
" Siapa yang datang, Bil?" tanya Kirania saat dilihatnya Sabilla telah kembali ke kamarnya.
" Kurir," Sabilla menjawab asal.
" Tadi Mama kamu bilang teman kampus?" Kirania mengeryitkan keningnya.
" Salah dengar itu." Sabilla kemudian merebahkan tubuhnya di samping Kirania yang tidur tengkurap. " Kamu kalau mau tidur, tidur saja dulu, Ran. Nanti pulang sorean saja aku antar."
Kirania menganggukan kepala, berusaha memejamkan matanya. Dia memang pernah sekali menginap di rumah Sabilla. Waktu itu orang tua Sabilla pergi ke luar kota dan Sabilla meminta dirinya untuk menemani Sabilla. Dan karena lelah sehabis menangis dan dinginnya AC, akhirnya mata Kirania terpejam dan tertidur lelap.
Drrrtt drrrtt
Sabilla melirik ponsel Kirania yang berbunyi. Dia tidak terlalu ingin tahu siapa yang menelpon Kirania, karena dia tahu jika Kirania adalah pribadi yang tertutup. Kirania tidak terlalu suka bergaul dengan banyak orang. Jadi Setahu Sabilla, orang yang akan menelepon Kirania kebanyakan dari sanak saudara Kirania.
Dua kali telepon berbunyi, dan Kirania terlihat masih terlelap, membuat Sabilla dengan terpaksa meraih telepon Kirania. Dan saat terlihat nama Prayoga di layar ponsel Kirania, seketika itu juga bola mata Sabilla membulat sempurna.
" Prayoga?" gerakan mulut Sabilla menyebut nama pemuda itu sembari menatap wajah Kirania yang tertidur.
" Prayoga siapa, ya? Prayoga mahasiswa itu?" Sabilla masih memandangi ponsel Kirania, tak juga mengangkat panggilannya, hingga panggilan itu kembali berhenti. Tapi tak lama setelah itu sebuah pesan WhatsApp di ponsel Kirania dan pengirimnya masih orang yang sama dengan si penelpon tadi. Sepintas ia mengintip isi notif di aplikasi WhatsApp Kirania.
" Assalamualaikum, Ran. Sudah pulang, ya? Aku tadi nunggu di depan kampus kamu ..." Ada sebagian teks pesan yang tidak bisa dia baca, karena dia memang tak ingin lancang membuka privacy Kirania.
" Hmmm ... ternyata ada yang kamu sembunyikan dari aku dan Hasna." Sabilla menarik satu sudut bibirnya ke atas melihat siapa orang yang menghubungi Sabilla tadi.
"""
Sore harinya di rumah Pakde Danang, Yoga terlihat sedang meladeni pakde dari Kirania itu bermain catur. Karena telepon dan WhatsApp dia siang tadi tak ada respon, akhirnya sore harinya dia memutuskan berkunjung ke rumah Kirania.
" Nak Yoga ini asli Jakarta dan tinggal di mana?" tanya Pakde Danang, memainkan bidaknya.
" Orang tua saya di Bogor, Saya sendiri di sini kontrak rumah di dekat perkampungan penduduk, Pak." Yoga menyahuti.
" Kontrak nggak ngekost?"
" Saya lebih senang kontrak, Pak. Walaupun kontrakannya kecil dan berada di perkampungan, tapi bisa berbaur dengan masyarakat sekitar. Kalau ada even di perkampungan sana saya juga ikut dilibatkan, jadi berasa warga sana, terasa kaya di kampung halaman sendiri, Pak."
" Wah, bagus itu. Kalau kost kebanyakan lingkungannya terbatas hanya penghuni-penghuni kost yang lainnya. Agak susah mau beradaptasi dengan warga sekitar, meskipun nggak semua seperti itu."
" Iya Pak, apalagi jika tempat kost yang mahal dan elit, kebanyakan memang seperti itu."
__ADS_1
" Oh ya, ini malam Minggu, Nak Yoga nggak siap-siap malam mingguan sama pacarnya, memang?" tanya Pakde Danang sengaja memacing. Pakde dari Kirania itu memang sedang mengorek maksud pemuda itu ingin bertemu keponakannya yang sore ini masih belum datang dari rumah Sabilla.
Yoga terkekeh mendengar pertanyaan Pakde Danang. " Ini saya lagi mau malam mingguan, tapi bukan sama pacar, Pak. Terkecuali memang saya diterima dan direstui untuk jadi pacarnya, Pak." Yoga berseloroh sambil mengembangkan senyum lebar hingga memperlihatkan lesung pipinya.
" Maksud Nak Yoga?" tanya Pakde Danang penuh selidik membuat senyum Yoga menyurut.
" Hmmm ... apa Kirania sudah punya kekasih Pak?" Yoga memberanikan diri bertanya. Seketika perkataan Yoga membuat air muka Pakde Danang berubah serius.
" Apa kamu menyukai Kirania?" Pakde Danang kembali bertanya.
Yoga mengangguk pelan. " Apa Bapak memberikan saya ijin untuk bisa dekat dengan Kirania?"
" Kenapa kamu menginginkan dekat dengan Kirania? Dia gadis biasa-biasa saja, kamu mungkin bisa cari yang lebih dari Kirania."
" Di mata saya dia sangat istimewa, Pak." Yoga menjawab tanpa ragu.
" Kamu belum lama kenal dia, kamu belum tahu pribadi dan sifat dia itu seperti apa." Pakde Danang seolah mencari alasan untuk menggoyahkan Yoga
" Saya lihat dia wanita yang sederhana dan tidak banyak bertingkah. Walaupun saya baru beberapa kali bertemu Rania, tapi saya yakin jika Rania adalah wanita yang baik. Bapak dan Ibu terlihat sangat menyanyangi dia, sudah pasti itu karena dia itu pribadi yang sangat baik, kan, Pak?!" ujar Yoga penuh ketegasan.
Pakde Danang tersenyum sambil menganggukan kepala. " Baiklah, saya tidak akan larang kamu dekati Kirania, tapi saya minta kamu jangan mengecewakan kami dan jangan membuat Rania sedih."
" Tapi itu semua tergantung Rania juga. Jika dia tidak ingin kamu mendekatinya, tolong jangan dipaksa. Saya nggak ingin kejadian seperti sebelumya terjadi lagi. Kamu sendiri saat itu ada di sana, kan? Kamu bisa lihat bagaimana keadaan Rania saat itu."
Yoga menghela nafas, dia teringat Kirania yang histeris malam itu, saat seorang pria berusaha menarik paksa baju yang dikenakannya.
" Iya, saya mengerti, Pak." Yoga menyahuti.
Sementara itu motor yang dikendarai Sabilla berhenti di jalan depan rumah Pakde Danang. Kirania mengeryitkan keningnya saat dia melihat motor Yoga terparkir di pekarangan rumah Pakde Danang.
" Ada tamu, Ran?" Sabilla membuka helm dan meletakan di spion motornya. Kirania hanya mengedikkan bahunya seraya berjalan memasuki pekarangan rumah pakdenya.
" Assalamualaikum ..." sapa Kirania memberi salam.
" Waalaikumsalam ..." jawab Pakde Danang dan Yoga bersamaan.
" Ran, Nak Yoga dari tadi tunggu kamu." Pakde Danang memberitahukan.
Kirania menoleh ke arah Yoga yang sedang melemparkan senyum kepadanya. " Maaf aku nggak bilang kamu dulu mau kemari. Soalnya saya khawatir dari siang saya telepon sama chat, kamu nggak respon."
__ADS_1
" Assalamuaikum, Pakde." Suara Sabilla nyaring terdengar menyapa Pakde Danang.
" Waalaikumsalam, Sabilla." Pakde Danang menjawab salam dari Sabilla.
" Ini Billa balikin ponakan Pakde," kelakar Sabilla seraya melirik ke arah tamu yang berkunjung ke rumah Kirania.
Sabilla terbelalak mengetahui jika Yoga lah yang tamu yang datang ke rumah pakde dari temannya. itu.
" Lho, ini 'kan Prayoga? Seriusan ini? Kok bisa ada di rumah Rania, eh ... maksudku di rumah Pakdenya Rania?" Sabilla terlihat surprise.
" Lho, Billa kenal Nak Yoga juga, ya?" Bude Arum yang keluar dari dalam ruang tengah membawa pisang goreng hangat langsung bertanya.
" Kenal, dong, Bude. Dia 'kan famous banget," Sabilla menyahuti.
" Famous itu apa, toh?" Kening Bude Arum berkerut.
" Ya ngetop terkenal gitu, deh. Apalagi saat dia menang lomba karya ilmiah antar mahasiswa kemarin, banyak cewek-cewek yang kagum sama dia, lho, Bude." Sabilla seolah mempromosikan Yoga.
" Wah hebat Nak Yoga menang lomba." Bude Arum terlihat kagum.
" Bukan itu saja Bude, Prayoga ini di kampusnya selain pintar terkenal humble, jiwa sosialnya tinggi, rendah hati, jadi mahasiswa kebanggaan di kampusnya." Sabilla layaknya seorang marketing yang sedang menawarkan produk kepada konsumen agar konsumen itu tertarik kepada apa yang ditawarkannya. " Billa rasa Prayoga ini lebih cocok untuk Rania, ketimbang Kak Dirga."
Semua orang terkesiap dan langsung memusatkan pandangan ke arah Sabilla saat wanita itu mengucapkan kalimat terakhir. Terlebih Kirania yang langsung mendelik tak senang dengan ucapan Sabilla tadi.
*
*
*
Neng Tata mana, ya? Rasanya pengen aduin kelakuan calon suami masa depannya, deh.😂
Jangan bosen dengan kemunculan Yoga di sini ya, karena dia itu bagian kisah masa lalu Kirania. Paling muncul beberapa bab kedepan lagi trus udah, aku kirim balik dia ke alamnya di sebelah😁
Satu bab lagi aku up siang ya, maaf kemarin ada trouble di kantor jadi ga fokus buat nulis.🙏
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1