
Usia kandungan Kirania sudah memasuki bulan ketiga. Dan keinginan-keinginan Kirania dengan mengatasnamakan sang jabang bayi selalu membuat calon Papa si bayi kelimpungan.
" Abang ..." Kirania menepuk lengan suaminya yang terlelap di sampingnya, namun suaminya itu bergeming.
" Abang ..." Kini Kirania mengguncang tubuh Dirga karena tepukannya tadi seakan tak berpengaruh untuk suaminya itu.
" Hmmm ..."
Hanya suara itu yang keluar dari mulut Dirga, sementara matanya masih tetap terpejam.
" Abang, bangun ...!" Kali ini Kirania meninggikan suara di dekat telinga.
" Ada apa, Sayang? Ini masih malam, kan?" Dirga akhirnya terjaga dari tidurnya karena suara istrinya yang meninggi.
" Tolong usap punggungku!" Kirania meminta agar suaminya itu mengusap punggungnya. Dia lalu tidur membelakangi Dirga.
" Sayang, kenapa kamu tidur membelakangiku?" protes Dirga melihat Kirania berganti posisi tidur.
" Aku 'kan minta Abang mengusap punggungku. Kalau aku nggak tidur begini bagaimana Abang bisa mengusap punggungku?" Kirania beralasan.
" Kemarilah ... aku bisa mengusap punggungku dengan posisi memelukmu." Dirga merasa dengan memeluk tubuh istrinya itu dia masih bisa melakukan apa yang diinginkan oleh Kirania itu.
" Nggak mau! Sudah cepat Abang usap-usap punggungku pakai bedak bayi." Kirania mengajukan permintaan yang membuat Dirga terbelalak.
" Bedak bayi? Memangnya kamu sudah membeli perlengkapan bayi?" tanya Dirga kemudian.
" Belum, kandunganku baru masuk tiga bulan. Orang tua bilang nggak baik belanja keperluan bayi saat usia kandungan masih muda." Kirania mengatakan apa yang menjadi mitos yang dipercaya sebagian masyarakat.
" Lalu aku harus beli bedak bayi dulu gitu?" Dirga nampak keberatan jika harus membeli bedak bayi malam-malam begini.
" Ya ampun, Abang. Kenapa harus cari di luar? Abang tinggal pinjam saja bedak bayi punya Arka." Kirania menyuruh suaminya itu meminjam bedak milik Arka.
" Kau suruh aku mengetuk kamar mereka malam-malam begini? Aku nggak mau!" tolak Dirga.
" Ya sudah kalau Abang nggak mau, Abang tidur di bawah saja jangan dekat-dekat aku!" Kirania menyuruh suaminya itu untuk pindah dari tempat tidurnya.
" Apa katamu? Aku harus tidur di bawah? Aku itu CEO, Sayang? Masa harus tidur di bawah?! Bisa pegal-gegal tubuhku kalau aku kau suruh tidur di bawah!" protes Dirga seraya memeluk guling dan menindih dengan tubuh besarnya.
" Jangan lebay deh, Abang! Di lantai juga karpetnya tebal, kok. Nggak akan membuat tubuh Abang pegal dan alergi!" cibir Kirania yang menganggap apa yang dikatakan suaminya itu terlalu berlebihan.
__ADS_1
" Kau bilang aku lebay? Apa permintaanmu sendiri, kau tidak merasa terlalu berlebihan?!" Dirga yang tak suka dikatakan bersikap berlebihan malah menuding jika istrinya lah yang bersikap lebay.
Dirga lalu menghempaskan tubuhnya kembali dan menarik selimutnya sampai menutupi kepalanya, karena dia merasa sangat penat beraktivitas dengan pekerjaan. Sedangkan Kirania yang memang sedang hamil muda langsung memberengut kesal mendapati sikap suaminya yang dianggapnya kasar seperti tadi.
Kirania lalu turun dari peraduannya dan ingin meninggalkan kamarnya.
" Kamu mau ke mana?" Dirga yang merasakan gerakan istrinya turun dari tempat tidur langsung menyibak selimutnya kembali.
" Aku mau pinjam bedak punya Arka!" ketus Kirania tanpa menoleh ke arah suaminya seraya memakai jilbabnya.
Dirga yang melihat istrinya sudah berjalan ke luar langsung mengikuti arah langkah istrinya itu.
" Jangan pinjam punya Arka! Biar aku suruh orang untuk beli di market yang buka dua puluh empat jam saja." Dirga menahan tangan Kirania yang sudah siap mengetuk pintu kamar yang ditempati oleh Ricky dan Anindita di kamar berada sebelah kamarnya.
" Kelamaan, Abang. Pinjam punya Arka saja sebentar." Kirania menolak usulan Dirga.
" Tapi kau bisa mengganggu mereka, siapa tahu mereka sedang bercin ..." Dirga menghentikan ucapannya namun seringai langsung mengembang di sudut bibirnya itu.
Tok tok tok
Tok tok tok
" Abang! Jangan keras-keras ketuk pintunya! Nanti ganggu yang lain." Kirania yang melihat suaminya mengetuk pintu dengan gerakan cepat dan kencang langsung memprotes.
" Ada apa, Mas?" tanya Bi Mus yang menghampiri Dirga karena melihat Dirga dan Kirania berdiri di depan kamar Ricky dan Anindita.
" Nggak ada apa-apa kok, Bi. Bibi kembali istirahat saja." Dirga menyuruh ART nya itu untuk kembali ke kamarnya.
" Oh ya sudah, Bibi permisi Mas, Mbak." Bi Mus berpamitan dan meninggalkan mereka berdua.
" Abang, sih ... aku bilang juga apa? Mengganggu orang lain suara ketukan pintunya."
" Rick, Ricky ...!" Dirga kembali mengetuk pintu seraya memanggil nama assistennya.
Tak berapa lama pintu kamar Ricky pun terbuka dan menampakkan sosok Ricky yang bertelanjang dada dengan menggunakan boxer membuat Kirania langsung berdiri di belakang sang suami.
" Ada apa, Pak Dirga?" tanya Ricky heran dengan kemunculan pria yang berstatus sebagai bosnya itu.
" Kenapa lama sekali membuka pintunya?" tanya Dirga kesal.
__ADS_1
" Maaf saya sedang tidur, Pak." sahut Ricky
" Sedang tidur atau sedang tanggung?" sindir Dirga. Karena Dirga melihat tubuh Ricky yang lembab. Karena menurutnya kamar Ricky yang memakai pendingin ruangan yang sangat nyaman tidak akan mungkin menghasilkan keringat kalau tidak sedang melakukan aktivitas yang membuat suhu tubuh akan mengeluarkan cairan keringat seperti bercinta.
" Abang ...!" Kirania mencubit pinggang suaminya kerena sifat iseng suaminya mulai nampak.
" Ada apa memangnya Pak Dirga mengetuk pintu kamar saya?" Ricky mengulangi pertanyaannya.
" Pinjam bedak bayi Arka," ujar Dirga.
" Untuk apa?" Ricky merasa heran mendengar Dirga ingin meminjam baby powder milik Arka.
" Sudah nggak usah tanya untuk apa? Cepat berikan, jadi kau bisa melanjutkan kegiatanmu tadi." Walaupun berada di luar jam kerja namun sikap bossy tetap melekat dalam diri Dirga. Dan Ricky pun akhirnya masuk untuk mengambilkan permintaan Dirga.
" Sayang, kau kembali ke kamar dulu." Dirga memerintahkan istrinya untuk kembali ke kamarnya.
" Abang jangan lama-lama," pinta Kirania.
" Iya." Dirga sempat memberi kecupan di kening Kirania.
" Ini bedak bayinya. Pakai saja tak perlu dikembalikan, Pak. Arka sudah punya yang baru." Tak lama setelah Kirania berjalan menuju kamarnya, Ricky pun keluar membawa baby powder yang diminta Dirga.
" Hei, aku hanya pinjam bukan minta. Kau pikir aku tidak bisa membeli barang ini?!" cibir Dirga kemudian.
" Maaf, Pak." Ricky tidak ingin memperpanjang masalah. " Ada lagi yang bisa saya bantu?"
Pandangan mata Dirga menerobos masuk ke dalam kamar Ricky.
" Kau sedang bercinta, ya? Beritahu aku gaya yang membuat istri merasa nyaman saat bercinta ketika hamil muda. Istriku selalu mengeluh setiap aku masuki. Atau kau bilang istrimu untuk mengajari istriku bagaimana caranya tetap bisa bikin suami puas walaupun sedang hamil muda. Oke, Rick?! Silahkan kau lanjutkan aktivitasmu, aku nggak ingin mengganggu kalian berdua." Dirga menepuk pundak Ricky lalu berjalan menuju kamarnya seraya bersiul.
***
*
*
*
Happy Reading❤️
__ADS_1