RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Ketakutan Kirania


__ADS_3

Setelah Sabilla berpamitan pulang, juga pakde dan bude Kirania memilih masuk ke dalam rumah, kini tinggal Kirania dan Yoga yang tersisa. Mereka memilih berbincang di teras rumah sambil menikmati suasana sore hari.


" Kamu dari tadi?" Kirania memulai pembicaraan dengan agak canggung.


" Hampir sejam." Yoga menyahuti.


" Soal perkataan Sabilla tadi, jangan dianggap serius, ya?" Agak ragu sebenarnya Kirania mengucapkan kalimat tadi. Atau mungkin malu lebih tepatnya.


" Perkataan yang mana?" Yoga mengeryitkan keningnya. " Tentang aku yang famous? Humble? Pintar? Rendah hati? Jadi mahasiswa kebanggaan kampus, atau yang mana, ya?" Yoga sengaja menggoda Kirania agar gadis itu mengarah langsung pada tujuan pembicaraannya.


" Emmm, sudahlah lupakan saja ..." Kirania terlalu malu untuk mengatakan apa yang dimaksudnya.


" Nggak bisa gitu, dong. Kamu yang awalnya mengingatkan, sekarang malah suruh melupakan. Aku tuh orang yang paling susah disuruh melupakan sesuatu, apalagi melupakan kamu."


Blaasshh..


Rona merah langsung nampak di wajah putih Kirania mendengar ucapan Yoga yang terdengar di telinganya.


" Memangnya menurut kamu kita ini nggak cocok, ya? Kalau aku sih setuju sama yang dikata teman kamu itu. Kalau kita itu cocok, cocok untuk lebih dari sekedar berteman."


Kirania memilih untuk tertunduk. Dia tidak mempunyai keberanian untuk memperlihatkan warna mukanya saat ini yang semakin nampak merona.


Yoga yang bisa melihat perubahan wajah Kirania hanya mengulas senyum tipis.


" Ran, aku cuma mau bilang apapun yang masalah yang kamu hadapi, jangan berkecil hati. Kamu ada teman kamu, ada aku juga, jika kamu benar-benar butuh tempat untuk bercerita."


Kirania semakin menunduk, tangannya sibuk memilin ujung kemeja yang dipakainya. Dia tidaklah berpegalaman menghadapi pria, dia tidak tahu mesti berucap apa.


" Kamu benar nggak ada hubungan apa-apa dengan Bang Dirga?"


Pertanyaan Yoga sontak membuat Kirania menegakkan kepalanya kembali kemudian menggeleng.


" Soal video yang beredar, aku harap kamu jangan jadi terpuruk karena itu, ya?"


Kali ini perkataan Yoga sukses membuat Kirania menatap ke arahnya.


" Kamu tahu dari mana?" selidik Kirania. Dia heran Yoga bisa tahu soal video yang beredar siang tadi.


" Dari teman aku yang satu kampus sama kamu. Aku punya banyak kenalan di kampus kamu. Sorry ya, belakangan ini aku banyak mengulik info tentang kamu, sejak pertama aku antar kamu pulang. Dan hari ini aku dapat info itu dari temanku, makanya aku ke sini karena tadi siang aku nggak lihat kamu, kamu juga susah dihubungi," ungkap Yoga.


" Kamu cari info aku? Untuk apa?" Kirania memicingkan matanya.


" Aku ingin memastikan kalau kamu memang tidak ada hubungan apa-apa dengan Bang Dirga ...."


" Untuk apa kamu melakukan itu? Untuk apa kamu memastikan aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Kak Dirga?" Pertanyaan Kirania menuntut sebuah jawaban dari mulut Yoga.

__ADS_1


Yoga mengambil nafas terlebih dahulu sebelum mengutarakan apa yang hendak dikatakannya.


" Karena aku suka sama kamu."


Deg


Seketika pasokan oksigen yang Kirania hirup tercekat di tenggorokan. Jangan ditanya pula bagaimana detak jantungnya saat ini. Kirania menelan salivanya. Dia tidak tahu apa yang salah dengan dirinya belakangan ini? Kenapa tiba-tiba saja dua orang yang bisa dibilang populer di kampusnya masing-masing kini seolah berlomba mendekatinya.


***


" Aku nggak nyangka, lho, Ran. Ternyata seorang Prayoga ada hati sama kamu. Ya Allah, beruntung banget kamu, Ran." Sabilla memeluk tubuh Kirania saat Kirania menceritakan apa yang Yoga katakan pada kedua sahabatnya.


" Mantap, nih. Kamu bisa balas Dirga dengan cara yang apik. Kamu jadian sama Prayoga. Akhirnya kamu dapat cowok yang pas buat kamu, Ran." Hasna pun ikutan memeluk.


" Siapa yang jadian, sih?" Kirania mencoba mengurai pelukan sahabat-sahabatnya.


" Lho, tadi kamu bilang, Prayoga suka sama kamu." Hasna memicingkan matanya.


" Iya, sih ...."


" Terus kamu tolak, gitu?" Giliran Sabilla sekarang yang bertanya.


" Hmm ... nggak juga, sih."


" Bentar-bentar, kamu nggak jadian tapi nggak nolak juga? Kamu menggantung hubungan kalian maksudnya?" Hasna mulai memahami apa yang dimaksud Kirania.


" Kamu nggak perlu jawab sekarang. Aku nggak akan memaksakan perasaan kamu ke aku, tapi kalau perasaan aku ke kamu itu sudah pasti dan jelas. Aku juga nggak ingin terlalu membebani kamu dengan pernyataan aku tadi. Just let it flow."


" Wis, benar-benar pria sejati itu namanya, mantap!" Sabilla mengangkat jempol tangannya saat Kirania mengatakan apa yang diucapkan Yoga kepadanya.


" Kalau aku boleh kasih saran, sih. Nggak ada salahnya kamu buka hati buat Prayoga, dia cowok baik-baik, rugi kalau kamu mengabaikan cowok sebaik dia." Hasan mengutarakan pendapatnya.


Kirania mengedikkan. " Entahlah, Has. Aku masih takut," lirih Kirania.


" Kirania, ditunggu anak-anak di lapangan basket!" Suara teriakan seseorang dari pintu kelas sontak membuat ketiga bersahabat itu menoleh ke arah suara itu.


" Siapa yang nungguin Kirania?" tanya Hasna terheran.


" Ada apa memang di lapangan basket?" Sabilla tak mau kalah bertanya.


" Lu pada ke sana saja, sudah ditunggu anak-anak dari tadi," ucap orang itu sebelum pergi meninggalkan mereka bertiga.


" Ada apa lagi ini?" Kirania seketika terlihat gusar. " Ya Allah, kenapa hidupku jadi ruwet begini sekarang?" Kirania memijat pelipisnya.


" Kita ke sana saja sekarang. Kamu nggak usah khawatir. Ada kita, kok!" tandas Hasna.

__ADS_1


" Sini ponselmu!" Sabilla meminta ponsel Kirania.


" Untuk apa?" Meskipun bertanya dan belum mendapatkan jawaban dari Sabilla, tapi Kirania tetap memberikan ponselnya kepada sahabatnya itu.


Sabilla meraih ponsel milik Kirania, kemudian mengetik dan mengirim sebuah pesan lalu mengembalikan ponsel itu pada Kirania.


" Kamu kirim pesan ke siapa, Bil?" tanya Kirania menerima kembali ponselnya.


" Prayoga." Sabilla menjawab santai.


" Astaga, untuk apa kamu kirim pesan ke dia? Kenapa mesti melibatkan dia segala, sih?" Kirania mencebik.


" Siapa tahu kamu butuh kehadiran dia buat menenangkan kamu, Ran." Sabilla terkekeh.


" Ck, nggak enak harus melibatkan dia dalam masalah ini. Barangkali dia sedang sibuk, dia juga 'kan kuliah. Lagipula kita nggak tahu ini tentang apa?" Kirania terus menggerutu.


" Sudah, deh. Kita ke sana sekarang." Hasna kemudian menengahi berdebatan kedua temannya itu.


Mereka bertiga pun akhirnya berjalan ke arah lapangan basket di belakang kampus. Mereka melihat banyak mahasiswa berkumpul di sana.


" Kenapa banyak orang begini, ya? Terus aku di sini mau diapain?" Kirania mencengram lengan Hasna dan Sabilla. Rasa takut seketika menyeruak di dalam hati Kirania.


" Nah itu dia, Kirania!" seru salah seorang mahasiswa yang berkumpul di sana, sontak membuat semua orang yang berkumpul di sana memusatkan pandangan ke arah Kirania. Kirania mendapati sorot-sorot mata penuh intimidasi seolah ingin mengulitinya, dan seketika itu juga gelak tawa terdengar bersahutan. Kirania bisa mendengar jika tawa itu terdengar mengejeknya.


" Si Kuper mimpi jadi Cinderella. Sekalinya Upik abu tetaplah Upik abu, jangan pernah mimpi ada pangeran yang bakal mau sama lu!" teriak mahasiswa lain.


" Emang enak jadi barang taruhan? Hahahaha..."


" Kasihan, deh. Sekalinya didekati cowok ternyata di PHP-in doang!"


" Makanya kalau menghayal jangan ketinggian."


" Malu 'kan sekarang jadi bahan olok-olokan? Memangnya enak?!"


Dan entah berapa banyak lagi sindiran yang terdengar di telinga Kirania, belum lagi suara tawa penuh ejekkan, seketika membuat wajah putih Kirania semakin memucat.


*


*


*


Bersambung ...


Selamat berpuasa..

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2