
Tak berapa lama Kirania pun kembali keluar. Dia tidak menemukan Yoga, tapi tas dan motornya masih terparkir di pekarangan rumah Pakde Danang.
" Nak Yoga sedang ke Mushola, Ran." Bude Arum yang muncul dari belakang memberitahukan kepada Kirania di mana Yoga berada.
" Oh ...."
" Ran, sepertinya Bude setuju kamu sama yang ini, orangnya sederhana, sholeh, sepadanlah sama kamu."
Kirania memutar bola matanya. " Apaan, sih, Bude? Orang kita nggak ada apa-apa, kok." Kirania merasa jengah.
" Sekarang memang nggak ada apa-apa, tapi besok pasti ada sesuatu." Bude Arum menggoda.
" Bude, iihh ... nggak enak kalau kedengaran sama Yoga nya."
" Kedengaran aku apa, Ran? Assalamualaikum ...." Tiba-tiba terdengar suara Yoga dari arah belakang Kirania, Seketika membuat bola mata indah Kirania membulat.
" Waalaikumsalam, Nak Yoga sudah selesai sholatnya?" Bude Arum yang menyahuti.
" Sudah, Bude." Seraya tersenyum Yoga menjawab pertanyaan Bude Arum.
" Nak Yoga ini senyumnya manis sekali, lho. Ada lesung pipinya gitu, ganteng seperti artis favorit jaman Bude muda dulu, Adam Jordan." Bude Arum tekekeh.
Yoga tertawa memperlihatkan deretan gigi indahnya. " Bude bisa saja, tapi ganteng saya apa dia, Bude?" Yoga berseloroh.
" Ganteng Nak Yoga, soalnya asli Bude lihat dengan mata kepala sendiri. Kalau Adam Jordan cuma lihat di televisi doang." Bude Arum kembali terkekeh." Ya sudah, kalau begitu Bude tinggal ke belakang dulu, ya. Kamu temani Nak Yoga dulu, Ran. Bude mau siapkan makan siang, Nak Yoga diajak makan sekalian." Tanpa menunggu persetujuan dari Kirania, Bude Arum langsung berlalu meninggalkan Kirania dan Yoga berdua di ruang tamu.
" Maafkan Bude aku, ya." Kirania merasa tak enak hati.
" Nggak apa-apa, aku senang malah, bisa ngobrol bercanda dengan Bude kamu seperti itu, berasa seperti berbincang dengan ibu sendiri," sahut Yoga.
" Aku berterima kasih banyak sama kamu, Yoga. Kamu sudah banyak menolong aku," tutur Kirania tulus.
" Nggak usah diambil pusing, tugas kita sebagai sesama manusia itu 'kan harus saling tolong menolong. Kemarin dan hari ini aku mungkin tolong kamu, siapa tahu besok justru kamu yang tolong aku."
Kirania langsung menoleh ke arah Yoga. " Kamu butuh bantuan aku apa?" Kirania mengeryitkan keningnya.
" Minta tolong, jangan ditolak kalau aku besok-besok main ke sini lagi." Yoga terkekeh mengucapkan kalimat itu.
" Oh, kirain minta tolong apaan." Kirania memalingkan wajahnya, karena saat itu juga wajahnya terlihat merona.
Sementara itu di tempat lain, Dirga membuka pintu kamarnya dengan sedikit kasar. Apa yang dilihatnya tadi dekat kampusnya seketika membuat mood nya memburuk.
__ADS_1
" Siapa cowok itu? Nggak jelas banget tadi wajahnya." Dirga terlihat uring-uringan saat dia melihat pemandangan di mana Kirania sedang digandeng oleh seorang cowok, dan terlihat olehnya Kirania tidak menolak atau menampakan wajah jutek saat berinteraksi dengan cowok itu. Berbeda jauh dengan sikap Kirania jika berhadapan dengan dirinya.
" Sial, berani-beraninya dia jalan dengan cowok lain!" Dirga melempar backpack nya ke arah meja belajar membuat beberapa barang yang ada di meja itu tercecer bahkan jatuh ke lantai. Setelah itu dia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang seraya mengusap kasar wajahnya.
" Nggak bisa! Nggak ada satu cowok pun yang boleh dekati dia selain gue!" tekad Dirga dalam hati.
***
" Ga, gimana target lu? Gue lihat malah makin jauh, peluang lu bisa luluhkan dia." Arif salah seorang teman Dirga bertanya saat Dirga saat mereka berkumpul di sebuah kafe.
" Nyerah kayanya dia, Rif. Dia malah jalan sama cewek lain, hahaha ..." Ruben ikut menimpali.
" Tenang, Bro. Belum juga jalan dua Minggu. Perjanjiannya 'kan sebulan gue bisa bikin dia bertekuk lutut." Dirga santai menjawab seraya menyesap coffee latte.
" Hampir dua Minggu?" Doni teman Dirga lain tergelak, " Biasanya lu cuma butuh waktu kurang dari satu menit buat bikin cewek bertekuk lutut, nah sekarang? Ngadepin cewek kuper model dia saja rasanya alot banget, Ga." Doni tak menghentikan tawanya.
" Dia ini beda, Bro." sergah Dirga cepat.
" Beda apaan? Sama-sama berlubang, kan?" sindir Doni.
" Beda, Don. Yang ini masih rapat." seloroh Ruben disambut gelak tawa yang lain.
" By the way, selama hampir dua Minggu ini, sudah lu apain saja si kuper itu?" Doni terlihat penasaran.
" Jadi benar belum dia apa-apain itu cewek?" Arif yang memulai pembicaraan kembali ikut bertanya.
" Baru nempel dikit bibir doang, tapi belum sampai gue lu mat, eh kegep warga duluan." Dirga teringat kejadian malam Minggu kemarin.
" Kegep warga? Maksud, lu?" Arif memicingkan matanya.
" Iya waktu pulang kencan kemarin, pas di mobil dia tertidur, gue nggak nahan lihat bibirnya itu. Ingin gue cium saja bawaannya." Dirga kembali menyesap minumannya.
" Dan?" Doni pun terlihat tidak sabar mendengar kisah Dirga selanjutnya.
" Dan gue coba cium dia, tapi keburu gue kegep warga, gue malah dituduh ingin berbuat mesum sama mereka." Perkataan Dirga sontak membuat Doni, Arif juga Ruben tergelak.
" Serius, lu?!"
" Terus apa yang terjadi setelah itu?"
" Tapi memang benar 'kan lu mau berbuat mesum?"
__ADS_1
Mereka bertiga berebut bertanya.
" Iya kita hampir diarak warga. Kebayang, nggak, sih? Seorang Dirgantara keciduk terus diarak massa?" Dirga mengedikkan bahunya. " Gue melakukan lebih dari yang gue lakukan ke dia selama ini aman-aman saja, Nah ini cuma nempel dikit doang sudah mau dihajar warga."
" Apes lu, Ga." Doni mencibir yang kembali disambut tawa yang lainnya.
Tanpa mereka sadari, seseorang tengah memperhatikan mereka berempat dengan ponsel yang merekam aktivitas mereka berbincang. Seringai tipis tercetak di sudut bibir orang itu sebelum akhirnya dia bergegas meninggalkan kafe itu.
Sementara obrolan di dalam kafe antara Dirga dan teman-temannya terus berlanjut.
" Terus apa yang terjadi setelah itu?" tanya Ruben.
" Gue nolak, dong! Eh, gue malah dihajar tiga orang sekaligus."
" Wuuiihhh sadis ...! Benar-benar apes lu, Ga." timpal Doni lagi.
" Terus, terus ...?" tanya Arif kembali.
" Untung ada Prayoga yang kebetulan lewat situ."
" Prayoga? Kaya pernah dengar nama itu," sahut Ruben.
" Prayoga yang menang lomba karya ilmiah kemarin bukan, Ga?" Arif penasaran.
" Iya, dia yang nolongin gue minggu malam kemarin."
" Wah, kalau begitu lu ketemu lawan sepadan, Ga." Arif menepuk pundak Dirga.
" Maksud, lu?" Yoga terlihat bingung menanggapi ucapan Arif.
" Kemarin gue lihat Dia pulang sama cewek itu, agak samar gue lihatnya tapi wajahnya familiar banget, pas tadi lu bilang Prayoga, gue baru ingat kalau cowok yang gue lihat sama cewek itu adalah Prayoga."
*
*
*
Nemenin kalian puasa aku kasih double up RTB ini.
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading 😘