
Hari ini Karina memilih untuk makan siang di kantin kantornya. Karena kakaknya hari ini tidak datang ke kantor karena jadwal berkunjung ke rumah mertuanya. Sedangkan Pak Ricky? Entahlah, belakangan ini pria itu lebih sibuk dengan urusannya saat bertemu waktu break kerja. Sebenarnya dia sendiri berharap ada pesan dari Gilang yang akan mengajaknya makan siang di luar, namun pesan itu tak kunjung datang di ponselnya.
" Enak banget ya, kakaknya dapat Pak Dirga adiknya sekarang dekati Pak Ricky. Kakak beradik itu benar-benar menguasai dua petinggi Angkasa Raya Group."
Karina mempertajam pendengarannya saat telinganya menangkap seseorang yang duduk di belakang posisi dia saat ini duduk, sepertinya sedang membicarakan dia dan kakaknya. Dengan cepat dia mengotak-atik ponselnya.
" Iya aku juga nggak mengerti, pakai pelet apa kakak adik itu sampai bisa menaklukan dua pria tampan di perusahaan ini?" Orang ke dua ikut menimpali pernyataan orang pertama tadi.
" Iya loh ... heran, kan? Iya sih cantik, tapi yang cantik dan sepadan dengan Pak Dirga sama Pak Ricky itu 'kan banyak, kenapa pilih mereka?" Orang ke tiga semakin menambah panas pergunjingan di antara tiga orang itu.
" Aku sih curiga waktu Pak Dirga mengangkat Kirania jadi Aspri nya. Aku yakin pasti dia memanfaatkan posisinya itu untuk mendekati Pak Dirga secara pribadi. Dan kejadian, kan? Dalam waktu yang cukup singkat dia bisa menyingkirkan Ibu Nadia menjadi istri Pak Dirga dan anehnya justru Ibu Nadia bisa menerima itu, Nggak mungkin kalau nggak pakai bantuan Mbah Dukun buat menaklukan Pak Dirga dan meluluhkan hati Ibu Nadia?" sambung orang ke dua bernada tuduhan.
" Eh, bisa jadi juga nggak pakai Mbah Dukun tapi pakai umpan tubuhnya sendiri. Namanya pria, kalau diumpan wanita cantik apalagi disuguhi tubuhnya, siapa yang akan menolak coba? Bisa jadi Si Kirania itu memberi service tubuhnya kepada Pak Dirga sampai Pak Dirga takluk." Orang pertama ikut melontarkan tuduhannya.
Telinga Karina semakin panas rasanya mendengar jika dia dan kakaknya dijadikan gosip para karyawan itu, apalagi gosipnya itu semua adalah fitnah tak sesuai kenyataan.
" Kakaknya sudah berhasil tinggal adiknya, nih. Kira-kira bisa nggak dapatin Pak Ricky? Secara tiap hari mereka selalu bersama," ucap orang ke tiga.
" Iya, hampir tiap hari bersama nanti lama-lama bisa tidur bersama, deh." Orang ke dua berseloroh yang disahuti dengan tawa kedua temannya.
Karina yang sudah meradang langsung bangkit dan berjalan mendekati ketiga orang itu. Kata-kata menyerahkan tubuh membuat hatinya tergigit, karena dia pun sempat melakukan hal itu. Menyerahkan dirinya kepada orang yang dia cintai yang untungnya saat itu Gilang tidak sampai khilaf. Tapi jika kakaknya yang dituduh seperti itu, tentu saja dia tidak terima.
" Mana ID card kalian?" hardik Karina sesampainya di meja tiga orang yang tadi bergosip tentang dia dan Kirania, membuat mereka bertiga terperanjat.
" Eh, Mbak Karina ..." ketiga orang itu langsung berdiri serentak melihat memunculan Karina di depan mereka.
" Mana ID card kalian?" Karina mengulang pertanyaan seraya menengadahkan tangannya meminta kartu identitas mereka sebagai karyawan di perusahaan itu.
" Hmmm, ID card nya nggak saya bawa, Mbak. Saya taruh di tas biar nggak hilang." Orang pertama beralasan.
" Kamu?" Kini Karina bertanya kepada orang ke dua.
__ADS_1
" Saya juga taruh di tas, Mbak." Orang yang ditanya Karina menyahuti.
" Kamu ditaruh di tas juga?" Karina langsung menebak ke orang ke tiga.
" I-iya, Mbak."
Karina mendengus kesal karena mereka bertiga memakai alasan yang sama, dengan mengatakan mereka tak membawa ID Card saat makan siang.
" Ya sudah, kalian bertiga, berdiri merapat, wajah lihat ke arah saya." Karina kemudian mengarahkan kamera ponselnya ke arah tiga orang karyawan yang tadi menggunjingkannya.
" Saya akan laporkan perbuatan kalian."
" Mbak-mbak, kami minta maaf, tolong jangan laporkan kami ke Pak Dirga." Salah satu dari orang itu menohon dengan ketakutan.
" Iya, Mbak. Kami minta maaf." Satu orang lainnya juga menyatakan permohonan maafnya.
" Kami menyesal, Mbak. Tolong jangan laporkan kami ke Pak Bos, Mbak Karin," sesal yang lainnya lagi seraya mengatupkan kedua telapak tangannya di dekat dada.
" Asal kalian tau, ya! Keluarga kami tidak serendah yang kalian duga. Mbak Rania tidak pernah menggoda Kak Dirga, yang ada Kak Dirga yang mengejar-ngejar Mbak Rania. Karena Mbak Rania itu mantan pacar Kak Dirga waktu mereka kuliah. Dari jaman kuliah pun Kak Dirga sudah mati-matian ngejar Mbak Rania walaupun kakakku nolak-nolak. Jadi tidak ada yang namanya main pelet lah, dukun lah atau sebangsanya. Dan kakakku bukan tipe wanita penggoda yang rela menyerahkan tubuhnya agar bisa menjadi istri seorang direktur seperti yang kalian tuduhkan!" Karina mengucapkan kalimat dengan berapi-api.
Semua orang yang ada di kantin itu memusatkan pandangan ke arah Karina dan tiga orang karyawan tadi yang kini menundukkan wajahnya bak pesakitan. Beberapa orang terlihat berbisik saat mendengar penjelasan Karina.
" Saya akan beri efek jera agar karyawan yang lain tidak sampai melakukan hal yang sama seperti tiga orang ini." Karina mengedar pandangan ke seluruh karyawan lain yang ada di kantin itu. " Siapa di antara kalian seluruh karyawan Angkasa Raya Group yang berani menggunjingkan istri bos akan bernasib sama seperti mereka, kalian semua paham?!" tegas Karina dengan sorot mata tajam bak algojo yang siap mengeksekusi korbannya
" Paham ...!" Layaknya paduan suara semua yang hadir di sana menyahuti dengan lantang perkataan Karina.
" Saya sudah kirim wajah kalian bertiga ke Kak Dirga. Saya juga sudah kirim rekaman semua yang kalian bicarakan tadi tentang istri kesayangan bos kalian. Kalian berdoalah agar Kak Dirga tidak menjadi murka dengan kalian." Seringai tipis langsung terbit di sudut bibir Karina sebelum akhirnya dia melangkah keluar meninggalkan kantin tersebut.
***
" Astaghfirullahal adzim, kok mereka tega fitnah aku seperti itu?" Kirania terlihat syok mendengar hasil percakapan yang Karina kirimkan kepada suaminya.
__ADS_1
" Kau tak perlu khawatir, aku sudah suruh Pak Bildan untuk memecat mereka." Dirga langsung merengkruh pundak Kirania dan menghujani kecupan di seluruh wajah istrinya itu.
Kirania langsung menoleh ke arah Dirga, merespon tindakan Dirga terhadap ketiga karyawan yang menggosipkannya.
" Abang memecat mereka?" tanya Kirania dengan kening berkerut.
" Tentu saja. Itu karena kelancangan mereka yang sudah terang-terangan memfitnah istri cantikku ini." Bibir Dirga tak henti-henti memberikan sentuhan di wajah Kirania.
" Kasihan jika mereka dipecat, Abang." Kirania merasa tindakan Dirga memecat ketiga karyawan itu sangatlah berlebihan.
" Biarkan saja, biar hal seperti itu tidak ditiru oleh karyawan yang lainnya." Dirga membalas dengan santai. Baginya memberhentikan karyawan dengan tidak hormat adalah hal yang biasa dia lakukan dulu sebelum dia menemukan belahan jiwanya itu.
" Abang, jangan bertindak seperti itu. Beri peringatan dulu saja ke mereka, jangan asal pecat-pecat saja. Cari pekerjaan itu tidak mudah sekarang ini dan mungkin saja mereka itu tulang punggung keluarga mereka. Dan Abang tolong jangan memperbanyak musuh. Jika mereka Abang pecat, lalu mereka sakit hati dan menjadi dendam sama Abang, Abang juga yang rugi. Aku nggak mau terjadi hal yang buruk sama Abang." Kini tangan Kirania membelai wajah Dirga membuat Dirga mengulum senyumannya.
" Kamu mencemaskan aku?" Dirga meraih tangan Kirania kemudian mengecup punggung jari istrinya itu.
" Tentu saja, Abang. Istri mana yang tidak mencemaskan suaminya jika kemungkinan yang buruk bisa saja terjadi." Kirania langsung membenamkan tubuhnya dalam pelukan suaminya.
" Kau tak perlu khawatir, siapa yang akan berani mencelakakan seorang Dirgantara?" Nada bicara Dirga tegas dan terkesan membanggakan diri.
" Abang nggak boleh takabur, Allah SWT lah yang mengatur segalanya. Aku nggak suka Abang menyombongkan diri seperti itu." Kirania mengeratkan pelukannya ke tubuh Dirga. Kirania menyadari jika suaminya adalah seorang pengusaha sukses, tidak sedikit pesaing yang tentu saja ingin menjatuhkannya. Dan dalam bisnis, apapun bisa dilakukan untuk menggapai ambisinya, termasuk melakukan hal-hal yang ilegal.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1