Gilang membuka pintu kamarnya dia segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur seraya memijat pelipisnya. Dia memejamkan mata mencoba menahan serbuan hasrat yang membara atas ulahnya itu. Tidak seperti kebanyakan pria yang mungkin menuntaskan di kamar mandi, Gilang memilih menetralisir rasa itu dengan beristighfar karena dia merasa seketika itu juga dia telah berubah menjadi pria bejat yang hampir merenggut kesucian seorang wanita yang sudah dia anggap seperti adiknya itu.
Gilang kemudian bangkit menuju kamar mandi, dia kemudian mensucikan diri mengambil air wudhu dan bergegas melaksanakan sholat isya, menenangkan diri dan memohon ampunan atas apa yang sudah dengan sengaja dia rencanakan.
Flashback off
***
" Dek, waktu Mbak nikahan kamu bilang kamu sudah punya calon, lalu sekarang kamu bilang kamu mencintai Kak Gilang. Jangan bilang kalau calon yang kamu maksud itu adalah Kak Gilang lho, Dek." Kirania bertanya penasaran kepada Karina saat mereka berdua bercengkrama di kamar tamu di apartemen Dirga malam ini. Kirania sengaja memilih mengobrol dengan adiknya itu karena sang suami masih sibuk berdiskusi dengan Ricky di ruang kerjanya.
Karina hanya menghela nafas tak menjawab pertanyaan Kirania membuat kakaknya itu menutup mulut beberapa saat dengan tangannya.
" Ya ampun, Dek. Jadi benar calon yang kamu maksud itu adalah Kak Gilang? Dek, kamu tahu 'kan dari dulu itu Kak Gilang menyukai Mbak? Apalagi sekarang Mbak sudah mengecewakan dia. Mbak takut jika kamu memaksakan kehendak untuk mendekati Kak Gilang, itu hanya akan melukai kamu saja, Dek. Mbak takut ... Ya Allah semoga dugaan Mbak ini nggak benar, Mbak takut Kak Gilang akan bersikap buruk terhadap kamu sebagai pelampiasan rasa kecewa dia atas apa yang Mbak lakukan ke dia Dek." Kirania merasa khawatir jika Gilang akan memanfaatkan Karina sebagai balas dendam atas sikapnya dulu walaupun dia tahu Gilang adalah sosok yang baik selama ini dia kenal.
" Mbak jangan berburuk sangka seperti itu pada Kak Gilang!" protes Karina. Walaupun apa yang diperbuat Gilang semalam sangat membahayakannya tapi bagi Karina, Gilang tetaplah sosok pria yang baik. Gilang bisa saja mengga*ulinya semalam. Membalaskan rasa sakit hati atas Kirania kepadanya, tapi pada akhirnya Gilang memilih melepaskannya. Perlakuan Gilang semalam tidaklah cukup untuk melunturkan rasa cintanya pada pria itu.
Sementara setelah mengobrol banyak dengan adiknya itu, Kirania memilih kembali ke kamarnya karena Dirga sudah menyusulnya ke kamar tamu setelah Ricky pergi dari apartemen Dirga.
" Ngobrol apa saja tadi dengan adikmu?" tanya Dirga setelah mereka melakukan aktivitas suami istri berbagi peluh dan kehangatan di atas tempat tidur.
" Ternyata mimpi aku jadi kenyataan ..." lirih Kirania masih dengan nafas tersengal karena permainan suaminya yang tak puas melakukan penyatuan hanya sekali.
" Mimpi apa?" Dirga melirik istrinya yang tidur memeluknya seraya melingkarkan tangan di dadanya.
__ADS_1
" Dia menyukai Kak Gilang. Dan dia nekat mengatakan kepada Kak Gilang kalau dia bersedia menggantikan posisiku sebagai calon istrinya." Kirania menjelaskan apa yang diceritakan adiknya tadi.
" Senekat itu adikmu?"
" Iya ...."
" Nggak kakaknya, nggak adiknya, sama-sama nekat." Dirga terkekeh membuat Kirania mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan rupawan sang suami.
" Aku nekat??"
" Tentu saja ..." Dirga menyeringai.
" Aku nekat apa, Abang?" Kirania mengusap wajah Dirga.
" Kamu ingat waktu kamu nekat lompat dari motor saat kita masih pacaran dulu? Lalu nekat kabur dariku dan memutuskan bertunangan dengan pria itu?"
" Abang ... nggak usah dibahas lagi tentang itu, deh." Kirania mencebikkan bibirnya.
" Kamu tahu tindakan yang kamu ambil itu adalah hal yang bodoh."
Kirania mendelik ke arah suaminya. " Abang bilang aku bodoh?"
" Tindakan kamu yang bodoh, Sayang. Lagipula biarpun kamu bertindak bodoh, aku tetap cinta kok sama kamu," pungkas Dirga seraya kembali menindih tubuh istrinya dan memberi sentuhan-sentuhan yang membuat darah Kirania berdesir.
" Abang, aku capek ..." keluh Kirania mencoba menghentikan aksi suaminya sebelum suaminya itu berbuat semakin jauh. Dan apa yang dikatakan Kirania sukses membuat Dirga kembali menghempaskan tubuhnya di samping Kirania.
" Istrirahatlah, sebelum Shubuh kau harus menggantinya." Dirga menyeringai seraya mengecup kening istrinya itu.
*
*
Bersambung ....
Ada apa nih mak2 reader panggil² namaku?
Yang belum mampir Di KCA dan MSI ditunggu kehadirannya ya😁 dan jangan lupa tinggalkan like & komen sebagai dukungan kalian biar Othor tetap menulis di aplikasi ini. Makasih🙏
__ADS_1
Happy Reading ❤️