RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Kegelisahan Kirania


__ADS_3

Kirania menahan bulir-bulir air matanya agar tidak tumpah, air mata yang belakangan mudah sekali jatuh di pipinya sejak dia mengenal pria yang saat ini terlihat kesal terhadapnya.


Saat ini sakit yang dirasakan dua kali lipat, sakit karena cidera di kakinya dan sakit di hatinya mendengar kalimat yang terdengar agak kasar diucapkan oleh Dirga. Seketika membuat dirinya ingin menjauhkan diri dari pria itu.


Kirania mencoba bangkit dan menjejakkan kedua kakinya. " Aawwww ... ssshhh ..." Kirania kembali menjatuhkan dirinya ke bawah saat dirasakan dia tidak sanggup untuk berdiri.


" Sakit, kan? Makanya lain kali nggak usah nekat." Dirga masih saja dengan umpatannya. Tapi tangannya ingin membuka sepatu yang dikenakan Kirania.


" Nggak usah pegang-pegang!" Kirania memukul tangan. Dirga yang akan melepas sepatunya. " Aawwww ... sakit!" Pekik Kirania saat tangan Dirga berhasil melepas sepatu Kirania.


" Sepertinya Mbak ini terkilir, Mas. Mesti cepat diurut, mumpung kejadiannya masih baru," ucap orang yang memberitahu tadi. " Kira-kira satu kilometer dari sini ada tukang urut, Mas. Cepat dibawa ke sana saja Mbak nya Mas, biar cepat diperbaiki urat-urat yang terkilirnya."


" Saya bawa ke dokter saja, Pak."


" Oh, ya sudah, Mas."


" Aku mau diurut saja," ucap Kirania.


" Lebih baik ke dokter."


" Aku nggak mau!" tolak Kirania.


" Diurut itu pasti akan lebih sakit." Dirga mencoba meyakinkan bahwa pilihannya lebih tepat.


" Tapi aku nggak mau ke dokter, aku nggak mau ke rumah sakit." Kirania menggeleng gusar.


" Bapak tahu tempat tukang urutnya?" Akhirnya Dirga yang mengalah menuruti kemauan Kirania.


" Tahu, Mas."


Dirga langsung mengambil dompet dan mengeluarkan dua lembar uang nominal seratus ribu kemudian menyerahkannya ke orang itu.


" Ini buat Bapak, tapi tolong antar saya ke sana, Pak."


Orang itu langsung menunjukkan ekspresi senang menerima uang pemberian Dirga. " Makasih banyak, Mas. Mari saya antar ke sana."


Dirga kemudian mengangkat tubuh Kirania hingga membuat gadis itu memekik. " Eh, eh ... kamu ngapain? Lepaskan ...!" Kirania memukuli tubuh Dirga, karena tanpa seijinnya pria itu langsung menggendong dirinya.


" Aku mau bawa kamu ke tukang urut, memangnya kamu bisa jalan sendiri?"


" Turunkan aku, aku mau jalan sendiri!" Kirania menyerang Dirga dengah pukulan dan cubitan, karena apa yang dilakukan Dirga saat ini sangat membuatnya malu.


Akhirnya Dirga melepaskan Kirania. " Silahkan kalau bisa jalan."


Kirania menahan tubuhnya bertumpu pada satu kakinya, dan memang dia kesulitan untuk melangkah, tapi dia gengsi meminta tolong pada Dirga.


" Pak, saya bisa minta tolong Bapak, nggak?" tanya Kirania susah payah menahan rasa nyeri.

__ADS_1


" Bantuan apa, Mbak?" tanya orang yang bersedia mengantar.


" Saya pinjam lengan Bapak, saya mau jalan."


" Waduh ..." Bapak itu langsung melirik ke arah Dirga yang sedang memicingkan matanya.


" Nggak usah takut sama dia, Bapak tolong antar saya saja." ucap Kirania saat dilihatnya Bapak itu bergeming.


" Sa-saya nggak berani, Mbak." Tolak Bapak itu halus.


Sementara Dirga segera memperbaiki standard motor yang digunakannya menjadi posisi standard tengah, lalu kemudian kembali ke tempat Kirania berdiri. Dia mengangkat tubuh Kirania kembali dalam gendongannya.


" Lepaskan aku, aku bisa jalan sendiri!"


" Kalau kamu bawel, aku tinggal kamu sendirian di sini, mau??" ancam Dirga membuat Kirania terdiam.


" Pegangan dulu joknya yang kencang." Dirga mendudukkan tubuh Kirania di jok belakang, setelah dilihatnya posisi Kirania cukup nyaman, akhirnya dia menaiki motor matic milik Willy dan melajukan motornya mengikuti pria tadi.


***


Sesampainya di tempat urut...


" Pak, maaf, tukang urutnya perempuan atau laki-laki?" tanya Dirga dari atas motor, saat membaca plang yang terbuat dari kayu di depan rumah tukang urut itu bertuliskan.


...Abang Nurdin...


...08xx xxxx xxxx...


" Laki-laki, Mas."


" Laki-laki?" Dirga membulatkan matanya. " Sudah tua?"


" Sekitar empat puluh tahunan."


" Pak, saya cancel saja, nggak jadi urutnya." Dirga memutar balik arah motor yang dikendarainya.


" Kenapa, Mas?" tanya Bapak itu heran.


" Saya nggak mau pacar saya dipegang-pegang laki-laki lain." Dirga beralasan membuat bapak itu tersenyum mengerti.


" Kita mau ke mana?


" Kita ke dokter saja," ujar Dirga kepada Kirania yang merasa heran Dirga memutar arah.


" Aku nggak mau ke rumah sakit, ya! Pokoknya aku nggak mau ke sana!" tolak Kirania tegas tapi Dirga tak memperdulikannya.


Beberapa saat kemudian motor yang Dirga bawa memasuki sebuah klinik yang terlihat cukup besar. Dirga memarkirkan motor tersebut dan kembali mengangkat tubuh Kirania dengan lengannya membawanya memasuki ruangan klinik itu.

__ADS_1


Selama berjalan dari halaman parkir sampai masuk klinik, Kirania lebih banyak menyembunyikan wajahnya karena tentu saja pemandangan yang terlihat romantis itu menjadi perhatian pengunjung dan pegawai klinik di sana. Mau tidak mau, Kirania harus menyembunyikan wajahnya di dada Dirga dengan jantung yang berdetak sangat kencang tentunya, karena secara tidak langsung mereka terlihat sangat intim, sudah tidak bisa dibayangkan apa warna muka Kirania sendiri, mungkin kepiting rebus saja kalah merahnya dengan wajahnya saat ini.


" Selamat siang, ada yang bisa dibantu, Mas?" tanya salah seorang pegawai klinik.


" Di mana ruangan dokter Riska?" Dirga balik bertanya.


" Maaf, dokter Riska sedang ada pasien, Mas sudah daftar sebelumnya?" Pegawai wanita itu menjawab dan kembali bertanya.


" Di mana ruangannya?" Dirga ngotot bertanya.


" Mas nya sudah daftar belum?" Karena merasa menjalankan prosedur klinik dengan benar pegawai klinik itu tetap tak ingin memberi tahu.


" Kalau kamu nggak mau kasih tahu di mana ruangan Tante Riska, saya akan suruh Tante Riska pecat kamu sekarang juga!" hardik Dirga mengancam. Jelas saja ucapan yang diucapkan dengan lantang oleh Dirga itu membuat kegigihan pegawai itu menciut.


" Mari saya antar ke ruangan dokter Riska, Mas." Pegawai klinik lainnya bersedia mengantar Dirga ke ruangan dokter Riska.


" Siapa nama kamu?" tanya Dirga dingin pada pegawai wanita tadi.


" Susi, Mas." Pegawai bernama Susi itu menunduk.


" Bereskan barang-barang kamu sekarang juga!" Kalimat Dirga sebelum berjalan menuju ruangan dokter Riska sukses membuat pegawai itu terduduk lemas dan menangis.


" Kamu jahat banget jadi orang! Main pecat-pacat saja." Kirania berucap dengan sebal kepada Dirga.


" Siapa yang mau pecat? Aku cuma mengerjai saja, pasti sekarang cewek itu sedang menangis." Dirga menyeringai.


Tak lama Dirga pun masuk ke ruangan dokter Riska, setelah pegawai klinik yang mengantar tadi masuk terlebih dahulu dan meminta ijin kepada dokter Riska.


" Dirgantara, tumben ada apa kamu kemari?" tanya dokter Riska menyapa saat Dirga masuk ke dalam ruangannya. Wanita berprofesi dokter itu kemudian mengalihkan pandangannya pada sosok wanita yang saat ini sedang dalam gendongan Dirga.


" Siapa dia, Ga? Dan kenapa dengan dia?" Penasaran dokter berparas cantik itu menanyakan.


" Dia ... teman kuliah aku, Tan. Bisa Tante obati dia, sepertinya terkilir."


" Oh, ya sudah baringkan saja dulu di brankar, Tante buatkan resep sebentar untuk pasien Tante dulu, ya." dokter Riska melanjutkan tugasnya menuliskan resep obat untuk pasien yang saat ini ada di depannya.


Sementara hati Kirania merasa sedikit terusik mendengar pengakuan Dirga tentang siapa dirinya untuk pria itu. Tapi kenapa dia merasa gusar dengan pengakuan Dirga, bukankah dia memang teman kuliah Dirga? Tapi bukankah Dirga bersikukuh menjadikan dirinya itu kekasihnya? Lalu kenapa Dirga tidak berani mengakui tentang itu, pada wanita yang Kirania anggap masih keluarga Dirga, jika melihat keangkuhan Dirga saat memarahi pegawai klinik tadi, dan panggilan Tante untuk dokter Riska. Apakah Dirga memang tidak sungguh-sungguh menyukainya? Apakah Dirga memang hanya ingin main-main saja dengannya, hingga pria itu tidak ingin pihak dari keluarganya tahu tentang dirinya? Prasangka buruk pun mulai berkelebatan di hati dan pikiran Kirania, seketika itu pula hatinya menjadi gelisah.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading😘

__ADS_1


__ADS_2