RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Permintaan Mama Utami


__ADS_3

Kirania tersentak saat dia sedang membersihkan dirinya tiba-tiba terdengar pintu kamar mandi digedor dengan sangat kencang. Jantung Kirania berdebar kencang saat suara Mama Utami berteriak meminta pintu itu segera dibuka. Dia merasa seperti pasangan selingkuhan yang digrebek kena sergap oleh istri sah karena ketahuan berbuat mesum. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasa malunya berhadapan dengan mama mertuanya itu.


" Hei, cepat buka pintunya!!" Kembali terdengar teriakan Mama Utami.


Kirania dengan cepat memakai baju dan segera membuka pintunya.


" Hei, buka pin .. tu. Kamu??" Mama Utami terkesiap saat mendapati ternyata Kirania lah yang ada di dalam toilet itu. " Kalian ..." Mama Utami bergantian melihat penampilan Dirga dan Kirania yang kacau langsung menghela nafas panjang. " Rapihkan penampilan kalian dulu, Mama tunggu di depan." Mama Utami kemudian keluar dari ruang istirahat Dirga.


" Ini semua gara-gara Abang." Kirania menggerutu.


" Gara-gara aku, tapi kamu menikmati juga, kan?" ledek Dirga seraya memainkan alis matanya.


" Aku malu menghadapi mama, Abang ..." rengek Kirania manja.


" Kenapa mesti malu? Kita ini 'kan suami istri, melakukan hubungan intim itu suatu hal yang wajar, kan?" Dirga santai merespon kecemasan adiknya.


" Iya tapi kalau melakukannya di kantor dalam waktu kerja itu 'kan memalukan." Kirania menutup wajah dengan tangannya membuat Dirga kembali melingkarkan lengan ke pinggang Kirania.


" Lepaskan, Abang ..." Kirania berusaha melepaskan diri dari rengkuhan suaminya itu. " Malu nanti dilihat mama."


" Biarkan saja mama lihat jika anaknya ini benar-benar cinta sama istrinya." Dirga terkekeh seraya menciumi ceruk leher istrinya.


" Abang ...!" ucap Kirania sedikit menyentak. " Itu mama sudah menunggu kita di luar."


Dirga akhirnya mengurai pelukannya. " Kamu dulu sana yang menemui mama, aku mau mandi dulu." Dirga berjalan menuju toilet sambil tertawa kecil. Jelas saja hal itu membuat Kirania berdecak karena harus menemani mama mertuanya itu sendirian.


Akhirnya setelah beberapa saat merapihkan diri Kirania pun berjalan keluar kamar menemui Mama Utami. Jangan ditanya bagaimana rasa hatinya saat ini. Gugup dan malu yang paling dominan menguasai hatinya saat ini.


" Ma, Mama apa kabar?" tanya Kirania menyapa mama mertuanya itu.


" Alhamdulillah baik, kamu sendiri gimana?" tanya balik Mama Utami.


" Rania baik juga kok, Ma. Alhamdulillah ..." Kirania menyahuti.


" Syukurlah kalau begitu." Mama Utami menaruh ponsel yang sedari tadi dipegangnya.


" Mama kapan datang dari Bali? Rencananya sore nanti kami akan berkunjung ke Mama kalau Mama sudah ada di Jakarta." Kirania mencoba berbasa-basi untuk menghilangkan rasa canggung.


" Kalian mau datang ke rumah?" Mama Utami nampak terkejut.


" Iya, Ma. Tadi Rania bilang sama Abang ingin berkunjung ke rumah Mama, karena selama aku di sini Abang belum sempat mengajak aku menemui Mama. Tapi Abang bilang nanti mau hubungi Mama dulu, mau tanya posisi Mama sedang ada di mana sekarang ini." Kirania menceritakan percakapannya dengan suaminya tadi.


" Sudah Mama duga, nggak mungkin dia akan pulang ke rumah kalau bukan karena satu dorongan." Ada nada getir dalam ucapan Mama Utami.


" Memangnya selama ini Abang tidak pernah menemui Mama?" tanya Kirania hati-hati.


" Mama yang salah, mungkin sikap Dirga yang seperti itu karena rasa kecewa dia karena keputusan Mama yang memaksa dia untuk bersama Nadia dan memisahkan kalian." Mata Mama Utami mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


Kirania yang melihat kesedihan di wajah mertuanya itu dengan cepat meraih tissue dan menyodorkan kepada Mama Utami, dia juga mengusap lembut punggung mertuanya.


" Sudah, Ma. Jangan diingat-ingat lagi soal itu. Sekarang ini kami sudah menikah, keinginan Abang menikah denganku sudah terpenuhi. Rania janji akan buat Abang sering mengunjungi Mama."


Mama Utami menggangguk tanda menyetujui apa yang diucapkan menantunya.


" Kamu memanggil Abang ke Dirga??" tanya Mama Utami.


" I-iya, aku disuruh memanggilnya Abang." Kirania tersipu malu. " Maaf kalau Mama nggak suka dengan panggilan itu."


Tapi reaksi tak terduga dia dapati dari sang mertua. " Mama jadi teringat akan Bima, Dirga manggilnya dengan sebutan Abang. Tidak apa, Mama suka dengan panggilan itu." Mama Utami tersenyum.


" Oh ya, kamu habis dari mana? Habis pergi ke tempat lain lalu mampir ke sini atau sengaja datang ke sini karena Dirga yang menyuruh kamu untuk menyalurkan hasratnya itu?"


Deg


Pertanyaan Mama Utami sontak membuat wajah Kirania bersemu merah, sedangkan dadanya terasa bergemuruh ditodong pertanyaan seperti itu oleh mama mertuanya.


" Kamu nggak perlu malu seperti itu. Papanya Dirga dulu waktu masih muda juga seperti itu. Telepon Mama, bilangnya minta dibawakan makan siang masakan rumahan dan minta Mama sendiri yang mengantar kemari, ujung-ujung disuruh melayani di tempat tidur."


Kirania terkesiap mendengar cerita mama mertuanya tentang hubungannya dengan almarhum suaminya. Dia tidak menyangka mertuanya itu sampai berani menceritakan secara gamblang tentang hal yang privacy seperti itu. " Ternyata ayah sama anak sama saja," batinnya kemudian.


" Berarti benar 'kan Dirga sengaja suruh kamu datang kemari?" tanya Mama Utami.


" Hmmm ..." Kirania malu mengatakannya.


" Hmmm, Rania memang setiap hari di sini kok, Ma." Kirania menggigit bibir bawahnya.


" Apa?? Dirga minta kamu melayani dia tiap hari?" Mama Utami nampak syok gagal memahami maksud dari anaknya itu.


" Bu-bukan, bukan begitu maksud aku, Ma." Dengan cepat Kirania menyakal dugaan mertuanya.


" Lalu maksudnya?"


" Setiap hari Rania memang ikut ke kantor ini dari pagi sampai sore." Kirania menjelaskan.


" Kamu masih kerja sebagai asisten pribadi Dirga?" Mama Utami mengeryitkan keningnya.


" Ng-nggak kok, Ma. Rania sudah nggak kerja. Aku hanya diminta Abang menemani dia di sini."


" Disuruh menemani Dirga di sini? Tiap hari?"


" Iya, Ma."


" Lantas apa saja yang kamu kerjakan di sini tiap hari itu?"


Kirania menggelengkan kepala seraya berucap," Nggak ada, Ma. Abang melarang aku menyentuh pekerjaan kantor apapun kecuali membuatkan kopi untuk dia."

__ADS_1


" Astaga ... lebay sekali itu anak." Mama Dirga menepuk jidatnya sendiri.


" Siapa yang lebay, Ma?" Tiba-tiba Dirga sudah muncul di hadapan mereka.


Mama Utami mendengus mendapati anaknya itu mendekat dengan menyeringai.


" Siapa lagi kalau bukan kamu?!" ketus Mama Utami.


Dirga terkekeh mendekat ke arah mamanya, sedikit membungkukkan badannya dan membenamkan sebuah kecupan di pipi mamanya itu.


" Memangnya aku lebay kenapa, Ma?" Dirga kemudian duduk di samping Kirania dan merentangankan tangannya di pundak Kirania.


" Sikap kamu yang menyuruh istrimu ini menemani kamu di kantor, persis kaya anak kecil." Mama Utami mencibir.


" Hmmm, rupanya istriku ini sudah mengadu kepada Mama?" Dirga langsung menarik tubuh Kirania hingga kini Dirga memeluk erat istrinya membuat Kirania merasa jengah.


" Waktu kamu TK saja kamu nggak mau Mama temani ke sekolah, ini sudah dewasa malah minta ditemani istri kerja," sindir Mama Utami lagi.


" Beda dong, Ma. Adanya istri di dekatku bikin aku semangat bekerja. Lagipula daripada dia sendirian di rumah, mending ikut aku ke kantor."


" Apa sebaiknya kamu pindah ke rumah Mama saja, jadi istri kamu ini ada yang menemani. Mama juga jadi ada teman di rumah." Mama Utami memberikan saran.


" Aku nggak setuju, Ma." Dirga menentang permintaan mamanya itu.


Mama Utami menghela nafas kembali. Dia sudah menduga jika Dirga tidak akan menyetujui permintaannya itu.


" Kalau begitu gimana kalau selama kamu bekerja, istri kamu ini dibawa ke rumah Mama. Kalau pagi kamu antar istrimu ke Mama, kalau sore kamu bisa jemput pulang, gimana?"


" Aku setuju, Ma."


" Aku nggak setuju."


Kirania dan Dirga sama-sama bereaksi dengan jawaban yang berbeda atas saran yang Mama Utami berikan.


*


*


*


Bersambung ...


Sembari menunggu lanjutan RTB, yuk mari dilirik novel aku yang masih on going lainnya KCA dan karya tamat yg masih berjalan season 2 nya MSI mohon dukungan like juga komennya ya mak² reader. Khusus yg KCA karena aku lagi mengajukan agar karya ini masuk karya kontrak jadi mohon dukungannya, Makasih🙏



__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2