
Setelah mengobati luka Kayla dengan minta bantuan pelayan restoran dan Nadia yang kembali setelah kelar dengan urusannya, Kirania ijin untuk melaksanakan sholat Dzuhur terlebih dahulu. Bagaimana pun dia butuh kekuatan dan ketenangan untuk menghadapi istri pencemburu yang suaminya menyukai dirinya. Sebenarnya ini bukan kali pertama dia dicemburui oleh para istri, karena bukan pertama kali juga dia disukai pria beristri. Tapi untuk kasus Nadia, tentu saja berbeda, karena suami wanita itu adalah mantan kekasihnya yang sampai saat ini pun ternyata masih mencintainya.
Kirania menatap hidangan yang kini sudah tersaji selepas dia melaksanakan sholat wajib. Semua terasa menggugah selera, apalagi saat ini sudah menunjukkan jam satu lewat. Tapi senikmat apapun makanan yang ada di hadapannya, rasanya tak akan bisa dinikmatinya karena saat ini dia harus berhadapan dengan istri dari mantan kekasihnya yang kini telah terang-terangan ingin menceraikan wanita yang ada di depan Kirania saat ini.
" Silahkan dimakan, kita ngobrolnya sambil makan saja, ya," ujar Nadia mempersilahkan Kirania yang hanya menatap makanan tapi tak menyentuhnya.
" Silahkan ibu saja yang makan, Ibu mau bicara apa? Saya pasti dengarkan." Kirania merasa dia tak akan sanggup menelan makanan saat ini.
" Aku sudah pesan banyak ini, masa kamu nggak ikut makan juga," protes Nadia.
Mungkin tak diketahui Nadia jika saat ini telapak tangan Kirania sudah berubah dingin.
" Saya masih belum terlalu lapar, Bu." Kirania menjawab.
" Kamu santai saja, jangan merasa tegang gitu." Nadia sepertinya mengetahui jika saat ini Kirania sedang berada dalam mode tegang dan gugup.
Tentu saja ucapan Nadia justru membuat jantung Kirania semakin berdebar kencang. Kirania kemudian berusaha menerbitkan senyuman di bibirnya.
" Saya tidak terbiasa berbicara saat makan, jadi jika ada yang ingin Ibu bicarakan sekarang, katakan saja." Kirania memberikan alasan.
" Oh, maaf kalau begitu. Apa kita bicara dulu baru makan? Atau makan dulu baru bicara? Tapi pasti akan semakin lama. Nanti bos kamu akan kehilangan kamu jika saya terlalu lama menculik kamu."
__ADS_1
Deg
Perkataan Nadia terdengar bagaikan sindiran yang tepat mengenai hati Kirania.
Kirania menaikan alisnya seraya berkata, " Kalau begitu seperti yang saya katakan tadi, Ibu silahkan makan saja, saya yang dengarkan. Ibu nggak perlu merasa tak enak makan sendiri. Biar saya yang menyuapi Kayla saja." Kirania melihat Nadia yang kerepotan karena harus makan juga menyuapi anaknya.
" Okelah kalau begitu." Nadia menyodorkan piring yang berisi makanan untuk Kayla ke arah Kirania.
Kirania pun langsung menyuapi dengan telaten anak bosnya itu.
" Aku ingin bicara to the point saja pada tujuan aku mengajakmu berbicara. Apa sebenarnya tujuan kamu bekerja di kantor Dirga?"
Deg
" Memangnya Ibu pikir saya bekerja di perusahaan itu karena apa? Karena Pak Dirga adalah bos di sana? Jika itu yang Ibu pikirkan, Ibu salah besar. Saya sudah bekerja di Angkasa Raya cabang kota asal saya selama lima tahun ini. Saya pun tidak tahu jika perusahaan itu milik Pak Dirga. Jika saja saya tahu dari awal, mungkin saya akan mengundurkan diri, karena saya sudah berjanji kepada Ibu dan mertua Ibu untuk menjauhi Pak Dirga," tegas Kirania berusaha lepas dari intimidasi yang dilancarkan Nadia.
Nadia terkesiap dengan cara bicara Kirania yang terkesan lugas. Kirania yang dia jumpai sekarang, bukan lagi seorang wanita yang kuper yang mungkin gampang ditekan.
" Lalu kenapa sekarang bisa menjadi asisten Dirga?" selidik Nadia lagi.
" Saya mendapatkan promosi naik ke kantor pusat. Jika Ibu mengira itu ada campur tangan Pak Dirga, itu sama sekali tidak benar. Atasan saya di cabang mempromosikan saya karena melihat kinerja saya, dan tim pusat menilai saya memang pantas naik ke kantor di Jakarta. Dan sampai saya menginjakkan kaki di kantor itu pun saya tidak tahu jika Pak Dirga adalah bos saya. Saya baru tahu jika saya berkerja dengan Pak Dirga itu saat saya menemukan Kayla di lift." Kirania merasa mendapat kekuatan untuk melawan tekanan-tekanan yang dilancarkan Nadia. Satu kalimat yang ditanyakan Nadia, akan panjang jawaban yang diberikan Kirania. Dan semua itu dia jawab tanpa rasa takut dan grogi.
__ADS_1
" Dan akhirnya Dirga memberikan posisi asisten pribadi?"
Kirania menghela nafas sejenak. " Mungkin karena Pak Dirga hanya ingin berterima kasih karena secara tak langsung saya telah menyelamatkan anaknya dari bahaya." Dengan percaya diri Kirania mengucapkan kalimat itu. Dia menyamarkan alasan sesungguhnya kenapa Dirga menjadikannya asisten pribadi.
Nadia menyunggingkan senyumnya. " Tentu saja, dia pasti akan melakukan apa saja asal anaknya terbebas dari bahaya." Dia kemudian menyudahi makannya.
" Iya." Kirania menjawab singkat.
" Dengar Kirania, sebenarnya hubungan aku dengan Dirga sangat tidak harmonis. Aku selalu berusaha untuk meluluhkan hati Dirga kembali, tapi aku selalu kesulitan. Aku tahu Dirga masih menyukaimu, walaupun kalian sudah berpisah waktu cukup lama, tapi itu tidak merubah rasa cinta dia ke kamu. Jujur aku sangat iri padamu." Nadia mengusap air mata yang mulai luruh di pipinya. " Aku pindah kuliah ke luar negeri, aku tetap menjalin komunikasi tapi dia bisa melupakan aku. Sedangkan kau, hiks ... tak bertemu selama enam tahun, tak pernah ada komunikasi, tapi Dirga masih mengharap kembali kepadamu hiks ... hiks ..."
" Mama napa nangis?" Kayla yang mendapati mamanya menangis langsung turun dari kursi kemudian menghampiri Nadia.
Kirania yang melihat apa yang terjadi dengan Nadia seketika membuat dadanya terasa semakin sesak. Dia memaklumi jika Nadia merasa iri. karena dulu dia dengar sendiri saat Dirga menegaskan di hadapan Nadia dan mamanya jika pria itu lebih memilih dirinya yang baru dia kenal beberapa bulan ketimbang bertahan dengan Nadia yang sudah bertahun-tahun bersamanya. Kirania menelan salivanya, seketika rasa bersalah menggelayuti hatinya, melihat Nadia menangis terlebih saat Kayla ikut merasa sedih melihat mamanya.
" Kita sama-sama wanita, aku berharap kamu bisa mengerti apa yang aku rasakan saat ini. Aku selalu bertahan dengan sikap dingin Dirga hanya demi Kayla. Aku bersusah payah untuk menentang keinginan Dirga untuk bercerai karena Kayla." Nadia menjeda ucapannya. " Sekarang kamu hadir di antara kami, meskipun pertemuan kalian kembali terjadi tanpa sengaja. Tapi tentu saja itu akan memercikkan kembali keinginan Dirga untuk kembali bersamamu." Nadia mengusap kembali air matanya. " Dan kalau sampai itu terjadi, kalau sampai kami berpisah, hanya karena Dirga masih ingin mengejarmu, apa kamu tega memisahkan Kayla dengan papanya? Apa kamu tega melihat Kayla harus kehilangan kasih sayang papanya yang semestinya utuh diberikan kepadanya? Apa kamu tega merebut Dirga dari kami, Kirania?"
Seakan ditimpa beban berton-ton beratnya Kirania mendengar ucapan Nadia. Hatinya seketika mencelos, hati kecilnya merasa terusik. Dia benar-benar merasa bersalah. Dia merasa menjadi orang terjahat di dunia jika harus memisahkan keluarga kecil Dirga itu, meskipun itu terjadi bukan karena keinginannya.
Bersambung ...
Alhamdulillah awal bulan Juni RTB naik level dari level 4 sekarang menjadi level 7. Semua ini ga akan bisa terjadi tanpa dukungan kalian readers RTB pendukung Dirga & Rania. Aku minta terus dukungan dari readers berupa like, komentar, alhamdulillah juga kalo dikasih gift dan vote karena semua itu akan mempengaruhi populeritas karya ini, biar makin naik level ke tingkat yang lebih tinggi lagi.
__ADS_1
Sekali lagi aku ucapkan beribu-ribu terima kasih atas dukungan kalian readers tercinta🙏🙏🙏❤️🤗🤗🤗
Bersambung ❤️