RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Gilang Yang Kecewa


__ADS_3

Dirga memandang satu persatu orang-orang yang menatapnya penuh harap, selepas acara tahlilan hari ke tujuh meninggalnya Bimantara.


" Kami mohon padamu, Dirga. Ini tidak hanya untuk menyelamatkan nama baik keluarga kami tapi juga nama baik keluarga Mas Poetra." Om Fachri mengutarakan permohonannya.


" Om Fachri benar, Dirga. Bagaimanapun juga sekarang ini ada darah daging abangmu di rahim Nadia. Mungkin kalau abangmu tidak mengalami kecelakaan, Mama pasti akan suruh abangmu bertanggung jawab. Sekarang abangmu sudah tidak ada, siapa lagi yang bisa menyelamatkan nama baik keluarga selain kamu, Nak," lirih Mama Dirga seraya mengusap air mata yang tak habis menetes di pipinya karena kehilangan salah satu anaknya.


Dirga menatap tajam Nadia yang hanya sanggup tertunduk sambil terisak. Dia tidak pernah menyangka jika abangnya itu ternyata diam-diam mencintai Nadia. Jika sedari awal dia tahu tentang kebenaran itu, mungkin sudah sejak lama dia bantu abangnya itu mendekati Nadia. Jadi dia tidak harus dijodohkan dengan wanita itu. Dan mungkin saja hubungannya dengan Kirania masih bisa terjalin sampai sekarang ini. Mengingat nama Kirania, seketika hatinya merasa bergejolak. Dia teringat saat melihat wanita yang dia cintai itu pergi berdua dengan dosennya ke sebuah restoran tak lama setelah Kirania meminta putus darinya.


Dirga mengerjapkan mata mencoba menepis bayangan tentang Kirania. Dia menghela nafas perlahan, sebelum dia membuat keputusan.


" Baiklah, aku terpaksa menyetujui rencana kalian hanya demi anak yang Nadia kandung. Jadi aku peringatkan sedari awal padamu, Nadia. Jangan pernah berharap banyak dengan pernikahan ini. Ini hanya untuk menyelamatkan anak Bang Bima di rahimmu!" tegas Dirga dengan nada dingin seraya beranjak pergi meninggalkan mamanya, Nadia juga orang tua Nadia.


Flash back off


" Kayla, mau bobo di sini atau mau ikut Papa pulang?" tanya Dirga kepada Kayla yang masih ada dalam pangkuannya.


" Papa nda inep cini?" tanya Kayla mendongakkan kepalanya.


" Hmmm, Papa banyak kerjaan yang harus Papa selesaikan di rumah."


" Papa banyak peel ( PR) ya? Kela cini ( di sini ) aja cama ( sama ) Nenek," ujar bocah itu kemudian.


" Ya sudah, kalau begitu Papa pulang dulu. Kayla jangan nakal, ya!" nasehat Dirga seraya mengacak rambut Kayla.


" Aku pulang dulu, Ma." Pamit Dirga mencium pipi mamanya.


" Mama harap kamu pikirkan baik-baik keinginan untuk bercerai dengan Nadia. Jangan sampai itu mempengaruhi psikis Kayla." Mama Dirga tetap membujuk agar Dirga menggagalkan rencana untuk berpisah dengan istrinya.


" Aku pulang sekarang." Dirga kemudian melangkah pergi tak menghiraukan ucapan mamanya tadi.


***


Kirania berjalan keluar lift menuju pintu keluar hotel, saat matanya mendapati seorang pria tersenyum ke arahnya.


" Lho, katanya Kak Gilang mau pulang? Kok masih ada di sini?" Kirania keheranan saat melihat Gilang.


" Iya, aku pulang setelah antar kamu berangkat ke kantor." Gilang menyahuti sembari melebarkan senyuman.

__ADS_1


" Memang bawa kendaraan? Bukannya Kak Gilang bilang ke Jakarta pakai kereta?" Kirania mengeryitkan keningnya.


" Iya memang, tapi aku antar kamu pakai taksi online saja. Yang penting bisa antar kamu kerja, gimana pun caranya." Gilang menyeringai sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Kirania hanya menggelengkan kepala menanggapi tingkah Gilang.


" Apa nggak mengganggu aktivitas Kak Gilang? Kak Gilang 'kan jadi bolos kerja."


" Nggak apa-apalah, yang penting bisa sama kamu," ucap Gilang jujur.


" Wah, bahaya deh kalau pimpinannya model gini, nggak profesional, lebih mementingkan urusan pribadi ketimbang pekerjaannya." Kirania menyindir membuat Gilang tergelak.


" Moment begini nih, moment langka, Ran. Jadi sebisa mungkin harus dimanfaatkan." Giang menyahuti. " Aku pesankan taksinya sekarang, ya."


" Nggak usah, Kak. Aku sudah pesan, kok. Tinggal tunggu mobilnya saja." Kirania menolak karena dia memang sudah memesankan via aplikasi ojek online.


" Berarti aku nggak boleh ikut antar, dong." Raut wajah Gilang terlihat sendu.


" Kalau Kak Gilang mau ikut sih, silakan saja."


Ucapan Kirania tentu saja disambut baik oleh Gilang, seketika merubah wajah muramnya menjadi sumringah.


" Iya." Kirania menganggukkan kepalanya, seraya melirik ponselnya yang tiba-tiba berbunyi. Ternyata Dirga yang meneleponnya.


" Assalamualaikum ..." sapa Kirania menjawab panggilan telepon masuk dari Dirga.


" Waalaikumsalam, kau tunggulah di depan pintu lobby hotel, sebentar lagi aku sampai sana jemput kamu." Mata Kirania seketika terbelalak demi mendengar perintah dari bosnya itu. Dia sudah menduga, tujuan Dirga menyuruh supir mengantarnya kemarin adalah agar posisi tempatnya menginap diketahui Dirga. Kirania mendesah sembari melirik ke arah Gilang yang tak berhenti tersenyum kepadanya.


" M-maksud Bapak?" Kirania menanyakan hal yang sebenarnya dia sudah mengerti maksudnya.


" Aku sedang on the way menuju hotel kamu menginap, jadi kamu tunggu di pintu luar lobby, biar aku nggak usah turun dari mobil." Dirga memperjelas perintahnya.


" Ta-tapi saya sudah pesan ojek online, Pak." Kirania memberikan alasan.


" Ya sudah, kamu cancel saja pesanannya." sahut Dirga enteng.


" Nggak begitu dong, Pak. Kalau kita cancel, kasihan drivernya."

__ADS_1


" Ya sudah nanti aku ganti kerugian dia, kalau sampai dia dipecat dari pekerjaannya, nanti aku carikan pekerjaan baru untuknya, atau dia bisa jadi driver di perusahaanku."


Kirania mendengus kesal dengan ucapan Dirga yang kesannya menganggap enteng setiap persoalan.


" Kita berangkat sekarang, Ran?" tanya Gilang yang tidak mengetahui jika Kirania sedang menerima telepon dari bosnya.


" Suara siapa tadi?" tanya Dirga, yang sepertinya menangkap suara pria berbicara dengan Kirania di teleponnya.


Kirania langsung menelan salivanya saat Dirga ternyata menyadari adanya pria lain yang bersamanya saat ini. Seketika ingatannya kembali pada kejadian beberapa tahun silam saat dirinya kepergok Dirga sedang pergi berdua dengan Yoga yang akhirnya sebuah tinju mendarat di wajah pria berlesung pipi itu.


" Ran, siapa pria yang bicara denganmu tadi?" Dirga mengulang pertanyaannya.


Kirania menoleh ke arah Gilang, kemudian dia melangkah agak menjauh dari Gilang agar pria itu tak mendengar apa yang akan dikatakannya dengan Dirga. Begitu juga sebaliknya, dia menjauh agar Dirga tak bisa mendengar suara Gilang lagi.


" Ow ... i-itu teman saya, kebetulan dia juga menginap di hotel ini."


" Teman lama? Siapa? Apa aku mengenalnya?" Pertanyaan yang terlontar dari mulut Dirga sebenarnya tak ada sangkut pautnya dengan posisi Dirga sebagai atasan Kirania tentunya.


" Itu teman sekolah waktu di Cirebon dulu." Kirania tak berbohong karena Gilang memang teman sekolah dulu walaupun Gilang seniornya.


" Ya sudah, cepat kamu tunggu di lobby, sebentar lagi aku sampai." Dirga langsung mematikan sambungan teleponnya tiba-tiba membuat Kirania mendengus kesal.


" Siapa yang telepon, Ran?" tanya Gilang yang tiba-tiba sudah ada di belakang Kirania.


" Oh, i-itu tadi orang kantor. Hmmm, Kak ... sepertinya aku nggak jadi naik taksi online, masalahnya ... hmm, tadi orang kantor telepon kasih tahu kalau aku sudah dijemput." Kirania beralasan.


" Lho, terus orderan taksi onlinenya bagaimana, dong? Memang dari kantor nggak konfirmasi dulu kalau mau jemput kamu? Mendadak sekali." Gilang terheran.


" Iya aku juga nggak ngerti kenapa mendadak begini. Aku duluan ya, Kak. Katanya sebentar lagi sampai depan pintu lobby." Kirania langsung bergegas meninggalkan Gilang yang terlihat kecewa, karena kesempatan untuk mengantar wanita yang sudah lama dia sukai gagal seketika.


Bersambung ...


Jadi sekarang ini sudah terkuak jika Kayla itu adalah hasil penjumlahan Nadia + Bima🤭


Cuma iseng aja pengen tanya pendapatnya. Menurut kalian reader RTB, jika berada di posisi Nadia, apa yg akan dilakukan?


BTW nama Gilang sama Dirga secara kebetulan itu aku dapetnya 🤭🤭🤭 Aku malah baru ngeh saat ada reader yg komentar salah satu nama artis 😂

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2