RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Hangout


__ADS_3

Kirania memarkirkan mobil dinasnya di pekarangan rumah. Pandangan matanya terpusat memperhatikan mobil Ayla silver metalic yang terparkir di sana. Kirania tahu siapa pemilik mobil itu. Dia adalah Zidan, kekasih dari adiknya, Karina.


" Assalamualaikum ..." Kirania memberikan salam.


" Waalaikumsalam." Zidan yang sedang duduk di ruang tamu menyahuti salam Kirania. " Baru pulang, Teh?"


" Iya, Dan." Kirania menyahuti. " Karina nya mana?"


" Sedang ganti baju, Teh."


" Kalian mau pergi?"


" Karina minta nonton, Teh. Besok pagi 'kan aku pulang ke Bandung, jadi ngajak nonton malam ini. Seperti biasa, weekend 'kan jatah absen ketemu keluarga di Bandung, Teh." Zidan menerangkan seraya terkekeh. Zidan memang orang Bandung yang bekerja di Cirebon, jadi setiap hari Sabtu - Minggu selalu meluangkan waktu pulang ke rumah orang tuanya di Bandung.


" Oh, ya sudah ... Teteh masuk dulu, ya." Kirania langsung melangkah menuju ruang tidurnya.


Kirania menaruh tas kerjanya di atas nakas. Dia melepas blazer dan menaruhnya di tepi tempat tidur. Seraya membuka beberapa kancing kemejanya bagian atas dia berjalan ke arah sofa dan mendudukkan tubuhnya di sana.


" Sudah pulang rupanya." Tiba-tiba terdengar suara Mama Saras dari arah pintu kamar tidurnya yang memang tak tertutup rapat.


" Iya, Ma." Kirania menyahuti.


" Kamu mau makan sekarang? Mau Mama hangatkan lauknya?" tanya Mama Saras.


" Nggak usah, Ma. Nanti aku mau keluar sama teman-teman kantor," jawab Kirania.


" Teman kantor pada ajak Rania kumpul di cafe, Ma. Kebetulan tadi pada dapat bonus," lanjut Kirania menerangkan.


" Anak muda selalu begitu. Kalau dapat rejeki ingatnya bersenang-senang." Mama menggelengkan kepala. " Kamu kebagian juga bonusnya?"


" Dapat dong, Ma. Aku dapat satu juta lima ratus ribu, yang lima ratus tadi aku sumbang ke panti. Sisanya buat Mama saja, deh." Kirania hendak bangkit tapi tangan Mama Saras mencekalnya.


" Nggak usah, itu hak kamu. Pakai saja untuk keperluanmu," ucap Mama Saras. " Yang penting kamu nggak lupa berbagi sama orang yang membutuhkan." Tangan Mama Saras terulur membelai kepala Kirania.


" Tentu saja Rania nggak akan lupa, Ma. Kan sejak kecil Mama sama papa selalu mengajarkan untuk berbagi kepada orang yang kurang beruntung nasibnya dari kita." Mama Saras tersenyum mendengar jawaban Kirania.


" Oh ya, Ma. Perusahaan berniat mempromosikan aku ke kantor pusat di Jakarta. Seandainya aku terpilih, artinya Rania akan tinggal di Jakarta," lanjut Kirania.


" Maksudnya?" Mama Saras nampak kurang memahami perkataan Kirania.


" Gini lho, Ma. Tiap tiga tahun sekali kantor pusat di Jakarta cari karyawan dari cabang daerah untuk mengembangkan karirnya dengan bekerja di kantor pusat di Jakarta." Kirania kembali menerangkan.


" Mengembangkan karir? Naik pangkat gitu?"


Kirania terkekeh. " Ya mirip-mirip gitu, deh. Kalau karir kita meningkat semakin tinggi, otomatis gaji yang kita terima pasti akan bertambah juga jumlahnya."


Mama Saras terdiam sesaat menatap wajah anaknya begitu lekat. " Kamu ingin mengejar karir, Ran?"


" Kalau ada kesempatan, kenapa tidak?"

__ADS_1


" Lalu kapan kamu akan memutuskan berumah tangga?"


Deg


Kirania langsung menoleh ke arah Mama Saras yang sedang menatapnya.


" Usia kamu sudah dua puluh tujuh tahun, Ran. Itu usia yang matang untuk kamu berumah tangga. Tapi sampai sekarang tak pernah ada tanda-tandanya kamu akan berumah tangga. Bahkan dekat dengan pria pun kamu nggak pernah."


Kirania menelan salivanya, perkataan Mama Saras seketika membuat hatinya gusar. Memang sejak putus dengan Dirga beberapa tahun silam, Kirania seperti benar-benar menutup diri untuk semua pria yang berusaha mendekatinya. Tiap kali dia berpikir untuk menjalin hubungan, saat itu juga bayangan Dirga selalu muncul memenuhi otak dan hatinya.


" Mama ini semakin tua, Ran. Mama ingin melihat kamu bahagia, melihat kamu menikah dan punya anak."


" Ma, kalau sudah waktunya juga nanti Rania akan menikah, tapi tidak sekarang ini," sergah Kirania.


" Tapi Mama juga ingin cepat-cepat punya cucu, Ran."


Kirania memandang mamanya sesaat kemudian beranjak ke arah jendela kamarnya.


" Mama bisa minta itu sama Karina. Hubungan dia dengan Zidan 'kan sudah serius." Kirania membalas perkataan mamanya.


" Karina tidak mungkin menikah sebelum kamu dulu yang menikah, Ran."


" Lantas kalau aku nggak nikah-nikah, dia mau nunggu aku terus, gitu?!" Kirania sedikit meninggikan suaranya.


Mama Saras terdiam, ini pertama kalinya Kirania berbicara dengan intonasi sedikit agak menyentak, membuat air muka wanita paruh baya itu terlihat nelangsa. Kirania yang menyadari kesalahannya langsung menghampiri Mama Saras dan memeluk tubuh mamanya.


" Maafkan Rania, Ma. Rania nggak bermaksud berkata kasar sama Mama. Maafkan Rania, Ma." Kirania langsung terisak karena sangat merasa bersalah.


Entah di mana? Dirimu berada ...


Hampa terasa, hidupku tanpa dirimu ...


Apakah di sana, selalu rindukan aku ...


Seperti diriku, yang selalu merindukanmu ...


Selalu merindukanmu ...


Sayup-sayup terdengar lagu Hampa dari arah rumah sebelah karena jendela kamar Kirania yang terbuka. Membuat hati Kirania semakin terasa seperti diremas-remas dan kembali membuat air matanya jatuh menetes.


***


Sekitar jam delapan Kirania sampai di cafe yang dijadikan tempat dia dan anak buahnya berkumpul. Dia memilih menjalankan sholat isya terlebih dahulu, agar jika pulang nanti dia tidak diburu-buru waktu.


" Akhirnya datang juga, aku pikir Ibu berubah pikiran." Sambut Widya.


" Ibu mau makan apa? Kita sudah pesankan chicken steak sama beef steak, french fries. Kalau Mas Arnan pesan lasagna, minumnya orange juice. Ibu mau tambah pesan apa?" tanya Fifi kemudian.


" Menunya nggak ada yang cocok sama lidah lokal? Nasi rames gitu?" Kirania terkekeh membuat semua tergelak.

__ADS_1


" Ah, Ibu bisa saja ..." celetuk Widya lagi.


" Aku ikut kalian saja, tapi minumnya air mineral," sambung Kirania.


" Always, air mineral tak pernah lupa ya, Bu? Pantas kulitnya jernih sejernih air mineral." Widya berseloroh.


Mereka berempat pun akhirnya menikmati acara hangout bareng di cafe itu sambil diiringi alunan beberapa tembang dari home band cafe di sana.


" Kamu mesti sering-sering kumpul bareng sama kita gini, Ran. Biar tim kita makin solid," kelakar Hendra disela-sela mereka menyantap makanan.


" Apa hubungannya kumpul gini sama bikin kerjaan makin solid? Ngaco, lu." Arnan menyahuti.


" Mas Arnan nggak kompak, deh. Maksudnya Mas Hendra itu modus biar Mbak Rania sering ikut kita kumpul, gitu, lho." Fifi mencibir satu rekannya yang tidak memahami maksud dari perkataan Hendra tadi. Membuat Arnan cengengesan.


Sementara Kirania hanya terdiam sembari mengembangkan senyumannya menanggapi kelakuan empat orang yang notabene adalah bawahannya di tempat kerja.


" Selamat malam para pengunjung Cafe, selamat menikmati menu-menu spesial favorit kalian sambil ditemani alunan lagu-lagu romantis yang membuat suasana malam ini semakin manis, seperti penyanyinya, hehehe ..." suara penyanyi dari home band cafe itu terdengar membuat beberapa pengunjung cafe terkekeh mendengar ucapan vocalis itu.


Tak berapa lama beberapa lagu pun meluncur dari mulut penyanyi yang terdengar memang sangat merdu suaranya.


Hidupku tanpa cintamu ...


Bagai malam tanpa bintang ...


Cintaku tanpa sambutmu ...


Bagai panas tanpa hujan ...


Deg


Kirania langsung menghentikan kunyahannya dan langsung menelan potongan daging hingga membuat dia tersedak saat tiba-tiba home band cafe itu menyanyikan lagu Dewa 19 itu


Simpan mawar yang kuberi ...


Mungkin wanginya mengilhami ...


Sudikah dirimu untuk, kenali aku dulu ...


Sebelum kau ludahi aku ...


Sebelum kau robek hatiku ...


Bersambung ...


...Happy Ied Mubarak...


...Minal Aidin Wal Faidzin...


...🙏🙏...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2