
Akhirnya setelah dilarang, Dirga memilih ke luar apartemen Kirania lewat jalan depan. Untuk seorang CEO seperti Dirga, Kirania tak mengerti kenapa Dirga nekat melakukan hal tadi. Mereka bukanlah anak-anak ABG yang perlu pembuktian dengan hal-hal konyol yang bisa mengancam nyawa seperti yang dilakukan Dirga beberapa waktu lalu.
Kirania meraih buket mawar putih yang diberikan oleh Dirga. Dia tersenyum mengingat kejadian enam tahun silam, saat dia berani mengecup pipi Dirga, setelah pria itu memberikan buket dengan bunga yang sama. Dia menghirup aroma bunga itu seraya memejamkan matanya, lalu mengambil kartu ucapan yang ada di buket itu.
Teruntuk wanita terkasih ....
Selamat hari ulang tahun yang ke 27, semoga kebahagiaan selalu menyertaimu. Berharap di ulang tahun yang akan datang kamu melewati ulang tahunmu dengan status sebagai istriku.
Aku tak pernah menyangka kita akan dipertemukan kembali walaupun dalam situasi yang sulit seperti sekarang ini. Tapi aku percaya akan satu hal, Tuhan pasti telah merencanakan sesuatu untuk kita dengan pertemuan kembali kita saat ini. Untuk itu aku mohon jangan pergi, tetaplah bersamaku, karena aku tak ingin sendiri memperjuangkan kebahagiaan untuk kita ke depannya.
Dari pria pemaksa yang selalu menyanyangimu
Dirgantara❤️ Kirania
Kirania kembali tersenyum membaca tulisan tangan Dirga yang sangat panjang itu di kartu ucapan. Jarinya meraba tulisan Dirgantara ❤️ Kirania, matanya seketika berkaca-kaca. Dia benar-benar merasa seperti ABG yang sedang kasmaran. Kirania mengingat percakapannya siang tadi setelah kepergian Nadia dan Mama Dirga.
" Aku minta kamu tidak terpengaruh dengan kejadian tadi. Apapun yang Nadia lakukan, aku minta jangan menggoyahkan hati kamu," pinta Dirga saat terlihat Kirania hanya terdiam, seakan bersalah.
" Kenapa Bapak masih bersikukuh ingin menceraikan Bu Nadia, dia begitu mencintai Anda, Pak."
" Percayalah, tak ada satupun dari kita bertiga, aku, kamu juga Nadia yang akan bahagia jika aku bertahan dengan pernikahanku ini. Nadia tidak akan pernah merasakan kebahagiaan jika tetap bersamaku, dan itu tidak adil untuknya. Selama pernikahan ini dia hanya merasakan kebahagiaan semu, dia pantas mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya dari pria lain yang mungkin akan tulus mencintainya."
Kirania menghela nafas panjang seraya meraih kotak hadiah dari Dirga. Perlahan dia membuka kotak hadiah itu, matanya langsung terbelalak saat melihat satu set perhiasan bertahtakan berlian berwarna pink, bahkan di kalungnya terpahatkan nama Kirania, pastilah Dirga memesannya secara khusus perhiasan itu. Tanpa perlu dia mencari di goo gle, dia yakin harga perhiasan itu pastilah bernilai ratusan juta rupiah. Kirania menutup kembali kotak perhiasan itu. Ingin rasanya dia kembalikan, tapi dia yakin Dirga pasti akan melarangnya.
Kirania kemudian mengambil ponselnya, lalu mengirimkan pesan kepada Dirga.
" Terima kasih atas hadiahnya, tapi ini terlalu berlebihan untuk saya."
Kirania menunggu beberapa saat, sebelum akhirnya muncullah balasan dari Dirga.
" Itu sangat pantas untukmu, jangan membantah."
" Tapi ini pasti sangat mahal harganya."
" Itu tak sebanding dengan kehadiranmu kembali untukku, Rania."
Tidak ada balasan Kirania untuk menentang jawaban Dirga yang dikirim pria itu. Tak lama notif ponselnya kembali berbunyi.
" Tidurlah kembali, besok kamu tetap harus berangkat kerja. Ulang tahun bukan berarti kamu terbebas dari pekerjaanmu."
Kirania mencebikkan bibirnya, tadi pria itu baru saja membuatnya serasa terbang ke angkasa tapi dengan cepat pria itu mengembalikannya ke dunia nyata.
__ADS_1
***
Kirania merasa salah tingkah, kerena sedari tadi dia merasa Dirga terus saja menatapnya. Dia sampai menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan yang membentang dari pelipis hingga rahangnya. Sampai akhirnya pria itu berjalan menghampiri dan mendudukkan sedikit bo*kongnya di tepi meja kerja Kirania, membuat Kirania terkesiap.
" Bapak kenapa duduk di situ?" tanya Kirania.
" Kamu kenapa menutup wajah kamu seperti itu?"
" Bapak kenapa melihat saya seperti tadi?"
Saling tanya tanpa menjawab pertanyaan masing-masing pun terjadi antara dua orang yang saat itu berstatus atasan dan bawahan, dengan mata saling menatap seolah saling menantang dan mengklaim jika tindakan yang dilakukan lawan bicara mereka adalah salah.
" Eheemm, nanti malam aku akan ajak dinner, kamu carilah gaun untuk nanti malam."
" Hmmm, maaf saya nggak bisa, Pak," tolak Kirania.
" Kenapa?"
" Bapak pasti tahu alasan saya apa?!"
" Bukankah semalam aku sudah jelaskan di kartu ucapan? Kamu masih kurang paham juga?"
Dirga memudian berdiri. " Ini bukan permintaan, tapi perintah!" tegas pria itu. " Tanyalah pada Lisna, di mana butik yang bagus berada," lanjutnya berjalan kembali ke kursinya, meninggalkan Kirania yang mendengus kesal dengan sikap pemaksa seorang Dirgantara.
***
" Selamat sore, Mbak. Silahkan ...."
Seorang satpam menyambut kedatangan Kirania di sebuah butik bernama Alexa Butique, dia mendapatkan rekomendasi dari Lisna, jika butik di sini mempunyai kualitas yang sangat bagus dengan harga yang tidak terlalu mahal.
" Terima kasih, Pak," Kirania membalas sapaan satpam itu seraya melangkahkan kaki masuk ke dalam butik.
" Selamat sore, Mbak. Ada yang bisa kami bantu? Mbak mau cari apa?" Di dalam pun Kirania langsung disambut ramah oleh pegawai butik.
" Hmmm, saya mau cari gaun untuk acara malam hari, tapi yang sopan gaunnya ya, Mbak." Kirania menyahuti.
" Oh, mari saya tunjukkan beberapa koleksi di butik ini, Mbak." Pelayan ini dengan sikap ramah menuntun langkah Kirania menunjuk display beberapa gaun yang di pajang di sana. " Silahkan dilihat-lihat dulu, Mbak. Display sebelah sini untuk gaun yang terkesan lebih sopan dan tertutup." Pelayan itu menjelaskan.
" Oh, terima kasih, Mbak," sahut Kirania kemudian tangannya menyibak satu persatu gaun yang ingin dia pilih untuk nanti malam.
" Teman-teman kampus kamu berapa banyak yang akan diundang, Ga?" Terdengar suara wanita dari arah tangga.
__ADS_1
" Nggak terlalu banyak sih, Mih. Tapi kalau dosen sih, diundang semua. Karena sudah kebanyakan dari kolega-koleganya papih dan keluarga, belum dari pihak Tata. Tapi Rencananya nanti selepas honeymoon, Yoga sama Tata mau ngadain acara syukuran tersendiri sama teman-teman kampus." Pria yang teryata Yoga mencoba menjelaskan kepada Mamih Ellena.
" Ya sudah kalau begitu." Mamih Ellena mengerti. " Istri kamu jangan suruh capek-capek dulu, jangan melakukan aktivitas yang berat-berat. Suruh banyak istirahat biar pas hari H nanti terlihat fresh." ucap Mamih Ellena.
" Siap, komandan!" Tangan Yoga melakukan gerakan memberi hormat kepada maminya seraya terkekeh.
Kirania yang melihat adanya Yoga di butik itu langsung terkesiap. " Yoga?" Beberapa detik kemudian dia mencoba menyapa pria itu.
Yoga pun tak kalah terkejutnya dengan Kirania, saat mendapati wanita yang dulu sempat mencuri hatinya kini ada di butik sang istri. " Kamu ada di sini?" tanyanya.
" Iya, aku sedang mencari gaun." Kirania menyahuti tapi matanya melirik ke arah Mamih Ellena yang sedang menatap penuh selidik ke arahnya. " Kamu ada di sini juga, Ga?"
" Iya, butik ini milik Natasha."
" Oh ya?" Kirania membulatkan mata indahnya saat mengetahui butik yang direkomendasikan Lisna adalah milik Natasha. " Kabar Natasha gimana, Ga?"
" Sudah membaik, Alhamdulillah. Tapi sementara ini aku suruh istirahat di rumah dulu karena kejadian kemarin. Biasanya sih, terkecuali hari Minggu, dia stay di sini." Yoga menjelaskan. " Minggu depan juga rencananya kami mau mengadakan resepsi pernikahan. Kamu sama Dirga juga kami undang, tapi sayang banget undangannya ada di rumah. Nanti aku kirim ke kantor kamu, deh."
" Eheemm ..." Mamih Ellena berdehem saat melihat Yoga dan wanita yang tak ia kenal terlihat asyik mengobrol.
" Oh iya, Mih. Kenalkan, ini ... Kirania, teman Yoga dulu. Ran, kenalkan ini Mamih aku." Yoga memperkenalkan Kirania kepada mamihnya.
" Halo, Tante. Saya Kirania ..." Kirania mengulurkan tangan seraya menyapa ramah Mamih Ellena. Mamih Ellena pun membalas uluran tangan Kirania.
" Kamu teman Yoga waktu di mana?" tanya Mamih Ellena.
Kirania langsung melirik ke arah Yoga, dia sendiri bingung mesti menjawabnya.
" Hmmm, dulu Yoga pernah ikut lomba yang diadakan di kampus Kirania, Mih."
" Kalian kenal pas lomba itu? Kamu ikut lomba juga?" tanya Mamih Ellena kembali kepada Kirania, Membuat Kirania hanya bisa memaksakan untuk senyum, karena sejujurnya bukan saat lomba itu dia bertemu dan mengenal Yoga.
Bersambung ...
Mih, sini aku bisikin, deh. Rania itu bukan ikut lomba, tapi ikut nyangkut di hati anak bujang Mamih waktu muda dulu. Iiihh ... Mamih sama pergaulan anak sendiri masa ga paham, sih? Kalah sama mak² reader di sini yang khatam ama kelakuan anak Mamih yg jago nyepik dan bikin baper ciwi²😂😂
Dialog Yoga dan Kirania ini ga ada di MSI, aku sengaja masukin karena masih banyak yg kangen sama si akang Ojol.
Oya, untuk KCA aku kan rencananya kasih give away, tapi kemarin bener2 ga sempet nulis lagi, jadi aku perpanjang sampai akhir bulan Juni aja GA nya, gpp 'kan? Sambil aku up KCA lagi. Gimana?,
Happy Reading❤️
__ADS_1