
" Ayo, Sayang ... buruan." Dirga menarik tangan Kirania, memintanya untuk mengikutinya.
" Sabar, Abang. Abang mau bawa aku ke mana?" Kirania bingung saat suaminya itu terus saja menggenggam tangannya dan membawanya pergi ke arah rooftop apartemen.
" Happy Anniversary ..." ucap Dirga sesampainya mereka di rooftop.
Kirania terkesiap saat mendapati suasana resto di rooftop itu nampak sepi dari pengunjung, hanya ada dua orang yang memegang violin dan melantunkan lagu Beautiful Girl juga satu meja yang memang disiapkan untuk candle light dinner dan satu buket mawar putih yang sudah Dirga siapkan.
" Kita sedang merayakan Anniversary apa, Abang?" Kirania merasa heran, karena ulang tahun pernikahan mereka masih dua bulan lagi.
" Memangnya kamu lupa, ini anniversary apa?" Dirga langsung merengkuh pinggang Kirania dari belakang.
" Apa?" Kirania menoleh suaminya yang sedang menopang dagu di pundaknya.
" Kamu lupa kalau tanggal ini pertama kali kita berpacaran," bisik Dirga
Kirania membelalakkan matanya, dia bahkan tidak pernah mengingat tanggal pertama kali memulai hubungan dengan suaminya itu. Biasanya pria itu jarang mengingat hal-hal seperti itu apalagi dengan kesibukan Dirga sebagai pemimpin perusahaan besar, Kirania benar-benar tidak percaya Dirga bisa mengingat itu.
" A-abang ingat tanggalnya?" Kirania masih benar-benar tidak mempercayainya.
" Tentu saja, Sayang. Tidak mungkin aku akan melupakan hari itu. Hari di mana aku memaksa kamu untuk menjadi pacar aku." Dirga terkekeh mengingat bagaimana nekatnya dia mendekati Kirania dulu.
" Dengan kesepakatan satu bulan itu, kan?" Kirania mencebikkan bibirnya.
" Sekarang kamu percaya, kan? Kalau aku itu benar-benar ingin serius sama kamu, hmm ..." Dirga mengecup lembut pipi Kirania.
" Aku senang akhirnya kita bisa bertemu kembali. Aku rasa sebaiknya aku beri bonus kepada pimpinan kamu di cabang Cirebon karena usul mereka kamu bisa dikirim ke pusat dan bertemu denganku kembali," ucap Dirga sembari menarik kursi dan mempersilahkan istrinya itu duduk.
" Abang ingin memberi bonus ke Ibu Rose sama Pak Harun?" tanya Kirania tidak percaya jika suaminya punya ide itu.
" Mereka itu mantan pimpinan kamu di sana?"
" Iya."
" Ya sudah, nanti aku beri mereka bonus."
" Abang serius?"
" Tentu saja, Sayang." Dirga membelai wajah Kirania. " Karena bantuan mereka akhirnya aku temukan kembali mutiaraku yang hilang dulu." Dirga kemudian mengecup jemari Kirania dengan penuh kelembutan
***
__ADS_1
" Assalamualaikum ..." sapa Kirania saat memasuki ruang devisi marketing Angkasa Raya Cabang Cirebon.
" Mbak Rania ..." pekik Fifi saat melihat kehadiran Kirania di ruangan itu. " Ya Allah, pangling banget, deh. Makin cantik sekarang." Fifi mengagumi penampilan Kirania yang kini telah memantapkan hati untuk menutup auratnya
" Bu Rania, Widya kangen." Kini giliran Widya yang berseru seraya memeluk tubuh mantan atasannya itu.
" Hei, hei, hei ... sembarangan pada peluk-peluk. Apa kalian lupa sekarang kalian sedang berhadapan dengan siapa?" Arnan yang ikut terlihat kaget saat melihat kehadiran Kirania pun ikut berkomentar.
" Beliau ini sekarang Ibu bos besar, lho. Istri dari pemilik Angkasa Raya Group," lanjutnya kemudian.
" Biasa saja, Mas. Saya masih tetap Kirania yang dulu, kok." Kirania merendah.
" Beda, dong. Sudah jadi istri bos, panggilnya juga sudah beda, dong. Kita panggilnya apa, nih? Ibu Bos?" tanya Arnan.
" Panggil seperti biasa saja, Mas." Kirania kemudian mendudukkan bo*kong nya di tepi meja.
" Oh ya, siapa SPV Marketing sekarang?" tanya Kirania kemudian.
" Tuh ...!" Widya menunjuk ke arah Arnan.
" Oh, Mas Arnan yang sekarang memimpin? Selamat ya, Mas." Kirania mengulurkan tangan ke arah Arnan.
" Untuk apa kau pegang tangan dia?"
Beberapa menit sebelumnya ...
" Selamat siang, Pak Roni." Sapa Kirania saat dia sampai di kantor cabang Angkasa Raya di kota kelahirannya.
" Siang, eh ... Mbak Kirania." Pak Roni yang merupakan security di kantor cabang itu membalas sapaan Kirania.
" Ibu Rose sama Pak Harun ada, Pak?" tanya Kirania kemudian.
" Ada, Mbak. Silahkan ..." Pak Roni mempersilahkan.
" Terima kasih, Pak Roni." Kirania kemudian melangkah mengiringi Dirga yang baru selesai memarkirkan mobilnya.
" Siang, Mbak Santi ..." sapa Kirania setiba di depan ruangan ibu Rose.
" Rania? Eh, maaf ... Ibu Rania." Santi, sekretaris Ibu Rose langsung meralat panggilannya karena dia juga tahu jika Kirania telah menjadi istri pemilik perusahaan tempat dia bekerja.
" Bu Rose ada kok, Bu." Santi langsung berdiri dan berjalan ke pintu ruangan Bu Rose. Setelah mengetuk pintu dan memberitahukan kepada bos nya tentang kedatangan Kirania, Santi pun langsung mempersilahkan Kirania dan Dirga masuk ke ruangan Bu Rose.
__ADS_1
" Assalamualaikum, Bu ..." Tak lupa Kirania memberikan salam menyapa mantan bos nya itu.
" Waalaikumsalam ... Pak Dirgantara, Ibu Rania ?" Ibu Rose langsung bangkit dan menghampiri Kirania dan Dirgantara.
" Wah, mimpi apa kami kedatangan Tuan dan Nyonya Dirgantara kemari?" Ibu Rose berkata penuh hormat kepada Dirga.
" Bu Rose, apa kabar?" tanya Kirania kepada Ibu Rose seraya memeluk tubuh wanita itu.
" Alhamdullah, Ibu Rania, mari silahkan duduk." Bu Rose mempersilahkan Kirania dan Dirga duduk di sofa.
" Pak Dirgantara dan Ibu tidak memberi kabar terlebih dahulu mau kemari. Suatu kehormatan bagi kami kedatangan langsung pemilik Angkasa Raya Group." Bu Rose bicara dengan formal.
" Iya, kami hanya berniat mampir saja kok, Bu." Kirania menyahuti. " Kebetulan suami saya ini ingin bertemu langsung dengan Bu Rose dan Pak Harun," lanjut Kirania.
" Ada apa memangnya, Pak Dirga? Apa ada masalah dengan kinerja kami, Pak?" Bu Rose nampak serius mendengar apa yang dikatakan Kirania.
" Oh, bukan, Bu. Bukan seperti itu. Suami saya ini ..." Kirania menjeda ucapannya sambil melirik ke arah suaminya yang hanya tersenyum dengan jari tangan yang saling bertautan dengan jarinya.
" Saya ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan Ibu Rose dan Pak Harun karena sudah mempromosikan Rania ke pusat." Dirga menyelesaikan perkataan istrinya.
" Oh masalah itu. Pak Dirga tidak usah berterima kasih kepada kami, karena memang istri Pak Dirga ini memang pantas dipromosikan." Bu Rose menjelaskan.
" Tidak, Bu. Jika Ibu dan Pak Harun tidak mengirim dia ke Jakarta, mungkin saya tidak akan pernah bertemu dengan dia kembali." Dirga mengelus kepala Kirania yang kini tertutup hijab.
" M-maksud Pak Dirga?" Bu Rose nampak kurang paham dengan kata-kata Dirga
" Sebenarnya Rania itu adalah mantan kekasih hati saya yang selama enam tahun lamanya saya rindukan. Dan ternyata kami dipertemukan kembali setelah Ibu Rose dan Pak Harun mempromosikan dia naik ke pusat." Dirga menerangkan tanpa merasa malu mengatakan hal yang sebenarnya.
" Dan karena itulah, sebagai ucapan terima kasih dari kami, kami ingin memberikan reward untuk Bu Rose dan Pak Harun," lanjut Dirga.
" Aduh, tidak usah repot-repot seperti itu, Pak Dirga." Bu Rose merasa apa yang dia lakukan memang sudah selayaknya dia lakukan.
" Tidak apa-apa, Bu Rose. Kami berencana akan memberikan masing-masing satu unit rumah cluster milik Angkasa Raya di kota ini kepada Ibu Rose dan Pak Harun."
Ibu Rose langsung terkesiap dengan mata terbelalak mendengar bonus yang diberikan Bos besarnya kepada dirinya dan Pak Harun.
*
*
*
__ADS_1
Happy Reading❤️