
6 Tahun Kemudian ....
" Mbak Rania, dipanggil Pak Harun, suruh ke ruangan Bos." Fifi salah satu karyawan yang satu divisi dengan Kirania berkata saat baru saja menerima panggilan telepon.
" Wuih ... bonus cair, nih." celetuk Hendra rekan kerja Kirania lainnya.
" Mending bonus, yang ada dikasih kerjaan seabrek, nah, lho!" Arnan tak ingin kalah menimpali.
Kirania hanya tersenyum menanggapi kelakar anak buahnya itu.
" Bu, kalau dapat bonus, makan-makan, ya?" Widya ikut gabung memberi ide.
Sejak lulus kuliah, Kirania memilih kembali ke kota asalnya. Sekarang ini dia bekerja di salah satu perusahaan property di kota kelahirannya. Kirania kini menjabat sebagai SPV Marketing dengan empat orang yang menjadi bawahannya.
Tok tok tok
" Masuk ..."
" Permisi, Bu. Ibu memanggil saya?" tanya Kirania kepada Ibu Rose, bosnya. Dia juga sempat melihat Pak Harun, yang merupakan managernya pun ada di sana dan duduk berbincang di sofa ruang kerja Bosnya itu.
" Oh, iya ... duduk, Ran."
" Iya, Bu..." Kirania sedikit membungkukkan badannya sebelum akhirnya duduk di sofa. " Ada apa Ibu memanggil saya?" tanya Kirania santun.
Pak Harun lalu menyodorkan amplop ke arah Kirania. " Ini bonus tambahan untuk kamu dan staff kamu."
Kirania mengangkat alisnya ke atas. " Bonus? Bukannya awal tahun kemarin sudah cair bonus tahun lalu, Pak?" Kirania terheran, karena ini sudah masuk pertengahan tahun. Tidak biasanya perusahaan mengeluarkan bonus seperti ini.
" Ini karena target yang kita harapkan untuk tahun ini sudah tercapai. Padahal kita baru masuk tengahan tahun. Karena itu, ada tambahan bonus untuk kalian yang bekerja di divisi marketing. Memang pemberian bonus ini tidak seperti biasanya, tapi saya rasa kalian pantas mendapatkan, biar kerja kalian semakin semangat." Bu Rose menjawab pertanyaan Kirania seraya tersenyum.
" Kalau begitu, saya ucapkan terima kasih, Bu, Pak. Saya terima pemberiannya, nanti saya bagi dengan staff saya." Kirania menerima amplop itu.
" Oh ya, Ran. Ada satu lagi. Setiap tiga tahun sekali kantor pusat 'kan memberi kesempatan buat karyawan cabang yang punya kinerja yang mumpuni, untuk masuk ke jenjang karir yang lebih tinggi dan bekerja di kantor pusat Jakarta. Rencananya kami ingin mempromosikan kamu. Jika kantor pusat menilai kamu layak untuk bekerja di sana, maka kamu akan terpilih mengembangkan karir di kantor pusat Jakarta."
" Saya, Bu?" Kirania terkesiap dengan apa yang dituturkan bosnya.
" Iya, karena saya nilai kinerja kamu sangat baik. Semakin tahun semakin menampakkan peningkatan. Saya rasa tidak ada salahnya kita kasih kesempatan buat kamu maju ke pusat," lanjut Bu Rose.
" Kenapa, Ran? Sepertinya kamu nggak senang dengan rencana kami ini?" Pak Harun sepertinya melihat ekspresi tidak nyaman yang terlihat dari wajah Kirania.
" Bukan begitu, Pak. Tapi rasanya lebih nyaman bekerja di sini," elak Kirania.
__ADS_1
" Bukankah kamu dulu kuliah di Jakarta?" Bu Rose ikut bertanya.
" Iya sih, Bu. Tapi bagaimanapun juga lebih nyaman menetap di kampung halaman sendiri. Dekat dengan orang tua dan keluarga." Kirania beralasan.
" Memang benar kalau mikir ke situ. Tapi ini kesempatan buat kamu meningkatkan karir kamu. Kalau kamu yang terpilih, itu 'kan bisa meningkatkan pamor kantor cabang sini juga, Ran." Bu Rose memberikan pandangannya.
" Ya sudah, kalau keputusan dari perusahaan seperti itu, saya akan terima, Bu. Lagipula belum tentu juga saya yang terpilih 'kan, Bu?"
" Iya, karena ini seleksinya seluruh cabang wilayah pulau Jawa," ucap Bu Rose. " Ya sudah, kamu bisa kembali ke tempatmu."
" Baik, Bu. Sekali lagi terima kasih atas bonusnya, Bu, Pak." Kirania bangkit membungkukkan sedikit badannya dan keluar kembali ke ruangan kerjanya.
***
" Siapa yang mau bonus?" Kirania berdiri di pintu masuk ruangan devisi pemasaran di mana dia dan empat anak buahnya biasa bekerja. Kirania mengipas-ngipas amplop yang tadi diterimanya.
" Cair bonus, Ran?
" Beneran dapat bonus, Ran?
" Yess, makan-makan."
Keempat staff yang ada di bawahnya itu terlihat sumringah.
" Sssttt ... jangan pakai ribut-ribut." Kirania menaruh telunjuknya di dekat bibirnya.
" Yeee, Ibu. Suruh kita jangan berisik, ibu sendiri pakai kasih pengumuman depan pintu. Sudah tahu kalau urus fulus kita 'kan pada semangat, Bu." Kelakar Widya.
" Iya juga ya ..." Kirania terkekeh seraya melangkah ke arah meja kerjanya yang ada di tengah meja kerja staffnya. " Aku belum tahu dikasih berapa ini. Nanti dibagi rata saja, ya
" Kirania lalu menggunting bagian ujung amplop, kemudian dia menghitung jumlah uang yang berada di dalam amplop itu. " Lima juta. Kita bagi rata, satu orang satu juta, ya?
" Jangan, Ran." sergah Arnan.
" Iya, Mbak. Masa Mbak Rania dapatnya sama seperti kita?" Fifi menimpali.
" Mending gini saja, kamu dua juta, sisanya yang tiga juta bagi kita berempat." Hendra menengahi.
" Aku setuju." Widya menyahuti.
" Duh, aku kebanyakan dikasih dua juta." Kirania merasa tak enak terhadap anak buahnya.
__ADS_1
" Nggak apa-apa, Ran. Kita dapet tujuh ratus lima puluh juga sudah Alhamdulillah banget," ucap Hendra kembali.
" Gini saja, aku ambil satu setengah, lima ratusnya kalian bagi lagi saja." Kirania kemudian memisahkan uangnya dan menyerahkan sisanya ke empat sttafnya.
" Gimana kalau yang lima ratusnya buat kita makan-makan? Besok 'kan libur, nanti malam kita nongkrong di kafe saja. Mbak Rania harus ikut, Mbak 'kan jarang banget ikut kita kalau kita hangout bareng." Fifi memberikan ide.
" Setuju ..." Karyawan lain menyetujui ide dari Fifi.
" Oke, deh. Untuk kali ini aku ikut." Akhirnya Kirania meluluskan permintaan anak buahnya untuk nongkrong di kafe malam nanti. Kirania sekarang mulai bisa banyak berinteraksi dengan banyak orang. Apalagi dengan pekerjaan dia sekarang mengharuskannya untuk selalu berkomunikasi dengan orang lain, lambat laun sifat introvertnya sedikit mengikis. Tapi kalau untuk kumpul senang-senang seperti yang diminta Fifi tadi, memang masih jarang dilakukannya.
***
Kirania menepikan mobilnya saat dia melewati sebuah panti asuhan. Dia tadi sempat menyisihkan uang sebanyak lima ratus ribu rupiah ke dalam amplop. Dia kemudian turun dan memasukan amplop itu ke kotak amal yang berada di depan bangunan panti asuhan itu.
" Bismillah, semoga barokah." batin Kirania.
" Terima kasih ya, Mbak." Kirania sedikit tersentak saat terdengar suara seseorang wanita dari dalam panti. Tak lama munculnya seorang wanita paruh baya berhijab. " Semoga Mbak selalu diberikan kesehatan, dilimpahkan rejeki, diberikan umur panjang dan selalu didekatkan dengan jodohnya," ucap wanita itu mendoakan kebaikan untuk Kirania.
Kirania tersenyum kepada Ibu tadi. " Aamiin, Ibu. Terima kasih atas doanya." Kirania menjawab ucapan Ibu panti itu. " Saya permisi, Bu. Assalamualaikum ..." Kirania kemudian berpamitan
" Waalaikumsalam ..." jawab ibu itu.
Kirania pun kembali ke mobilnya dan melajukan mobil ke arah rumahnya, karena malam nanti harus mengikuti rekan-rekannya untuk hangout bareng.
Bersambung...
...Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Taqabbal Ya Karim, Minal Aidin Wal Faizin, Mohon maaf lahir batin, jika ada kesalahan atau kata-kata yang tidak berkenan, mohon dengan keikhlasan untuk dimaafkan🙏...
...Happy Eid Mubarak 1442 H...
...untuk reader semua...
...Semoga kita masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadhan tahun-tahun berikutnya....
...Aamiin, Aamiin Ya Rabbal Alamin🤲...
Yang ingin gabung di grup chat silahkan, seru-seruan gosipin Kang Ojol, Bang Dirga dll.
Happy Reading❤️
__ADS_1