
Dirga memejamkan matanya seraya menikmati wangi tubuh Kirania di bagian lehernya, kemudian turun sedikit ke bawah, menenggelamkan wajahnya di daerah favoritnya hingga dia tak menyadari kapan pintu ruangannya terbuka, yang dia tahu tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu.
" Jadi seperti ini kelakuan kalian berdua jika di kantor?"
Baik Dirga maupun Kirania langsung terperanjat mendengar suara itu. Kirania bahkan langsung bangkit dan merapihkan bajunya yang sempat dibuat kusut oleh sang suami.
" Ck, kau mengganggu saja. Ada apa kau kemari? Bukankah seharusnya kau sudah berada di luar negeri?" tanya Dirga pada Edward yang berdiri menyandarkan tubuhnya di pintu.
" Ada hal yang membuatku menangguhkan kepergianku," ucap Edward. " Hai, Sweety ... bagaimana rasanya menjadi Nyonya Dirgantara?" tanya Edward menyeringai hingga membuat Kirania merona.
" Jangan kau goda istriku!" larang Dirga.
" Cih, hanya sekedar menyapa saja, kok." Edward mencibir.
" Lalu apa yang membuat kau menunda kepergianmu? Kau ini seperti pengangguran tidak punya kerjaan saja, keluyuran tidak karuan," sindir Dirga.
Edward tergelak mendengar sindiran Dirga. " Kau pikir hanya kau saja yang punya asisten yang bisa diandalkan untuk menghandle pekerjaan?" Edward melirik ke arah Kirania. " Sweety, apa kau betah mempunyai suami seperti dia?"
" Jangan panggil dia seperti itu!" Dirga keberatan dengan panggilan sweety.
" Hei, suka-suka aku mau panggil dia apapun juga," sergah Edward.
" Papa ..." teriak Kayla yang berlari masuk ke dalam ruangan Dirga dan memeluk paha Dirga.
" Kayla sayang, Kayla sama siapa kemari?" Dirga langsung mengangkat tubuh mungil Kayla dan meletakannya di lengan kekarnya.
" Cama Ongkel Do, cama Mama juga." Kayla menunjuk Nadia yang baru muncul di ruangan Dirga.
" Kalian datang bersama? Apa ada sesuatu yang sudah aku lewatkan?" Dirga menatap bergantian Edward dan Nadia secara bergantian seraya menyeringai.
" Ck, kepo sekali kau ini," cibir Edward.
" Jangan salahkan aku, kalian sendiri yang datang bersamaan kemari." Dirga menepis anggapan Edward. " Kayla kenapa baru sampai ke ruangan Papa? Memang Kayla habis dari mana dulu?" tanya Dirga heran karena Kayla masuk ke ruangannya tidak berbarengan dengan Edward.
" Kela habis pup dulu, Pa. Hihihi ..." Kayla terkikik menutup mulutnya. " Mama Lania ..." sapa riang Kayla pada Kirania.
" Hai, Kayla ..." Kirania pun membalas sapaan Kayla.
" Jadi apa alasan kalian berdua masih ada di Indonesia?" tanya Dirga setelah mereka duduk di sofa.
" Mantan istrimu ini yang menahanku pergi," celetukan Edward membuat Nadia melirik ke arahnya.
" Siapa yang menahanmu? Aku tidak menahanmu, kau sendiri yang bilang ingin menunda kepergianmu," sanggah Nadia malu-malu.
" Sudah-sudah kalian jangan ribut, jika ingin menjadi satu keluarga itu harus saling akur jangan bertengkar seperti ini." Dirga berlaga menasehati. " Jadi apa tujuan kalian kemari?"
" Aku akan mengantar Nadia dan Kayla ke Milan," sahut Edward.
" Ehemm, banyak kemajuan rupanya. Ingin langsung bertemu dengan calon mertua?" ledek Dirga.
__ADS_1
" Ck, aku hanya menemani, kasihan Kayla harus perjalanan jauh." Edward mengelak memberikan alasan.
" Iya iya ... terserah kau saja." timpal Dirga. " Aku cuma pesan kepadamu, jaga Nadia dan Kayla baik-baik. Ingat apa yang aku ucapkan beberapa hari lalu. Sudah saatnya kau memikirkan berumah tangga. Kau tak selamanya muda dan bersenang-senang, ada kalanya kau perlu beristirahat berkumpul bersama keluargamu, anak dan istrimu saat kau tua nanti." Dirga mencoba menasehati, membuka pikiran Edward yang selama ini hanya berhubungan dengan para wanita hanya untuk bersenang-senang. Dia sendiri tidak tahu jika sebenarnya Edward sudah dengan cepat melakukan sesuatu yang tidak diketahuinya.
***
Beberapa hari sebelumnya ...
" Ma ...."
" Ada apa sayang? Sudah malam, ayo tidur ..." Nadia mengusap punggung Kayla berharap anaknya itu cepat tidur.
" Ma, Kela mau punya papa balu ...."
Deg
Nadia terkesiap saat mendengar permohonan anaknya itu.
" P-papa baru?"
" Iya, Kela 'kan cekalang punya Mama dua, kata papa kalau Kela juga mau punya papa dua, Kela halus bilang cama Mama."
Nadia menghela nafas yang terasa berat dihirupnya.
" Kayla tidur, ya. Itu nanti kita bicarakan lagi, ini sudah malam, Sayang." Nadia mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia tak ingin Kayla terus membicarakan soal itu.
" Ma ...."
" Kela boleh nda minta Ongkel Do jadi papa balu Kela?"
Deg
Jantung Nadia serasa berhenti berdetak saat mendengar anaknya itu meminta Edward menjadi papa barunya.
" Sayang, Mama bilang tidur, sudah malam. Ayo cepat bobo ..." Nadia merebahkan tubuhnya di samping Kayla dan memeluk tubuh gadis kecilnya itu berusaha menyalurkan rasa kasih sayang kepada harta peninggalan Bima yang awalnya tidak dikehendakinya. Sementara cairan bening langsung menetes di pipinya. Bagaimana mungkin Kayla menginginkan papa baru sedangkan dia sendiri baru saja mengalami kegagalan dalam berumah tangga. Tentu saja permintaan Kayla membuat hatinya langsung mencelos.
Setelah beberapa saat Kayla akhirnya tertidur pulas. Nadia pun beranjak meninggalkan Kayla, dia menyuruh dua pengasuh Kayla untuk menemani putri kecilnya itu.
Nadia membuka pintu balkon kamarnya. Dia berjalan keluar menikmati udara malam kota Jakarta karena sebentar lagi dia akan meninggalkan kota ini dan kembali ke Milan. Namun pandangannya kini terarah ke gerbang rumahnya di mana dia melihat sebuah mobil yang sangat dia kenal memasuki pekarangan rumahnya. Dengan cepat Nadia keluar dari kamarnya.
" Edo, ada apa? Ini sudah malam." tanya Nadia saat dia sampai di ruang tamu dan melihat Edward sedang berbincang dengan Bi Imah. Sebelumnya dia sempat melirik jarum jam yang sudah menunjukkan jam sembilan malam.
" Hmmm, kau jadi kembali ke Milan?" tanya Edward setelah ART Nadia itu pergi meninggalkan mereka berdua.
" Iya ...."
" Oke ..." Edward menganggukkan kepalanya.
" Kau sendiri akan pergi, kan?"
__ADS_1
" Iya, kota tujuanku selanjutnya adalah Montreal. Aku ingin mencoba peruntungan bisnisku di sana."
" Setelah kau berhasil di sana, apa kau akan pindah ke negara lain lagi?" Tiba-tiba saja Nadia teringat akan Almarhum Bimantara, yang mempunyai hobi hampir sama dengan Edward yang senang berpindah-pindah tempat tak puas tinggal di satu tempat.
" Tentu saja, kalau bisa di setiap Negera besar aku punya usaha di sana," ujar Edward penuh ambisi.
" Apa kau tidak punya keinginan untuk tinggal di satu tempat dan menikah dengan wanita yang kau suka?" Nadia berusaha memberanikan diri untuk bertanya.
Edward tergelak mendengar pertanyaan Nadia.
" Pernikahan hanya akan mempersulit langkahku. Aku tidak suka terikat dengan hubungan yang serius seperti itu."
Entah mengapa jawaban yang keluar dari mulut Edward terasa sangat menyesakkan
dadanya.
Setelah itu hening, tak ada percakapan di antara mereka berdua. Sepertinya ada rasa canggung di antara mereka yang entah sejak kapan hal itu tercipta. Yang pasti sejak kedatangan Edward, mereka berdua sama-sama tidak merasa bisa lepas saat berbincang.
" Sudah malam, sebaiknya kamu pulang." Nadia bangkit dari duduknya.
" Baru setengah sepuluh, belum terlalu malam," protes Edward.
" Tidak enak dilihat tetangga terima tamu laki-laki tengah malam."
Ucapan Nadia sontak membuat Edward mengeryitkan keningnya.
" Bukankah pagar rumahmu ini tinggi, seandainya ada tamu yang menginap di sini pun tetangga sekitar tidak akan ada yang tahu."
" Aku lelah, aku ingin istirahat ... pulanglah," usir halus Nadia.
" Oke kalau begitu. Aku pamit, sampaikan salamku untuk Tante Farah dan Om Fachri jika kau sampai di Milan."
" Iya." Suara Nadia terdengar tercekat di tenggorokan.
Setelah Edward berjalan keluar dari ruang, Nadia langsung berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya dengan dada yang terasa sesak sedang hawa panas sudah menyerbu daerah sekitar matanya. Dan saat dia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, air mata pun langsung luruh tanpa bisa dibendung lagi olehnya. Beberapa saat dia tenggelam dalam Isak tangis seakan merasakan patah hati untuk yang kedua kalinya.
Pletak
Nadia terkesiap saat mendengar sebuah benda terdengar menimpa kaca pintu balkon kamarnya.
*
*
*
Bersambung ...
Mohon maaf jika belakangan kadang suka bolong up nya. Karena beberapa waktu lalu aku sempat kurang fit. Kalian reader yang belakangan ini habis sakit, merasa ga sih, setelah kondisi membaik setelah sakit itu kayanya stamina kita tuh ga 100% bisa fit laginya. Kayanya ada aja yang selalu dirasa. Aku juga gitu, walaupun udah pulih udah akfivitas normal tapi ada saja yang kadang² suka kambuh dan itu bikin susah untuk konsentrasi nulis cerita. Jadi mohon dimaklum ya Readers kesayangan Abang Dirgaš
__ADS_1
Happy Readingā¤ļø