
Gilang bangkit dari sofa namun tangan halus Karina lebih cepat mencengkram lengan Gilang, membuat Gilang langsung menoleh ke arah Karina.
" A-aku bersedia, Kak."
Gilang melirik tangan Karina yang mencengkram lengannya.
" T-tapi Kakak mesti janji, setelahnya Kak Gilang mau bertanggung jawab."
" Sebaiknya kau pulang saja dan lupakan soal hukuman ini." Gilang menepis tangan Karina kemudian beranjak melangkah hendak meninggalkan Karina, tapi Karina dengan cepat berlari mengejar Gilang dan memeluk pria itu dari belakang.
" Aku mencintai Kakak, aku akan lakukan apapun yang Kakak minta kepadaku," lirih Karina dari balik punggung kekar Gilang.
" Jangan sampai kamu menyesali keputusanmu, Karina." Gilang berucap dengan nada dingin.
" Aku tidak akan menyesali asalkan bisa bersama Kakak. Ijinkan aku menggantikan posisi Mbak Rania di hati Kakak."
Gilang mengurai belitan tangan Karina di perutnya, kemudian dia memutar tubuhnya hingga kini berhadapan dengan wanita itu.
" Tapi aku tidak mencintaimu, Karina." tegas Gilang.
" Aku tidak perduli Kakak tidak mencintaiku. Kakak cukup menerima cinta dariku, itu sudah cukup untukku, Kak."
Gilang mengerjapkan matanya, dia merasa melihat dirinya dalam sosok Karina. Bagaimana dulu dia bersikukuh untuk mendapatkan Kirania, tidak memperdulikan jika wanita yang dicintainya itu sama sekali tidak mencintainya.
Gilang lalu terkesiap saat Karina menggeggam jemari tangannya lalu berkata. " Aku siap melakukan apa yang Kak Gilang inginkan," ucap Karina.
Seketika rasa sakit kembali terkuak di hatinya saat Kirania akhirnya memilih dan meninggalkan dirinya demi untuk kembali ke mantan kekasihnya itu. Rasa sakit hati dikecewakan oleh orang yang dia cintai. Dia pun teringat bagaimana saat tiba-tiba Kirania meneleponnya dan memintanya untuk segera bertunangan. Bukankah wanita itu yang memintanya bertunangan? Bukankah wanita itu juga yang meminta dilakukan secepat mungkin? Dan setelah mereka resmi bertunangan, kenapa dengan tanpa punya hati Kirania meninggalkannya, mempermalukannya dan menyakiti hatinya.
Gilang menatap Karina lekat kemudian dia berkata, " Baiklah, saya harap kamu tidak akan menyesali akan keputusanmu."
" A-aku ti-tidak akan menyesal, Kak."
Gilang kini menangkup wajah wanita cantik di hadapannya, dan dengan cepat dia menyatukan bibirnya dengan bibir Karina. Memberikan kecupan dan luma*tan yang langsung dibalas dengan cepat oleh Karina hingga Gilang kini menarik tengkuk wanita itu memperdalam permainan bibirnya sampai akhirnya hanya ada suara decapan kedua bibir mereka di ruangan itu.
Dan saat mereka menjeda pagutannya untuk menghirup oksigen, Gilang langsung mengangkat tubuh Karina dan merebahkan tubuhnya di atas sofa. Dia langsung menin*dih dan mengungkung tubuh Karina dengan tubuh kekarnya.
Gilang kembali memainkan adu bibir dengan Karina, hingga gairah mereka semakin terbakar karena lawan mereka sangat merespon tiap sentuhan yang diberikan.
" Apa kamu yakin?" Gilang menatap mata Karina yang dibalas dengan anggukan kepala wanita cantik itu yang terlihat ragu
Gilang lalu menarik resleting bagian belakang dan menurunkan gaun yang dikenakan Karina sebatas perut, hingga saat ini menampakkan tubuh putih mulus dengan kedua asset yang masih tertutup kain penutup. Gilang sampai harus menelan kasar salivanya. mendapati pemandangan yang baru pertama kali dia lihat secara langsung di depan matanya itu hingga Karina langsung menyilangkan kedua tangan di dadanya karena dipandangi seperti itu oleh Gilang.
" Kenapa ditutupi? Bukankah kau sendiri sudah menyetujuinya?" Gilang menyingkirkan tangan Karina yang menutupi dadanya juga menarik kain penutup asset Karina hingga saat ini matanya disuguhkan pemandangan dua pegunungan yang tinggi menjulang seolah menantang untuk didakinya. Gilang lalu mengalihkan pandangan ke wajah Karina yang kini terlihat menggigit bibir bawahnya dengan mata terpejam. Tangan Gilang mendaki dan menjajah dengan agresip kedua pegunungan yang menjulang itu kemudian dia mencium bibir Karina, namun Karina kini tak merespon sentuhan bibirnya. Wanita itu hanya diam, sangat berbeda dengan diawal tadi saat mereka melakukan pertemuan bibir. Dia kini bahkan merasakan lelehan air mata menetes di wajah Karina. Seketika itu juga dia langsung menjauhkan tubuhnya dan bangkit dari atas tubuh Karina.
__ADS_1
" Jangan merendahkan dirimu dengan menyerahkan tubuhmu untuk pria yang sama sekali tidak mencintaimu. Jangan membuat dirimu seperti wanita murahan seperti sekarang ini."
Deg
Perkataan Gilang seolah menohok tepat di jantung Karina dan membuat wanita itu terduduk dengan kembali menyilangkan tangan ke dadanya.
" Pulanglah, dan sekali lagi saya tegaskan, jangan pernah temui saya lagi!" tegas Gilang kemudian berjalan keluar ruang kerjanya meninggalkan Karina yang nampak syok dan kemudian menangis karena merasa apa yang dikatakan Gilang adalah benar, dia benar-benar merasa seperti seorang wanita ja*lang.
Setelah merapihkan gaunnya kembali dan menghapus air matanya, Karina pun pergi meninggalkan rumah Gilang setelah sebelumnya dia memesan taxi online untuk membawanya kembali ke hotel.
***
Sekitar jam tujuh lewat tiga puluh menit Dirga, Karina dan Rizal sampai di hotel tempat Karina menginap. Dan setelah meminta bantuan pegawai hotel di sana kini mereka bertiga sudah berdiri di depan pintu kamar nomel 34.
Kirania mengetuk kamar Karina, sekitar lima menit menunggu pintu kamar Karina terbuka. Saat melihat sosok Karina muncul dari balik pintu dengan cepat Kirania memeluk adiknya itu.
" Dek, kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Kirania cemas.
Sementara Karina yang mendapati kakaknya juga kakak iparnya dan seorang pria yang dia ingat pernah datang ke rumahnya dulu saat kasus penculikan kakaknya dulu langsung tercengang.
" M-mbak Rania?"
" Kamu semalam kenapa? Apa Kak Gilang menyakitimu? Kenapa kamu sampai menangis semalam?" Kirania mencecar Karina dengan beberapa pertanyaan.
Karina kembali terkesiap saat Kirania mengetahui jika semalam dia bertemu Gilang bahkan pulang dengan menangis.
" Mbak tahu dari Pak Rizal ini." Kirania menunjuk dengan matanya menunjuk Rizal.
Karina mendesah, dia lupa jika kakak iparnya itu punya orang yang bisa diandalkan untuk mencari orang yang bersembunyi sekalipun.
" Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dirga,
" I-iya aku baik-baik saja, Kak."
" Lalu kenapa kau pulang dari rumah Gilang dengan menangis? Apa dia menyakitimu? Dan untuk apa kamu menemui dia?" tanya Dirga menyelidik.
" Abang, aku rasa aku butuh bicara empat mata dengan Karina. Abang dan Pak Rizal bisa tinggalkan kami berdua dulu?" pinta Kirania kepada suaminya dan Rizal.
" Baiklah, kalian bicaralah dulu tapi jika ada hal yang kurang berkenan segera kasih tahu aku." Gilang membelai kepala Kirania membuat wanita itu mengangguk menyetujuinya.
" Kita menunggu di lobby." lanjut Dirga sebelum meninggalkan kakak beradik itu.
" Sekarang kamu cerita sama Mbak, apa yang sebenarnya terjadi semalam. Dek?" Kirania segera mengajukan pertanyaannya.
__ADS_1
" Nggak ada apa-apa, Mbak. Semalam nggak terjadi apa-apa." Karina berdusta, tak berani mengatakan yang sesungguhnya terjadi kepada kakaknya itu.
" Jangan bohong sama Mbak, Dek. Kalau nggak terjadi apa-apa kenapa kamu menangis keluar dari rumah Kak Gilang? Apa yang sudah Kak Gilang perbuat terhadapmu?" Kirania terus mendesak adiknya untuk jujur.
" A-aku bicara jujur, Mbak. Tidak terjadi apa-apa semalam." Karina tetap menangkis kecurigaan Kirania.
" Lantas kenapa kamu menangis sepanjang perjalanan ke hotel?" selidik Kirania.
" I-itu karena Kak Gilang menolak permintaan maafku." Karina melempar pandangan ke arah lain tak ingin bertatap mata dengan kakaknya.
" Permintaan maaf untuk apa, Dek?"
Karina kini menatap tajam Kirania.
" Permintaan maaf untuk apa? Mbak sadar nggak sih kalau Mbak itu sudah menyakiti hati Kak Gilang? Mbak yang meminta bertunangan tapi Mbak juga yang meninggalkan. Wajar kalau Kak Gilang marah tak mau memaafkan!" tegas Karina.
Kirania langsung menarik dan memeluk tubuh adiknya.
" Mbak tahu Mbak salah. Mbaklah yang harus bertanggung jawab atas kesalahan Mbak. Kamu nggak perlu melakukan hal ini, Dek. Mbak nggak mau terjadi sesuatu dengan kamu, jadi jangan lakukan hal ini lagi. Kesalahan Mbak sangat besar, Kak Gilang pasti nggak akan memaafkan, Mbak. Jadi Mbak mohon kamu jangan temui Kak Gilang lagi, ya."
" Tapi aku mencintai Kak Gilang, Mbak."
Deg
Kirania terkesiap mendengar pengakuan Karina. Dia lalu mengurai pelukannya dan menjauhkan tubuhnya dari sang adik.
" Apa katamu tadi?" Kirania menanyakan lagi apa yang tadi dikatakan Karina, dia berharap dia salah mendengar.
" Aku mencintai Kak Gilang, karena itu aku nggak sampai hati melihat Kak Gilang dikecewakan."
*
*
*
.Bersambung ...
Oh ya, masuk bulan Agustus Alhamdulillah atas ijin Allah SWT dan atas dukungan pecinta Abang, RTB ini naik level ke level tertinggi level 10 menyusul MSI. Sekarang aku tinggal berjuang di KCA agar bisa naik kontrak. Jadi aku mohon bantuan dan dukungan Readers penggemar RTB untuk bisa berkunjung, memasukan ke daftar favorit, memberi like dan komen di novel Kisah Cinta Azzahra. Mohon dukungannya ya Readers Budiman, biar aku tetap bertahan di sini.
Baca juga kisah MSI ya yg belum mampir di sini ditunggu kunjungannya, hatur nuhun🙏🙏
__ADS_1
Happy Reading❤️