
Berselang lima menit dari Kirania keluar ruangan Dirga, Kayla pun tiba di kantor Dirga.
" Papa ..." teriak Kayla sambil berlari menghampiri Dirga yang masih terlihat sibuk di balik meja kerjanya.
" Kayla?" Dirga langsung menyongsong tubuh mungil gadis kecil itu.
" Papa, Kela kangen ..." Kayla merebahkan kepalanya di dada Dirga.
" Sekarang Kayla sudah ketemu Papa, kan? Kangennya sudah hilang, dong." Dirga mengecup pucuk kepala bocah kecil itu.
" Kangen Kela banyak, Pa. Nda abis-abis." Lengan mungil Kayla merentang membentuk sebuah lingkaran, untuk menandakan banyaknya rindu yang dia miliki untuk Dirga.
Dirga terkekeh melihat tingkah Kayla. " Kayla ke sini sama siapa? Encusnya mana?" Dirga tak melihat kedua pengasuh Kayla mengikuti Kayla.
" Kela cini ( ke sini ) sama Mama,"
Deg
Dirga terkesiap saat Kayla memberitahukan jika dia datang ke kantor Dirga bersama mamanya.
" Halo, Mas." Tak lama berselang seorang wanita cantik masuk ke ruangan Dirga.
" Ada apa kamu kemari?" tanya Dirga dengan nada dingin.
" Aku mengantar Kayla ke sini,"
" Kamu 'kan bisa suruh suster yang antar." Dirga menjawab ketus.
" Kayla meminta aku yang mengantar ke sini."
" Jangan jadikan Kayla sebagai alasan, Nadia." Setiap kata yang terucap dari mulut Dirga terucap dengan penuh emosi.
" Papa, Papa napa cih malah-malah telus cama mama ( Papa kenapa sih marah-marah terus sama mama)? Papa nda cayang cama mama, ya (Papa nggak sayang sama mama, ya)?" Kayla yang melihat Dirga memarahi mamanya melancarkan protes.
" Kayla, Papa nggak marah sama Mama, sayang." Dirga mengusap kepala Kayla. " Kayla mau nonton film kartun? Papa setelkan televisinya, ya." Dirga kemudian memprogram acara film kartun di layar LED berukuran 55 inch yang terletak di ruang tempat beristirahat yang berada di balik dinding ruang kerja Dirga.
" Kayla di sini dulu, Papa mau bicara sama Mama Nadia ya, sayang." Dirga mengecup kening Kayla.
__ADS_1
" Pa, Kela mau libulan ke disnilen cih, Pa. Cepelti Monik ( Pa, Kayla mau liburan ke Disneyland sih, Pa. Seperti Monik )." celoteh Kayla.
" Kayla mau liburan ke Disneyland?"
Kayla menganggukan kepala dengan cepat. " Iya, Pa."
" Ya sudah, nanti Papa belikan tiketnya untuk Kayla dan mama pergi ke Disneyland, ya."
" Cama Papa juga pelginya (sama papa juga perginya)." pinta Kayla.
" Kayla, Papa 'kan sibuk kerja."
" Papa Monik juga kelja tapi bisa pelgi libulan cama Monik cama mamanya ( Papa Monik juga kerja tapi bisa pergi liburan sama Monik sama mamanya)." Kayla terus melancarkan protes.
" Itu karena papanya Monik nggak sesibuk Papa, sayang." Dirga beralasan sambil mengusap lembut pucuk kepala Kayla. " Nanti ditemani nenek saja ya, Kayla pergi ke Disneyland nya."
Kayla langsung melipat kedua tangan di dadanya. " Bocen, Papa cibuk telus cibuk telus ( Bosen, Papa sibuk terus sibuk terus)." Kayla mencebikkan bibirnya, sementara mata beningnya sudah mulai berkaca-kaca.
Sementara dari balik dinding Nadia memperhatikan interaksi antara Dirga dan Kayla dengan perasaan sedih. Figur seorang ayah yang diharapkan oleh Kayla tidak bisa seutuhnya didapat pada diri Dirgantara. Nadia mengusap setitik air mata yang menetes di pipinya.
" Hai, Kayla 'kan anak pintar, anak pintar nggak boleh cengeng, nggak boleh ngambek. Papa janji lain waktu Papa akan ajak jalan-jalan Kayla, ya." Dirga mencoba menghibur Kayla yang mulai terlihat merajuk.
" Papa bicara sama mama dulu, setelah itu kita pergi makan," kata Dirga.
" Jangan lama-lama, Pa." Dirga mengangguk seraya mengelus pucuk kepala Kayla, kemudian mengetikkan pesan dan mengirimkannya, sebelum akhirnya menemui Nadia kembali.
" Kayla selalu menanyakan kenapa kamu nggak pernah pulang ke rumah. Kayla kangen kamu, Mas," ucap Nadia.
" Kalau dia kangen, dia bisa datang kemari kapanpun. Dia juga bisa menginap di tempatku," sahut Dirga.
" Bukan hal seperti itu saja yang Kayla inginkan, Mas. Dia ingin melihat kita selalu mendampingi dia setiap hari di rumah, seperti anak-anak lain seusianya."
" Dari awal kamu tahu, itu tidak akan mungkin terjadi, Nadia. Dan kau sendiri tahu apa alasannya," tegas Dirga sinis.
" Kenapa kamu tetap saja seperti ini, Mas? Tidak bisakah kamu bersikap lebih lembut terhadapku? Demi Kayla," lirih Nadia.
" Nadia, sampai kapan kamu bisa mengerti kalau sejak awal pernikahan kita ini tidak baik-baik saja?! Sampai kapan kamu terus berharap sesuatu yang tidak pernah bisa aku berikan kepadamu? Kamu tahu sendiri alasan aku bersedia menikah denganmu itu karena Kayla, tidak lebih. Jadi jangan mengharapkan sesuatu yang lain dari pernikahan ini." geram Dirga kesal.
__ADS_1
" Kenapa kamu nggak bisa mencintai aku lagi, Mas? Kenapa kamu nggak bisa memaafkan aku? Aku berjanji aku bisa menjadi istri yang baik untukmu." Nadia menghampiri dan mengelus lengan Dirga. " Beri aku kesempatan. Kita bisa memulainya lagi, Mas."
Bersama dengan itu tiba-tiba pintu ruangan terbuka, membuat Dirga juga Nadia menoleh arah pintu itu, dan muncullah Kirania di sana.
Baik Nadia juga Kirania sama-sama kaget mendapati kehadiran mereka sama-sama di sana. Kirania bahkan sampai memundurkan langkahnya untuk kembali keluar ruangan tapi tertahan saat Nadia berkata.
" Kamu? Sedang apa kamu di sini?" Nadia yang mengenali siapa wanita itu kemudian menatap Kirania dan Dirga bergantian. " Kenapa dia bisa ada di sini, Mas?" tanya Nadia kembali.
" Saya ...."
" Dia ada di sini karena dia adalah asisten pribadiku." Dirga memotong ucapan Kirania.
" Asisten? Pribadi? Tapi untuk apa kamu pakai asisten pribadi, Mas? Bukankah sudah ada Ricky?" Tentu saja Nadia nampak keberatan dengan keberadaan Kirania di samping Dirga. Dia merasa kehadiran Kirania akan semakin mempersulit dirinya untuk memperbaiki hubungannya dengan Dirga yang sejak kelahiran Kayla memang menginginkan bercerai.
" Kamu tahu sendiri, Ricky sedang aku tugaskan ke Kalimantan mengurus perusahaan papa yang mangkrak di sana."
" Tapi kenapa kamu harus memilih wanita yang menjadi asisten pribadimu? Kenapa mesti dia? Kalau kamu mau aku bisa bekerja dengan kamu, mengurusi pekerjaan asisten pribadi." Nadia memprotes.
" Lantas siapa yang akan mengurus Kayla?"
" Ada suster Wati dan Isah yang akan menjaga Kayla."
" Kamu lebih mengabaikan anakmu demi pekerjaan yang nggak penting untukmu?" Dirga kembali emosi.
" Aku nggak mengabaikan Kayla, Mas. Aku hanya berusaha agar rumah tangga kita membaik, agar hubungan kita bisa menjadi dekat. Aku kasian dengan Kayla." Nadia seketika terisak. " Kalau kamu marah sama aku, kalau kamu benci aku, aku rela melakukan apapun demi menebus semua itu, Mas. Asal rumah tangga kita bisa utuh."
Kirania yang mendapati pertengkaran antara suami istri itu hanya sanggup menelan salivanya. Dan rasanya kehadiran dia saat ini sangat tidak tepat waktu. Bukan hanya karena mereka saat ini sedang berduaan, tapi kehadiran dia sebagai karyawan terlebih seorang asisten pribadi Dirga. Dia merasa kehadiran dirinya akan semakin memperburuk rumah tangga Dirga dan Nadia.
" Mama, Mama napa nangis? Pasti kalna Ateu jiyek ini, kan ( pasti karena Tante jelek ini, kan)?!" Tiba-tiba Kayla sudah muncul lagi di ruangan Dirga, dan itu membuat Kirania terkesiap, apalagi saat Kayla mendekat ke arahnya lalu memukul-mukul tubuh Kirania.
" Ateu jahat! Pasti Ateu bikin Mama Kela nangis!" umpat Kayla sembari terus-menerus memukuli Kirania.
Bersambung ...
Sambil nunggu up Dirga & Rania tengoklah novel aku yang lain ya,👇
__ADS_1
Happy Reading❤️