
" Assalamualaikum, Ma ..." Setelah turun dari mobil Kirania bergegas masuk ke dalam rumah keluarga Poetra Laksmana dengan tergesa-gesa, karena dia sungguh tidak sabar ingin memberitahukan tentang kehamilannya itu kepada Mama Utami.
Dan tentu saja apa yang dilakukan Kirania membuat Dirga panik,
" Sayang, kau jangan lari-lari seperti itu! Itu sangat membahayakan janin yang ada dalam kandunganmu!" Dirga segera menyusul istrinya itu karena dia merasa takut tindakan Kirania setengah berlari sangat berbahaya untuk kehamilannya.
" Aku ingin cepat-cepat memberitahukan Mama, Abang. Mama pasti akan senang sekali kalau tahu sekarang ini aku sedang hamil." Dengan wajah berbinar Kirania mengatakan hal itu.
" Iya, tapi tidak harus dengan berlari seperti tadi. Aku tidak ingin bayi kita ini kenapa-kenapa," tegas Dirga.
" Hanya bayi ini saja yang Abang khawatirkan?" Kirania seketika mencebikkan bibirnya karena yang dikhawatirkan suaminya hanya janin yang ada di dalam perutnya itu saja.
" Tidak seperti itu, Sayang! Aku juga sangat mengkhawatirkanmu. Mana mungkin aku tidak mengkhawatirkan kalian berdua." Dirga langsung mengangkat tubuh Kirania dengan kedua lengannya.
" Abang, turunkan, aku! Aku malu kalau sampai Mama tahu." Kirania merasa jengah dengan sikap Dirga yang sejak kuliah dulu senang menggendongnya secara tiba-tiba seperti ini.
" Dirga ... ada apa ini? Kenapa kamu menggendong Rania seperti itu? Apa Rania sakit?" Suara Mama Utami terdengar dari arah ujung anak tangga paling atas.
" Abang, tolong turunkan aku!" pinta Kirania sedikit memaksa.
" Aku baru saja dari rumah sakit dan memang terjadi sesuatu dengan Rania, Ma." Dirga berbicara cukup serius pada Mamanya itu.
" Ada apa?" Mama Utami berjalan menuruni anak tangga perlahan. Dia sangat khawatir dengan ucapan Dirga tadi.
" Aku hamil, Ma." Kirania tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya hingga dia langsung mengatakan apa yang terjadi dengannya.
" Hamil? Benar kamu hamil, Rania?" Mama Utami langsung menghampiri menantunya itu.
" Ck, sayang ... kenapa kamu terburu-buru kasih tahu, Mama? Aku 'kan ingin bikin kejutan dulu buat Mama." Dirga menyanyangkan Kirania yang tergesa-gesa memberi tahukan kabar itu kepada Mamanya.
" Memangnya kenapa, Abang? Ini 'kan berita bahagia, dan Mama sudah lama menunggu kabar bahagia ini. Benar 'kan, Ma?"
" Iya, benar. Kenapa kamu tidak ingin Mama cepat tahu? Apa kau senang mengerjai Mamamu ini?" Mama Utami protes
" Iya, tadinya aku ingin kasih tahu Mama saat Rania sudah melahirkan." Dirga tertawa kencang.
__ADS_1
" Abang ...!" protes Kirania.
" Kamu ini senang sekali meledek orang tua!" Mama Utami memberengut.
" Rania, Mama senang akhirnya kamu hamil. Akhirnya Mama bisa dapat cucu lagi dari anak Mama sendiri setelah Kayla. Mama senang tahun ini Mama akan menambah dua cucu dari Dirga dan Ricky." Mama Utami mengusap punggung menantunya itu.
" Aku juga bahagia, Ma." Kirania memeluk tubuh Mama mertuanya. Walaupun pernah mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari Ibu mertuanya itu, namun Kirania bukanlah tipe wanita pendendam, hingga dia selalu bisa memaafkan kesalahan ibu mertuanya itu.
" Dirga, kalau Rania hamil, sebaiknya kalian pindah ke rumah ini saja, biar dia ada yang menemani," pinta Mama Utami.
" Selama ini dia selalu aku temani, Ma."
" Tapi Rania tidak mungkin bolak-balik ikut kamu ke kantor, Dirga! Dia tidak boleh terlalu lelah. Sebaiknya dia di rumah biar Mama yang menemani. Kamu tidak perlu khawatir, dulu juga Mama yang rawat Nadhia sampai Kayla lahir, kan?" Mama Utami mencoba meyakinkan Dirga.
" Tapi, Ma ...."
" Abang ... aku rasa apa yang dikatakan Mama benar. Sebaiknya kita pindah di sini saja." Kirania mendukung ibu mertuanya.
" Kau dengar apa. yang istrimu katakan?! Jadi mulai sekarang kalian akan tinggal di sini. Nanti Mama akan suruh Bi Mus siapkan kamar di bawah agar kamu tidak sampai turun naik tangga," ucap Mama Utami.
Kirania membelalakkan matanya.
" Pakai lift, Abang?"
" Iya, kenapa? Suamimu ini pengusaha terkenal. Hanya membuat lift saja tidak masalah." Dirga berkata santai.
" Mama setuju dengan suamimu, Rania." Mama Utami menyambut usul Dirga.
" Kalau begitu, Mama juga akan suruh Ricky pindah ke sini juga." Mama Utami terlihat merencanakan sesuatu.
" Pak Ricky akan tinggal di sini juga, Ma? Wah, aku setuju, Ma." Kirania nampak kegirangan mendengar keluarga Ricky akan ikut tinggal di rumah utama keluarga Poetra Laksmana.
" Kenapa kamu senang sekali mendengar Ricky akan tinggal di sini? Apa jangan-jangan kamu menyukai Ricky?" Dirga menatap penuh curiga istrinya.
" Astaghfirullahal adzim, kenapa Abang berpikiran seperti itu? Abang 'kan tahu siapa pria yang aku cintai." Kirania berusaha menampik tudingan suaminya.
__ADS_1
" Tentu saja aku tahu, karena aku lah satu-satunya pria yang paling kau cintai di dunia ini." Dirga lalu merengkuh kembali Kirania dan mengecup kening istrinya itu.
" Kenapa Ricky harus tinggal di sini juga, Ma?" Dirga lalu menanyakan alasan Mamanya menginginkan Ricky tinggal di rumah itu
" Biar rumah ini ramai tidak sepi seperti ini. Mama senang jika kumpul dengan anak, menantu dan cucu." Mama Utami beralasan.
" Tapi Ricky punya kehidupan rumah tangga sendiri, Ma. Dia pasti tidak mau kalau Mama suruh tinggal di sini." Dirga berpendapat.
" Lagipula Mama tahu 'kan selama ini, sebelum dia menikah saja, anak kesayangan Mama dan Papa itu selalu menolak kalau diminta pindah kemari."
" Jangan bicara seperti itu, Dirga! Mama dan Papa tidak pernah membedakan kalian!" sanggah Mama Utami cepat.
" Iya-iya ... tapi Mama jangan terlalu berharap Ricky akan menyetujui keinginan Mama itu." Dirga mengingatkan Mama Utami.
" Mama yakin Ricky akan mau kalau yang meminta adalah istrinya." Mama Utami menarik satu sudut bibirnya ke atas.
" Maksud Mama?" Dirga mengeryitkan keningnya.
" Mama akan bilang ke Anin agar tinggal di sini. Mama akan pengaruhi Anin dengan mengatakan jika Rania juga tinggal di sini. Mama yakin Anin akan tetarik, dan Mama akan menyuruh dia mempengaruhi Ricky agar Ricky juga setuju pindah ke sini. Anin sedang hamil, pasti Ricky akan menuruti semua permintaan Anin."
" Mama sudah hafal karakter pria-pria macam kalian. Yang terlihat tegas dan keras untuk masalah pekerjaan tapi lemah jika harus menghadapi wanita-wanita kalian. Benar 'kan, Rania?"
" I-iya, Ma." Kirania menjawab seraya mengulum senyuman. Karena dia sangat setuju dengan ucapan mama mertuanya itu.
" Ya sudah ayo Rania, kita telepon Anin. Mulai sekarang kamu bantu Mama membujuk Anin agar dia mau tinggal bersama kita di sini." Mama Utami kemudian menarik tangan Kirania ingin membawanya ke kamar.
" Mama ingin bawa istriku ke mana?" Dirga yang melihat Mamanya membawa paksa istrinya langsung bereaksi.
" Diamlah kau, Dirgantara! Pergilah sana ke kantormu! Istrimu biar Mama yang akan urus." Mama Utami seakan tak perduli dengan protes yang dilontarkan putranya itu.
*
*
*
__ADS_1
Happy Reading❤️