
Kirania berjalan memasuki gang tempat tinggal pakdenya, setelah pulang dari rumah Hasna siang menjelang sore ini. Dia tidak diantar oleh Dirga. Karena kekasihnya itu sedang ada acara di Bandung bersama dengan teman-temannya. Dirga sendiri sebenarnya mengajak Kirania untuk menemani ke Bandung, tapi ditolak oleh Kirania. Alasannya tentu saja karena Kirania malu, jika dia akan jadi bahan ledekan teman-teman Dirga. Bukan ledekan yang bersikap negatif sebenarnya, hanya teman-teman Dirga itu senang menggoda Kirania. Terakhir Dirga mengajak Kirania kumpul bareng temannya, wajah Kirania dibuat seperti kepiting rebus karena terus diledek soal kedekatannya dengan Dirga.
Kirania memperhatikan rumah di depan rumah pakdenya terlihat ramai orang. Bahkan beberapa motor berjejer hampir di sepanjang gang. Setahu dirinya memang ada acara orang pindahan tetangga baru.
Kirania mendapati seseorang dengan tangan sedang mematik rokok duduk di atas motor yang terparkir di halaman rumah pakdenya. Kirania terkesiap saat kini terlihat dengan jelas, siapa orang yang ada di atas motor itu.
" Pak Reyhan?" Kirania menyapa pria yang memarkirkan motor di halaman rumah pakdenya itu, ternyata salah satu dosen yang mengajar di kampus dia kuliah
Pria yang disebut namanya menoleh ke arah Kirania. " Kamu ... mahasiswi saya, kan?" tanya Reyhan dengan memicingkan matanya mencoba mengenali Kirania.
" Iya, Pak." Kirania menganggukan kepala. " Saya Kirania, salah satu mahasiswi yang diajar Pak Reyhan," sambungnya.
" Oh iya ya-ya, kamu yang pacarnya Dirgantara itu, kan?"
Pertanyaan Pak Reyhan langsung membuat pipi Kirania bersemu. " Hmmm, kami cuma dekat saja, Pak." Kirania terlalu malu untuk mengaku sebagai pacar seorang mahasiswa populer di kampusnya itu. Walaupun sebagian besar penghuni kampus itu sudah tahu apa posisi dia untuk Dirga.
" Kamu kok ada di sini?" tanya Pak Reyhan kemudian.
" Iya, ini rumah pakde saya, Pak." Kirania menunjuk ke arah bangunan rumah Pakde Danang.
" Oh , maaf ... saya numpang parkir di sini. Tapi tadi sudah dikasih ijin sama penghuninya. Ternyata itu pakde kamu, ya?"
" Iya, Pak."
" Jadi kami tinggal di sini?" Pak Reyhan mengedar pandangan memperhatikan bangunan rumah yang terlihat sederhana itu. " Kamu tinggal sama pakde kamu?"
" Iya, Pak."
" Orang tua kamu?"
" Orang tua saya di Cirebon, Pak."
" Oh, kamu orang Cirebon? Kita tetanggaan, dong. Aku asal dari Majalengka." Pak Reyhan menampakan senyumannya.
" Ah, iya dekat ya, Pak." Senyuman yang diberikan Pak Reyhan membuat Kirania merasa kikuk. " Bapak sendiri sedang apa di sini?"
" Adik perempuan saya yang kemarin nikah pindah ke rumah itu." Reyhan menunjuk rumah di depan rumah pakde dari Kirania.
" Oh ...." Hanya ber oh ria, Kirania menjawab.
" Papa ...!"
Tiba-tiba terdengar teriakan anak kecil yang sedang berlari ke arah Reyhan. Anak kecil berumur empat tahun.
__ADS_1
" Papa, Leyna mau beli jajan." Anak kecil itu menarik celana yang dikenakan Reyhan.
" Reyna mau beli jajan?" Reyhan turun dari motornya kemudian berjongkok di depan anaknya.
" Iya, Papa." Anak kecil bernama Reyna itu menganggukan kepalanya.
" Reyna mau beli jajan apa?" tanya Reyhan pada anaknya penuh kelembutan.
" Leyna mau beli pelmen, Pa." celoteh Reyna dengan cadel.
" Reyna nggak boleh banyak makan permen, nanti giginya sakit." Reyhan melarang anaknya.
" Tapi Leyna mau beli pelmen, Pa ..." Reyna terlihat merajuk.
" Iya sudah, tapi nggak boleh banyak-banyak makan permennya. lho." ucapan Reyhan dibalas oleh anggukan kepala Reyna.
" Tapi Papa nggak tahu di sini yang jual permennya di mana."
" Di gang belakang ada warung yang jualan, Pak. Mau Kakak temani Reyna ke warungnya?" tanya Kirania kepada gadis kecil itu menawarkan bantuannya.
" Nggak usah, terima kasih, Kirania. Anak saya ini susah untuk dekat dengan orang lain." Reyhan menolak halus tawaran Kirania.
" Leyna mau diantal kakak ini, Pa." Reyna menunjuk ke arah Kirania.
Ucapan Reyna sontak membuat Kirania dan Rayhan saling pandang, sebelum akhirnya Kirania memutus pandangan terlebih dahulu.
" Iya, Pa." Tangan mungil Reyna langsung menggandeng tangan Kirania. " Ayo, Kak," ajaknya kemudian.
Reyhan sempat terpaku melihat anaknya. Dia tidak menyangka anaknya begitu mudah menerima Kirania. Padahal anaknya itu biasanya akan susah dan tak mau menerima kehadiran orang asing di sekitarnya. Tapi dengan Kirania, Reyna malah terlihat mudah akrab.
" Ayo, Kak." Reyna kembali menarik tangan Kirania, saat didapatinya Kirania pun tidak bergerak mengikutinya.
" Ah, i-iya ... ayo." sahut Kirania.
" Nanti dulu dong, sayang. Papa belum kasih uang ke Kak Kirania. Nanti jajan bayarnya pakai apa, dong?" Reyhan langsung mengeluarkan dompet dari sakunya dan menyerahkan uang lembaran seratus ribuan kepada Kirania.
" Memang Kak Kilan nggak punya uang, ya? Kok uangnya dikasih Papa?" tanya polos Reyna.
Reyhan terkekeh. " Kak Kirania itu belum bekerja, jadi nggak ada uang. Lagipula Reyna 'kan anak Papa, sudah pasti yang bayar jajan Reyna itu Papa, dong." Reyhan mengacak rambut anaknya. " Sudah sana, katanya mau jajan," Perintah Reyhan.
Kirania dan Reyna pun berjalan bergandengan tangan menuju warung untuk mencari yang diinginkan Reyna.
" Reyna sudah sekolah belum?" tanya Kirania pada gadis kecil itu.
__ADS_1
" Sudah sekolah TK, Kak. Kalau Kak Kilan sudah sekolah belum?" pertanyaan Reyna sontak membuat Kirania tergelak.
" Kakak sudah sekolah. Yang mengajar Kakak 'kan Papanya Reyna." Kirania gemas mencubit pipi bulat Reyna.
" Oh, Papa gulu nya Kak Kilan, ya?"
" Iya, Papa Reyna itu dosennya Kakak."
" Kakak cantik kaya plinces balbie ..." Reyna mendonggakan kepalanya mengagumi Kirania.
" Princess Barbie?" Kirania membuka mulutnya menirukan gaya orang terkaget saat mendengar pujian dari Reyna.
" Iya,"
" Reyna juga sama cantiknya. Kita sama-sama Princess Barbie." Kirania juga memuji balik Reyna. " Reyna mau beli apa?" Kirania mengangkat tubuh Reyna. Menyuruhnya memilih makanan yang akan dibelinya, sesampainya di warung.
" Reyna mau beli pelmen, Kak." Reyna menunjuk permen berbentuk kaki.
" Reyna nggak boleh makan permen. Nanti kalau makan permen giginya jadi busuk, jadi hitam. Nanti nggak jadi Princess Barbie lagi, dong." Kirania sedikit menakuti-nakuti. " Kalau giginya busuk itu ada ulatnya di dalam. Reyna mau giginya keluar ulat?"
" Hiiii, selem ... Leyna nggak mau, Kak." Reyna mengedikkan bahunya berulang kali.
" Ya sudah, Reyna beli yang lain saja, asal jangan permen dan es," ujar Kirania yang dipatuhi Reyna.
Setelah selesai membeli, Kirania kembali membawa Reyna ke papa gadis kecil itu.
" Reyna beli apa?" tanya Reyhan saat melihat Kirania dan Reyna kembali.
" Leyna beli biskuit sama loti, Pa." Reyna menunjukkan makanan yang dibelinya.
" Nggak jadi beli permennya?" tanya Reyhan heran karena tidak mendapati permen dari makanan yang ditunjukkan anaknya.
" Nggak mau, Pa. Selem ... kata Kak Kilan kalau makan pelmen giginya kelual ulatnya," celoteh Reyna membuat Kirania mengulum senyuman. Sedangkan Reyhan sendiri langsung menatap ke arah Kirania. Reyhan dibuat terkejut dengan perubahan sikap anaknya yang terlihat begitu patuh menuruti apa yang diucapkan mahasiswinya itu.
" Aneh banget dia nurut sama kamu. Padahal saya sendiri susah melarang keinginannya," ujar Reyhan memandang tubuh Reyna yang kembali berlari masuk ke rumah tantenya
" Mungkin sama mamanya dia menurut ya, Pak?"
Reyhan kemudian menoleh ke arah Kirania. " Mamanya Reyna meninggal saat melahirkan Reyna." Reyhan menceritakan.
" Oh, maaf, Pak. Saya nggak tahu." Kirania langsung meminta maaf karena dia merasa telah membuka luka di hati pak dosennya itu. Kehilangan seseorang yang dicintai untuk selama-lamanya itu sangatlah menyakitkan. Seperti dirinya yang ditinggal papanya secara mendadak. Menorehkan luka di hatinya.
***
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️