RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Rencana Edward


__ADS_3

Kirania memandangi cincin pertunangan di jemari tangannya, seketika dia teringat akan perhiasan yang diberikan Dirga sebagai hadiah ulang tahunnya beberapa waktu lalu. Segera dia bangkit dan mengambil kotak perhiasannya dan duduk kembali di tepi tempat tidur. Perlahan Kirania membuka kotak berisi satu set perhiasan itu. Dia membuka kembali lipatan kertas ucapan yang sengaja dia selipkan di kotak itu. Tangannya sedikit bergetar saat membuka kembali kertas yang kusut karena lipatan.


Teruntuk wanita terkasih ....


Selamat hari ulang tahun yang ke 27, semoga kebahagiaan selalu menyertaimu. Berharap di ulang tahun yang akan datang kamu melewati ulang tahunmu dengan status sebagai istriku.


Aku tak pernah menyangka kita akan dipertemukan kembali walaupun dalam situasi yang sulit seperti sekarang ini. Tapi aku percaya akan satu hal, Tuhan pasti telah merencanakan sesuatu untuk kita dengan pertemuan kembali kita saat ini. Untuk itu aku mohon jangan pergi, tetaplah bersamaku, karena aku tak ingin sendiri memperjuangkan kebahagiaan untuk kita ke depannya.


Dari pria pemaksa yang selalu menyanyangimu


Dirgantara❤️ Kirania


Airmata Kirania seketika berhamburan di wajah mulusnya bahkan kertas yang dia pegang pun terkena tetesan air mata. Dia mendekap kertas itu di dadanya dengan terus terisak. Dia merasa sudah mengkhianati Dirga. Dirga memintanya untuk bertahan tapi dia memutuskan untuk pergi dan memilih pria lain.


Kirania lalu memandang satu set perhiasan bertahtakan berlian. Dia pun ingat jawaban Dirga saat dia menanyakan kenapa harus memberikan hadiah semahal itu.


" Itu sangat pantas untukmu, jangan membantah."


" Itu tak sebanding dengan kehadiranmu kembali untukku, Rania."


Sekarang setelah dia memilih bertunangan dengan Gilang, apa masih pantas dia menyimpan pemberian ini?


***


" Aku harap keputusanmu bercerai dengan Dirga sudah mantap, Nadia," ujar Edward saat mereka berdua dalam perjalanan pulang dari apartemen Dirga, setelah mereka tak mendapati Dirga di apartemennya.


" Aku nggak punya pilihan lain, kan?! Seandainya aku boleh memilih aku ingin tetap bertahan," lirih Nadia membuang pandangan keluar jendela dengan mata berkaca-kaca.


" Dan membiarkan kesempatanmu mengapai kebahagiaanmu lepas begitu saja?" tanya Edward.


" Aku harap masih ada pria yang mau menerimaku," lirih Nadia kembali


" Pasti ada, kau itu cantik dan masih muda. Aku yakin akan banyak pria yang akan mengejarmu, Nadia." Edward mencoba menyemangati Nadia.


Nadia menoleh ke arah Edward dan berkata, " Lalu akan mundur teratur saat tahu masa laluku terutama setelah tahu bagaimana asal asul Kayla ada." Setitik air mata mengalir di pipinya.


Edward lalu menepikan kendaraannya saat melihat Nadia mengeluarkan air mata. Dan dengan memutar sedikit posisi tubuhnya, tangan Edward pun mulai menghapus air mata yang membasahi wanita cantik itu.


" Hey, kenapa kamu jadi pesimis seperti ini? Aku saja yakin kau akan bisa hidup bahagia setelah lepas dari Dirga, masa kamu nggak bisa optimis?" Kini kedua tangan Edward menangkup wajah Nadia.


" Entahlah, Do." Nadia mengurai tangan Edward agar lepas dari wajahnya kemudian menatap lurus ke depan.


" Kita pulang saja sekarang. Aku rasa sebaiknya kau jangan temui Dirga dulu, biar aku saja yang bicara padanya." Edward berpendapatan. Karena tadi Mama Dirga sempat menelepon Nadia dan mengatakan jika Dirga marah besar, walaupun dia sendiri tak mengetahui apa yang membuat Dirga marah besar.


" Iya, aku pikir pun seperti itu. Apalagi setelah dia tahu rahasia selama ini."


" Rahasia? Rahasia apa?" Edward mengurungkan niatnya yang ingin kembali menyalakan mesin mobil.

__ADS_1


Nadia terkesiap, dia baru menyadari kalau dia sudah kelepasan bicara. " Emmm, sebenarnya ... sebenarnya aku dan Mama Utami lah yang dulu menyuruh Kirania menjauhi Dirga enam tahun lalu. Karena itu akhirnya mereka putus dan hal itu nggak pernah diketahui oleh Dirga. Dirga menganggap kalau saat itu justru Kirania lah yang mengkhianatinya dengan selingkuh dengan dosen mereka yang juga menyukai Kirania. Dan sejak itu sikap Dirga berubah menjadi dingin, acuh dan pemarah." Nadia menjelaskan semuanya kepada Edward, termasuk dia menyewa seseorang untuk mengawasi apa yang dilakukan oleh Kirania, hingga mereka tahu jika ada pria lain yang juga menyukai wanita itu. Dan itu ternyata dosen dari Kirania juga Dirga.


" Oh astaga, Nadia. Aku nggak menyangka ternyata kebodohanmu sudah dimulai dari enam tahun lalu." Edward menyindir.


Nadia langsung mendelik ke arah Edward. " Sialan, kamu bilang aku bodoh?!" Bibir wanita itu mencebik.


Edward tertawa mendengar protes dari Nadia. " Lalu kamu ingin aku sebut apa? Bukankah hanya orang bodoh yang mau bertahan untuk hal yang sia-sia?" cibir Edward kembali hingga membuat Nadia berdecak.


Nadia kemudian mengambil ponselnya karena berbunyi.


" Kak, tadi Kak Dirga datang kemari tapi sepertinya sedang marah. Aku lihat sorot matanya serem banget, kaya yang sedang menahan emosi. Aku takut kalau sampai Kak Dirga menyakiti Kakak."


Suara dengusan langsung terdengar selesai Nadia membaca isi pesan itu.


" Ada apa?" tanya Edward saat melihat ekspresi wajah sendu Nadia setelah membaca pesan teks yang masuk. Nadia pun kemudian menunjukkan isi pesan di layar ponselnya kepada Edward.


" Hmmm, kamu sasaran empuk selanjutnya," ucapan Edward semakin membuat Nadia merinding.


Hening ...


" Do, kamu bisa bantu aku?" Akhirnya setelah hampir satu menit tidak ada percakapan, Nadia mengajukan pertanyaan sekaligus permintaan.


" Bantu apa? Selama aku masih ada di Indonesia tentu saja aku akan bantu," sahut Edward kemudian.


Jawaban dari Edward langsung membuat Nadia kembali menoleh ke arah pria tampan itu.


" Kamu akan pergi lagi?"


" Lalu kapan kamu akan kembali ke sini?" Seketika hati Nadia dibuat terusik mendengar rencana pria itu yang akan dilakukan di luar negeri.


" I don't know ..." Edward mengedikkan bahunya.


" Apa kamu nggak ingin menetap di sini?" tanya Nadia gelisah menatap mata Edward.


" Tak ada yang bisa menahan aku untuk tetap tinggal di sini. Kau tahu, aku suka kebebasan. Aku nggak suka harus menetap di suatu tempat untuk waktu yang cukup lama." Seketika Nadia merasa sesak mendengar penuturan dari Edward. Dia kemudian memalingkan wajahnya, ada tekanan hawa panas di matanya tapi dia berusaha tahan agar tidak menetes saat mengetahui Edward akan pergi.


" Oh ya, kau tadi bilang ingin minta bantuanku, bantuan apa?" lanjut Edward.


Nadia menggelengkan kepalanya. " Ng-nggak jadi," sahutnya kemudian.


" Lho, kenapa? Katakan saja apa yang bisa aku bantu?"


" Kita pulang saja, aku capek."


" Kamu yakin?"


Sambil mengangguk Nadia berkata, " Iya."

__ADS_1


" Okelah ..." Edward pun kembali menyalakan mesin mobilnya dan kembali menjalankan mobilnya menuju rumah kediaman Nadia.


Tak ada pembicaraan setelahnya di antara mereka, walaupun ada itu juga pertanyaan Edward yang hanya dibalas Nadia dengan gerakan tubuh mengangguk, menggeleng atau mengedikkan bahunya. Bahkan sesampainya mobil Edward di pekarangan rumah tempat tinggal Nadia pun, wanita itu langsung keluar saat mobil itu berhenti dan berlari masuk ke dalam rumahnya, tanpa sepatah kata yang terucap dari mulut wanita cantik itu kepada Edward yang membuat Edward tertegun melihat perubahan sikap Nadia.


***


Nadia memperhatikan rumah di hadapannya dari dalam mobil.


" Benar ini rumahnya, Bu?" tanya Pak Jaja, supirnya.


" Alamatnya benar sesuai yang diberikan Pak Bildan." Pagi tadi Nadia mencoba menghubungi Pak Bildan untuk meminta data tentang Kirania terutama alamat tempat tinggalnya. Setelah itu dia bersama supirnya langsung meluncur ke kota Kirania.


" Tapi rumahnya kelihatan sepi, Bu."


Nadia kemudian menoleh ke sekitar, berjarak tak jauh dari rumah Kirania dia melihat terdapat pos kamling dan beberapa tukang becak yang mangkal di sana.


" Pak, coba tanya ke abang becak itu buat pastiin." Nadia memerintahkan Pak Jaja untuk turun dan bertanya kepada orang yang ada di sana.


" Baik, Bu ..." Pak Jaja kemudian membuka seat belt dan turun menghampiri beberapa tukang becak itu. Berselang lima menit kemudian Pak Jaja pun kembali masuk ke dalam mobil.


" Gimana, Pak?" Nadia terlihat tidak sabar.


" Benar ini rumahnya, tapi katanya kalau jam-jam segini penghuninya sedang di pasar. Berjualan kebutuhan sembako di sana, dan akan kembali ke rumah selepas Ashar, Bu." Pak Jaja menjelaskan.


" Lepas Ashar, ya?" Nadia melirik arlojinya yang baru menunjukkan pukul dua siang. " Kita tunggu saja di sini deh, Pak," lanjutnya.


" Baik, Bu." Pak Jaja menyahuti. " Tapi saya tunggu di luar saja ya, Bu. Sekalian mengobrol dengan orang di pos sana." Pak Jaja meminta ijin.


" Ya sudah, nanti kalau saya perlu, saya hubungi Pak Jaja." Nadia memberikan ijin.


" Baik, Bu. Terima kasih ..." Pak Jaja kembali keluar mobil. Sementara Nadia menyandarkan punggungnya ke sandaran jok mobil, menghirup nafas perlahan seraya memejamkan matanya. Dia merasakan kegelisahan yang kini semakin merayap di hatinya. Bukan karena dia akan bertemu dengan Kirania. Bukan juga karena perceraiannya dengan Dirga, tapi karena rencana kepergian Edward, itulah yang sejak kemarin sore mengganggu pikirannya.


*


*


*


Bersambung ...


Teruntuk readers yang ditinggal Othor² yang pindah lapak ke platform lain saat lagi sayang²nya, aku hanya ingin berucap " Aku masih di sini, untuk setia ..."


Makanya hayu atuh semangati Othor² kesayangan kalian, jgn pernah berhenti kasih dukungan, like & komen, buat aku pribadi itu yang selama ini menyemangati untuk terus menulis dan berkarya.


Yang mau gabung di GC silahkan saja ga dikunci, yang mau intip2 visual² tokoh di novel silahkan follow IG Rez_zha29 dan jangan lupa mampir di karyaku yang lain👇 Hatur Nuhun 🙏


__ADS_1



Happy Reading❤️


__ADS_2