
" Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ...."
Kirania dan Mama Utami yang sedang berbincang di ruang keluarga langsung menoleh ke arah suara yang memberi salam tadi.
" Mbak Anin?" Kirania langsung bangkit ingin menyambut wanita yang juga sedang hamil itu.
" Halo, Tante Rania," sapa Ramadhan yang berlari dan menyalami Kirania hingga menghalangi Kirania menyambut Abindita.
" Hai, Rama." Kirania balik menyapa Ramadhan. " Hai, Arka." Kirania kini mengusap kepala putra kedua dari Anindita itu.
" Ibu, apa kabar?" Anindita menyapa dan menyalami Mama Utami lebih dahulu.
" Kabar Mama tentu saja senang sekali karena kamu akhirnya mau tinggal di sini, Anin." ucap Mama Utami.
" Hai, cucu-cucu Nenek." Mama Utami kini memeluk dua bocah yang berhambur ke arahnya. Dua anak kecil yang sebenarnya tidak mempunyai hubungan darah dengannya namun sudah dia anggap sebagai cucunya sendiri.
" Aku senang Mbak Anin mau tinggal di sini." Kirania kini memeluk Anindita.
" Tapi hanya setelah melahirkan saja, Bu Rania. Karena Papanya anak-anak sudah berencana pindah dari apartemen ke rumah baru," sahut Anindita menjelaskan.
" Kenapa hanya sampai melahirkan, Anin? Mama ingin kalian semua ngumpul di sini." Mama Utami menyayangkan keputusan Ricky yang hanya menyetujui keinginan Mama Utami untuk tinggal di sana dalam waktu singkat.
" Iya, Mbak. Kalau Mbak di sini terus aku 'kan ada teman sharing bisa berbagi pengalaman seputar kehamilan, Mbak." Kirania pun merasakan hal yang sama dengan Mama Utami, merasa tidak puas dengan jangka waktu yang ditetapkan oleh Ricky.
" Kalau saya sih, tergantung Papanya anak-anak saja, Bu." Sebagai istri, Anindita memang menuruti apa yang diperintahkan suaminya itu.
" Kalau begitu kamu harus mempengaruhi Ricky lagi, Nin. Biar dia mau tinggal di sini lebih lama. Rumah ini sangat besar dan luas. Cukup untuk keluarga kalian semua menetap di sini." Mama Utami mencoba mempengaruhi Anindita.
" Aku setuju apa kata Mama, Mbak." Kirania menyetujui usul yang disarankan oleh Mama mertuanya.
Anindita tersenyum, dia benar-benar merasa bahagia karena disambut hangat dalam keluarga Poetra Laksmana ini walaupun suaminya itu hanya anak angkat Pak Poetra.
***
" Mbak, Mbak Anin ..." Kirania mengetuk pintu kamar Ricky, dan tak lama pintu kamar itu terbuka dengan sosok Anindita yang keluar dari dalam kamar.
" Ada apa, Bu Rania?" tanya Anindita.
" Cobain baju dulu yuk di bawah." Kirania mengulurkan tangannya ke arah Anindita.
" Baju apa ya, Bu?" Anindita mengerutkan keningnya karena dia tidak paham untuk apa dia mencoba baju dan baju apa yang mesti dia coba
" Ya ampun, Mbak Anin. Kita ini 'kan akan jadi bridesmaid nya Naomi, jadi kita mesti kembaran dressnya. Waktu itu 'kan kita udah ukur buat bikin bajunya, sama anak-anak juga," sahut Kirania mengingatkan jika Minggu depan akan ada acara wedding Naomi adik dari Nadia.
" Astaghfirullahal adzim, saya kok sampai lupa, ya? Sebentar ya, Bu. Saya panggil anak-anak dulu. Rama, Arka ... ayo kita keluar dulu. Mau cobain baju." Anindita memanggil kedua anaknya.
__ADS_1
" Cobain baju buat lebaran ya, Ma?" celetuk Ramadhan berlari menghampiri diikuti oleh Arka.
" Lebaran masih lama, Rama. Ini cobain baju untuk acara pernikahan Tante Naomi sama Om Andra. Rama kenal sama Tante Naomi, nggak? Tante Naomi itu adiknya Tante Nadia, Mama nya Kayla." Kirania menjelaskan.
" Oh ..." Ramadhan hanya menjawab dengan kata Oh saja.
" Ya sudah ayo, Rama, Arka ... kita coba baju nya." Kirania mengandeng kedua tangan putra Anindita.
***
Wedding Party Andra & Naomi ...
Dirga menggenggam tangan Kirania saat acara pengucapan ijab qobul Andra dan Naomi.
" Kau ingat saat kita melewati momen itu, Sayang?" Dirga menoleh ke arah Kirania.
" Mana mungkin aku bisa lupa momen paling berkesan dalam hidup aku, Abang." Kirania pun menoleh ke arah Dirga kemudian menyandarkan kepalanya di bahu kokoh suaminya itu.
" Setelah melalu perjuangan dan harus berpisah selama enam tahun, dengan berbagai macam drama akhirnya kita bisa juga sampai ke tahap ijab qobul."
" Iya, Abang. Perjalanan cinta kita sepertinya bagus kalau dibuatkan sebuah novel, ya?" Kirania terkekeh mengingat betapa berlikunya perjalanan kisah cinta mereka berdua.
" Kamu benar, Sayang." Dirga tergelak hingga membuat tamu yang hadir di sana yang sedang memusatkan perhatian kepada kedua mempelai langsung menoleh ke arah Dirga dan Kirania.
" Abang, iihh ..." Kirania mencubit lengan suaminya dan menarik kepalanya dari bahu sang suami saat semua orang memusatkan perhatian kepada mereka berdua
" Mohon maaf saudara-saudara, kami berdua sedang mengenang saat kami melaksanakan ijab qobul dulu." Dirga dengan sigap langsung mengatakan permohonan maafnya tanpa rasa malu, justru Kirania yang langsung merona menahan malu.
" Selamat ya, Pak Andra. Semoga sakinah mawaddah warohmah pernikahannya." Kirania memberikan selamat kepada Andra.
" Aamiin, terima kasih, Ibu Rania." Andra membalas ucapan selamat dari Kirania.
" Happy wedding, Pak Andra. Semoga langgeng sampai kakek nenek." Giliran Dirga yang mengucapkan selamat kepada pria yang juga merupakan CEO dari perusahaan keluarga Hadiwijaya.
" Aamiin, terima kasih banyak, Pak Dirga." sahut Andra.
" Naomi, selamat ya, Sayang." Kirania memeluk adik dari Nadia itu.
" Makasih, Kak Rania. Katanya Mbak sedang isi ya sekarang?" Naomi mengusap perut Kirania yang masih belum nampak membuncit.
" Iya, Alhamdulillah, Naomi. Akhirnya rezeki itu Allah kasih juga ke Kakak," ucap Kirania haru.
" Akhirnya ya, Kak. Aku juga berharap bisa langsung isi biar kita samaan nih hamilnya." Naomi berharap agar dia pun diberi momongan.
" Aamiin, semoga diijabah doannya." Kirania pun ikut mendoakan keinginan Naomi.
" Happy wedding, Naomi. Akhirnya kamu melalui momen seperti ini juga." Dirga kini mengucapkan selamat kepada mantan adik iparnya itu.
__ADS_1
" Makasih, Kak Dirga." Naomi pun memeluk pria yang tetap selalu dia anggap kakaknya walaupun Nadia sudah tidak menjadi istri Dirga lagi.
" Sayang, kamu duduk di sini saja dulu, aku ambilkan makanan untuk kamu." Dirga menyuruh Kirania untuk duduk beristirahat sementara dia kan mengambil makanan untuk istrinya.
" Iya, Abang." Kirania menuruti apa yang diucapkan suaminya.
" Mama Rania ..." Terdengar suara anak kecil menyapa Kirania yang sedang duduk sendiri.
" Kayla? Sini duduk dengan Mama Rania." Kirania menyuruh Kayla duduk di sampingnya.
" Papa Dirga mana, Ma?" tanya gadis berusia sekitar tujuh tahun lebih itu.
" Itu sedang ambil makanan untuk Mama Rania." Kirania menunjuk ke arah Dirga yang sedang mengambil makanan di meja prasmanan.
" Kayla sudah makan belum?" tanya Kirania kemudian.
" Sudah, Ma." Kayla menganggukkan kepalanya. " Mama Rania mau punya dedek bayi, ya?" tanya Kayla menatap perut datar Kirania.
" Iya, Sayang. Sebentar lagi Kayla mau punya adik lagi, nih." Kirania mengusap perutnya.
" Tante Rania ..." Kali ini Ramadhan yang menyapa Kirania.
" Hai, Rama. Sini, sini ... duduk di sini sama Kayla." Kirania menyuruh Ramadhan duduk berdampingan dengan Kayla.
" Hai, Rama ..." sapa Kayla terlebih dahulu.
" Hai, Kayla." Ramadhan menyapa balik Kayla. " Kayla tinggal di Inter Milan, ya?" tanya Ramadhan kemudian.
" Bukan Inter Milan, Rama ... tapi di Milan. Inter Milan itu 'kan nama klub sepakbola di Milan. Papa Edo suka ajak Kayla sama Mama Nadia dan adik Gia nonton sepak bola di sana lho, Rama." Kayla menceritakan.
" Oh ya? Rama juga mau nonton Inter Milan di sana." Ramadhan nampak antusias.
" Rama minta Om Ricky main ke Milan, dong!" sahut Kayla.
" Milan itu jauh ya, Kayla?"
" Jauh, dong! Naik pesawat terbangnya lama kalau mau ke sana." Kayla menjelaskan.
Sementara Kirania nampak memperhatikan obrolan kedua anak kecil di sampingnya itu seraya tersenyum, karena melihat keakraban mereka berdua layaknya saudara walaupun mereka berdua tidak mempunyai hubungan darah.
*
*
*
Hai Readers RTB, yang belum tau novel baru aku RAMADHAN DI HATI RAYYA, silahkan masukin ke daftar favorit ya, kasih dukungan juga untuk novel RDHR, Makasih 🙏
__ADS_1
Happy Reading ❤️