
Assalamualaikum wr.wb
Teruntuk Readers RTB, aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas ucapan belasungkawa dan juga doa-doa yang teman² reader panjatkan. Semoga Allah SWT membalas kebaikan teman-teman semua, Aamiin, Aamiin Ya Rabbal Alaminš¤²
Wassalamu'alaikum.wr.wb
REZ Zha
_________________________________
Setengah jam kemudian Kirania kembali dari kantin, setelah dia bersatap makan siang.
" Lho, kamu nggak ikut Pak Dirga, Ran?" tanya Lisna saat Kirania datang sendirian.
" Dia sama istrinya, masa aku harus mengekor, Mbak?" Kirania terkekeh.
" Kamu tadi ketemu sama Ibu Nadia?" tanya Lisna.
" Iya."
" Terus?"
Kirania mengeryitkan keningnya. " Apanya yang terus?"
" Waktu Ibu Nadia ketemu dan tahu kamu asisten pribadinya Pak Dirga gimana? Kaget, nggak?" selidik Lisna kepo.
" Kaget, sih. Mungkin karena beliau tau jika Pak Dirga sudah punya asisten sebelumnya."
" Bukan itu maksudku, tapi gimana saat Bu Nadia tahu jika suaminya punya asisten pribadi secantik kamu?"
Kirania tersenyum. " Aku nggak ada apa-apanya dengan Bu Nadia. Jangan berpikir yang aneh-aneh, deh, Mbak," tepis Kirania.
" Hahaha ... siapa tahu Bu Nadia jadi cemburu sama kamu. Secara rumah tangganya 'kan nggak harmonis, sekarang suaminya punya aspri cantik." Lisna terkekeh. " Tapi kalau aku perhatikan, sejak ada kamu di sini, Pak Dirga terlihat beda, lho, Ran."
" Ck, jangan suka bergosip deh, Mbak."
" Aku serius, lho. Sejak kamu di sini, Pak Dirga auranya jadi positif. Kalau aku perhatikan juga, Pak Dirga kalau memandang kamu itu beda banget. Sepertinya Pak Dirga suka sama kamu, Ran."
" Jangan ngaco deh, Mbak." Kirania seketika salah tingkah. " Sudah ah, aku mau masuk ke dalam dulu."
" Ran, kalau aku boleh kasih wejangan. Bagaimanapun sikap Pak Dirga ke kamu, aku harap kamu bisa jaga diri. Jangan sampai orang lain berprasangka buruk ke diri kamu."
__ADS_1
Kalimat Lisna membuat Kirania menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah Lisna seraya menganggukkan kepalanya, sebelum akhirnya dia melangkah memasuki ruangan Dirga.
***
" Ateu Lania ...."
Kirania sedang memainkan laptopnya, melihat-lihat gambar property yang selama ini dibangun oleh PT. Angkasa Raya, saat tiba-tiba pintu terbuka dengan suara Kayla terdengar nyaring memanggilnya.
" Hai, Kayla ..." sapa balik Kirania.
" Kela belikan belgel buat Ateu Lania ( Kayla belikan burger buat Tante Rania)." Kayla menyodorkan bungkusan makanan ke arah Kirania.
" Wah, terima kasih, Kayla." Kirania dengan cepat menerima bungkusan berisi burger dan softdrink dari tangan mungil Kayla.
" Ateu, nanti Kela nginep di lumah Papa, kata Papa nanti Ateu yang temanin Kela ( Tante, nanti Kayla menginap di rumah Papa, kata Papa nanti Tante yang temanin Kayla)" celoteh Kayla.
Kirania langsung membelalakkan matanya saat mendengar celotehan Kayla. Dia kemudian menatap Dirga yang seolah tak mendengar ucapan Kayla.
" Apa Ateu nanti temanin Kela bobo cama Papa juga ( Apa Tante nanti temani Kayla tidur sama Papa juga)?
Kirania kembali tercengang dengan perkataan Kayla selanjutnya. Kirania mendengus kesal kemudian berjalan ke arah Dirga yang sudah duduk di kursi kebesarannya.
" Maksud Bapak apa, sih? Kenapa melibatkan saya? Kenapa bukan istri Bapak sendiri yang menemani Kayla? Kenapa mesti saya?" geram Kirania dengan suara tertahan karena dia tidak ingin Kayla mendengar.
" Kenapa Bapak menyuruh saya menemani Kayla? Kenapa bukan mamanya saja? Kenapa Bapak menempatkan saya di posisi sulit seperti ini? Bapak nggak mikir anggapan orang akan jelek terhadap saya?" Dengan tersengal Kirania mengeluarkan segala unek-uneknya.
" Ateu kenapa?" Kayla yang mengikuti langkah Kirania langsung menarik rok Kirania.
Dirga bangkit dari duduk kemudian menghampiri Kayla. " Kayla bobo ya, sayang." Dirga meraih tubuh mungil Kayla lalu membawanya ke ruang beristirahat, meninggalkan Kirania yang terlihat kesal dan geram.
Beberapa saat kemudian, Dirga kembali menemui Kirania.
" Asal kamu tahu Rania, apapun orang berpendapat tentang kamu, tak akan merubah penilaiku terhadap kamu." Dirga semakin mendekat ke arah Kirania. " Apapun yang orang katakan tentang kamu, tak akan pernah merubah perasaan aku ke kamu, Rania," ungkap Dirga.
Kirania menelan salivanya mendengar ucapan Dirga.
" Bapak gila, ya! Kenapa Bapak bicara seperti itu!" ketus Kirania kesal.
" Aku memang gila, dan kamu yang membuat aku seperti ini, Rania." Dirga mencengkram lengan Kirania.
Kirania menggelengkan kepalanya seraya menepis tangan Dirga." Bapak mestinya sadar diri, Bapak itu sudah berkeluarga, sudah ada istri sudah punya anak. Kenapa Bapak tega melakukan hal ini?"
__ADS_1
" Aku akan segera mengurus perceraian aku dengan Nadia."
Deg
Kirania membelalakkan matanya.
" M-maksud Bapak apa?"
" Aku dan Nadia akan segera bercerai, jadi tidak ada alasan untuk kamu menghindariku, Rania."
" K-kenapa Bapak tega melakukan hal ini? Ibu Nadia mencintai Bapak, apa Bapak tidak memikirkan bagaimana perasaan istri dan anak Bapak?"
" Aku tidak mencintai Nadia, kamu tahu sendiri jika aku sudah tidak mencintai Nadia sejak dulu."
" Tapi Bapak menikah dengannya, dan kalian sudah punya anak. Bagaimana Bapak bilang tidak mencintainya?"
Dirga terdiam tak langsung menjawab pertanyaan Kirania. " Aku tidak pernah mengkhianati perasaanku terhadapmu, Rania," ujarnya kemudian.
" M-maksud Bapak?" Kirania menatap kedua bola mata Dirga bergantian, dia mencari arti ucapan Dirga tadi.
" Jika aku sudah menyelesaikan pernikahanku dengan Nadia. Tak ada lagi halangan untuk kita bisa hidup bersama, seperti yang aku inginkan sedari dulu." Dirga menatap Kirania dengan penuh rasa mendamba.
" Maaf, Pak. Saya tidak ingin disebut wanita perebut suami orang," tegas Kirania.
" Kau tidak merebut dari siapapun, Rania. Karena kamu tahu jika hati aku, cintaku hanya untukmu seorang." Dirga menggenggam kuat bahu Kirania.
Kirania menelan salivanya mendengar ungkapan hati Dirga. Dia tahu apa yang dikatakan oleh pria di hadapannya ini adalah yang sejujurnya.
" Saya pernah katakan pada Bapak dulu, kalau saya ... saya tidak pernah mencintai Bapak." Kirania mengalihkan pandangannya dari mata Dirga, dia tidak ingin kali ini Dirga mengetahui kebohongannya.
" Kenapa kamu masih mendustai hatimu, Rania? Aku masih bisa melihat kalau kamu pun merasakan apa yang aku rasakan. Aku bisa merasakan kalau kamu pun masih mencintaiku." Dirga merangkum wajah Kirania dengan kedua telapak tangannya.
" I-itu tidak benar, Sa ..." Suara Kirania terpotong, saat tiba-tiba Dirga mencium bibirnya membuat Kirania terbelalak dan tidak punya kesempatan untuk menepisnya. Kirania seketika membeku saat bibir Dirga terus melu mat bibir ranumnya. Ini adalah kali kedua Kirania merasakan berciuman dan ini dia dapat dari pria yang sama.
" Katakan sekali lagi kalau kamu tidak mencintaiku," Dirga tersenyum melihat Kirania yang tak menolak tindakannya.
" Bapak kurang ajar sekali berani melecehkan saya!" geram Kirania saat kesadarannya kembali, Kemudian tangannya menganyun ke arah pipi Dirga namun dengan cepat Dirga mencengkram tangan Kirania.
" Tangan halus ini tak pantas untuk melakukan kekerasan, tanganmu ini lebih pantas untuk membelai wajahku, seperti yang pernah kamu lakukan dulu. Aku sangat merindukan belaian lembut dari tanganmu, Rania. Aku sangat merindukan semua yang ada dalam dirimu." Dirga lalu menciumi jemari Kirania membuat wanita itu kembali terkesiap.
" Papa, kenapa Papa tium-tium Ateu Lania ( cium-cium Tante Rania )?" Suara Kayla yang tiba-tiba terdengar membuat Dirga dan Kirania sama-sama tersentak.
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Readingā¤ļø