
Dirga mengedar pandangan mencari sosok yang baru saja membuat hatinya terusik. Dia menangkap bayangan Sabilla yang menarik tangan Kirania di luar gerbang kampus. Dengan cepat dia mendekat, dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Dirga bisa mendengar keluhan Kirania, dia juga kini melihat gadis itu menangis dalam pelukan Sabilla.
" Aku ngerti, Ran. Dari awal juga aku dan Hasna sudah wanti-wanti kamu, supaya kamu nggak terjebak dengan permainan Kak Dirga. Dia itu breng sek! Kamu mesti sabar, kamu jangan lemah, kamu mesti tough, Ran."
" Aku tahu, Bil. Aku tahu dia itu nggak serius sama aku, Aku tahu dia hanya penasaran sama aku, makanya selama ini aku selalu bersikap ketus terhadap dia. Aku juga tahu orang-orang beranggapan kalau dia cuma mempermainkan aku. Aku cuma nggak menyangka jika kebenaran itu terdengar dari mulut dia sendiri. Kamu dengar 'kan tadi bagaimana dia membicarakan aku dengan teman-temannya? Mereka mengolok-olok aku, Bil. Aku seperti lelucon untuk mereka, Bil. Kamu dengar mereka tertawa senang menghina aku, kan, Bil?" Kirania semakin terisak mengeluarkan unek-unek di hatinya.
" Aku mengerti, Ran. Aku mengerti ..." Sabilla mengusap punggung Kirania mencoba untuk menenangkan hati sahabatnya itu.
" Hati aku sakit, Bil. Aku punya salah apa sama mereka? Hiks ...."
Dirga menelan salivanya mendengar semua ucapan Kirania, belum lagi isak tangis gadis itu. Dia berniat melangkahkan kaki menghampiri mereka.
" Dirga ...!!
Terdengar teriakan seseorang memanggil nama Dirga. " Ternyata kamu di sini, aku cariin dari tadi, lho. Ke kantin, yuk." Ternyata Bella, cewek yang kemarin diajak Dirga pulang yang memanggilnya. Bella pun langsung melingkarkan tangannya di lengan Dirga.
Kirania dan Sabilla yang sempat mendengar teriakan seseorang memanggil nama Dirga pun langsung menoleh ke asal suara tadi.
Kirania bisa melihat Bella bergelayut manja di tangan Dirga dan Dirga tidak menolaknya. Seketika membuat hati Kirania semakin terasa teriris. Dia kemudian menatap Dirga yang juga sedang menatapnya, namun tak lama Kirania memutuskan pandangannya.
" Aku mau pulang, Bil." Kirania kemudian memaksa berjalan menahan kakinya yang masih terasa nyeri menjauh dari posisi Dirga dan Bella berada.
" Kamu mau pulang dengan kondisi seperti ini? Lantas kamu mau jawab apa ke budemu nanti, kalau budemu tanya?"
Kirania terdiam, dia memang tidak mungkin pulang dengan kondisi kacau seperti ini. Yang ada nanti akan jadi pertanyaan, dan pasti budenya itu akan mengadu kepada pakdenya.
" Kamu tunggu sebentar di sini. Aku ambil motor sebentar, kita ke rumahku saja."
" Tapi kamu masih ada mata kuliah, Bil."
" Kamu pikir aku tega biarin kamu seperti ini sendirian?!"
Kirania terdiam, dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti saran Sabilla, Karena dia tak tahu akan ke mana jika bukan pulang ke rumah pakdenya.
***
Setelah berhasil melepaskan diri dari Bella, Dirga berniat meninggalkan kampusnya. Dia juga berniat untuk tidak mengikuti mata kuliah selanjutnya.
__ADS_1
" Hallo, apaan, Ga?" tanya suara Ruben dari ponsel Dirga.
" Ben, tolong cari tahu di mana rumah Sabilla, teman Kirania."
Terdengar kekehan Ruben dari ponsel Dirga. " Dirga, Dirga ... Nggak dapat si kuper, temannya mau lu sikat juga, kehabisan stok cewek, lu?!"
" Ck, nggak usah banyak komentar, buruan lu cari saja alamat teman Kirania itu. Gue tunggu secepatnya!" Dirga langsung mematikan panggilan ponselnya tanpa menunggu jawaban Ruben, kemudian melangkah menuju halaman parkir mengambil motornya.
***
" Semangat, Ran! Kamu nggak boleh menangisi cowok breng sek seperti Dirga. Kalau perlu kamu balas dia dengan cara yang cantik. Jangan tunjukkan kelemahan kamu, Ran." suara Hasna terdengar saat Sabilla melakukan panggilan video call saat mereka berada di kamar Sabilla.
" Aku juga sudah bilang gitu, Has." Sabilla menimpali, sedangkan Kirania sibuk menyeka air mata yang rasanya tak pernah ingin berhenti keluar dari matanya.
" Bil, ada teman kamu di luar, tuh!" teriakan suara Mama Sabilla menjeda obrolan video call mereka bertiga.
" Has, nanti disambung lagi, deh. Assalamualaikum ...."
" Oke, deh. Waalaikumsalam."
Sabilla pun menuju arah pintu untuk membukakan pintu kamarnya. " Ada siapa, Ma?"
" Teman kampus?" Sabilla mengeryitkan keningnya sambil menoleh Kirania, Siapa teman kampus yang bertandang ke rumahnya? Sabilla benar-benar tidak bisa menebak.
" Cowok apa cewek, Ma?"
" Laki-laki, ganteng. Sudah sana kamu temui dulu." Mama Sabilla kemudian meninggalkan Sabilla yang masih menebak-nebak.
" Teman kampus ganteng siapa yang cari aku, ya, Ran?" Sabilla bertanya kepada Kirania yang hanya dibalas Kirania dengan mengedikkan bahunya.
" Ya sudah, aku keluar dulu, kamu mau ikut atau di sini saja?" Sabilla memberikan pilihan kepada Sabilla.
" Aku di sini saja, Bil."
" Ya sudah, aku lihat ke depan dulu." Sabilla pun melangkahkan kaki ke arah ruang tamu rumahnya.
Sabilla menatap punggung seseorang mengenakan jaket warna maroon yang berdiri di teras rumahnya. Mata Sabilla terbelalak melihat motor yang dia hapal milik siapa, saat ini terparkir di halaman rumahnya itu.
__ADS_1
" Mau apa kemari?!" pertanyaan Sabilla membuat sosok pria yang berdiri membelakanginya kini menoleh ke arahnya.
" Sorry, aku mau ketemu Kirania." ucap Dirga, yang teryata datang ke rumah Sabilla, saat pria itu mendapat info dari Ruben di mana rumah teman Kirania itu.
" Buat apa cari Rania? Dia nggak ada di sini!" ketus Sabilla melipat kedua tangan di dadanya.
" Tolong, aku mau bicara sama dia."
" Nggak ada yang perlu kalian bicarakan!"
" Bil, please ... aku butuh bicara sama Rania." Dirga bersikukuh.
" Apa masih kurang puas Kak Dirga menyakiti hati Rania? Kenapa tega banget Kak Dirga menyakiti Rania? Rania itu cewek baik-baik, Kak. Dia bukan cewek yang banyak tingkah. Apa salah Rania ke Kak Dirga, sampai Kak Dirga mempermainkan Rania? Menjadikan taruhan kalian? Rania bukan barang yang seenaknya saja bisa kalian jadikan barang taruhan!" hardik Sabilla penuh emosi.
Dirga menelan salivanya mendengar kata-kaka bernada ketus yang ditujukan kepadanya.
" Iya aku salah, karena itu aku ingin membicarakan hal itu dengan Rania. Please, kasih aku kesempatan ketemu Rania."
" Dia nggak ada di sini!" Sabilla membuang muka rasanya dia malas sekali menatap wajah Dirga.
" Aku tahu dia ada di sini. Aku minta tolong ke kamu, aku ingin meluruskan salah paham ini."
Sabilla tertawa sinis. " Salah paham? Aku dengar dengan jelas di rekaman video itu. Kak Dirga mengatakan kalau Kakak berniat membuat Rania bertekuk lutut. Aku juga dengar Kak Dirga menceritakan dengan lantang kejadian malam Minggu kemarin, Bahkan Kak Dirga menceritakan kepada teman-teman Kakak, jika Kak Dirga mencoba mencium Rania yang tertidur. Salah paham di bagian yang mana yang mau diluruskan?!" Masih dengan nada ketus Sabilla menyerang Dirga, membuat Dirga hanya bisa terdiam, dia seperti kehilangan kata-kata untuk menyangkal apa yang diucapkan Sabilla.
" Sebaiknya Kak Dirga pulang saja, Dan saya minta, jangan pernah mengusik Rania lagi!" Sabilla kemudian memutar tubuhnya kembali masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Dirga yang hanya bisa terpaku. Dia tidak bisa memaksa Sabilla untuk membawa Kirania keluar, Dirga bisa merasakan kemarahan dari Sabilla atas apa yang sudah dia perbuat terhadap Kirania.
*
*
*
Bersambung ...
Mau dikasih double up lagi, ga?😁
Selamat Berpuasa ...
__ADS_1
Happy Reading❤️