
Kirania menarik nafas dalam-dalam, pagi ini acara pertunangan dengan Gilang akan dilaksanakan. Artinya berakhir sudah penantian rindunya selama ini. Mulai hari ini dia harus belajar melupakan Dirga, pria yang sejak enam tahun lalu mengisi relung hatinya.
" Ran, kamu sudah siap? Gilang dan keluarganya sudah datang di depan." Suara Mama Saras membuyarkan lamunan Kirania.
" I-iya, Ma," lirih Kirania. Dia pun kemudian melangkahkan kaki menuju ruang tamu di rumahnya. Rencana pertunangan Gilang dan Kirania hanya diadakan sederhana di rumahnya karena terlalu mendadak.
Kirania mendapati Gilang yang mengenakan batik perpaduan warna dark brown dan mustard tersenyum melihat kehadirannya. Di samping kanan kiri Gilang, kedua orang tua dan Kakak perempuan Gilang pun tersenyum ke arahnya.
Pandangan Kirania kini beralih ke deretan keluarganya, Om Malik bersama istrinya, Bude Arum juga Karina dan Airin, anak dari Om Malik dan juga Pak RT yang kebetulan rumahnya bersebelahan dengan rumah orang tua Kirania ikut hadir menyaksikan.
" Duduk sini, Ran." Tante Erlin, istri dari Om Malik menyuruh Kirania duduk di sampingnya.
Kirania pun berjalan ke arah yang ditunjuk Tante Erlin.
" Kita mulai saja acaranya sekarang ya, untuk mempersingkat waktu," ujar Om Malik, yang disetujui semua yang hadir kecuali Kirania yang hanya diam tercenung.
" Bismillahirrohmanirrohim, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena sejauh ini kita masih diberikan kesehatan lahir dan bathin. Semoga kita semua yang hadir di sini khususnya, selalu dalam lindungan Allah SWT, Aamiin Ya Rabbal Alamin ... pertama-tama kami sampaikan terima kasih sebelumnya kepada keluarga dari Almarhum Bapak Dimas Nugraha, yang sudah berkenan memberikan kesempatan kepada keluarga kami, untuk datang berkunjung kemari. Adapun maksud dan tujuan kami kemari adalah untuk mempererat tali silahturahmi kedua keluarga dengan mengikat putri Almarhum Bapak Dimas dan Ibu Saras yaitu Ananda Kirania, dalam suatu ikatan pertunangan dengan putra kami, Ananda Gilang Aditya. Sekiranya permintaan kami ini bisa diterima dengan baik oleh keluarga Almarhum Bapak Dimas, khususnya oleh Ananda Kirania sendiri. Itu saja yang ingin kami sampaikan, terima kasih, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Om Burhan menyudahi ucapannya.
" Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh ..." sahut yang ada di dalam ruang tamu rumah orang tua Kirania.
" Terima kasih, untuk keluarga dari Bapak Burhan juga Ananda Gilang Aditya atas penyampaian maksud dan tujuannya yang ingin meminang Ananda Kirania. Saya selaku perwakilan dari keluarga Almarhum Mas Dimas menyerahkan seluruhnya keputusan kepada Ananda Kirania. Ananda Kirania Ambawati, apa Ananda bersedia dengan rencana pertunangan yang diajukan oleh Ananda Gilang Aditya?" tanya Om Malik membuat semua orang menatap ke arah Kirania yang pagi jelang siang ini mengenakan kebaya brokat modern warna dusty purple.
Kirania menelan salivanya, kemudian menatap ke arah Gilang yang sedang tersenyum menatapnya, lalu satu persatu wajah-wajah yang ada di ruangan itu pun ditatapnya terutama Mama Saras, yang tersenyum seraya menganggukkan kepalanya memberikan ijin. Terpancar aura kebahagian di wajah mamanya itu. Bukankah hal ini adalah yang diinginkan mamanya sejak lama. Dia bertemu jodoh dan segera mengakhiri masa lajangnya.
" Bagaimana Ananda Kirania?" Lamunan Kirania buyar saat Om Malik kembali memanggil namanya.
" I-iya, aku setuju, Om ..." lirih Kirania.
" Alhamdulillah ..." perkataan Kirania disambut lega semua yang hadir di sana.
" Kalau begitu bagaimana kalau dilanjut dengan sesi tukar cincin?" tanya Om Malik.
" Setuju." Suara Karina dan Airin memekik membuat yang lain tertawa melihat mereka berdua.
" Kalau begitu silahkan Ananda Gilang dan Ananda Kirania untuk berdiri dan saling mendekat," perintah Om Malik kemudian.
Gilang dan Kirania pun akhirnya berdiri saling berjalan mendekat, sementara Mbak Wulan, Kakak dari Gilang membawa kotak cincin pertunangan mereka.
" Tapi saya ingin bicara dengan Rania! Rania ...!!"
" Maaf, Mas ... nggak bisa!"
Samar-samar terdengar kegaduhan dari pintu gerbang, membuat semua menoleh keluar. Sedangkan Kirania yang sepintas mengenal suara yang mencarinya seketika wajahnya memucat. Bayangan akan mimpinya kemarin terus berkelebat di benaknya membuat tubuhnya lemas hingga sedikit terhuyung ke belakang.
***
__ADS_1
Jam sepuluh lewat lima puluh menit Dirga sampai di rumah Kirania. Terlihat beberapa kendaraan terparkir di depannya. Dirga segera turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah Kirania.
" Eh-eh-eh, maaf ... Mas siapa? Mau ke mana?" cegah dua orang pria berbadan tegap menghalangi langkah Dirga. Mereka adalah dua orang yang disewa Gilang untuk mencegah Dirga untuk menghalangi aksinya yang akan membatalkan rencana pertunangannya.
" Saya ingin bertemu dengan Kirania," ujar Dirga gelisah karena dia takut jika Kirania benar-benar telah resmi menjadi tunangan Gilang.
" Maaf, Mas. Mbak Kirania sedang tidak bisa diganggu, beliau sedang melaksanakan acara pertunangan." Salah satu orang suruhan Gilang itu menjelaskan.
" Saya harus bicara dengan dia." Dirga mencoba mendorong tubuh kedua penjaga itu.
" Tidak bisa, Mas!" tegas orang suruhan Gilang lainnya.
" Tapi saya harus bicara dengan Rania! Rania ...!!" pekik Dirga meneriaki nama Kirania.
" Maaf, Mas ... nggak bisa!" Kedua orang suruhan Gilang bersikukuh menghalangi.
Dirga dibuat emosi dengan tingkah dua orang pria di hadapannya dan tangannya yang sudah mengepal ingin dia ayunkan ke kedua orang itu tapi terhalang suara yang tiba-tiba datang.
" Ada apa ribut-ribut??"
Dirga langsung menoleh ke arah asal suara tadi, dan dijumpainya Bude Arum lah yang muncul saat itu.
" Bude ..." seru Dirga menyapa Bude Arum.
" Nak Dirga?" Bude Arum terkesiap saat dilihatnya Dirga hadir di sana.
Bude Arum segera menghampiri Dirga, " Sebaiknya kita bicara, ada yang mesti Bude sampaikan ." Bude Arum ingin mengajak Dirga bicara tapi pandangan mata Dirga langsung terarah ke dalam rumah Kirania.
" Tapi pertunangannya ...."
" Kita bicara lebih dahulu."
Disertai dengusan, Dirga akhirnya menetujui permintaan Bude Arum. Dirga membawa Bude Arum ke dalam mobilnya untuk berbicara di sana.
" Apa yang ingin Bude sampaikan?" Dirga sebenarnya tidak terlalu berkonsentrasi dengan apa yang ingin dibicarakan, karena pikirannya bertumpu akan apa yang sudah terjadi di dalam sana? Dan apakah mereka sudah bertunangan?
" Mereka sedang sesi tukar cincin, mungkin sekarang mereka sudah resmi bertunangan." Bude Arum sepertinya menangkap kegelisahan Dirga.
" Kenapa Bude menghalangi aku?" tanya Dirga kecewa.
" Karena ini yang terbaik untuk Rania. Rania sudah cerita semua ke Bude tentang apa yang terjadi dengan kalian selama ini. Tentang Nak Dirga yang harus menikahi wanita yang dihamili oleh Kakak Nak Dirga. Juga tentang rencana perceraian Nak Dirga." Bude Arum menarik nafas dalam-dalam. " Tapi kami selaku orang tua Rania, kami tidak akan setuju jika Rania harus menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Nak Dirga dan istri."
" Rania bukan orang ketiga, Bude!" Aku mencintainya, saat aku menikah pun, Nadia tahu jika aku hanya mencintai Rania," tegas Dirga.
" Bude mengerti jika Nak Dirga begitu mencintai Rania, Bude juga tahu kalau Rania juga sama. Tapi Bude nggak ingin terus menerus melihat Rania bersedih dan menangis karena perasaannya kepada Nak Dirga harus kembali ditentang keluarga Nak Dirga. Bude nggak ingin kejadian enam tahun lalu terulang kembali sekarang, sampai sesak nafas Rania kambuh malam itu." Mata Bude Arum berkaca-kaca mengenang kejadian saat Mama Dirga dan Nadia datang ke rumahnya.
__ADS_1
" Kejadian enam tahun lalu? Sesak nafas Rania kambuh? Memangnya ada kejadian apa enam tahun lalu sampai buat Rania sesak nafas, Bude?" selidik Dirga merasakan ada satu rahasia yang tersembunyi yang tidak dia ketahui selama ini.
*
"
*
Bersambung ...
Thor, Othor, Othor ... gantung lagi, gantung deui, kayanya kalo ga ngegantung readersmu hidupmu ga ayem ya Thor ... 😂😂😂
Buat yg kemarin² tanya kapan nih akan kebongkar kalo Mama Dirga n Nadia lah biang kerok putusnya hub Dirga Rania 6 tahun silam, sudah mulai terjawab, kan? Seperti yg tanya kapan Rania akan bahagia? jawabnya liat di MSI, dia bahagia kan pada akhirnya😁😁 Semua udah Othor atur kok ... Ah, kelamaan, Thor! Loh, yg lama itu kan enak .. #eh 🤭ups
*
Jangan lupa kasih like kasih komen ditambah vote n gift juga gpp🤭 ( Iiihh makin ngelunjak nih Othor )
R : Thor-thor kenapa eh kenapa sih ngarep banget dilike n dikomen?
A : Karena eh karena banyaknya like + banyaknya komen + banyaknya vote + banyaknya gift \= popularitas suatu karya,
popularitas itu akan mempengaruhi level karya ( Novel ) juga akan mengundang semakin banyak pembaca. Harapan seorang penulis itu 'kan ga lain agar semakin banyak reader yang membaca hasil karyanya. Jadi semua Othor begadang untuk nulis n mikir buat cari ide cerita tuh ga sia² karena seneng banyak yang suka n baca karyanya. gitoh loh ...
R : Oh, gitu ya Thor ...
A : Iya, jadi jangan lupa kasih like n komen ya
R : Kalo like sih bolehlah, kalo komen ... males ngetiknya ah, apalagi kalo ceritanya mengecewakan seperti balakangan ini nih Bang Dirga ditinggal tunangan Rania. Kuciwa readers kuciwa, males banget ih mau komen ..😝
A : 💣💣💣💣💣💥💥💥💥💥 Kabuuuuurrr😂🤣
*
*
eh balik lagi ding, mau dikasih double up?
Sok geura rayu dulu Othornya 😎😎😎
kabuuurr lagi
Just kidding😁 n Happy Reading❤️
Ikuti novelku yang lain ya 👇lebih ringan ceritanya
__ADS_1