
Kirania sengaja berjalan di belakang Dirga, dia tak ingin terlihat berdampingan langsung dengan Dirga. Karena bagaimanapun Dirga seorang pebisnis yang mempunyai banyak relasi. Terlalu sering bersamaan dengan Dirga di luar jam kerja apalagi di even wedding party mewah seperti resepsi Yoga dan Natasha kali ini terlalu riskan jika ada kolega bisnis Dirga yang melihatnya.
" Kamu kenapa sejak tadi selalu berjalan di belakangku terus?" tanya Dirga.
" Maaf, Pak. Saya nggak enak jika sampai terlihat rekan bisnis Bapak jika melihat Bapak pergi bersama saya." Kirania menyahuti.
" Bukankah belakangan ini kita memang sering pergi bersama?" Dirga menautkan kedua alisnya.
" Tapi tidak di acara seperti ini," balas Kirania.
Dirga mengedar pandangan, acara wedding party Natasha dan Yoga terlihat mewah.
" Aku nggak menyangka ternyata Yoga anak seorang pengusaha terkenal di Bogor. Dia benar-benar pintar menutupi indentitasnya, dengan menyamar menjadi driver ojek online."
" Yoga selain baik, orangnya sangat sederhana, beruntung Natasha mendapatkan pria seperti Yoga." Kirania menimpali.
" Apa kamu menyesal bukan kamu yang ada di pelaminan bersamanya?" sindir Dirga.
Kirania melirik ke arah Dirga, lalu menghela nafas panjang. Dia teringat enam tahun lalu Yoga pun pernah mengungkapkan perasaan terhadapnya. Jika saja dia tidak mengenal dan bertemu dengan Dirga dengan sifat pemaksanya terlebih dahulu, mungkin Yoga lah yang menjadi kekasihnya saat itu.
" Apa yang kamu pikirkan?" suara Dirga membuyarkan lamunan Kirania. " Memikirkan Yoga? Dia sudah bahagia dengan istrinya yang unik itu." Dirga terkekeh menyematkan perdikat unik kepada Natasha.
" Kau tak perlu sedih, karena sebentar lagi kita yang akan seperti ini. Aku jamin, mungkin bisa lebih megah dari wedding party ini," lanjut Dirga seraya mengembangkan senyuman kepada wanita cantik yang malam ini terlihat semakin cantik dengan gaun warna pastel.
Kirania menelan salivanya, dia tidak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya jika Dirga tahu rencananya yang meminta bantuan Nadia agar bisa melepaskan dirinya dari belenggu permasalah asmara yang rumit ini. Kirania langsung menundukkan wajahnya, terasa sesak jika mengingat dia kembali harus melepaskan pria yang sangat dicintainya itu. Katakanlah dia memang lemah, dulu saat status Nadia baru calon tunangan saja dia rela melepas Dirga, apalagi sekarang dengan status Dirga yang telah berkeluarga. Jika dia bersikukuh untuk tetap bertahan dengan Dirga, rasanya dia tidak sanggup jika harus disebut orang sebagai wanita perebut suami orang.
" Kita kasih selamat Yoga sekarang." Dirga langsung menggandeng tangan Kirania yang sedang tercenung, membuatnya tak bisa menolak. Dan akhirnya mereka berdua memberikan ucapan selamat kepada kedua pangantin yang berbahagia.
" Terima kasih atas kedatangan kalian." Natasha mengucapkan terima kasihnya. " Oya, kalian berdua kapan akan menyusul kami?" pertanyaan tiba-tiba Natasha membuat Dirga dan Kirania seketika saling pandang, sebelum akhirnya Kirania yang terlebih dahulu memutus pandangan.
" Doakan saja aku bisa segera bertemu dengan jodohku, Natasha." Kirania lalu menyahuti.
" Lho, bukannya kamu sama Pak Dirga ini ..." ucapan Natasha terpotong oleh perkataan Kirania.
" Pak Dirga ini atasan saya, Natasha. Tidak lebih." tegas Kirania yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari mata Dirga.
" Oh ... aku pikir kalian ini atasan dan karyawan yang terlibat cinlok," celetuk Natasha enteng, padahal sebenarnya dia sendiri sudah mendengar cerita dari Yoga jika Kirania dan Dirga dulu pernah saling dekat.
" Pak Dirga ini sudah berkeluarga." Kirania tetap menyangkal.
" Oh ... aku pikir, Pak Dirga ini duda. Soalnya kelihatan Pak Dirga ini posesif banget sama kamu, Kirania." Natasha berseloroh.
" Yank ..." Yoga memotong ucapan istrinya. " Ran, Bang Dirga. Silahkan disantap hidangannya." Yoga menunjuk ke arah meja prasmanan,
Dirga dan Kirania pun langsung turun menuju tempat hidangan.
__ADS_1
" Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Dirga yang memang tak suka dengan penjelasan yang diucapkan Kirania tadi.
" Memang ada yang salah dengan ucapan saya? Bapak itu bos saya, saya ini karyawan Bapak. Itu benar, kan? Bapak sudah berkeluarga juga benar, kan?"
Dirga memandangi Kirania yang sedari tadi tak pernah mau menatapnya. Sebenarnya dia merasa hari ini, wanita yang sengaja dia jadikan asisten pribadi dengan tujuan agar bisa terus bersamanya itu bersikap agak aneh.
" Ada apa lagi? Masalah Angela sudah aku jelaskan siapa dia, lantas apa lagi?" tanya Dirga heran melihat Kirania yang seperti memikirkan sesuatu, tapi dengan cepat Kirania membalas dengan gelengan kepala.
" Tidak ada apa-apa, Pak. Saya hanya lelah ..." Kirania memijat pelipisnya.
" Sikapmu ini bukan karena kau cemburu melihat Yoga bersanding dengan istrinya, kan?" selidik Dirga.
" Bapak jangan berpikiran yang aneh-aneh. Saya sama sekali nggak memikirkan hal itu." Kirania mencebik kesal.
" Ya sudah kalau kamu lelah sebaiknya kita pulang saja sekarang." Dirga menyarankan.
" Iya," lirih Kirania.
Akhirnya Dirga memutuskan meninggalkan pesta resepsi pernikahan Yoga karena melihat Kirania sepertinya memang tak bersemangat.
***
Kirania segera bangkit dari duduk saat melihat kehadiran Nadia di pintu masuk Bank xxx.
" Sudah masuk teller?" tanya Nadia yang saat itu mengenakan kacamata hitam."
" Saya mau tulis slip penarikannya dulu," ucap Nadia.
Tak lebih dari setengah jam mereka sudah selesai melakukan transaksi transfer ke rekening atas nama perusahaan Angkasa Raya. Karena tak ingin terdeteksi dari mana Kirania mendapatkan uang sebanyak itu, akhirnya Kirania dan Nadia sepakat melakukan pembayaran dengan transaksi tarik dan setor tunai via teller bank.
" Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas bantuan Bu Nadia," dengan dada yang terasa terhimpit, Kirania mengucapkan rasa terima kasihnya.
" Saya berharap kamu akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari Dirga." perkataan Nadia begitu membuat hatinya tergigit.
" Terima kasih atas doanya," jawab Kirania.
" Lantas kapan kamu resign dari kantor?" tanya Nadia.
" Sore ini saya akan menyerahkan surat pengunduran diri."
" Oke."
" Kalau begitu saya permisi, saya tidak ingin Pak Dirga curiga karena saya datang terlambat pagi ini."
" Baiklah, hati-hati di jalan. Semoga kamu sukses ke depannya di tempat lain."
__ADS_1
Kirania menoleh ke arah Nadia kemudian menyunggingkan sedikit senyum terpaksa sebelum akhirnya pergi menjauh meninggalkan Nadia.
***
" Bapak mau saya buatkan kopi?" tanya
Kirania kepada Dirga yang terlihat serius di depan laptopnya.
" Nggak usah, aku sedang tak ingin minum kopi." Dirga menyahuti tanpa mengalihkan fokus matanya ke arah laptop.
" Apa Bapak mau saya buatkan mie instan?" pertanyaan Kirania kali ini sukses membuat kening Dirga berkerut dan mengalihkan pandangannya. Karena seingatnya wanita di hadapannya ini selalu melarangnya mengkonsumsi mie instan.
" Hmmm, boleh juga. Mie buatan kamu itu favorit aku banget." Dirga kembali terkekeh.
" Saya buatkan sekarang ya, Pak."
" Ya sudah "
Kirania lalu melangkahkan kakinya menuju pantry. Dia memang sudah menyiapkan bahan-bahannya. Karena hari ini mungkin akan menjadi hari terakhirnya di kantor ini. Itu juga berarti hari ini hari terakhir dia melayani Dirga sebagai seorang asisten. Sebenarnya terasa sesak di dadanya jika mengingat dia harus kembali berpisah dengan orang dia kasihi. Tapi apa mau dikata, dia bukanlah tipe wanita egois yang bisa senang melihat orang lain sedih karenanya. Oleh sebab itu dia rela kembali mengalah demi orang yang sama.
Kirania kembali ke ruangan Dirga dengan membawa mie yang telah dia buat.
" Sudah matang?" tanya Dirga langsung menghampiri Kirania dan meraih mangkuk mie dari tangan Kirania.
" Tunggu dulu sebentar, mienya masih panas." Kirania melarang Dirga menyuapkan satu sendok mie ke mulutnya sendiri.
Akhirnya Dirga pun meniup mie itu agar cepat dingin agar cepat masuk ke mulutnya.
" Jangan meniupi makanan yang hendak dimakan, banyak bakteri dalam mulut kita." Kirania kembali melarang.
" Iya sayang, iya ..." Satu tangan Dirga yang lain kemudian menarik lengan Kirania lalu mengarahkan untuk duduk berdampingan dengannya. Tak lama Dirga pun menyantap mie itu hingga tak tersisa di mangkuknya.
Kirania menatap wajah tampan Dirga dari samping yang sedang menyantap mie. Tanpa terasa cairan bening menetes di pipinya, mengingat ini hari terakhir dia bersama pria yang selama enam tahun selalu tersimpan di relung hatinya.
" Maafkan aku, aku terlalu lemah, aku tak mampu untuk berjuang mempertahankan hubungan kita. Tapi perasaan aku terhadapmu selama ini tidak pernah berubah sedikitpun." batin Kirania
" Aku jadwalkan tiap dua Minggu sekali kamu buatkan mie ini untukku, ya?" Dirga langsung menoleh ke arah Kirania, dan dia begitu terkesiap saat mendapati mata wanita itu sudah tertutup cairan bening dan pipi yang basah karena air mata.
*
*
Bersambung ...
Othor mengundang readers RTB untuk mampir di novelku yg lain Kisah Cinta Azzahra, baru 11 Bab masih belum jauh maratonnya🤭
__ADS_1
Sama hari ini juga aku up extra part MSI, yang mau besuk Rania melahirkan silahkan mampir di sana, ya. Kali aja ketemu jawaban yg dicari😁
Happy Reading❤️