RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Tunggu Tanggal Mainnya


__ADS_3

Karina memutar tubuhnya dan kini berhadapan dengan Gilang. Kalimat berkonotasi ajakan yang diucapkan Gilang ibarat mentari yang terbit setelah musim hujan yang berkepanjangannya.


" Kak Gilang berniat ajak aku?" tanya Karina dengan kalimat yang lugas padahal dalam hatinya dia ingin bersotak kegirangan.


" Kalau kamu tidak keberatan," sahut Gilang.


" Bukannya Kak Gilang sendiri yang selama ini keberatan jika dekat dengan aku?" Ada nada sindirin dalam pertanyaan yang dilontarkan Karina.


Gilang mendesah lalu berucap, " Kalau kamu tidak mau, ya sudah tidak apa-apa ..." lanjut Gilang. Dia yakin jika Karina akan berubah pikirannya dan tidak akan menolak ajakannya.


" Ya sudah, aku juga tidak mau ditraktir orang dengan setengah hati." Karina kembali memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya.


" Aku serius ...!" seru Gilang membuat langkah Karina akhirnya terhenti. Gilang lalu mendekat ke arah Karina berdiri karena Karina sengaja ingin melihat kesungguhan pria itu dengan hanya diam bergeming tak menoleh ke arah Gilang.


" Aku serius ingin mengajakmu makan siang, dan bukan karena terpaksa," ucap Gilang yang kini sudah berdiri seraya menatap lekat wajah Karina yang nampak biasa aja, sama sekali tak terlihat wajah bahagia wanita itu saat mendapat ajakan makan siang darinya.


Sebenarnya tanpa Gilang ketahui, sebenarnya jantung Karina berdebar sangat kencang, hatinya serasa berbunga-bunga saat ini.


" Hmmm, okelah kalau memang Kak Gilang memaksa." Karina menjawab sembari mengedikkan bahunya dan memasang wajah datar walaupun rasanya dia ingin melebarkan senyuman.


***


" Oh ya, soal kejadian di club malam kemarin, gimana kondisi kamu sekarang ini?" tanya Gilang saat mereka berdua ada di restoran fast food yang ada di mall itu.


" Aku baik-baik saja, Kak. Terima kasih atas pertolongan Kak Gilang malam itu." Karina kembali menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pria penolong yang saat ini ada di hadapannya.


" Lalu kenapa kamu bisa ada di sana malam itu?"


Karina menatap Gilang, apakah pria di hadapannya itu tidak menyadari jika pria itulah penyebab hatinya gelisah hingga membuat dirinya terlempar ke tempat hiburan itu.


" A-aku hanya ingin melepas penat." Karina menjawab sekenanya.


" Apa pekerjaanmu begitu membuat kamu terlalu penat?"


" Tidak, Kak. Mana mungkin Kak Dirga memberikan pekerjaan yang berat terhadapku." Karina dengan cepat menampik.


" Apa kamu pindah ke Jakarta ini karena aku?"


" Tidak, kok." Karina menjawab cepat. " Aku justru ke sini karena Kak Dirga yang meminta aku untuk menemani Mbak Rania, biar Mbak Rania nggak jenuh di kantor." Karina menceritakan alasan dia di Jakarta ini. Dia tidak mengatakan jika alasan lain adalah karena Dirga tidak ingin dirinya mengejar Gilang seperti kemarin.


" Kakakmu masih bekerja?" Kening Gilang berkerut saat mendengar penjelasan Karina.


" Mana mungkin Mbak Rania bekerja, Kak Dirga itu memperlakukan Mbak Rania seperti Tuan Putri, pergi ke kantor hanya untuk menemani Kak Dirga saja tanpa boleh menyentuh pekerjaan apapun." Karina menerangkan aktivitas yang dilakukan kakaknya selama menjadi seorang istri Dirgantara.

__ADS_1


Gilang mendengus mendengar bagaimana Dirga memperlakukan Kirania.


" Maaf, Kak. Aku tidak bermaksud menyingung masalah itu." Karina merasa jika Gilang sedikit terpengaruh dengan perkataannya tadi.


" It's oke ...."


" Oh ya, pacar Kak Gilang yang kemarin nggak ikut kemari?" Karina sengaja memancing agar Gilang menceritakan siapa wanita yang pernah diajak Gilang makan siang.


" Pacar?" Gilang menautkan kedua alisnya merasa tak memahami apa yang dimaksud oleh Karina.


" Iya, wanita yang waktu itu pernah ketemu di restoran." Karina mencoba mengingatkan Gilang.


" Oh, dia hanya sekedar teman lamaku." Gilang menjawab.


" Oh ..." Walau hanya kata itu yang keluar dari mulutnya tapi di hatinya tentu saja dia bersorak gembira.


" Aku sering melihat kamu dengan pria yang tadi bersamamu itu. Nampaknya kamu dekat sekali dengan dia."


" Iya, karena aku bekerja dengan Pak Ricky. Tapi antara kami tidak apa-apa. Dia sedang mencari wanita dari masa lalunya." Karina mengibas tangannya ke udara.


" Kamu pulang ke kantor nanti dengan siapa?" Gilang bertanya karena dia sempat mendengar Karina berkata pada orang di telepon akan pulang sendiri.


" Aku nanti pakai taksi online, Kak."


Bola mata Karina membulat saat mendengar jika Gilang ingin mengantarnya pulang ke kantor.


" Emmm, nggak usah, Kak. Aku nggak mau merepotkan Kak Gilang." Karina benar-benar menjalankan strateginya. Dia tidak ingin terlihat terlalu antusias menerima ajakan Gilang.


" Tidak apa-apa, aku juga kebetulan akan pergi ke kantor pusat. Tidak jauh dari kantor kakak iparmu itu."


" Oke, kalau Kak Gilang tidak keberatan." Karina menyunggingkan senyuman manisnya membuat Gilang mengerjapkan matanya. Mungkin selama ini rasa cintanya yang begitu besar terhadap Kirania menutup matanya terhadap wanita lain termasuk Karina. Dan kali ini dia baru menyadari jika adik dari wanita yang pernah dia cintai itu ternyata juga mempunyai daya tarik sendiri. Apalagi secara tak disengaja dirinya pernah melihat kemolekan tubuh wanita di hadapannya saat ini.


***


Kirania memperhatikan Karina yang sedari tadi terlihat senyum-senyum sendiri. Dia sampai menempelkan punggung tangannya ke kening adiknya itu.


" Iiihh ... kenapa Mbak pegang keningku?" tanya Karina menepis tangan kakaknya.


" Mbak yang mestinya bertanya kamu ini kenapa? Dari tadi senyum-senyum sendiri? Kamu jadian dengan Pak Ricky, ya?" Kirania menebak jika adiknya itu sedang kasmaran dengan asisten dari suaminya itu.


" Astaga, kenapa Mbak pikir seperti itu?" Karina dengan cepat menampik dugaan kakaknya itu.


" Soalnya Mbak perhatikan beberapa hari ini Pak Ricky juga terlihat beda." Kirania yang ternyata menyadari perubahan Ricky juga langsung menyambungkan dengan keadaan Karina saat ini.

__ADS_1


" Cieee, Mbak Rania diam-diam memperhatikan Pak Ricky juga, awas lho kalau Kak Dirga tahu, nanti Abang bisa marah sama adik abang tersayang ini." Karina sengaja menggoda kakaknya itu.


" Apaan sih kamu ini." Kirania memukul pelan lengan adiknya itu.


Karina tergelak melihat reaksi kakaknya itu.


" Mbak belum tahu ya kalau Pak Ricky itu sedang mencari wanita dari masa lalunya?"


Kirania mengeryitkan keningnya mendengar ucapan Karina.


" Wanita masa lalu?"


" Lho, memang Kak Dirga nggak pernah cerita sama Mbak Rania tentang masa lalu Pak Ricky?"


" Abang nggak pernah cerita apa-apa tentang Pak Ricky. Tapi Mbak rasa abang juga nggak tahu tentang hal itu. Abang malah ingin menjodohkan kamu dengan Pak Ricky." Kirania mengatakan rencana suaminya itu kepada Karina.


" Apa?? Abang ingin menjodohkan aku dengan Pak Ricky?" Karina terkesiap mengetahui niat kakak iparnya yang ingin menjodohkannya.


" Iya, karena abang tidak ingin kamu terus mengejar Kak Gilang." Kirania jujur mengatakan alasan Dirga ingin menjodohkan Karina dengan Ricky.


" Ya ampun, sampai segitunya Kak Dirga? Kak Dirga takut istrinya dilirik terus sama Kak Gilang kalau aku jadian sama Kak Gilang, ya?" Karina terkekeh.


" Iya tapi mungkin itu lebih baik, Dek. Mbak nggak bisa bayangkan jika kamu jadian dengan Kak Gilang," ucap Kirania.


" Kalau begitu mulai sekarang Mbak harus menyiapkan diri dari sekarang jika Kak Gilang dan Kak Dirga jadi iparan." Karina menyeringai.


" Maksud kamu?" Kirania merasa curiga dengan perkataan adiknya tadi.


" Mbak tunggu saja tanggal mainnya," ucap Karina seraya berlalu dari hadapan Kirania yang dibuat penasaran dengan kata-kata Karina tadi.


***


*


*


*


Bersambung ..


Jangan lupa tinggalkan like & komennya ya, Makasih🙏


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2