RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Jangan Membohongi Hatimu


__ADS_3

Kirania bergegas masuk ke mobil Dirga saat terlihat mobil itu berhenti di depan lobby. Dia sempat mencuri pandang ke belakang saat menarik seat belt untuk memastikan Gilang tak melihatnya masuk ke mobil Dirga, karena kalau melihat mobil yang dibawa Dirga, dia yakin pria itu pasti akan curiga kenapa jemputan kantor tapi mobil yang dipakainya mobil mewah.


Dirga yang melihat Kirania sejak membuka pintu terlihat teburu-buru langsung curiga. " Kenapa?" tanyanya.


Kirania menoleh ke arah Dirga kemudian menggelengkan kepalanya. " Nggak ada apa-apa," sangkalnya. Kirania lalu membuka aplikasi ojek online. Dia belum konfirmasi ke drivernya jika dia tak bisa naik mobil pesanannya.


" Assalamualaikum, bapak maaf saya dengan Kirania yang order mobil bapak. Ini kebetulan saya sudah dijemput dari pihak kantor, jadi nggak pakai mobil bapak. Tapi nggak saya cancel kok, Pak. Bapak bisa tetap jalankan orderannya sampai selesai 'kan, meskipun saya nggak naik mobil bapak? Sudah saya bayar kok ongkosnya, nanti saya kasih tambahan uang tip, sama tetap kasih penilaian lima bintang." Kirania kembali melirik Dirga yang juga sedang menoleh ke arahnya. " Baik, terima kasih ya, Pak. Maaf sekali ... Assalamualaikum." Kirania kemudian mematikan panggilan teleponnya.


" Bapak bisa nggak sih, kalau mau jemput itu kasih tahu dari awal jangan mendadak begini?" gerutu Kirania.


" Suka-suka aku, dong." Dirga menyahuti dengan santai membuat Kirania mendengus kesal.


" Jadi selama ini kamu menginap di hotel itu? Berapa biaya semuanya selama kamu bermalam di sana? Nanti aku ganti semua pengeluarannya," ujar Dirga.


" Nggak usah, saya bisa bayar sendiri," Kirania menyahuti ketus seraya memalingkan muka ke arah luar jendela. Tak lama dia mengeryitkan keningnya saat jalan yang dilalui Dirga bukan jalan ke arah kantor Dirga.


" Kenapa kita nggak ke arah kantor, Pak? Apa ada janji sama orang pagi ini?" tanya Kirania heran, karena seingatnya tidak ada jadwal ketemu dengan orang pagi ini.


Dirga tidak menjawab pertanyaan Kirania, dia tetap fokus pada kemudinya membuat Kirania kembali menghempas nafas sedikit kasar.


Beberapa menit kemudian Kirania dibuat tercenung saat mobil Dirga memasuki area parkir bangunan yang dia ingat ini adalah bangunan apartemen di mana dulu Dirga pernah beberapa kali membawanya saat mereka masih pacaran. Kirania menarik nafas dalam-dalam, dia tak mengerti apa alasan Dirga kembali membawanya ke sini.


" Ayo, turun!" perintah Dirga


" Kita mau apa ke sini, Pak?" tanya Kirania tak juga berniat membuka sabuk pengamanan yang membelit dadanya.


" Kamu cerewet sekali, tinggal ikuti apa yang aku suruh, apa susahnya, sih?" protes Dirga kemudian membuka pintu dan beranjak keluar dari mobilnya. Akhirnya Kirania pun melakukan hal yang sama kemudian mengekor di belakang Dirga.


" Masuklah!" perintah Dirga saat Kirania hanya terdiam berdiri di depan pintu apartemen yang sudah dibuka Dirga.


" Kita mau ngapain ke sini, Pak?" Kirania tetap menanyakan hal yang sama.


" Apa saja yang bisa kita lakukan di sini. Kamu maunya melakukan apa?" tanya Dirga menggoda Kirania seraya menutup dan mengunci pintu apartemennya.

__ADS_1


Perkataan Dirga tentunya saja membuat Kirania harus menelan salivanya. Dia sudah dalam mode waspada sekarang ini, kalau-kalau Dirga berani berbuat macam-macam terhadapnya. Matanya menyapu setiap sudut ruangan, mencari benda-benda yang kira-kira bisa dia manfaatkan untuk melindunginya dari perbuatan mesum Dirga.


" Sedang mikir apa, hayo?" bisik Dirga dari belakang tubuh Kirania sempat menghadirkan gelenyar aneh di tubuhnya. " Pasti di sini lagi mikir hal mesum, kan?" Dirga mengetuk kening Kirania dengan jari telunjuknya.


" Apaan, sih?!" Kirania langsung menepis tangan Dirga kemudian memalingkan wajahnya karena ketahuan Dirga sedang berpikir hal buruk.


" Ada schedule penting apa hari ini? Kalau nggak ada yang terlalu penting pending besok saja. Kita nggak usah ke kantor, kerja dari sini saja. Selebihnya kita habiskan waktu buat pacaran saja di sini." Dirga menyeringai.


Kirania mengeryitkan keningnya mendengar ucapan Dirga. " Pacaran? Siapa yang pacaran?"


" Kitalah, aku sama kamu. Siapa lagi memangnya?" Dirga kembali mengembangkan senyum nakalnya seraya melangkah ke arah dan mendudukkan tubuhnya di sofa empuk.


" Bapak nggak malu ya bicara seperti itu? Bapak itu harusnya sadar diri. Mestinya Bapak itu ingat status Bapak. Ingat anak istri di rumah, bukannya ajak wanita lain buat pacaran!" sindir Kirania menatap Dirga dengan sorot mata menghunus tajam.


" Kamu makin lama makin galak saja, tapi aku suka, sih." Dirga terkekeh tak menghiraukan sindiran Kirania. Mungkin jika bukan Kirania yang menyindir seperti itu, sudah pasti dia akan marah besar.


" Duduk sini ..." Dirga menepuk sisi kosong sebelah kanan sofa yang dia duduki.


Kirania bergeming, tak menuruti apa yang diminta Dirga.


" Kemarilah, ada yang ingin aku sampaikan padamu, biar kamu nggak galak terus sama aku." Kata-kata Dirga kali ini terdengar lebih lembut di telinga Kirania. Dan entah kenapa Kirania goyah dan mulai mencair hingga akhirnya dia menuruti apa yang diinginkan Dirga.


" Nah, kalau nurut gini 'kan kelihatan lebih manis."


Ucapan yang keluar dari mulut Dirga kali ini kembali membuat Kirania memberengut, tapi Dirga tak memperdulikannya.


" Aku ingin tanya padamu, tentang perasaanmu kepadaku." Dirga memiringkan posisi duduknya jadi menghadap ke arah Kirania. Dan kini tangannya mulai menyampirkan helaian rambut Kirania ke belakang telinga wanita itu.


Kirania reflek menjauhkan kepalanya saat jemari Dirga mulai menyentuh bagian telinganya. Dia sungguh tak nyaman dengan sikap Dirga seperti ini.


" Masih geli ya di bagian ini?" ledek Dirga membuat Kirania memalingkan wajahnya. " Kamu belum jawab pertanyaan aku, bagaimana perasaan kamu ke aku?"


" Hei, lihat aku jika sedang aku ajak bicara." Tangan Dirga kini menarik lembut dagu Kirania karena wanita itu masih saja terdiam tak menjawab bahkan tak menatapnya sama sekali.

__ADS_1


" Bukankah saya ...."


" Aku, pakai kata aku." Dirga memotong perkataan Kirania, karena Kirania masih saja menggunakan bahasa yang formal.


" Maaf saya nggak bisa." Kirania langsung menunduk.


" Apanya yang nggak bisa?"


Kirania kembali menaikkan pandangannya. " Kenapa Bapak masih saja mengejar saya? Saya 'kan sudah katakan, saya tak ingin dituduh sebagai penghancur rumah tangga orang lain, apalagi itu rumah tangga atasan saya sendiri. Dan masalah perasaan saya ke Bapak," Kiranja mengalihkan pendangannya ke arah lain. " Sa-saya sudah tidak punya perasaan apapun terhadap Bapak. Kalau saya merasa canggung selama ini, bukan karena saya masih punya perasaan terhadap Bapak, saya cuma takut terjadi salah paham antara Bapak dan Ibu Nadia, karena Ibu Nadia tahu jika dulu saya dan Bapak pernah dekat. Itu saja, sih." Kirania menyangkal perasaannya dengan mengatakan hal yang bertentangan dengan hatinya.


" Aku nggak percaya."


" Terserah Bapak mau percaya atau tidak."


Dirga menangkup wajah Kirania dengan tangannya. " Pandang mataku, jika kamu bilang tidak mempunyai perasaan apa-apa kepadaku, katakan dengan melihatku, jangan membuang pandangan ke arah lain."


Kirania menelan salivanya saat mendapati tatapan lekat mata elang Dirga. Dan sepertinya dia terjebak hingga tak bisa menghindar dari sorot mata milik mantan kekasihnya itu. Seketika serbuan hawa panas mulai terasa di sekitar matanya, siap mengeluarkan lelehan cairan bening yang siap kapanpun tumpah ke pipinya.


" Jangan membohongi hatimu, Rania. Ayo katakan, katakan kalau kamu memang tidak mencintaiku lagi. Katakan jika kamu memang tidak punya perasaan apapun kepadaku lagi." Suara lembut Dirga meruntuhkan pertahanan Kirania, saat itu juga air mata langsung luruh di pipinya.


Dirga tersenyum, tanpa jawaban dari Kirania dia sudah tahu jika wanita di hadapannya itu sama sepertinya, yang masih memiliki rasa cinta yang besar terhadapnya.


" Kenapa menangis, hmm? Kenapa tidak mengatakan kalimat yang tadi dengan lantang kamu katakan kalau kamu tidak memiliki perasaan apapun kepadaku. Jangan buat aku berkesimpulan jika sikap diam dan menangis itu sebagai ungkapan jika kamu telah membohongi perasaanmu kepadaku." Dirga sengaja menggoda wanita yang sangat spesial untuknya itu.


Kirania semakin terisak sangat mengetahui jika Dirga menyadari kebohongannya itu.


" Jangan menangis, aku tidak suka melihat kamu menangis." Jemari Dirga menyapu air mata di pipi Kirania, lalu dengan lembut dia memberikan kecupan ke arah kening, mata, pipi dan terakhir kecupan itu bertumbu di bibir ranum Kirania. Kirania terperanjat tapi dia tidak sanggup menolak serangan Dirga. Bahkan kini Dirga semakin bersemangat hingga melu mat bibir Kirania yang kini sedikit terbuka seakan memberi kesempatan bibir dan lidah Dirga untuk


mengeksplor lebih dalam ke rongga mulut Kirania, yang kini pun mulai terhanyut dan membalas sentuhan bibir Dirga.


Bersambung ...


Cut cut cut istighfar Bang, jangan sampai nanti kejadian kaya Bima-Nadia

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2