
Tiga Minggu berlalu, hubungan Gilang dan Karina semakin akrab walaupun jarak memisahkan mereka. Setiap hari mereka selalu kirim kabar lewat pesan chat, telepon atau video call. Tiap akhir pekan pun Gilang menyempatkan pulang ke Cirebon untuk menemui Karina.
" Assamualaikum ..." Suara Gilang yang keluar dari ponsel langsung terdengar di telinga Karina saat Karina mengangkat panggilan suara dari Gilang.
" Waalaikumsalam, Kak." Karina membalas salam Gilang.
" Kamu sedang apa?" tanya Gilang kemudian.
" Baru mau tidur." Karina terkekeh seraya melirik jam dinding yang menunjukkan waktu jam delapan malam.
" Mau tidur? Jam segini sudah mau tidur? Anak perawan kok sore-sore sudah mau tidur!" cibir Gilang.
" Capek, Kak." Karina berucap manja.
" Memang tadi pulang kerja jam berapa?" tanya Gilang kemudian.
" Jam lima."
" Nggak terlalu telat pulangnya, jam segitu sih normal."
" Besok 'kan aku mesti ke Jakarta, Kak."
" Oh iya, kamu jadi berangkat besok pagi sama mama?"
" Iya, kalau nggak ntar Mbak Rania akan marah."
Gilang terdiam sebentar, dia mengetahui rencana wedding party Kirania dan Dirga dua hari ke depan. Karina lah yang memberitahukan hal itu. Dia juga mendapat kabar dari orang tuanya jika mereka juga diundang untuk datang ke acara resepsi pernikahan Kirania dan Dirga.
" Kak, nanti Kak Gilang datang ke resepsi pernikahan Mbak Rania, ya!"
" Aku 'kan nggak diundang sama kakak iparmu itu." Gilang memang tidak menerima undangan dari Dirga.
Sebenarnya Kirania sudah meminta suaminya itu untuk mengundang Gilang apalagi orang tua Gilang juga mereka undang, tapi Dirga menolak. Alasannya dia tidak mau mempertemukan Gilang dan Karina. Padahal tanpa dia ketahui jika Gilang dan Karina sudah semakin akrab, bahkan Mama Saras pun diminta Karina untuk tutup mulut tidak mengatakan kedekatannya dengan Gilang.
" Kak Gilang nggak perlu undangan untuk datang ke sana. Kakak 'kan akan mendampingi aku."
" Sudah siap go public, nih?"
" Iya, dong. Masa sembunyi-sembunyi terus. Lambat laun juga Kak Dirga dan Mbak Rania akan tahu kalau Kak Gilang itu sekarang pacar aku." Dengan bersemangat Karina berkata.
Gilang terkekeh mendengar ucapan Karina.
" Kalau sudah sampai Jakarta, beri tahu aku, ya!" pinta Gilang. Sejak keakraban mereka, Gilang juga sudah merubah panggilan formal saya menjadi aku.
" Iya, Kak."
" Ya sudah, aku tutup dulu telepon, ya!"
" Kok ditutup?" protes Karina cepat.
__ADS_1
" Lho, katanya tadi bilang mau tidur."
" Iya tapi kalau Kak Gilang telepon ngantuknya jadi hilang, Kak." Karina terkekeh. Karina memang berbeda dengan Kirania, jika Kirania terkesan pemalu dan tidak berani mengungkapkan perasaannya kepada Dirga, Karina justru terkesan berani bersikap agresif.
" Kamu sebaiknya segera istirahat karena besok pagi akan berpergian jauh." Gilang meminta Karina untuk segera istirahat.
" Ya sudah, deh." Karina terpaksa menerima.
" Assalamualaikum," pamit Gilang.
" Waalaikum salam, Kak Gilang. I love you ..." ucap Karina sebelum benar-benar menutup teleponnya.
***
Ricky saat ini memperhatikan para pekerja WO yang mendekor ruangan convention hall yang akan dijadikan tempat resepsi pernikahan Kirania dan Dirga. Sejak dia mengetahui jika Mama Dirga lah yang menutuskan WO yang dipilih untuk menghandle acara wedding party itu. Ricky segera meminta agar ibu angkatnya itu untuk merequest kepada pihak WO untuk memakai Alabama Florist untuk pesanan buket dan hiasan bunga hidup yang akan dipakai menjadi dekorasi di pelaminan nanti.
Flashback on
" Ada apa ini, Rick? Tumben sekali kamu memikirkan tentang hal-hal seperti itu, Rick? Ada apa dengan Alabama Florist? Apa kamu jatuh hati dengan pemiliknya?" tanya Mama Dirga itu menyelidik.
Ricky sedikit melengkungkan bibirnya seraya menggelengkan kepalanya.
" Tidak, Bu."
" Lalu?"
" Karena saya ingin bisa bertemu dengan anak saya." ungkap Ricky jujur.
" M-maksud kamu apa, Rick? Kamu pasti bercanda 'kan, Rick? Mama tidak pernah melihat kamu dekat dengan wanita. Bagaimana kamu bisa punya anak? Jangan bilang kamu melakukan hal yang sama seperti Bima, Rick?" Mama Utami menggeleng-gelengkan kepala seakan tidak bisa menerima jika kisah Bima dan Nadia kembali akan terulang pada Ricky.
Ricky menghela nafas panjang, kemudian dia menceritakan semuanya kepada wanita yang sudah dia anggap seperti ibu nya sendiri. Tentang kejadian lima tahun lalu juga usahanya selama lima tahun ini mencari keberadaan wanita itu dan juga buah hati hasil perbuatannya dulu.
" Ya Allah, kasihan sekali wanita itu. Apa Mama boleh bertemu dengan mereka?" tanya Mama Utami.
" Ibu bisa datang ke toko florist itu bertemu dengan mereka. Tapi kalau mereka yang dibawa kemari, mohon maaf ... saya tidak bisa, Bu." sesal Ricky.
" Lho, memang kenapa?"
Ricky hanya tersenyum tak ingin membahas lebih lanjut alasan kenapa dia tidak bisa dengan mudah membawa wanita yang dia nodai dulu beserta putranya..
Flashback off
" Ditaruh di sana saja dulu buket-buketnya, Mas."
Ricky langsung menoleh saat seseorang berkata tentang buket. Dia lalu melihat beberapa orang membawa hiasan bunga-bunga tersebut. Dia kemudian mendekat, mencari orang yang dia tunggu kehadirannya. Dan matanya langsung berbinar saat dia melihat seorang wanita cantik terlihat sedang berbincang dengan seorang kru dari wedding organizer itu. Dia juga mencari satu sosok lagi yang ternyata tidak kunjung juga dia dapati
Setelah berbicara dengan kru tersebut, wanita itu mengedar pandangan ke setiap sudut ruangan seolah mencari seseorang dan pandangannya saat ini bertumpu kepada sosok Ricky yang sejak tadi memperhatikannya.
Ricky yang mengetahui wanita itu sudah melihatnya segera berjalan mendekat ke arah wanita itu.
__ADS_1
" Hai ..." Ricky menyapa wanita itu. " Rama mana? Apa dia di mobil?" tanya Ricky kemudian.
" Maaf, Tuan. Rama tadi tertidur, Saya tidak tega untuk membangunkannya." Wanita yang tak lain adalah Anindita, salah seorang pegawai dari Alabama Florist, wanita dari masa lalu Ricky itu pun menjelaskan.
" Oh ..." Ada kekecewaan di raut wajah Ricky saat dia tidak bisa berjumpa dengan darah dagingnya itu.
" Hmmm, saya permisi, Tuan." Anindita segera berpamitan dan melangkah meninggalkan Ricky.
" Anin ..." teriak Ricky memanggil Anindita hingga membuat langkah kaki Anindita berhenti.
Ricky kemudian menyusul langkah Anindita.
" Ada apa, Tuan?" Anindita mengeryitkan keningnya menatap heran.
" Ada titipan untuk Rama di mobil, ikut saya sebentar." Ricky meminta Anindita mengikutinya menuju mobil pria itu. Namun Anindita bergeming masih berdiri seperti tadi tak mengikuti langkah Ricky.
" Kenapa?" tanya Ricky saat dilihatnya Anindita masih terdiam.
" Anda tidak perlu repot-repot, Tuan." Anindita berucap.
" Tentu saja saya tidak merasa repot. Saya justru senang melakukan hal ini untuk darah daging saya sendiri."
Ricky menatap wajah cantik Anindita yang nampaknya tidak merasa nyaman dengan ucapannya tadi.
" Kamu tunggu sebentar di sini. Saya akan ambilkan titipan saya untuk anak kita."
Hati Ricky serasa berdesir saat tanpa sadar mengucapkan kata 'anak kita' dari bibirnya.
*
*
*
Bersambung ...
Satu bab sebelum tamat ...
Hai, readers RTB tercinta, untuk RTB ini Othor putuskan untuk menamatkan kisah Kirania & Dirga ini di bab setelah ini.
R : Lho, kok tamat, Thor? Gilang & Karina belum sampai nikah. Rania juga belum sampai hamil.
A : Untuk Gilang & Karina mungkin nanti sedikit² akan dikisahkan di Extra part. Begitu juga dengan kehamilan Rania ( Kalo ketemu waktu senggang )
R : Mendadak banget ga sih, Thor?
A : Hmmm, gimana ya, efek dari masalah KCA kemarin masih mempengaruhi feel Othor dalam menulis. Semangat yg lagi berkobar seketika redup kaya disiram air.
Terima kasih buat yang udah setia mendukung Abang & Rania selama ini. Yang sudah dibuat baper, dibuat emosi, dibuat kesal sama kisah Kirania & Dirga. Semoga bisa bertemu di karya² selanjutnya. Peluk online kalian semua🤗🤗❤️ Makasih🙏
__ADS_1
Happy Reading❤️