
Sementara itu pagi hari yang sama di Jakarta
Dirga baru saja keluar dari kamar mandi saat ponselnya berbunyi. Dengan satu tangan mengeringkan rambut dengan handuk, satu tangannya lagi meraih benda pipih yang dia letakan di atas nakas.
" Halo, gimana? Sudah ada Kabar?" Dirga langsung menodong pertanyaan saat mengetahui Rizal lah yang meneleponnya.
" Hahahaha ...."
Dirga menjauhkan benda pipih itu dari telinga saat suara tawa Rizal begitu memekakkan telinganya.
" Kenapa tertawa? Ada kabar baik?" tanya Dirga menyalakan loudspeak pada ponselnya.
" Dirga ... Dirga ... Dirga ... gue nggak sangka lu kalah battle dapetin itu cewek. Seorang bos besar kalah sama kepala cabang." Rizal kembali tertawa meledek. " Kalah battle, hampir mengacau di acara pertunangan, bini lu nemuin dia, kalau bukan lu sendiri yang suruh gue selediki, gue pasti bakal nuduh lu pelaku yang paling berpontesi buat menculik Kirania."
Dirga mendengus kasar. " Kalau tahu bakal begini, mending dari kemarin-kemarin gue saja yang culik dia." Dirga menyahuti.
" Sepertinya dia spesial banget buat lu, Bro. Sampai lu lepasin bini lu."
" Alasan gue pisah sama Nadia, bukan semata karena dia. Dan niat gue pisah juga sebelum gue kembali bertemu sama dia."
" Kayanya lu cinta banget sama dia."
Dirga menarik satu sudut bibirnya ke atas. " Dia yang bikin gue selama enam tahun belakangan ini nggak bisa jatuh cinta sama cewek lain."
" Wuih, dalem banget lu, Bro." Rizal terkekeh. " Tapi kalau gue lihat fotonya memang cantik sih."
" Bukan cuma cantik wajahnya tapi juga hatinya." Dirga melempar handuk kecilnya ke sofa. " Oh ya, gimana? Sudah ketemu titik terang?" Dirga mengalihkan pembicaraan ke permasalahan yang sebenarnya.
Rizal berdehem sebelum mulai melaporkan hasil penyelidikannya. " Gue baru lihat hasil CCTV dari tetangga dia, ternyata ada seseorang yang mengendarai motornya memasuki kawasan perumahan tempat tinggalnya. Dari pakaian yang dipakai pengendara itu tidak cocok dengan baju yang dikenakan dia saat menghilang. Dan juga ada satu mobil hitam mencurigakan yang berjalan tepat di depan motor itu. Sekitar kurang dari sepuluh menit mobil itu berjalan keluar dari kawasan perumahan, dan ciri-ciri mobil itu sama seperti mobil berplat nomer Jakarta yang sempat terparkir di samping rumah wanita itu menurut saksi mata."
" Plat nomer Jakarta?"
" Iya, tapi kesimpulan yang gue bisa ambil, sepertinya ini bukan murni sebuah penculikan atau murni suatu kejahatan."
" Maksud lu?"
" Logikanya jika pelaku itu memang menculik untuk suatu tebusan atau kriminal lain, mereka pasti akan meninggalkan sepeda motor begitu saja di TKP atau menyembunyikan di tempat lain untuk menyamarkan aksi mereka. Tapi si pelaku ini, malah dengan berani mengembalikan sepeda motor itu ke rumah Kirania, masuk ke pekarangan, lalu mengunci kembali dan melemparkan kunci itu ke dalam halaman rumah. Mereka sama sekali tidak berminat menyatroni barang berharga dalam rumah. Berarti tujuan utama pelaku adalah hanya membawa wanita itu."
Dirga masih serius mendengarkan penjelasan dari Rizal.
" Dugaan gue pelaku ini orang yang kenal dengan Kirania, setidaknya dia sangat hapal tempat tinggalnya. Feeling gue, dia nggak diculik tapi sengaja disembunyikan oleh seseorang."
" Disembunyikan seseorang? Tapi siapa yang berani menyembunyikan dia?" Dirga nampak geram.
" Masih terus gue selidiki, sembari menunggu si pelaku mengirimkan kabar ke keluarga wanita itu."
" Apa mungkin mereka akan memberi kabar?"
" Gue rasa sih begitu. Mereka nggak akan menelepon keluarga untuk meminta tebusan karena itu memang bukan tujuan utama mereka. Tapi pasti mereka akan mengirimkan kabar, memberitahu kepada keluarga Kirania, kalau wanita itu baik-baik saja dan pasti meminta keluarga dia supaya nggak cemas. Gue yakin mereka nggak akan menyakiti dia."
" Apa lu yakin dia nggak dalam bahaya, Bro?" Dirga tetep merasa gelisah.
" Kalau untuk tindakan kriminal yang melukai atau menyakiti gue rasa nggak. Tapi kalau ternyata orang itu seorang pria dan tertarik dan ingin menikahi dia ... mungkin saja itu bisa terjadi." Rizal tergelak saat mengatakan kalimat itu.
" Sialan, lu!!" umpat Dirga.
__ADS_1
" Selain tunangan dia, apa lu punya saingan lain yang juga suka sama dia?"
Dirga mencoba mengingat siapa saja yang suka Kirania " Setahu gue nggak ada, dulu jaman kuliah ada, tapi nggak mungkin dia sudah menikah dan cinta banget sama bininya." Seketika Dirga mengingat sosok Yoga. Dia juga menepis kemungkinan mantan dosennya yang melakukan. Tapi tiba-tiba dia teringat akan satu nama.
" Edo."
" Edo?? Edward maksud lu?"
" Iya, Edo sempat bilang tertarik sama dia."
" Dia ada di sini?"
" Iya, dia sedang ada di Indonesia, di Jakarta ini tepat." Tangan Dirga mengepal mengingat bagaimana dulu Edward pernah menggoda Kirania. " Oke, thanks infonya, Zal."
" Eit, tunggu ... tut ... tut ... tut ...."
Dirga langsung menutup obrolannya sebelum Rizal menyelesaikan kalimatnya. Kemudian mencari nama Edward di ponselnya.
" Ada apa, Bro?" sahut Edward saat panggilannya tersambung.
" Di mana?" tanya Dirga bernada dingin.
" Aku di Singapura."
Dirga mengeryitkan keningnya. " Singapura? Bukahkah kau bilang akan kembali ke luar negeri pekan depan? Ada apa?" selidik Dirga curiga.
" Iya memang Minggu depan, ini ada keperluan mendadak klien yang ingin bertemu, kebetulan dia sedang di Singapura, makanya aku ke sini."
" Apa tidak ada yang kau sembunyikan?" tanya Dirga lagi penuh intimidasi.
" Apa yang disembunyikan?" tanya balik Edward heran.
Edward tergelak mendengar pertanyaan Dirga yang merupakan suatu tuduhan. " Kau orang kedua setelah Nadia yang menanyakan hal itu kepadaku, Bro."
" Jangan banyak berkelit, katakan di mana kau sembunyikan dia."
" Kau ingin tahu? Aku bawa dia ke ujung dunia." Edward kembali tertawa kencang.
" Shit!! Gue serius di mana kau sembunyikan dia?!" Dirga membentak dengan nada yang sangat kencang.
" Hey, aku tahu kau begitu mencemaskan dia, tapi bukan berarti kau bisa seenaknya menuduhku yang melakukan itu. Aku tidak tahu dan sama sekali tidak terlibat dengan menghilangnya Kirania. Lagipula membantu kau mengurus perceraianmu saja sudah banyak membuang waktuku menghasilkan uang, apalagi ditambah harus menyembunyikan dia." Nada bicara Edward terdengar kesal.
" Apa kau serius tidak tahu keberadaan Rania??"
" Oh, come on, dude." Edward mencoba meyakinkan. " Sore ini aku kembali ke Jakarta, nanti aku lansung ke apartemenmu."
" Oke." Dirga kemudian menutup panggilan telepon bersama Edward.
Masih mengunakan handuk yang membelit pinggangnya Dirga berjalan dan duduk di tepi tempat tidurnya.
" Sial!! Siapa yang berani bermain-main denganku?!" Dirga mengusap kasar wajahnya.
***
" Kau betah di sini?"
__ADS_1
Kirania terperanjat saat mendengar suara ketika dia berdiri menatap laut lepas dari atas balkon. Kirania menoleh ke arah suara tadi dan ternyata pria tadi pagi yang kini berdiri bersandar di pinggir pintu balkon dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana.
" Saya ingin pulang," lirih Kirania.
" Jika sudah saatnya, kamu pasti akan pulang ke tempatmu." Pria itu menyahuti.
Kirania membalikkan badannya hingga kini berhadapan dengan pria itu.
" Tuan, sebenarnya apa tujuan Tuan mengurung saya di sini? Saya ingin pulang, keluarga saya pasti akan mencemaskan saya karena saya menghilang."
" Kamu tenang saja, keluargamu sudah tahu kalau kamu baik-baik saja."
Kirania mengeryitkan keningnya mencoba memahami maksud dari pria itu. " Maksud Tuan?"
" Saya sudah kirimkan rekaman aktivitas kamu di sini, untuk memastikan keluarga kamu kalau kamu baik-baik saja dan tidak terluka sedikit pun."
" Tuan tolong katakan kepada saya, jangan bermain teka-teki. Siapa dan apa tujuan Tuan mengurung saya di sini?!" Kirania benar-benar sangat kesal karena pria itu terus saja diam tak memberikan kejelasan.
Pria itu kini tersenyum dengan melipat tangan di dadanya. " Kamu terlihat cantik jika sedang merajuk seperti ini. Pantas banyak pria yang memperebutkanmu."
Kirania menelan salivanya mendengar ucapan pria itu, apalagi saat pria itu terus saja memperhatikannya dengan lekat membuat dirinya merasa tak nyaman.
***
Dirga melirik ponselnya yang bergetar, dia melihat pesan masuk dari Rizal. Segera dia membuka pesan masuk itu.
" Pelaku mengirimkan video aktivitas Kirania ke Ibu Saras. Videonya sudah gue kirim ke email lu, cek saja."
Dirga langsung mengecek email di laptopnya, memang ada email masuk dari Rizal, dan dengan tergesa dia membuka email itu. Saat video itu terbuka terlihat aktivitas Kirania yang sedang berdiri di atas balkon, duduk memandang ke arah pantai, dan menyantap makanan yang disediakan di meja. Sama sekali tak menampakan penyiksaan secara fisik terhadap wanita itu.
Dirga terus memperhatikan video itu, awanya berpusat pada Kirania, wanita yang dirindukannya tapi kemudian dia memperhatikan lokasi di sekitar Video itu. dari pantai dan bangunan balkon, meja kursi sampai kursi santai yang terletak di sudut balkon.
" Ah, shit!! Kenapa dia bisa ada di sana?" Dirga sepertinya mengenali lokasi Kirania berada dan itu merupakan titik terang untuknya. Dirga kemudian menghubungi Rizal.
" Gimana, Bro? Sudah lihat rekamannya?" tanya Rizal.
" Sepertinya gue tahu dia ada di mana sekarang."
" Dia di daerah tepi pantai."
" Pangandaran, dia di sana. Dan gue tahu siapa yang membawa dia ke sana."
*
*
*
Bersambung ...
🤔🤔🤔🤔 Othor curiga jangan² pelakunya Mom Erna nih atau Mak Asri sebagai ketua geng #RaniaDirga garis keras 😂😂😂
Sedikit curhat
Aku ngetik bab ini dari jam 02.00 sampai jam 06.00, makanya kalau ada yg minta kreji up, mohon maaf banget ya kayanya ga bisa kepenuhi. Karena buat menulis 1 bab yg dibaca ga sampe 5 menit ini memakan waktu berjam². Paling banyak aku bisa up cuma 2 bab aja. apalagi aku juga ada novel lain yg masih on going.
__ADS_1
Makanya dukung Othor terus dong kasih like & komen biar othornya rajin up😁😁
Happy Reading❤️