RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Kembali Ke Jakarta


__ADS_3

Sepeninggal Karina, tidak ada percakapan yang terdengar di antara dua orang pria yang ada dalam satu ruangan itu. Mereka sibuk bergelut dengan pikiran mereka masing, tentang siapa pria di depan mereka. Karena keduanya sama-sama mempunyai tujuan yang sama, yaitu Kirania.


" Ehem ..." Dirga berdehem memecah keheningan di antara mereka berdua. " Ada perlu apa kamu cari Kirania?" tanya Dirga memulai percakapan.


" Saya mau memenuhi janji kemarin untuk mengajak Rania jalan keluar." Balasan Gilang membuat Dirga mengeratkan giginya.


" Rania sekarang sudah ada saya. Kalau dia mau keluar, biar saya yang temani. Kamu nggak usah repot-repot," tegas Dirga.


Gilang menarik satu sudut bibirnya. " Saya nggak merasa direpotkan, justru dengan senang hati saya melakukannya."


Tangan Dirga mengepal saat mendengar jawaban Gilang. Sepertinya pria yang dihadapinya bukan orang yang gentar dengan intimidasi nya.


" Lho, ada Dirga juga rupanya. Rania-nya mana? Kok malah ditinggal." Mama Saras tiba-tiba keluar dari dalam ruangan tengah.


" Ah, iya, Bu ..." Dirga mencium punggung tangan Mama Saras.


" Oh ya, Dirga sudah kenal sama Gilang? Gilang ini kakak kelas Rania waktu SMA. Kebetulan juga rumahnya dekat-dekat sini. Kalau Rania pulang ke sini, Gilang sering main kemari. Tadi Gilang bilang mau ajak pergi makan di luar."


Ungkapan Mama Saras semakin membuat hati Dirga tidak nyaman. Dia merasa jika Gilang terlihat sangat akrab dengan keluarga Kirania. Sementara untuk Gilang, perkataan Mama Saras membuatnya tersenyum senang karena merasa di atas angin.


***


Suasana di meja makan saat ini terlihat kikuk. Bagaimana tidak kikuk? Mama Saras yang tidak peka, malah meminta Dirga juga ikut makan bersama di luar. Jadilah saat ini lima orang yang duduk di satu meja makan. Mama Saras, Kirania, Karina, Dirga dan juga Gilang.


" Dirga di sini tinggal di mana?" tanya Mama Saras saat menunggu pesanan datang.


" Saya di penginapan, Ma. Hmm ... nggak apa-apa saya panggil Ibu dengan sebutan Mama? Biar lebih akrab." Dengan rasa percaya diri Dirga mengatakan hal itu.


" Oh ... ya nggak apa-apa, sih." Mama Saras menyahuti.


" Gilang juga boleh panggil Mama juga, dong, Tan?" Gilang tak mau kalah.


" Boleh saja Berarti sekarang Mama jadi nambah anak. Anak Mama 'kan perempuan semua, Mama senang jadi nambah dua anak laki-laki." Mama Saras tersenyum.


" Yeah ... Mama tambah dua anak laki-laki, satu buat Mbak Rania, satu lagi buat aku, dong." kelakar Karina terkekeh membuat semua yang ada di meja itu memusatkan pandangan ke arah Karina.

__ADS_1


" Dek, jaga sikap kamu!" tegur Kirania menanggapi sikap adiknya yang terkesan tak punya rasa malu. Mama Saras sendiri hanya geleng-geleng kepala menanggapi kepolosan sikap putri bungsunya itu.


" Yeeeh ... nggak apa-apa, dong, Mbak. Kalau Mbak Rania pilih Kak Dirga, berarti Kak Gilang buat aku. Kalau Kak Gilang yang dipilih Mbak Rania, berarti aku sama Kak Dirga. Nggak mungkin juga 'kan, Mbak pilih dua-duanya?" Karina kembali berseloroh.


" Kamu ini, Rin. Memangnya Kak Dirga sama Kak Gilang mau sama kamu?" ucapan Mama Saras semakin membuat Kirania memijat pelipisnya.


" Ya harus mau, dong. Ibarat pepatah mengatakan, tak ada rotan akar pun jadi. Nggak dapat kakaknya, dapat adiknya pun nggak masalah." Karina tertawa geli.


" Karina!!" hardik Kirania, membuat orang di sana, bukan hanya Karina tapi juga Mama Saras, Dirga, Gilang menolehnya. " Kamu jangan bikin malu kalau bicara. Kamu itu perempuan!"


" Ck, Mbak Rania serius banget, deh. Nggak bisa diajak bercanda." Karina mencebik.


" Sudah-sudah, makanannya sudah datang, ayo kita makan, jangan lanjut bicaranya." Mama Saras menengahi perdebatan kedua putrinya.


***


Ini hari ke tiga Dirga di kampung halaman Kirania. Tiap hari Dirga selalu berusaha mendapatkan hati wanita itu. Setiap hari dia keluar dari penginapannya untuk menjemput Kirania ke pasar. Dirga bahkan ikut membantu melayani toko kelontong milik orang tua Kirania. Ikut mengangkat karung beras. Ikut menakar sembako dan kerjaan lain pelayan toko kelontong lainnya. Suatu hal yang langka yang dia lakukan selama ini. Mungkin jika teman-temannya tahu kegilaan dia saat ini, temannya akan menertawakan kelakuannya.


" Ran, Dirga suruh makan dulu, sana. Mama sudah belikan empal buat makan siang kalian," ucap Mama Saras.


" Mama sudah makan?" tanya Kirania.


" Biarkan saja, anak cowok ini."


" Ya sudah, buruan sana makan dulu." Perintah Mama Saras. " Dirga, makan dulu sana sama Rania!" seru Mama Saras menghentikan aktivitas Dirga menyusun tumpukan beras yang baru saja datang.


" Baik, Ma. Sekalian sama Mama, Yuk." ajak Dirga.


" Kalian berdua saja dulu," tolak Mama Saras halus.


" Ya sudah, kalau begitu, Dirga makan duluan, ya, Ma." Mama Saras mengangguk mempersilahkan.


Kirania mengambilkan nasi di piring dan empal di mangkuk dengan beberapa kerupuk dan emping untuk Dirga, Sementara Dirga sibuk memperhatikan Kirania yang sedang menyiapkan makanan untuknya.


" Aku berasa sudah jadi suami kamu dilayani seperti ini. Diambilkan nasinya, lauknya," ucap Dirga tersenyum.

__ADS_1


" Nggak usah ge-er. Aku ambilkan semua karena cuma ada sedikit. Buat Mama sama pegawai yang lain nanti nggak kebagian. Aku nggak mau kamu ambilnya kebanyakan, ambil jatahnya yang lain." Kirania mengelak. Seketika Dirga terkekeh.


" Kapan kita pulang ke Jakarta? Kamu nggak kangen kampus? Lagipula kamu ke sini karena menghindari aku, kan? Sekarang di sini pun kamu ketemu aku. Jadi kenapa kita nggak pulang ke Jakarta saja?"


Kirania mengambil posisi duduk di depan Dirga tanpa menjawab pertanyaan Dirga.


" Besok kita pulang saja, ya?" pinta Dirga.


Kirania masih terdiam tak langsung menjawab.


" Aku ..."


" Nggak ada yang perlu kamu takutkan. Di kampus semua aman terkendali. Tak akan ada lagi yang akan mengusik kamu. Naura dan teman-temannya juga sudah menerima hukuman atas perbuatannya. Mereka nggak akan mengganggu kamu." Dirga berusaha meyakinkan Kirania.


***


Pagi ini, Dirga dan Kirania kembali ke Jakarta dengan kereta Cirebon Ekspres jam keberangkatan pukul delapan tiga puluh. Kirania akhirnya memutuskan kembali ke Jakarta. Karena dia berpikir apa yang dikatakan Dirga benar adanya. Dia memilih pulang ke kampung halaman karena kesal dengan perbuatan Dirga. Tapi orang yang membuatnya kesal kini malah setiap hari dari pagi sampai menjelang malam selalu ada bersamanya. Jadi percuma juga dia bersembunyi sementara orang yang ingin dia hindari kini malah seperti bayangan untuknya. Mungkin hanya ke toilet dan kamar tidur saja Dirga tidak mengikuti.


Kirania memilih duduk di dekat jendela sambil melemparkan pandangan ke luar jendela. Dia tersentak saat jari tangan Dirga menyampirkan helaian rambut Kirania yang menutupi sebagian pipinya.


" Apaan, sih?" Kirania menepis tangan Dirga.


" Lihat sini, dong. Di sebelah kiri kamu pemandangannya enak dilihat, kok." Dirga memainkan alisnya.


" Narsis banget," cibir Kirania.


" Bukan narsis Rania sayang, tapi aku itu sadar diri. Sadar diri kalau aku ini lumayan ganteng." Kirania langsung memutar bola matanya menanggapi celotehan pria menyebalkan yang entah kenapa, sekarang ini dia seakan kesulitan menolak apa yang diinginkan pria itu.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Like & Komennya jangan ketinggalan ya gaes 🙏


Happy Reading❤️


__ADS_2