
Dengan langkah ragu Kirania menuju ruangan tamu. Dia benar-benar dibuat cemas akan tamu yang datang mencarinya siang ini. Kirania sedikit menyibak gorden yang membatasi ruang tamu dan ruang tengah. Dan dia bisa bernafas lega setelah dia melihat tamu yang sedang ditemani oleh pakdenya itu adalah Yoga.
" Yoga ..." sapa Kirania keluar dari persembunyiannya.
" Hai, Ran ..." sapa pria berlesung pipi itu. " Apa kabar?" tanya Yoga kemudian.
" Alhamdulillah, baik ..." sahut Kirania memperhatikan penampilan berbeda Yoga kali ini. Pria itu nampak terlihat bersahaja dengan baju batik yang dipakainya dipadu dengan celana berbahan katun.
" Nak Yoga ini mau kondangan. Katanya mau ajak kamu, temani dia pergi." Pakde Danang yang menjawab pertanyaan Kirania. Sepertinya Yoga memang sudah meminta ijin terlebih dahulu ke pakdenya itu.
" Kondangan?" tanya Kirania bingung.
" Kalau kamu nggak bisa, nggak apa-apa, kok. Aku nggak akan maksa." Dengan mengembangkan senyuman manisnya Yoga berucap.
" Kamu temani Nak Yoga sana, Ran. Daripada di rumah juga kamu nggak ada kesibukan, kan?" Pakde Danang menyarankan.
Kirania terdiam beberapa saat tak bereaksi. Dia bingung apakah harus ikut menemani Yoga atau tidak. Karena sejujurnya dia malas sekali keluar rumah hari ini.
" Cepat kamu ganti baju kamu, Ran." Suara Pakde Danang sekali lagi membuyarkan lamunan Kirania. Akhirnya dengan sangat terpaksa Kirania kembali ke kamarnya, untuk mengganti baju yang akan dipakai.
Tak sampai lima belas menit Kirania kembali ke ruang tamu.
" Kita berangkat sekarang?" tanya Yoga kepada Kirania, yang dijawab dengan anggukan kepala Kirania.
" Pak, saya bawa Kirania dulu, ya? Assalamualaikum," pamit Yoga seraya menyalami sopan Pakde Danang.
" Iya, hati-hati. Waalaikumsalam," sahut Pakde Danang.
" Rania pergi dulu, Pakde. Assalamualaikum." Rania mencium punggung tangan pakdenya.
" Iya, Waalaikumsalam." jawab Pakde Danang.
Dan Yoga pun membawa pergi Kirania menuju tempat hajatan salah satu dosennya yang menikah di sebuah gedung.
***
" Wow, ada angin apa itu bocah kondangan bawa cewek?" celetuk Rico salah seorang teman Yoga saat melihat kemunculan Yoga bersama Kirania siang itu.
" Kemajuan lu, Ga." Edwin menimpali.
" Dikenalin, dong, Ga. Jangan diumpetin terus kalau punya cewek." Sonny tak kalah ikut berkomentar.
Yoga hanya tersenyum menanggapi komentar teman-temannya.
" Gue kasih ucapan selamat ke pengantin dulu." pamit Yoga menautkan jari jemarinya ke jemari tangan Kirania, sehingga membuat Kirania tersentak.
__ADS_1
Setelah memberikan selamat kepada kedua mempelai, Yoga dan Kirania pun kembali menjumpai temannya seusai mengambil makanan. Lalu mengenalkan Kirania kepada teman-temannya tadi.
" Cantik juga, Bro. Cewek yang lu bawa," bisik Rico. " Tapi sayang, kurang modis."
" Modis versi lu itu yang gimana? Yang kurang bahan dan menampakkan tonjolan-tonjolan?" Yoga membalas cibiran Rico. Karena musik dari organ yang mengiringi lumayan cukup keras, membuat Kirania tidak terlalu mendengar apa yang diperbincangkan Yoga dan temannya.
" Sialan, lu! Lu belum merasakan saja. Tonjolan-tonjolan itu mengandung candu. Nanti juga lu bakal ketagihan," sindir Rico.
" Nanti kalau gue nikah juga bakal merasakan." Yoga menjawab enteng.
" Kelamaan nunggu nikah, Bro. Makanya lu cari cewek yang bisa dipakai dulu, dong. Biar bisa merasakan. Nanti kalau lu nikah lu bakal ahli, bisa memuaskan istri." Rico melirik ke arah Kirania yang sedang mengunyah makanan. " Kalau lu sudah bosen sama dia, kasih ke gue, deh." Rico terkekeh.
" Sialan, lu! Lu pikir dia barang pakai bilang kalau bosen dikasih ke lu?!" Yoga mencebik. Membuat Rico tergelak. Sehingga membuat Kirania menoleh ke arah Rico dan Yoga bergantian.
" Ran, selesai makan kita cari kursi lain, deh. Teman gue sableng semua. Takut terkontaminasi," bisik Yoga tiba-tiba di telinga Kirania Hingga membuat darah Kirania berdesir, Karena dekat sekali bibir Yoga hampir menyentuh salah satu bagian sensitifnya. Spontan Kirania langsung menjauhkan tubuhnya. Membuat Yoga merasa tak enak hati. " Sorry, Ran."
Kirania hanya tersenyum kaku membalas permintaan maaf dari Yoga.
***
" Ran, ada yang ingin aku bicarakan. Bisa 'kan kita bicara dulu sebelum kita kembali ke rumah pakde kamu?" ujar Yoga saat mereka berdua sampai di halaman parkir yang dipakai untuk acara hajatan dosen dari Yoga tadi.
" Kita bicara di rumah saja, ya?" Kirania meraih helm yang disodorkan Yoga kepadanya.
" Sepertinya kurang pas membicarakan ini di rumah pakde kamu. Aku ingin bicara empat mata."
" Tentang Bang Dirga."
Deg
Kirania langsung terkesiap mendengar nama yang disebut oleh Yoga. Seketika juga suaranya terasa tercekat di tenggorokan.
" Hmmm, memang ... a-ada apa sama Kak Dirga?" Kirania seolah pura-pura tak mengerti apa-apa.
" Kita nggak mungkin bicara di parkiran ini, kan? Apalagi di rumah pakde kamu. Makanya aku ajak kamu keluar. Kita ke coffee shop saja sambil berbincang, gimana?"
Kirania tidak punya pilihan lain selain menyetujui usul Yoga.
" Kamu ingin bicara apa tentang Kak Dirga?"
Kirania langsung mengajukan pertanyaan saat mereka berdua sampai di Star bucks coffee,
" Kalau kamu nggak keberatan aku tahu. Sebenarnya hubungan kamu dengan Bang Dirga itu seperti apa? Jujur saat terakhir kita ketemu, waktu aku jemput kamu di kampus. Aku lihat kamu menangis dan kamu nggak kasih penjelasan apa-apa ke aku. Aku dengar dari bude, kamu jadi sering menangis sejak dekat dengan Bang Dirga. Apa itu ada hubungannya dengan dia?"
Kirania menatap Yoga beberapa saat sebelum akhirnya dia memutuskan pandangannya.
__ADS_1
" Kemarin kamu nggak berangkat kuliah beberapa hari. Disaat yang sama Bang Dirga juga nggak masuk kuliah. Dan kabar yang aku dapat dari teman kampus kamu. Sekarang ini kalian kembali dekat. Apa kalian pacaran? Karena menurut penjelasan bude kamu. Pakde kamu sudah melarang kalian berhubungan. Apa kedekatan kamu dengan Bang Dirga diketahui oleh pakde dan bude kamu?"
Kirania menggigit bibir bawahnya sementara jari tangannya meremas satu sama lain karena cemas.
" Ran?"
Kirania menghela nafas dalam-dalam. " Kak Dirga memang menyukaiku. Hmmm, maksudnya ... dia bilang dia menyukaiku." Akhirnya ada juga kalimat yang keluar dari mulut Kirania.
" Dan kamu sendiri. Apakah kamu menyukainya?" tanya Yoga menyelidik.
" A-aku ..." Kirania menundukkan kepala tak mengakhiri kalimatnya.
" Nggak perlu dijawab, kalau kamu malu mengakuinya. Aku rasa aku sudah tahu jawabannya. Aku ingin mengajakmu bicara hanya ingin memastikan. Apa aku harus tetap berjuang atau mundur untuk mendapatkan hatimu."
Kirania langsung kembali menaikkan wajahnya menatap Yoga.
" Maaf ..." Hanya kalimat itu yang bisa terucap di bibir Kirania sebelum akhirnya dia. menundukkan kepalanya kembali.
" Nggak masalah, kok." Yoga menepuk punggung tangan Kirania yang masih saling bertautan.
" Apa yang kalian berdua lakukan di sini?!" hardik seseorang yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka. Membuat mereka berdua tersentak dan membelalakkan mata, saat mendapati seseorang dengan aura wajah kelam dan pandangan mata menghunus tajam ke arah mereka berdua.
*
*
*
eng ing eng, siapakah yang datang dan apakah yang akan terjadi??🤔🤔
Mau aku kasih satu bab lagi ga, nih?
Kalo like sama komennya masing² bisa sampe 50 aku kasih satu bab lagi nanti malam😂😂 gimana-gimana? Terlalu berlebihan ga, nih?ðŸ¤
Kalian Tim Dirga atau Tim Yoga, nih?
Bersambung ...
Visual Yoga
Yang belum kenal sosok Yoga silahkan ditengok, dia punya novel sendiri dan punya kisah cinta sendiri di sini 👇
__ADS_1
Happy Reading