
Kirania sedang menyapu pekarangan rumah pakdenya Sabtu sore ini. Saat tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan rumahnya. Disusul suara seorang anak kecil berteriak memanggil namanya.
" Kak Kilan ...!"
Seru suara tadi kembali memanggil Kirania. Membuat Kirania menghentikan aktivitas dan menoleh ke asal suara tadi. Kirania melihat Reyna tersenyum dengan melambaikan tangannya, kemudian turun dari motor dan berlari ke depan pintu pagar rumah Pakde Danang yang masih terkunci.
" Reyna?" Kirania langsung bergegas membuka pintu pagar yang terbuat dari kayu itu. Membuat akhirnya gadis kecil itu langsung menyergap tubuhnya, walaupun hanya bagian kaki yang terkena pelukan gadis kecil itu.
Tindakan Reyna tentu saja membuat Kirania terkesiap. Dia baru sekali berjumpa dengan gadis kecil itu. Tapi gadis itu bertingkah seolah mereka berdua itu sudah lama kenal dan saling akrab.
" Hai, Kirania ..." sapa Reyhan yang baru selesai memarkirkan motornya.
" Pak Reyhan ..." Kirania membalas sapaan dosennya.
" Reyna, ayo kita temui Tante Lulu dulu." Reyhan mengulurkan tangannya ke arah Reyna agar gadis kecil itu menurutinya.
" Ayo, Kak. Kita ke Ateu Lulu." Reyna kini malah menggandeng jemari Kirania mengajak Kirania untuk mengikutinya. Sehingga membuat Kirania mengeryitkan keningnya.
" Reyna, kenapa Kak Kirania disuruh ke rumah Tante Lulu?" tanya Reyhan terheran.
" Telus kenapa Leyna juga halus ke lumah Ateu Lulu?" protes Reyna. Gadis kecil itu memang cukup pandai dan sangat cerewet menanyakan hal-hal yang dirasanya perlu penjelasan yang bisa ditangkap oleh otaknya.
" Karena Tante Lulu itukan tantenya Reyna, jadi Reyna harus ke rumah Tante Lulu." Reyhan mencoba menjelaskan kepada putri kecilnya.
" Oh gitu." Kepala Reyna menganggukkan kepala tanda mengerti. " Kalau Kak Kilan, punya Ateu, nggak?" Anak itu sepertinya begitu tertarik dengan Kirania.
" Ini rumah budenya Kakak." Kirania menunjuk ke dalam rumah pakdenya.
" Bude itu apa, Pa?" Reyna memperlihatkan rasa ingin tahunya.
" Bude itu kakaknya Papa, seperti Uwa Reni. Itu sama saja dengan bude." Reyhan kembali memberi penjelasan dengan penuh kesabaran.
" Kalau ini lumah bude Kak Kilan, telus lumah Kak Kilan di mana?"
" Rumah Kakak jauh. Kalau ke rumah Kakak harus pakai bis atau kereta api." Kirania menerangkan.
" Nanti Leyna main ke lumah Kak Kilan, ya, Pa?"
Reyhan dan Kirania langsung saling pandang.
" Reyna. Buat apa kita ke rumah Kak Kirania? Kak Kiranianya 'kan tinggal di sini, Nak." Reyhan membelai lembut kepala Reyna.
" Saya masuk dulu, Kirania. Ayo, kita temui Tante Lulu dulu." Reyhan mengambil tangan munggil anaknya dan mengarahkan langkah ke rumah adiknya. Kirania pun segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum akhirnya membersihkan diri. Karena Sabtu sore biasanya Dirga akan datang ke rumah Pakde Danang sebelum Maghrib.
***
Selepas mandi, Kirania membantu budenya membuat cemilan. Karena hampir tiap hari sepulang kuliah Dirga menghabiskan waktu di rumah Pakde Danang. Karena itu budenya rutin membuatkan cemilan untuk Dirga. Sikap pakde dan budenya memang sudah mulai melunak terhadap Dirga, karena Dirga benar-benar menunjukkan keseriusannya.
__ADS_1
" Kak Kilan ... Kak Kilan ..."
Kirania dan budenya saling memandang saat suara Reyna terdengar dari arah luar.
" Siapa, Ran?" tanya Bude Arum.
" Oh itu, anaknya Pak Reyhan, Bude." Sebelumnya Kirania pernah menceritakan kepada budenya jika tetangga baru di depan rumah Pakde Danang itu adalah adik dari dosennya.
" Oh, dosen yang ganteng itu, toh."
" Iihh, Bude. Semua orang dibilang ganteng." Kirania mencibir tingkah budenya. Kemudian beranjak menemui Reyna.
" Reyna, Ada apa?" tanya Kirania.
" Kak Kilan, antel Leyna beli jajan." Reyna langsung menarik tangan Kirania.
" Sebentar Reyna. Kalau mau jajan, kakak ambil uangnya dulu. Reyna tunggu di sini, ya." Kirania memerintah Reyna untuk menunggu. Dia pun bergegas ke kamarnya mengambil uang dan kemudian mengajak Reyna menuju warung.
Tak lama setelah Kirania keluar dari rumah pakdenya, Dirga memasuki halaman rumah Pakde Danang.
" Assalamualaikum ..." Dirga memberi salam, tapi tak ada jawaban dari dalam rumah. " Assalamualaikum ..." sapa Dirga kembali.
" Waalaikumsalam, eh ... Nak Dirga. Masuk dulu, Rania-nya sedang ke warung." Bude Kirania kemudian keluar tapi tak lama berpamitan masuk lagi untuk melanjutkan membuat cemilan.
Dirga sendiri memilih menunggu di teras rumah Pakde Danang sambil mengedar pandangan. Matanya memperhatikan sebuah motor yang terparkir di halaman rumah depan. Dia merasa mengenali motor itu. Tak lama dari dalam rumah itu Reyhan keluar seraya berteriak.
" Waalaikumsalam. Pak Reyhan?" Dirga terkesiap mendapati dosennya kini ada di hadapannya.
" Dirga? Kamu di sini?" Reyhan tak sekaget Dirga. Karena dia cukup mendengar berita kedekatan Dirga dengan Kirania.
" Iya, Pak. Bapak sendiri ada di sini?" tanya balik Dirga.
" Depan rumah itu, rumah adik saya yang baru pindah Minggu lalu," jawab Reyhan.
" Oh gitu ...."
" Eh, ada Pak Dosen ..." Bude Arum yang tadi sempat mendengar kembali ada orang yang memberi salam langsung keluar rumah.
" Panggil saya Reyhan saja, Bu. Apa ada Reyna kemari, Bu?" tanya Reyhan santun.
" Sedang ke warung tadi sama Rania, Pak eh Nak Reyhan," jawab Bude Arum tak kalah sopan. " Ditunggu saja, sebetar lagi juga datang."
" Oh ya sudah. Terima kasih, Bu. Maaf mengganggu ..."
" Ibu masuk dulu, ya. Lagi nyalain kompor soalnya," pamit Bude Arum.
" Silahkan, Bu ..." sahut Reyhan.
__ADS_1
Sementara Dirga sendiri menatap Reyhan dengan sorot mata menyelidik. Dia merasa tidak nyaman dengan kehadiran dosennya itu di sekitar Kirania dan keluarganya. Apalagi saat dia lihat Bude Arum nampak akrab kepada dosennya itu.
" Saya nggak menyangka, mahasiswa sepopuler kamu, bisa tertarik sama wanita sederhana seperti Kirania." Reyhan kembali memulai perbincangan.
" Untuk saya, Kirania wanita spesial. Dia beda dari kebanyakan wanita." Dirga membalas perkataan Reyhan.
" Iya, kamu benar. Dia memang beda ..." Seulas senyum tipis nampak di bibir Reyhan dan itu tertangkap oleh mata Dirga. Membuat hati Dirga semakin terusik.
" Papa ..." Terdengar teriakkan Reyna yang berlari mendahului Kirania berjalan.
" Reyna beli apa? Mau jajan kok nggak bilang sama papa, sih?" tanya Reyhan mengangkat tubuh anaknya. " Ini pasti pakai uangnya Kak Kirania, kan? Habis berapa, Ran?" Reyhan merogoh saku celananya mencari dompet.
" Nggak usah, Pak. Biarkan saja, nggak banyak kok, jajannya," tolak Kirania.
" Wah, saya nggak enak, nih. Dari kemarin ngerepotin kamu terus." Reyhan tertawa kecil mengingat Kirania harus meladeni anak gadisnya.
" Nggak apa-apa, Pak. Hanya sekedar menemani ke warung saja, kok." Kirania menyahuti.
" Ehem ..." Dirga yang merasa diacuhkan langsung berdehem.
" Kak Dirga?" Kirania langsung menghampiri kekasihnya itu. " Kamu udah datang?" Kirania terasa kikuk dengan adanya dua orang pria di rumah pakdenya itu. " Aku ambilkan minum dulu, ya?"
" Kita keluar sekarang saja," ajak Dirga kemudian.
" Sekarang? Ini belum Maghrib, lho, Kak. Biasanya lepas Isya kita perginya." Kirania mengeryitkan keningnya.
" Kelamaan nunggunya."
" Siapa suruh jam segini sudah datang?" Kirania hendak masuk masuk ke dalam rumah. " Pak, saya permisi ke dalam dulu."
" Oh, kalau begitu saya juga sekalian pamit. Terima kasih untuk jajanannya dan maaf selalu merepotkan kamu." Reyhan berpamitan.
" Nggak apa-apa, Pak."
" Ayo sayang, kita pulang." Reyhan menggandeng tangan Reyna. " Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam." Kirania dan Dirga menyahuti dengan intonasi yang berbeda.
" Leyna nggak mau pulang, Pa. Leyna mau di sini saja main sama Kak Kilan." Reyna merajuk. Dia keberatan diajak pulang oleh papanya.
" Sayang, Kak Kirania mau pergi. Itu sudah dijemput sama Kak Dirga." Reyhan menunjuk Dirga
" Kenapa Kak Kilan pelgi sama Kakak itu." Reyna ikut menunjukkan jarinya ke arah Dirga. " Kan yang datang duluan kita, Pa. Kenapa Kak Kilan pelginya nggak sama kita saja, Pa?"
Pertanyaan polos sontak membuat ketiga orang dewasa itu saling berpandangan. Terutama bagi Dirga, ucapan-ucapan polos gadis kecil pengganggu itu sukses membuat dadanya semakin bergemuruh.
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️