RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Tugas Baru


__ADS_3

Kirania menatap pantulan dirinya di depan cermin yang terpasang di lemari pakaian yang ada di kamar apartemen. Riasan make up tipis di wajahnya masih memperlihatkan wajah sendu setelah tadi sempat menangis. Sebenarnya dia tidak ingin menuruti apa yang diperintahkan Dirga kepadanya, tapi dia paham bagaimana karakter seorang Dirgantara Poetra Laksmana yang sejak dulu dia kenal adalah seorang yang pemaksa. Apa yang diinginkan oleh pria itu harus dituruti. Dia juga masih ingat bagaimana kerasnya hati Dirga saat nekat menemui pakdenya dulu untuk bisa meluluhkan hati Pakde Danang yang melarang pria itu mendekati Kirania.


Kirania berjalan ke luar kamar apartemennya menuju tempat di mana Dirgantara menunggunya.


" Mbak Kirania, Pak Dirga ada di parkiran sebelah kiri," Kirania terkesiap saat keluar dari pintu lift ternyata Adit sudah menunggunya di sana.


" Pak Adit masih di sini?" tanya Kirania dengan kening berkerut.


" Iya, Mbak. Saya disuruh pak bos tunggu Mbak Kirania. Mari saya antar, Mbak." Adit kemudian berjalan mendahului Kirania.


Kirania menghela nafas panjang, dia tidak mengerti apa yang diinginkan Dirga, sampai pria itu rela datang sendiri menjemput dirinya. Dan dengan melibatkan karyawan lain seperti Adit ini, apa Dirga tidak takut ini akan menjadi bahan gosip di kantor nanti.


Kirania mengikuti langkah Adit dengan perlahan hingga membuat Adit pun harus mengimbangi langkah Kirania yang berjalan pelan, sampai akhirnya tiba di sebuah mobil mewah berwarna sapphire blue metalic.


Adit terlihat mengetuk kaca jendela mobil itu, dan tak lama membukakan pintu mobil itu.


" Silahkan, Mbak." Adit mempersilahkan Kiranya untuk masuk ke dalam mobil tersebut.


" Terima kasih, Pak Adit." Dengan rasa tak enak hati karena merasa mendapatkan perlakuan istimewa akhirnya Kirania masuk ke dalam mobil, di mana sudah ada Dirga yang duduk di belakang kemudi.


Akhirnya mobil yang dikendarai Dirga keluar dari parkiran dan meninggalkan gedung apartemen yang ditempati Kirania. Tak ada pembicaraan selama perjalanan menuju kantor. Kirania juga lebih banyak membuang pandangan ke arah luar jendela, karena jujur dia merasa tidak nyaman dengan sikap Dirga seperti ini terhadapnya.


Sekitar setengah jam mobil yang dikendarai Dirga sampai di gedung PT. Angkasa Raya miliknya.


Dirga membuka seat belt nya, lalu melirik ke arah Kirania yang masih terdiam.


" Mau aku bantu bukakan seat belt nya?"


Perkataan Dirga membuat Kirania terkesiap. Dengan cepat dia membuka seat belt itu, yang sialnya mungkin karena merasa grogi dia kembali kesulitan membuka sabuk pengaman itu.


Dirga yang melihat Kirania masih kesulitan membuka sabuk pengaman itu langsung menyunggingkan senyuman. Dia lalu mendekat ke arah Kirania berniat membantu membukakan seat belt itu.


" Sini aku bantu." Tanpa menunggu persetujuan dari Kirania, Dirga langsung membukakan sabuk yang membalut tubuh Kirania itu.


Kirania membulatkan matanya saat jarak wajahnya dengan wajah Dirga mungkin hanya sejengkal tangannya saja. Detak jantung Kirania mulai berdetak tak beraturan, apalagi saat mata mereka saling beradu pandang, saling menatap lekat. Seperti ada sesuatu yang ingin dilepaskan tapi mereka berdua tahan, sampai mereka harus menelan saliva masing-masing.

__ADS_1


Kirania langsung memalingkan wajahnya, karena tak ingin berlama-lama terjebak dalam situasi seperti tadi, hingga akhirnya Dirga pun kembali menjauhkan tubuhnya ke posisi semula.


" Kita turun sekarang." Dirga membuka pintu mobil dan keluar disusul oleh Kirania.


Kedatangan Dirga bersama Kirania tentu saja membuat semua karyawan yang melihat kehadiran mereka bertanya-tanya, dan itu sangat membuat Kirania tak nyaman. Sepanjang melangkahkan kaki dia hanya tertunduk tak berani mengangkat kepalanya sampai akhirnya mereka memasuki lift khusus.


Sesampai di lift khusus yang biasa digunakan petinggi-petinggi perusahaan, Dirga menekan tombol angka delapan, Kirania pun ikut menekan tombol angka enam, di mana ruang divisi marketing berada. Masih tak ada pembicaraan di antara mereka berdua hingga lift kini berhenti di lantai enam dan pintu lift pun terbuka.


Kirania ingin melangkah keluar lift namun tangan Dirga mencengkramnya hingga membuat Kirania tersentak.


" Mau apa kamu turun di sini?" Dirga kembali menekan tombol untuk menutup pintu lift.


Kirania menepis tangan Dirga yang mencengkramnya. " Bukankah divisi marketing ada di lantai tadi?" tanya Kirania.


" Bukankah kemarin saya sudah suruh bereskan barang-barang kamu?!" Bukannya membalas pertanyaan Kirania, Dirga malah balik bertanya.


" Saya tidak mengerti dengan jalan pikiran Bapak. Kemarin memecat saya sekarang malah menyuruh saya kembali ke kantor, mau Bapak itu sebenarnya apa, sih?" tanya Kirania kesal.


" Yang memecat kamu itu siapa? Saya suruh kamu bereskan barang kamu itu karena saya ingin memindahkan kamu ke tempat lain, bukannya pecat kamu. Makanya kalau diperintah sesuatu itu tanya yang jelas dong, jangan langsung ngeloyor pergi gitu saja." Dirga menyindir sikap Kirania kemarin saat dia minta Kirania kembali ke ruangannya tanpa minta penjelasan kenapa dia diminta membereskan barang-barangnya itu.


" Ikut ke ruangan saya," perintah Dirga saat pintu lift terbuka di lantai delapan. Dan Kirania pun melangkah mengekori Dirga.


" Lis, hubungi Pak Bildan, suruh ke ruangan saya secepatnya." Dirga memerintahkan sekretarisnya saat melintas di depan sekretarisnya itu.


Kirania berjalan memasuki ruang kerja Dirga dan berdiri di depan meja kerja Dirga, persis seperti yang dia lakukan kemarin. Sementara Dirga sudah mengambil posisi duduk di kursi kebesarannya.


Dirga melirik ke arah Kirania yang masih berdiri dengan menautkan jari-jari tangannya.


" Kenapa berdiri saja di situ? Memangnya kamu satpam?!" sindir Dirga membuat Kirania mencebikkan bibirnya. " Duduk!" Dengan arahan matanya Dirga menyuruh Kirania duduk di kursi di depan mejanya.


Tok tok tok


" Masuk ...!" ucap Dirga saat pintu ruangannya diketuk.


" Permisi, Pak." Pak Bildan yang ternyata muncul di ruangan Dirga pun langsung mendekat ke arah Dirga.

__ADS_1


" Mana kontrak kerja yang mesti ditanda tangani dia?" tanya Dirga pada Pak Bildan. Dengan cepat Pak Bildan menunjukkan surat yang sudah dia siapkan sedari tadi di meja kerja Dirga.


Dirga membaca surat itu sambil menganggukkan kepalanya. " Beri tahu dia di mana mesti tanda tangan," ujar Dirga memerintah.


" Baik, Pak." Pak Bildan mengambil surat yang dibaca Dirga tadi lalu menyodorkannya ke depan Kirania. " Silahkan ditanda tangani surat kontrak kerja kamu, ini berlaku selama tiga tahun ke depan."


Kirania menatap wajah Dirga yang terlihat fokus dengan lap top di depannya. Kemudian dia melirik ke arah Pak Bildan yang menganggukkan kepalanya seolah dia memastikan agar Kirania segera menandatangi surat tersebut.


Akhirnya dengan sedikit ragu, Kirania menandatangi surat kontrak kerja dia dengan perusahaan kantor pusat ini.


" Sudah selesai semua, Pak." Pak Bildan melapor ke Dirga yang sedari tadi terlihat fokus dengan pekerjaannya.


" Oke, saya minta salinannya segera." Setiap perintah yang keluar dari mulut Dirga terdengar tegas dan lugas


" Baik, Pak." Pak Bildan menuju ke arah printer scan yang juga bisa digunakan untuk mengcopy dokumen. " Ini salinannya, Pak." Pak Bildan menyerahkan copy surat kontrak kerja Kirania.


" Silahkan Pak Bildan, kembali ke tempat."


" Baik Pak. Permisi ..." Pak Bildan pun pergi meninggalkan Kirania dan Dirga berdua.


" Hmmm, saya bisa kembali ke tempat saya, Pak?" tanya Kirania dengan nada ragu.


" Silahkan."


Kirania pun bangkit dan hendak beranjak tapi dia kemudian menahan langkahnya karena dia tidak tahu jika saat ini dia ditempatkan di divisi apa.


" Maaf, Pak. Saya sekarang di tempatkan di mana, ya?" tanya Kirania bingung.


Dirga menoleh ke arah Kirania, lalu dengan arahan matanya dia menunjuk ke sudut kiri ruangannya. Kirania yang mengikuti arah pandang Dirga langsung terkesiap saat dia mendapati sudah tersedia meja plus kursi kerja, laptop, mesin printer, telepon dan beberapa perlengkapan kerja lainnya di sana.


" Maksud Bapak?" tanya Kirania polos.


" Mulai hari ini kamu resmi menjadi asisten pribadi saya. Itu tugas baru kamu, dan ruang kerja kamu, ya di sana." Dirga kembali menunjuk tempat tadi, membuat Kirania seketika membulatkan mata indahnya.


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2