
Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang antara Dirga dan Mama Utami, maka akhirnya diambil kesepakatan jika Kirania boleh menemani Mama Utami selama dua kali dalam satu Minggu. Selebihnya Kirania tetap akan menemani Dirga di kantor.
" Abang nggak boleh keras hati gitu dong sama mama. Mama itu 'kan orang tua Abang. Mama yang melahirkan Abang. Apapun kesalahan yang pernah dilakukan mama, Abang nggak boleh bersikap kasar ataupun berkeras kepala menentang keinginan mama. Mungkin mama itu seperti aku yang ingin memperbaiki hubungan kami yang dulu tak berjalan baik. Tidak ada salahnya 'kan aku dan mama saling akrab. Memangnya Abang nggak suka melihat aku sama Mama Utami jadi dekat dan akur?" tanya Kirania menasehati suaminya itu setelah Mama Utami keluar dari kantor Dirga.
" Istriku ini sekarang makin pintar, ya?" Dirga langsung membawa tubuh Kirania ke dalam pelukannya, dan kembali memberikan sentuhan-sentuhan di bagian leher Kirania dengan bibirnya.
" Abang, sudah ... hentikan!" Kirania mencoba melepaskan diri dari suaminya itu.
Dirga terkekeh melihat Kirania yang ingin melepaskan diri dari dekapannya.
Sementara itu setelah datang ke kantor tempat kerjanya dan menyampaikan surat pengunduran dirinya dari perusahaan tempat Karina bekerja, gadis itu segera menuju rumah orang tuanya.
" Pak Adit, nanti seratus meter dari sini ada pertigaan, belok sebentar ke tikungan itu, ya!" Karina menyuruh Adit yang diperintahkan menemani Karina pulang ke Cirebon.
" Baik, Mbak." Pak Adit pun mengikuti arahan yang diberikan adik ipar bosnya itu.
" Depan rumah berpagar hitam itu berhenti ya, Pak ..." pinta Karina lagi.
" Oke, Mbak."
Adit pun memarkirkan mobil di depan rumah yang ditunjuk Karina.
" Pak Adit tunggu sebentar, ya!" Karina pun segera keluar dari mobil C RV yang dikendarai Adit.
Karina menekan bel yang ada di tembok dekat gerbang rumah itu. Tak lama seorang wanita berlari mendekat menghampiri Karina dengan membawa kunci gerbang.
" Assalamualaikum, Mbak Siti, Tante Dini ada?" tanya Karina kepada ART di rumah orang tua Gilang itu bekerja.
" Waalaikumsalam ... eh, Mbak Karina ... ibu ada kok di dalam " Siti pun membukakan pintu gerbang untuk Karina.
" Terima kasih, Mbak." Setelah pintu terbuka Karina pun memasuki pekarangan rumah orang tua Gilang yang berjarak tidak jauh dari rumah orang tuanya.
" Mari silahkan duduk dulu, Mbak Karina. Nanti saya kasih tahu Ibu Dini dulu." Siti mempersilahkan Karina duduk di sofa tamu.
Karina memandangi foto keluarga yang tergantung di dinding ruang tamu. Matanya terpusat pada sosok pria tampan yang telah mencuri hatinya sejak lama. Senyumannya seketika mengembang saat melihat senyum Gilang di foto itu.
" Karina??"
Karina langsung menoleh saat terdengar suara Tante Dini memanggilnya.
" Tante ..." Karina langsung bangkit dan menyalami Tante Dini dengan mencium punggung telapak tangannya.
" Kamu nggak kerja?" tanya Tante Dini karena melihat penampilan Karina yang menggunakan celana jeans dan kaos lengan panjang.
__ADS_1
" Hmm ... nggak, Tante. Aku sudah resign dari tempat kerja aku, Tan." Karina menjawab.
" Lho, kenapa resign?" tanya Tante Dini terheran
" Karena Karina akan pindah kerja ke Jakarta, Tante."
" Pindah ke Jakarta?" Tante Dini mengerutkan keningnya, dia teringat telepon Gilang beberapa hari lalu yang kecewa karena dia memberikan alamat pada gadis di depannya itu. " Apa kepindahan kamu ini ada sangkut-pautnya dengan rencana kamu mendekati Gilang?" tanya Tante Dini curiga.
" Ah, tidak kok, Tante. Itu semua karena permintaan Kak Dirga yang menyuruh menemani Mbak Rania."
Aura wajah Tante Dini langsung berubah saat Karina menyebut nama Dirga dan Kirania.
" Oh ... maaf, Tante. Karina nggak bermaksud mengingatkan Tante." Karina mengungkapkan penyesalannya.
" Oh ya kamu sudah bertemu Gilang kemarin?" Tante Utami tak ingin berlama-lama membahas soal Kirania dan suaminya.
" S-sudah, Tante." Karina menggigit bibirnya. Karena dia mengingat pertemuannya beberapa kali dengan Gilang tidaklah berjalan baik.
" Gilang marah sama kamu karena kamu menemuinya?"
" I-iya, Tante ..." Karina menundukkan kepalanya.
" Karena itu Tante minta kamu untuk berhenti menjalankan rencana kamu untuk bisa memiliki Gilang. Karena setelah kejadian pertunangan yang batal dan sikap Gilang yang tidak mau menerima kamu, Tante rasa rencana kamu itu bukanlah hal yang baik untuk Gilang. Akan tetap ada luka di hati Gilang saat harus bersingungan dengan keluarga Kirania. Tante khawatir akan ada timbul rasa dendam di hati Gilang dan itu dia lampiaskan ke kamu, Karina. Tante nggak ingin anak baik-baik Tante berubah menjadi monster yang siap menyakiti kamu." Tante Dini mengutarakan kecemasannya kepada Karina.
" Tidak, Tan. Kak Gilang selamanya akan menjadi anak Tante yang baik." Karina mendekat ke arah Tante Dini dan menggenggam tangan wanita paruh baya itu. " Kak Gilang memang kemarin marah sama Karina, tapi dia sama sekali tidak bersikap kasar ataupun menyakiti Karina, Tante. Tante jangan khawatirkan aku, aku percaya suatu saat nanti Kak Gilang akan menerima Karina. Karina minta dukungan dan doa restu dari Tante." Mata Karina mulai berkaca-kaca.
" Terima kasih, Tante. Terima kasih ..." Karina langsung memeluk tubuh mama dari pria yang dia cintai itu. " Karina janji, Karina akan membuat Kak Gilang bahagia saat Karina menjadi pasangan Kak Gilang nanti, Tante." Tekad Karina sudah benar-benar mantap.
***
Gilang berjalan hendak keluar dari kantor saat sebuah suara berteriak memanggil namanya.
Gilang menoleh ke arah asal suara tadi dan kini dijumpainya seorang wanita cantik tersenyum ke arahnya.
" Gilang? Kamu Gilang, kan? Gilang Aditya?" sapa wanita itu.
Gilang mengeryitkan keningnya mencoba mengenali wanita itu, " Maaf, Anda siapa, ya?" tanya Gilang merasa tak ingat siapa wanita itu.
" Astaga, kamu lupa sama aku? Aku Vonny, teman kuliah kamu dulu," sahut wanita bernama Vonny itu.
" Vonny? Masya Allah ... kamu beda banget sekarang, Von. Aku sampai benar-benar nggak mengenali kamu." Gilang menatap Vonny dari atas sampai bawah.
" Pasti karena sekarang kamu melihat tubuh aku menyusut banyak, kan?" Vonny terkekeh.
__ADS_1
" Oh ya, kamu mau transaksi apa?" tanya Gilang.
" Aku sudah selesai, kok. Abis transaksi RTGS," Vonny menyahuti.
" Kamu kerja di mana sekarang?" tanya Gilang.
" Aku di perusahaan asuransi. Kamu sendiri kerja di sini?" Vonny balik bertanya.
" Iya, kebetulan aku pegang cabang sini."
" Wuih ... kepala cabang sini?" Vonny membulatkan matanya mendengar jabatan yang dipegang Gilang sekarang. " Sukses kamu sekarang ya, Lang."
" Ya. Alhamdulillah, Von. Mungkin lagi dikasih rezeki enak."
" Hmmm, kamu sudah menikah, Lang? Sudah punya anak berapa?"
Pertanyaan Vonny sontak membuat Gilang menelan salivanya, hatinya bahkan terasa tercubit jika harus menyinggung masalah pernikahan.
" Belum, Von." Gilang menjawab singkat.
" Serius kamu, Lang? Dengan wajah tampan bak dewa Yunani dan profesi sebagai kepala kantor cabang sebuah bank bonafit, kamu masih belum berkeluarga?" Vonny seakan tak percaya dengan pengakuan Gilang
" Kalau untuk hal satu itu, mungkin belum dikasih jodoh yang tepat." Gilang berucap cukup bijak. " Kamu sendiri, Von? Sudah menikah belum?" Gilang melemparkan pertanyaan yang sama.
" Aku? Aku juga belum, Lang. Kemarin sih sempat bertunangan tapi gagal, karena tunangan aku ternyata menghamili wanita lain, dan akhirnya dia menikah dengan wanita itu."
Hati Gilang seakan mencelos mendengar cerita Vonny yang ternyata bernasib tak beda jauh dengan kisah asmaranya.
*
*
*
Bersambung ...
Readers ; Wah, ada pemain baru nih, ini pasti jodoh yang disiapin Othor untuk Gilang, iya kan, Thor?
Othor : Rahasia, dong! 😂😂
Sembari menunggu lanjutan RTB, yuk mari dilirik novel aku yang masih on going lainnya KCA dan karya tamat yg masih berjalan season 2 nya MSI mohon dukungan like juga komennya ya mak² reader. Khusus yg KCA karena aku lagi mengajukan agar karya ini masuk karya kontrak jadi mohon dukungannya, Makasih🙏
__ADS_1
Happy Reading❤️