RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Jadi Incaran Cowok Famous


__ADS_3

Dirga memicingkan matanya mendengar apa yang dikata Arif. Bukannya dia tidak mendengar apa yang dikatakan Arif, tapi hanya ingin benar-benar meyakinkan kalau pendengarannya masih normal, akhirnya dia kembali bertanya.


" Siapa cewek yang lu maksud? Yang pulang sama Prayoga?" Dirga teringat jika siang tadi dia pun melihat Kirania bersama pria lain dan dari penuturan Arif, akhirnya dia tahu jika pria yang bersama Kirania itu adalah Prayoga.


" Si Kirania itulah, memangnya kita sedang ngomongin cewek lain selain dia sekarang ini?" Jawaban Arif semakin membuat Dirga mengeratkan giginya.


" Dua hari ini gue lihat mereka pulang bareng," lanjut Arif menceritakan apa yang dilihatnya.


" Jadi dia sering kemari?" Dada Dirga seakan bergolak saat mengetahui ternyata apa yang dia lihat tadi siang, bukan pertama kali pria yang pernah menolongnya itu menjemput Kirania.


" Kalo sering, sih, gue nggak tahu. Cuma dua hari berturut-turut gue lihat itu cewek dijemput dia," jawab Arif kembali.


" Wah, hebat ternyata si kuper, jadi incaran cowok-cowok famous." Ruben menyahuti.


" Tapi kalau benar ternyata Prayoga itu yang belakangan jemput si kuper, benar kata Arif, Ga. Lu ketemu lawan yang seimbang. Ya mungkin dia nggak setajir lu, tapi selebihnya kalian balance lah, tapi mungkin Prayoga ada nilai plus nya. Karena dia bukan bad boy seperti lu." Doni pun ikut menimpali. " Adik gue 'kan satu kampus sama dia. Kalau lagi kumpul di rumah sama teman-temannya, yang selalu dibicarakan mereka selalu tentang Prayoga itu."


" Siap-siap, lu, Bro. Kehilangan motor sport lu itu." Ruben terkekeh seraya menepuk pundak Dirga yang langsung ditepis Dirga.


" Gue suka, nih. Kalau ada battle begini. Dirgantara versus Prayoga demi memperebutkan si cewek kuper." Ruben tergelak yang disambung tawa Doni dan Arif.


" Gue pegang Prayoga, dong!" Doni justru menjagokan rival sahabatnya itu.


" Sial, lu! Teman nggak ada akhlak, malah jagoin lawan Si Dirga." Ruben mentoyor kepala Doni. " Kalau mau menjagokan yang masuk akal, dong! Si kuper yang pendiam itu memang lebih cocok sama Prayoga yang kalem daripada sama teman kita yang player."


" Sama saja, bego!" umpat Doni melempar bungkus rokok ke arah Ruben.


Dirga tak meladeni sindiran teman-temannya, dia langsung bangkit dari duduknya.


" Ke mana, Ga?" tanya Arif melihat sahabatnya itu berniat meninggalkan mereka.


" Gue balik duluan." Dirga menyahuti.


" Yaelah, belum juga jam sembilan, Ga."


Seruan Doni pun tak dihiraukan nya. Dirga tetap melangkah lebar menuju mobilnya di halaman parkir.


Sementara itu di rumah Pakde Danang...


" Ran, Bude kamu bilang, katanya tadi siang kamu diantar teman kamu yang nolong kamu waktu itu. Siapa namanya?" tanya Pakde Danang, saat mereka duduk bersantai setelah makan malam.


" Prayoga, Pakde." Kirania menjawab.

__ADS_1


" Budemu itu, lho. Dia seperti ABG yang sedang kasmaran menceritakan teman kamu itu." Pakde Danang terkekeh mengingat tingkah istrinya. " Pakde boleh kenalan sama teman kamu itu?" lanjut Pakde Danang.


Kirania mengeryitkan keningnya mendengar ucapan Pakdenya.


" Maksud Pakde, Bude ingin selingkuh?" pertanyaan konyol lolos dari bibir Kirania.


" Hush, ngawur kamu, Ran. Setua ini siapa yang masih mau?" sergah Bude Arum yang baru saja bergabung sambil membawakan teh tubruk untuk suaminya.


Kirania terkekeh. " Kirain Pakde mau menghajar Yoga, karena telah membuat Bude mengagumi pria lain."


" Pakde ingin kenal dengan teman kamu itu, apa kamu bisa suruh dia main kemari besok malam?"


" Besok malam, Pakde?" Kirania ingat jika besok adalah hari Sabtu, artinya Yoga diminta Pakdenya datang ke sini malam Minggu. Seketika bola mata Kirania membulat. " Hmmm, tapi aku nggak enak suruh dia ke sini Pakde. Takut dia salah paham." Rania tertunduk sementara tangannya sibuk memilin ujung baju piyamanya.


" Salah paham gimana maksudnya?" tanya Pakde Danang seraya menyesap teh tubruk yang masih hangat.


" Besok 'kan malam Minggu, Pakde."


" Yang bilang malam Jumat siapa?" Pakde Danang berseloroh.


" Maksud Rania, nggak enak suruh datang malam Minggu, barangkali dia mau malam mingguan sama pacarnya, gimana?"


" Memang Prayoga sudah punya pacar, ya?" tanya Bude Arum.


" Makanya Pakde minta dia datang kemari. Pakde ingin tahu tujuan dia dekati kamu. Kamu sudah dewasa, Ran. Pakde nggak akan larang kamu dekat dengan pria mana pun, selama pria itu tidak membawa pengaruh buruk buat kamu. Pakde nggak ingin kejadian seperti kemarin terulang kembali."


Kirania menelan salivanya, mengingat kejadian malam Minggu kemarin bersama Dirga.


" Tapi 'kan nggak enak, Pakde. Pertama dia antar Rania karena memang order, terus tadi siang kebetulan dia lewat depan kampus, lalu menawari tumpangan. Rasanya terlalu berlebihan jika harus mengintrogasi dia begitu, Pakde."


" Lho, nggak apa-apa, toh? Itung-itung silahturahmi, siapa tahu memang cocok dan jadi." Pakde terkekeh.


" Jadi apa maksud Pakde?"


" Jadi menantu kami, Ran." Bude Arum yang terlihat asyik menonton televisi menimpali.


" Ya ampun, Bude. Kenapa mikirnya sejauh itu, sih?" Kirania memberengut.


" Lho, apa salahnya berharap? Nak Yoga kelihatan suka sama kamu gitu, lho!"


" Siapa bilang dia suka sama aku, Bude?"

__ADS_1


" Nak Yoga."


Bola mata Kirania membulat. " Kapan dia bilang? Dia bilang sama Bude?" tanya Kirania antusias.


" Nggak, sih. Tapi dia bilang sama kamu, kan? Kalo dia minta kamu jangan tolak dia kalau besok-besok dia mau main ke sini? Apa coba artinya kalau bukan dia itu suka sama kamu?"


" Ya ampun, Bude nguping obrolan aku sama Yoga?"


" Nggak sengaja kedengaran, Ran." Bude Arum terkikik.


Kirania berdecak. " Bude jangan asal menebak gitu, deh! Kalau dugaan Bude salah 'kan aku yang malu." Kirania kemudian berdiri. " Sudah, ah. Rania ingin kembali ke kamar," pamit Kirania.


" Jangan lupa kasih tahu Nak Yoga, Pakdemu ingin kenalan, Ran." Bude Arum kembali meledek keponakannya itu.


***


Kirania terlihat gelisah di dalam kamarnya, tentu saja yang membuatnya gelisah adalah permintaan Pakdenya yang menyuruh Yoga datang kemari.


Kirania memandangi ponselnya mencari kontak WhatsApp bernama Prayoga. Sejenak dia berpikir, tak lama dia mengetikkan pesan kepada pria itu, tapi belum sempat dia kirim, dia menghapus kembali pesannya.


" Nggak, deh. Sebaiknya aku nggak usah hubungi Yoga lagi. Masa aku yang minta Yoga main ke sini duluan? Nanti dia pikir aku agresif. Sebaiknya aku nanti bilang saja sama Pakde kalau Yoga nggak bisa ke sini, karena ada acara. Ah iya, gitu saja, deh." gumam Kirania kemudian meletakkan ponselnya ke dalam tasnya. Kemudian dia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, seraya memejamkan mata, dia teringat ucapan Yoga.


" Minta tolong, jangan ditolak kalau aku besok-besok main ke sini lagi."


Seketika seulas senyuman terlukis di bibirnya, namun tiba-tiba senyuman itu memudar saat sekelebat bayangan Dirga melintas dipikirannya. Teringat perkataan-perkataan Dirga yang menyakitkan dan juga perbuatan Naura dan teman-temannya yang mengganggunya, membuat hatinya tiba-tiba terusik.


*


*


*


Hari ini aku usahakan double up lagi, ya.


Bersambung ...


Seperti yang dijanjikan diawal aku kasih give away buat 5 orang masing² @50K, silahkan buat yg ada di bawah ini setor nomer ponsel masing² ya😁



Selamat Berpuasa ...

__ADS_1


Happy Reading😘


__ADS_2