
Setelah mendapatkan kabar jika Kirania kembali ke kampung halamannya, dengan segera Dirga melajukan motornya menuju stasiun kereta api Gambir. Dia mencari jadwal keberangkatan terdekat yang memungkinkan dia bisa cepat sampai ke kota Kirania. Dan akhirnya dia mendapatkan tiket kereta api Argojati yang akan berangkat pukul sembilan pagi, tepat kurang sepuluh menit dari jadwal keberangkatan kereta api.
Sekitar tiga jam waktu yang ditempuh Dirga untuk sampai ke Cirebon, Pukul dua belas, dia menginjakkan kaki di stasiun Kejaksan. Ini kali pertama Dirga menginjakkan kaki di kota berjuluk Kota Udang tersebut. Dengan berbekal alamat Kirania yang terekam di ponselnya juga mengunakan aplikasi waze, dia mencoba mencari alamat tujuan.
Disambut dengan teriknya matahari kota Cirebon, Dirga melangkahkan kaki keluar dari stasiun kereta api. Dia mendapati beberapa taksi argo dan abang becak yang menawarinya tumpangan. Dirga memilih menggunakan taksi argo untuk menuju ke rumah Kirania yang ternyata tidak terlalu jauh dari stasiun kereta kota Cirebon itu.
Dirga berhenti di depan rumah dengan halaman yang cukup asri dengan banyaknya tanaman yang ada di pekarangan itu. Tapi rumah Kirania tampak sepi, gerbangnya pun terkunci. Dia sempat berpikir, mungkinkah dia salah alamat? Jika Kirania pulang ke Cirebon mestinya wanita itu ada di sini, pikirnya. Saat tiba-tiba ada abang becak yang terlihat mangkal di dekat rumah Kirania berteriak kepadanya.
" Kalau jam segini, Bu Saras biasanya ada di pasar, Mas."
Mendapatkan informasi tentang keberadaan tentang Kirania, Dirga langsung mendekati
abang becak tersebut.
" Di pasar, Bang?"
" Iya, jam segini masih jualan di pasar, biasanya lewat Ashar baru pulang, Mas."
Ibaratnya iseng-iseng berhadiah, Dirga mencoba menanyakan kepada abang becak itu di mana letak pasar tempat berjualan orang tua Kirania, syukur-syukur abang becak itu tahu letaknya dan bersedia mengantar dirinya ke sana. Kalaupun abang becak itu tidak tahu, biarlah dia menunggu sampai keluarga Kirania pulang dari pasar.
Mungkin dewi keberuntungan masih berpihak kepada Dirga, karena abang becak itu bersedia mengantarnya apalagi saat dia mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan, membuat si abang becak semangat mengantarkan dirinya ke tempat orang tua Kirania berjualan.
Akhirnya menggunakan becak Dirga menuju ke pasar, untuk Dirga yang terbiasa tinggal di Jakarta, cuaca kota Cirebon yang terik tidaklah jauh berbeda dengan kota tempat tinggalnya. Mungkin lalu lintas yang normal dan tidak terlalu macet yang membedakannya. Sekitar dua puluh menit waktu yang dihabiskan Dirga untuk sampai ke pasar. Abang becaknya pun mengantarkan Dirga ke arah toko kelontong milik orang tua Kirania.
Dirga melihat ada beberapa pembeli yang berjejer menyamping menunggu giliran dilayani. Dia memilih berdiri berjarak tiga meter dari toko tersebut. Dirga mengedar pandangan ke dalam toko, ada tiga orang orang di sana. Satu orang wanita paruh baya yang mengunakan kaca mata terlihat menghitung dengan kalkulator. Dan dua orang wanita dan pria yang terlihat sibuk melayani. Selama lebih dari sepuluh menit menunggu, bahkan pembeli pun sudah berganti, tapi sosok yang dia cari tak juga terlihat.
Seketika itu juga hati Dirga mendadak gelisah. Apa benar jika Kirania pulang ke kota ini? Atau informasi yang diberikan tetangga Pakde Danang itu palsu. Dan kenapa juga tadi dia tidak sempat menanyakan ke abang becak tentang keberadaan wanita yang sedang dicarinya saat ini. Dan kenapa pula dengan bodohnya dia menyusul kemari, padahal informasi yang didapatnya belum tentu akurat. .
" Sudah sholatnya, Ran?"
Ucapan wanita paruh baya yang Dirga duga adalah mama dari Kirania tiba-tiba melancarkan kembali oksigen yang masuk ke dalam rongga pernafasannya.
" Sudah, Ma."
Apalagi saat terdengar suara lembut yang menyahuti ditambah lagi kemunculan pemilik suara yang saat itu terlihat sedang mengikat rambutnya terasa begitu menyejukkan hatinya, membuat Dirga tidak tahan untuk tidak mengembangkan senyumannya.
Dirga lalu memperhatikan saat Kirania terlihat melayani pembeli dengan cekatan, membuatnya akhirnya mendekat saat pembeli di depan warung itu tersisa hanya dua orang. Dan kedatangan Dirga langsung disambut dengan baik layaknya seorang pelanggan oleh Mama Kirania itu.
__ADS_1
" Cari apa, Mas?" tanya Mama Saras ramah.
Tanpa mengalihkan pandangan dari wanita yang terlihat sibuk mengisi beras di dalam plastik Dirga pun lalu menjawab.
" Saya cari anak ibu ...."
Dirga bisa melihat perubahan gestur tubuh dari Kirania saat mendengar suaranya. Terlihat olehnya seketika itu juga Kirania menghentikan aktivitasnya memasukan beras ke dalam plastik. Tak lama kemudian wanita itu menoleh ke arahnya, dan ekspresi terkejut terlihat di wajah Kirania dengan mata indahnya yang membulat sempurna, membuatnya kembali mengembangkan senyumannya.
Mama Saras yang terheran mendapatkan jawaban dari pria di depannya langsung mengikuti arah pandang dari pria itu, yang kini bertumpu pada anak gadisnya yang juga saat ini terlihat terkesiap akan kehadiran Dirga.
" Hmmm, kamu temannya Kirania?" tanya Mama Saras kemudian.
Dirga yang menyadari dia mengacuhkan keberadaan mama dari Kirania langsung menoleh ke arah Mama Saras.
" Oh, iya, Tante. Perkenalkan saya Dirgantara teman sekampus Kirania." Dirga menyalami dan mencium punggung tangan Mama Saras membuat Mama Saras menautkan alisnya.
" Oh, ada teman satu kampus yang sekota, ya, Ran?" tanya Mama Saras lagi.
" Nggak, Tante. Saya bukan asli sini. Saya sengaja kemari menyusul Kirania, karena dua hari ini dia nggak masuk kuliah tanpa ijin. Saya khawatir dia kenapa-napa." Dirga menyahuti, membuat Kirania mendelik kesal kepadanya.
" Lho, kamu bilang cuti, tapi kok nggak ijin ke pihak kampus, Ran?" selidik Mama Saras heran.
" Ya sudah, sana kamu temani teman kamu ini. Di sini ada Atika sama Dwi yang bantu Mama."
" Tapi, Ma ..." Kirania mencoba protes tapi Mama Saras tidak memperdulikannya, malah terus mendorongnya untuk menemani Dirga.
" Mau ngapain kamu ke sini?!" Kirania melipat tangan di dadanya dan dengan sorot mata tajam seolah ingin mengintimidasi Dirga saat mereka keluar dari area pasar.
" Mau ketemu kamulah, sekalian kenalan sama calon mama mertua." Dirga terkekeh.
Kirania mendengus kesal. " Mau kamu apa, sih, sebenarnya?!"
" Mau aku itu ya kamu. Kamu pergi nggak pakai bilang-bilang. Aku takut kamu di sini ketemu cowok lain, terus selingkuh. Di Jakarta yang jelas-jelas dekat aku, kamu berani selingkuh dengan Prayoga apalagi kalau kamu jauh, aku 'kan nggak bisa tahu."
" Jangan sembarang bicara, ya! Kita nggak ada hubungan apa-apa!!" Kirania menampik.
" Ya sudah, sekalian saja kita tegaskan kalau kita ini sekarang ada hubungan." Dirga menyeringai.
__ADS_1
" Tahu dari mana aku di sini?" masih dengan emosi Kirania menanyakan darimana Dirga mendapatkan alamatnya. Apakah dari bude dan pakdenya? Rasanya itu tidak mungkin. Atau dari kedua sahabatnya? Tapi sahabatnya itu kini terang-terangan melarangnya mendekati Dirga. Lalu dari mana?
" Aku dapat info dari tetangga bude kamu kalau kamu pulang ke sini." Jawaban Dirga membuat Kirania mengeryitkan keningnya, dia ingat sempat mendengar sempat bicara pada tetangganya jika dia akan ke Cirebon, tapi tetangga budenya itu tidak tahu alamat rumah dirinya. " Terus tadi aku ke sini dikasih tahu abang becak yang mangkal dekat rumah kamu."
" Kamu dapat alamat aku dari mana?"
" Dari kamu, dong." Dirga kembali menyeringai.
" Nggak mungkin! Aku nggak pernah kasih alamat aku ke kamu!" sanggah Kirania semakin dibuat kesal oleh tingkah Dirga.
" Kamu memang nggak pernah kasih tahu aku, tapi kamu pernah kasih tahu customer service di sini, kan? Aku save semuanya, dari alamat, tempat tanggal lahir, nomer handphone sampai nama mama kamu juga aku tahu " Dirga menggoyangkan ponselnya di tangan seolah meledek atas kecerobohan Kirania yang tanpa sadar memberikan informasi secara tidak langsung kepada Dirga.
Kirania yang merasa kekesalannya semakin membuncah apalagi melihat senyum kemenangan di wajah pria itu, tanpa pikir panjang langsung merampas ponsel di tangan Dirga, dan dengan kesal dia membantingnya ke jalan beraspal, dengan cepat juga dia menginjak-injak ponsel milik Dirga.
" Astaga, itu ponsel mahal, Ran!" seru Dirga yang tidak menyangka jika Kirania akan bertindak sebar-bar itu.
" Bodo amat ...!!!" geram Kirania kemudian berjalan cepat meninggalkan Dirga dengan air mata yang mulai menetes di pipinya karena menahan kesal tehadap pria yang sebenarnya kalau bisa, tidak ingin dia jumpai lagi seumur hidupnya.
*
*
*
Bersambung ...
Kalau banyak yang like & komen aku kasih double up deh.
Yang diinginkan Author manapun adalah Like, Komen, gift dan vote yg banyak.
Kalo untuk aku pribadi, Aku ga terlalu berharap diberi Vote, krn aku tau reader di sini udah punya jatah vote novel favorit masing², untuk gift jg aku sih seikhlasnya aja. Aku cuma ngarepnya banyak yang like & komentar aja yg ga terlalu muluk² 😁😁 Jadi bisa ya aku berharap sumbangan like juga komen di bulan yang mulia ini dari reader tercinta❤️ Karena 1 like dan 1 komentar itu sangat berharga untuk Author apalagi amatiran sepertiku buat meningkatkan jumlah viewer tah apa gitulah, pokoknya mah rajin kasih like rajin kasih komentar biar otornya juga rajin nulis alhasil rajin up 😁😁
Terima kasih yang selama ini sudah banyak mendukung🙏 semoga kebaikan para reader dibalas oleh Allah SWT, Aamiin🤲
Visual Dirga & Kirania
__ADS_1
Happy Reading❤️