
Entah kenapa Kirania bersikap seperti ABG yang sedang merajuk saat mengetahui jika suaminya mempunyai wanita pujaan lain selain Nadia. Dan wanita itu ternyata guru SMA-nya. Bukankah itu hanya bagian dari masa lalu suaminya? Lagipula sekarang dia sudah membuktikan jika cinta Dirga begitu besar terhadapnya? Rela melakukan apa saja untuk dapat menikah dengannya, apa itu masih pantas diragukan? Ah, mestinya dia bisa bersikap lebih tenang, mestinya dia bisa lebih bijak dalam mengambil suatu tindakan, tidak kekanakan seperti ini, keluhnya dalam hati.
Kirania berniat kembali ke meja dan mengurungkan niatnya ke toilet, namun pandangannya sekelebat menangkap siluet tubuh seseorang yang dia kenal berlari keluar dari pintu belakang restoran seafood yang dia datangi bersama suami dan asisten suaminya itu. Kirania mencoba mengejar sosok yang dia kenal itu.
" Karina?" gumamnya sembari terus menjejaki ke mana langkah Karina berlari. Sampai di luar restoran, pandangan Kirania mengedar mencari keberadaan adiknya itu. Dia sampai berlari ke arah jalan mencoba mencari ke mana bayangan adiknya itu menghilang.
Tin tin tiiiinnn
Kirania sampai tidak menyadari ada mobil yang berjalan kencang ke arahnya. Dia syok saat melihat ke belakang, mobil itu hampir saja menabraknya jika sebuah tangan terlambat menarik lengannya dan kini dia merasakan tangan kokoh itu sedang mendekap tubuhnya.
" Kamu apa-apaan sih, Yank? Aku mengerti jika kamu marah karena cerita Ricky, tapi apa yang kamu lakukan tadi berbahaya. Kamu bisa ketabrak tadi." Ternyata Dirga lah yang menarik tubuhnya tadi. " Kamu kenapa keluar resto? Mau kabur?"
" Karina, Mas." Itu kalimat yang keluar dari mulut Kirania
" Karina siapa maksudmu?" tanya Dirga mengeryitkan keningnya.
" A-aku tadi mengejar Karina." Kirania menunjuk arah bayangan Karina tadi menghilang.
" Karina adikmu? Bukannya dia di Cirebon?"
" Tapi aku tadi lihat dia, Mas. Keluar dari restoran makanya aku kejar dia." Kirania mencoba menjelaskan.
Kirania langsung mencoba menghubungi nomer ponsel adiknya itu, tapi nomernya tidak dapat dihubungi.
" Nomernya nggak aktif."
" Kamu mungkin salah lihat, Yank."
" Aku nggak salah lihat, Mas. Tadi itu Karina, aku ingat dia pakai baju yang aku kasih saat ulang tahun dia kemarin. Aku yang belikan bajunya, mana mungkin aku salah." Kirania bersikukuh.
" Sayang, baju yang dijual di toko itu diproduksi nggak cuma satu, bisa saja ada orang yang beli baju sama dengan yang kamu kasih ke Karina, kan?"
" Tapi, Mas."
" Ya sudah, coba kamu telepon Mama Saras, untuk memastikan apa adikmu ada di sana atau tidak." Dirga memberikan saran.
__ADS_1
Kirania pun menuruti apa yang suaminya perintahkan, dia mencoba menghubungi mamanya.
" Assalamualaikum, Ran ..."
" Waalaikumsalam, Ma. Ma, Karina ada di sana?" tanya Kirania saat sambungan teleponnya terhubung.
" Karina sedang keluar kota, Ran. Bilangnya ada tugas di luar kota dari kemarin."
" Ke luar kota, ke mana, Ma?"
" Bilangnya sih di daerah Cikarang atau apa gitu Mama lupa."
" Oh, pantesan ...."
" Kenapa, Ran? Memangnya ada apa?"
" Rania tadi seperti melihat Karina." Kirania menyahuti. " Dia ada di dekat-dekat Jakarta tapi kenapa nggak kasih tahu aku ya, Ma? Dia menginap di mana memangnya?" Kirania merasa khawatir mengetahui adiknya ada di seputaran Jabodetabek.
" Ya mungkin dia nggak enak mengganggu kalian pengantin baru."
" Ya sudah, Ma. Nanti Rania coba hubungi Karina lagi. Assalamualaikum ..." Kirania segera mengakhiri sambungan teleponnya.
" Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh ..." sahut Mama Saras.
" Bagaimana?" tanya Dirga selepas Kirania mengakhiri panggilan teleponnya.
" Dia sedang ada tugas di daerah Bekasi, jangan-jangan yang tadi aku lihat itu benar Karina, Mas."
" Ya sudah nanti kita coba hubungi dia lagi. Sekarang kita kembali ke dalam, makanannya mungkin sudah siap." Dirga melingkarkan lengannya di pundak Kirania menuntun istrinya itu untuk kembali ke dalam restoran.
***
" Kamu cobalah baju itu, kalau pas ambil saja, dan pilih beberapa model lagi," perintah Dirga. " Aku ingin coba blazer yang kamu pilihkan untukku ini," ujarnya kemudian berjalan menuju fitting room.
Kirania memperhatikan baju yang Dirga pilihkan untuknya di sebuah outlet branded asal negeri Italy. Walaupun dia tidak pernah membeli branded kenamaan Negera asal gladiator itu, tapi dia tahu harga yang tertempel di price tag lumayan mencekik leher orang-orang sepertinya. Tapi apa Dirga bilang, " Sayang, kau ini istri bos, jangan pikirkan berapa harga baju itu. Kau tinggal pilih mana yang kau suka dan beli. Uangku tak akan habis andai kau borong semua isi outlet ini," ucapnya tadi saat dia menolak beberapa baju yang suaminya pilihkan tadi, membuat Kirania hanya mendesah pasrah.
__ADS_1
Buggghh
" Maaf, maaf ..." ucap Kirania saat dia menabrak seseorang yang keluar dari fitting room saat dia juga hendak mencoba baju yang sedang dipegangnya.
" Lihat-lihat dong kalau jalan." Seorang wanita yang tadi bertabrakan dengan Kirania memprotes.
" Maaf, mbak. Saya tadi nggak melihat." Kirania mengungkapkan penyesalannya seraya melihat wanita itu. Dia mengeryitkan keningnya merasa seperti mengenali wanita di hadapannya itu.
" Kamu?? Sepertinya aku kenal kamu, deh. Tapi di mana ya?" Wanita itu pun merasa mengenali Kirania. " Ah, iya-iya ... kamu itu si kuper, kan? Iiisshh ... sedang apa kamu di sini? Kamu pelayan, ya? Hati-hati lho baju itu harganya mahal, jangan sampai hilang atau robek. Kalau hilang bisa-bisa kamu nggak digaji buat gantikan baju itu," ucap wanita yang ternyata adalah Naura.
" Kamu tahu 'kan harga barang-barang di sini itu mahal, hati-hati jangan sampai kecolongan. Gaji kamu sebulan saja belum tentu bisa buat ganti," Naura menyepelekan.
" Sayang, bagaimana menurutmu?" tanya Dirga yang keluar dari fitting room menggunakan blazer warna navy yang membuat suami Kirania itu nampak gagah.
" D-Dirga?? Kamu Dirgantara, kan? Oh my God, kamu masih ingat aku, kan? Aku Naura, mantan kamu waktu kuliah dulu." Naura yang mendapati kehadiran Dirga langsung mendekat ke arah pria tampan itu membuat pria itu mengeryitkan keningnya.
" Mantan apa, ya? Maaf, sewaktu kuliah saya hanya punya satu mantan kekasih, dan mantan saya itu kini sudah menjadi istri saya." Dirga langsung menghampiri Kirania dan merengkuh tubuh Kirania ke dalam pelukannya seraya memberikan kecupan di pipi mulus Kirania.
Tindakan Dirga sontak membuat Naura tercengang. " I-istri?? M-maksud kamu siapa i-istri kamu, Dirga? Nggak mungkin si kuper ini istri kamu, kan? K-kalian itu dulu sudah putus, kan?" Naura seakan tidak bisa menerima kenyataan jika Kirania adalah istri dari Dirga.
" Kenyataannya dia memang istri saya." Dirga semakin mengeratkan pelukannya ke pinggang Kirania. " Bagaimana, sudah kau coba semua baju-bajunya, Sayang? Kalau sudah kita bayar saja sekalian." Dirga kemudian melepas blazer yang sempat dicobanya tadi. " Mbak, tolong saya ambil ini semua." Dirga mengambil baju yang dipegang Kirania lalu menyerahkan kepada pelayan toko itu.
" Baik, Tuan." Pelayan itu mematuhi apa yang diperintahkan Dirga terhadapnya.
" Ayo, Sayang ..." Dirga kemudian berjalan ke arah kasir dengan tangan masih merengkuh posesif pinggang ramping istrinya. Sementara Kirania sempat menoleh ke arah Naura seraya mengembangkan senyuman kepada wanita yang pernah bersikap buruk kepadanya saat mereka masih kuliah dulu, membuat lutut Naura seketika melemas dan langsung terjatuh pingsan saat mengetahui jika wanita yang saat kuliah dulu pernah diintimidasi oleh dia dan teman-temannya itu kini sudah menjelma menjadi seorang Cinderella dan menikah dengan sang pangeran yang kaya raya bernama Dirgantara Poetra Laksmana.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1