
Kirania berjalan memasuki bangunan apartemen tempat dia tinggal. Apa yang terjadi siang ini benar-benar membuatnya penat. Tidak, bukan hanya siang ini, tapi sejak bertemu kembali dengan Dirga, hatinya seolah diaduk-aduk tak karuan rasanya. Dirga benar-benar menaruhnya dalam suatu posisi yang sulit.
Kirania memasuki lift saat pintu lift terbuka, tangannya dengan cepat bergerak menekan tombol tujuh. Pintu lift hampir saja tertutup tapi tiba-tiba sebuah tangan menahan hingga pintu itu kembali terbuka.
" Hai, Sweety ...."
Kirania terperanjat saat mendapati seseorang yang kini bergerak cepat masuk ke dalam lift. Seseorang yang merupakan pria yang sempat membuatnya tak nyaman kemarin di kantor Dirga.
" Tu-tuan, mau apa kemari?" Kirania langsung beringsut ke sudut ruangan lift.
" Hey, kenapa ketakutan seperti itu? Aku bukan vampire yang akan menggigitmu," ucap Edward yang saat itu muncul secara tiba-tiba. " Dan jangan panggil aku Tuan, panggil saja aku Edward atau Edo biar kita lebih akrab." Edward menyeringai.
" Ada apa Tuan kemari?" Kirania tak menggubris permintaan Edward yang meminta untuk tak memanggilnya tuan.
" Aku ingin bertemu denganmu, kita belum berkenalan, kan? Bos mu itu pelit sekali, aku sama sekali tak diberi kesempatan untuk mengenalmu lebih dekat." Pria itu mencebik seraya mencibir kelakukan Dirga. " Kamu tinggal di sini rupanya? Ini salah satu apartemen milik Om Poetra, kan?"
Kirania hanya terdiam, dia tak berniat merespon setiap pertanyaan yang diajukan oleh Edward. Dia justru sibuk perpikir, bagaimana caranya menghindari pria itu. Karena dia merasa tak pantas menerima tamu pria di ruang apartemennya yang hanya terdiri dari satu ruangan saja dan langsung terhubung ke tempat tidur.
" Kamu di lantai tujuh, ya?" tanya Edward kembali.
" Iya, dan saya tidak bisa menerima tamu," ketus Kirania cepat.
Edward terkekeh melihat reaksi Kirania yang terkesan galak terhadapnya. " Di sekitar sini ada kafe, kan? Bagaimana jika ngobrol di kafe?"
" Aku capek," tolak Kirania.
" Sebentar sajalah, nggak ada mata-mata bos mu juga 'kan di sini?" ledek Edward.
Ting
Pintu lift pun terbuka saat mereka sampai di lantai tujuh. Kirania keluar dengan cepat dari lift diikuti Edward di belakangnya.
" Tuan, tolong jangan mengikuti saya!" ketus Kirania kesal menghentikan langkahnya.
Edward terkekeh merespon sikap Kirania. " Aku cuma ingin kenalan sama kamu, ngobrol santai gitu. Kalau kamu belum ada pendamping, boleh 'kan aku daftar jadi pendamping kamu?" Edward melebarkan senyumnya.
Kirania memutar bola matanya, sikap Edward mengingatkan akan kegigihan Dirga saat mendekatinya dulu.
" Tuan, tolonglah ... saya benar-benar penat, saya butuh istirahat." Kirania seolah frustasi menghadapi tipe-tipe pria seperti Edward ini.
" Okelah, aku tak akan ganggu kamu hari ini, tapi kamu mesti kasih ke aku nomer ponsel kamu, gimana?"
Kirania mendengus kesal. Dia merutuki dirinya kenapa dia selalu dipertemukan dengan tipe pria-pria pemaksa.
***
Seorang wanita menatap nanar orang-orang yang terlihat meliuk-liuk mengikuti irama yang disuguhkan DJ di club saat itu. Dia menyesap minuman beralkohol dari flute glass di tangannya. Jika hatinya merasa kesal, kecewa dan suntuk, hanya itulah yang menemani kegelisahan hatinya, sejak pernikahannya tak seindah yang diharapkan. Wanita itu adalah Nadia.
__ADS_1
" Halo, babe ... boleh aku temani?" Seorang pria mendekat ke arahnya, membuat wanita cantik itu sedikit menjaga jarak. Karena bau alkohol yang saat menyengat dari pria itu.
" Terima kasih, tapi aku tak butuh teman." Nadia dengan cepat menolak.
" Oh ayolah, kau datang kemari sendirian. Kau pasti merasa sangat kesepian, bukan? Aku bisa menemanimu, Cantik." Pria itu tetap berusaha membujuk.
" Tolong pergilah, aku tak butuh ditemani siapapun!" Usir wanita itu tak nyaman.
Pria itu bergerak seraya mengelus lengan mulus Nadia. Nadia dengan cepat menepis tangan pria kurang ajar tadi. Tapi bukannya menjauh, pria itu malah semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Nadia, seolah ingin merangkul wanita itu.
" Lepaskan aku, sial*an!" pekik Nadia dengan geram.
" Ayolah, Babe ... aku bisa menemanimu bersenang-senang malam ini." Pria itu ingin mencoba mencium Nadia hingga membuat Nadia berontak.
" Kurang ajar!! Lepaskan aku!!" Teriak Nadia terus berusaha melepaskan diri dari tubuh kekar pria yang menggodanya itu. Namun dentuman musik yang semakin keras di club malam itu seakan meredam suara teriakan Nadia.
" Ayolah, Babe ... bersenang-senanglah denganku." Pria kekar itu terus berusaha menyentuh wajah Nadia yang terus memalingkan wajahnya dengan tangan menahan wajah pria itu.
Buuggghh
Tiba-tiba terdengar sebuah pukulan diikuti rintihan kesakitan yang keluar dari mulut pria yang tadi mencoba melecehkan Nadia.
" Menyingkirlah kau dari sini!!" geram suara pria yang tadi memukul pria kurang ajar yang hampir saja mencelakai Nadia.
***
Kirania terbangun dari tidurnya saat terdengar suara ketukan dari arah pintu balkon. Kirania langsung beringsut ketakutan. Dia meraih ponselnya, saat ini telah menunjukkan pukul 00.05 dini hari. Kirania menelan salivanya, dia kemudian menutup wajahnya dengan selimut sambil berdoa, berharap suara ketukan pintu itu menghilang.
Suara ponsel Kirania yang berbunyi semakin membuat wanita itu terkejut di tengah ketakutannya. Dia langsung meraih ponselnya, dan langsung bernafas lega saat mengetahui Dirga lah yang menghubunginya.
" Hallo, t-tolong aku, a-ada yang mengetuk pintu balkon, a-aku takut." Suara Kirania terdengar bergetar.
" Bukalah, itu aku."
Kirania membelalakkan matanya, dia langsung menyibak selimut yang tadi menutupi tubuhnya, dan bergegas berjalan ke arah pintu balkon. Dia langsung terkesiap saat mendapati Dirga yang sudah berdiri di depan pintu balkon dengan beberapa perlengkapan climbing masih melekat di tubuhnya.
" Happy Birthday, My dear ..." Dirga menyerahkan buket mawar putih yang tadi dia sembunyikan di balik tubuhnya dan sebuah kotak kepada Kirania. " Maaf aku nggak bawa bolu ulang tahun, karena repot mesti memanjat sambil bawa bolu ultah." Dirga terkekeh.
Kirania tak langsung menerima pemberian dari Dirga, dia justru berjalan ke tepi balkon sambil melihat ke arah atas.
" Bapak turun dari atas?" tanyanya heran.
" Iya, aku ada di atas kamar kamu ini, Aku sengaja cari cara yang anti mainstream buat kasih surprise ke kamu." Dirga menyeringai.
Kirania kemudian melongok ke arah bawah, seketika dia mengedikkan bahunya. Di atas ketinggian dari lantai delapan, tempat Dirga turun tadi, bisa dibayangkan jika saja pria itu mengalami apes dan harus terjatuh ke bawah.
" Bapak kenapa nekat seperti ini? Kalau terjadi sesuatu yang buruk bagaimana? Jangan melakukan hal konyol yang bisa membahayakan diri Bapak Kalau jatuh, gimana? Kalau talinya putus, gimana?" Kirania langsung merasa cemas dengan kegilaan yang dibuat Dirga tadi.
__ADS_1
" Kamu mencemaskan aku?" Dirga menyampirkan rambut ke belakang telinga Kirania tapi tak lama Kirania mencoba menghindar.
" Kau tak perlu khawatir, aku ini dulu sering ikut kegiatan rock climbing juga wall climbing. Jadi hal seperti ini bukanlah hal yang aneh untukku." Dirga berucap santai tak memperdulikan kecemasan Kirania.
" Tapi nggak perlu melakukan hal ini untuk saya, hal tadi itu bahaya sekali."
" Apapun akan aku lakukan untukmu, Ran."
Kirania menelan salivanya saat Dirga mengucapkan kalimat yang mampu menggetarkan hatinya.
" Terima kasih ucapannya, tapi sebaiknya Bapak kembali ke tempat. Rasanya nggak pantas tengah malam begini Bapak ada di kamar apartemen saya."
" Kamu nggak ingin terima bunga sama kadonya?" Dirga kembali menyodorkan dua benda itu kepada Kirania.
Kirania menatap kedua benda yang disodorkan Dirga. Dia akhirnya meraih buket mawar putih, persis seperti buket yang pernah Dirga beri untuknya beberapa tahun silam. " Saya terima ini saja." Kirania tak ingin menerima kado dari Dirga, karena dia merasa pasti itu sangatlah mahal, dan dia tak pantas untuk menerimanya.
" Kenapa kamu nggak mau menerima kado dariku?" Dirga terlihat kecewa.
" Saya merasa tak pantas menerimanya."
" Tentu saja kau pantas mendapatkan lebih dari yang aku berikan ini, Ran."
" Tapi, Pak ...."
" Kalau kamu nggak mau terima ini, aku akan tetap di sini tak akan pergi." Dirga mengancam sehingga akhirnya Kirania dengan sangat terpaksa menerimanya.
" Selamat ulang tahun, aku berharap tahun depan, aku bisa bisikan langsung kalimat itu di telingamu saat kau tertidur di pelukanku."
Kirania mengerjap, dia berusaha untuk tidak terbuai dengan rayuan Dirga selama pria itu masih berstatus suami orang.
" Sebaiknya Bapak segera pergi."
" Hmmm, dulu saat aku memberikan buket seperti ini aku dapet hadiah ciuman, hari ini apa aku akan mendapatkan sebuah kecupan juga?" goda Dirga membuat Kirania mendelik hingga Dirga akhirnya terkekeh.
" Ya sudah aku kembali ke atas, ya. Nanti malam aku ajak kamu dinner." Dirga kemudian menaiki dinding tepi balkon.
" Bapak mau memanjat lagi?" Kirania terbelalak.
" Tentu saja, aku 'kan tadi lewat sini."
" Kenapa nggak lewat depan saja sih, Pak?"
" Kalau lewat depan, berarti aku mesti masuk ke dalam. Dan kalau sudah di dalam aku takutnya nggak mau keluar. Kamu mau tanggung jawab?" Dirga menyeringai membuat Kirania langsung mencebikkan bibirnya.
Bersambung ...
Kesayangannya Abang yang hari ini Ultah, Ingat Bab Gotcha? Di sana tanpa sadar Kirania menyebutkan data dirinya yang direkam oleh Dirga, 09 Juni ...
__ADS_1
Happy Reading❤️