RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Tuan, Apa Yang Anda Lakukan? Lepaskan!


__ADS_3

Assalamualaikum wr. wb


Teruntuk Readers pengemar novel²ku, terima kasih atas dukungan kalian selama ini atas karya²ku baik yang sudah tamat maupun yang masih on going.


Alhamdulillah untuk yg RTB ini sudah naik jadi level 9, sedangkan yg MSI level 10. Semua ini ga akan bisa terwujud tanpa dukungan readers semua, baik yang favorit, yg kasih like, komen, vote dan gift.


Makanya selama ini aku selalu minta dukungan like dan komentarnya di setiap bab, karena itu salah satu yang sangat mendukung naiknya level suatu karya. Jadi sebagai Othor pun semakin semangat karena apresiasi yang kalian berikan kepada karya² Othor. Sekali lagi terima kasih yang sebanyak²nya atas dukungannya selama ini, baik Readers lama, maupun reades baru yg masih ngos-ngosan marathon😁


Yang belum mampir ke kisahnya Tata&Yoga di Mengejar Suami Impian ditunggu kehadirannya di sana. Dijamin kisahnya ga kalah seru dan lebih uwu dengan keharmonisan pasangan yang seru abis Natasha & Prayoga 🙏


Wassalamuaikum wr.wb


REZ Zha❤️




_________________________________


Kirania berjalan menuruni anak tangga. Dia berniat akan ke dapur untuk menemui ART yang bertugas di villa ini. Tapi pandangannya bertumpu pada sosok pria si penculik yang terlihat sedang serius dengan laptopnya di sofa ruangan tengah villa.


" Bade kamana, Neng?"


Kirania terkesiap sampai memegangi dadanya, karena saking asyiknya memperhatikan pria tadi sampai tidak menyadari ada ibu ART di samping tangga. Dan tentu saja suara ibu ART langsung membuat pria itu menoleh ke arahnya.


" Hmmm, S-saya mau ke dapur, Bu." Kirania buru-buru ke arah dapur. Tapi sesampainya di dapur dia malah kebingungan karena tujuannya adalah menemui Ibu ART tadi yang kini sepertinya sedang meladeni pria penculik itu.


" Cari apa, Neng?" Suara ibu itu kembali terdengar saat Kirania terlihat bingung mondar-mandir sendiri.


" Ibu punya obat sakit kepala? Kepala saya agak sedikit pusing." Kirania memijat pelipisnya.


" Oh, obat ada di ruang tengah, Neng. Mari saya ambilkan." Ibu ART meminta Kirania mengikutinya ke ruang tengah di mana pria penculik berada.


" Ini tinggal pilih, Neng biasanya cocoknya pakai yang mana?" Ibu ART menunjuk kotak yang tertempel di dinding yang berisi beberapa macam obat-obatan.


" Terima kasih, Bu." Kirania kemudian mengambil salah satu obat sakit kepala yang begitu familiar merk-nya di pasaran.


Setelah menerima obat itu Kirania berniat kembali ke kamar, namun suara pria penculik menahan langkahnya.


" Apa kamu tidak bosan di kamar terus?"


Kirania langsung melirik kesal pada pria penculik sambil berkata dengan ketus, " Bosan, sangat bosan! Karena itu tolong lepaskan saya!"


Pria yang sampai saat ini tidak diketahui namanya itu mematikan dan menutup laptopnya. Tak lama kemudian dia bangkit berjalan menghampiri posisi Kirania berdiri.


" Saya pasti akan melepaskan kamu jika sudah waktunya." Seraya tersenyum pria itu berucap.


" Tapi kapan? Saya ingin bertemu keluarga saya, orang tua saya, tunangan saya."

__ADS_1


" Apa kamu merindukan tunanganmu itu?"


Deg


Pertanyaan pria penculik begitu menohok, karena sejujurnya Kirania memang sama sekali tidak merindukan kehadiran tunangannya itu.


" I-iya tentu saja." Kirania berdusta.


" Apa kau juga mencintai dia?"


Kirania menelan salivanya saat pria itu kembali bertanya atau lebih tepatnya mengintrogasi dirinya.


" T-tentu saja." Kirania membuang muka tak menatap ke arah pria penculik.


" Yakin kau mencintainya?"


" Maaf Tuan, saya tidak berkewajiban menjawab pertanyaan Anda itu." Kirania berucap malas


" Apa itu artinya kamu tidak berani jujur mengatakan yang sebenarnya?"


Kirania yang merasa pria itu terus mengintimidasinya dengan pertanyaan-pertanyaan memilih untuk segera meninggalkan pria itu.


" Saya mau ke kamar." Kirania berjalan meninggalkan pria penculik menuju anak tangga.


" Besok saya akan pergi."


" Jika keluargamu tidak juga menemukan tempat ini, maka kamu selamanya akan tinggal di sini."


Perkataan pria penculik kali ini tentu saja menyita perhatian Kirania, bahkan membuat wanita itu memutar tubuhnya dan berjalan kembali mendekati pria itu.


" Apa maksud Tuan? Saya selamanya di sini?" Kirania menggelengkan kepala. " Tidak! Saya tidak mau! Tuan tolong bebaskan saya!" Kirania mengguncang lengan pria penculik dengan air mata yang tentu saja tanpa permisi berjatuhan di pipinya.


" Kembalilah ke kamarmu!" perintah pria penculik.


" Saya mau pulang, tolong bebaskan saya!" pekik Kirania terus berderai air mata, dia tidak bisa membayangkan jika selamanya berada di tempat yang tidak diketahuinya itu.


" Tidurlah, sudah malam." Pria itu melepaskan tangan Kirania yang mencengkramnya, lalu melangkah mengambil laptop dan berjalan memasuki kamar di samping ruang tengah itu. Membuat Kirania kembali tersedu dengan kedua tangan menutupi wajahnya.


***


Dirga menarik nafas lega saat Hakim baru saja mengesahkan perceraiannya dengan Nadia. Dia lalu bangkit dan berjalan menghampiri wanita yang dulu pernah menjadi kekasihnya itu. Dirga mengulurkan tangan ke arah Nadia bukan untuk bersalaman tapi untuk meminta Nadia berdiri.


Nadia yang awalnya tercenung sedikit terkesiap saat tangan Dirga terulur. Dia menaikan pandangannya dan ditatapnya wajah pria yang sangat dicintainya itu sejak SMA. Dengan berpegangan pada tangan Dirga, Nadia pun bangkit.


" Aku harap kebahagiaan akan segera datang menyertaimu, Nadia," ucap Dirga masih menggenggam tangan Nadia.


Nadia menganggukkan kepala perlahan dengan genangan air mata yang siap tumpah di pipinya.


" Kau wanita yang baik, akan ada pria baik untukmu kelak." Dirga membelai kepala Nadia membuat air mata jatuh tak tertahankan.

__ADS_1


" Jangan menangis, berhentilah mengeluarkan air mata untuk kesedihanmu." Dirga menghapus air mata yang terus mengalir di pipi wanita cantik itu.


" Aku harap besok dan seterusnya jika kau mengeluarkan air mata, itu karena air mata kebahagiaanmu, Nadia. Kau pasti akan bahagia setelah ini, percayalah."


Perkataan Dirga sontak membuat Nadia semakin terisak, dia pun langsung berhambur memeluk tubuh Dirga dan menangis di dada pria yang sekarang telah berstatus mantan suaminya itu.


Dirga mencoba menenangkan Nadia seraya mengelus punggung dan kepala wanita itu.


" Aku pergi lebih dulu, ada urusan yang mesti aku urus." ucap Dirga setelah Nadia mulai agak tenang. " Do, temani Nadia dulu, aku mesti ke luar kota. " Dirga menepuk pundak Edward, memintanya untuk menjaga Nadia yang sudah pasti masih merasa sedih.


" Oke ..." sahut Edo singkat.


" Aku pergi ya, Nadia," pamit Dirga pada Nadia yang diangguki oleh wanita itu.


" Selamat atas hari kebebasanmu, Nadia," seloroh Edward saat Dirga sudah menghilang dari hadapan mereka.


Nadia mendelik malas meladeni candaan Edward.


" Kau mau ke mana sekarang? Pulang? Ke salon? Ke mall? Aku siap mengantar mantan Nyonya Dirgantara ke mana pun kau akan pergi." Edward terkekeh meledek Nadia, membuat wanita itu memberengut kesal kemudian beranjak meninggalkan Edward yang tak lama kemudian menyusulnya dengan tawa masih tak lepas terdengar dari mulutnya.


***


Kirania termenung berdiri di tepi balkon kamar yang ditempatinya, matanya nanar menatap hamparan birunya air laut di hadapannya. Dia merenungi nasibnya yang entah akan seperti apa esok hari karena dia masih saja terkurung di sini, bahkan untuk keluar bangunan villa saja dia tak diijinkan.


Kirania mendengar suara pintu kamarnya dibuka, suara langkah kaki pun samar tertangkap oleh pendengaran. Kirania sama sekali tak berminat menoleh untuk mengetahui siapa yang datang karena dia menduga jika bukan Ibu ART pasti pria yang menculiknya itu. Dia masih kesal karena pria penculik tak juga memberikan keterangan di mana dia berada sekarang bahkan mengatakan akan meninggalkan dia selamanya di tempat terasing ini. Tapi lamunan Kirania buyar seketika saat sebuah tangan kokoh melingkar di pinggang nya membuat dia tersentak.


" Tu-Tuan, apa yang Anda lakukan? Lepaskan!" Kirania menggeliat mencoba melepaskan dirinya dari pelukan pria yang memeluknya dan spontan menoleh ke arah belakang. Kirania membulatkan matanya hingga membuat mulutnya terbuka bahkan darahnya terasa berdesir hebat saat dia mendapati wajah yang sedang bertopang dagu di pundaknya dengan mata terpejam. Bukan wajah pria yang menculiknya yang dia dapati saat ini tapi wajah orang yang setiap saat mengusik hatinya.


" Ka-kamu ..."


Kirania memandang wajah pria yang masih saja memejamkan mata tak menatapnya seolah sedang menikmati suasana syahdu seperti ini.


*


*


*


Bersambung ...


Reader 1 : Hadeuh gantung deui ... gantung again ...


Reader 2 : Nih pasti halu nih si Rania, Udah 3x dong dikerjain Othor gendeng, ogah banget ketipu lagi. Nehi, nehi ...


Othor : Jangan lupa like & komennya yeee kesayangan² Abang😘😁😁😁


Kemarin aku up extra part MSI, ada papanya baby Fa muncul tuh di sana, buruan tengokin


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2