
Pagi ini Karina kembali ke Cirebon diantar oleh Adit menggunakan mobil. Dirga sengaja tidak ingin melepas Karina sendirian. Bahkan dia memerintahkan Adit untuk menunggu sampai Karina selesai mengurus rencana resign di tempat kerja Karina sebelumnya sampai Karina kembali lagi ke Jakarta.
Dirga bahkan sudah menghubungi bos dari Karina secara pribadi untuk pengajuan pengunduran diri adik iparnya itu, meskipun dia tidak kenal dengan atasan dari Karina secara langsung. Tapi pengaruh nama besar Angkasa Raya Grup, membuat orang lain tahu siapa dirinya termasuk bos dari Karina tersebut.
" Abang, kapan Abang mau bawa aku berkunjung ke tempat Mama Abang? Sejak menikah Abang nggak pernah membawa aku ke sana. Aku nggak mau Mama Utami menganggap aku sebagai menantu yang nggak tahu diri." Kirania bertanya kepada suaminya karena sejak Dirga membawanya ke Jakarta, suaminya itu tidak pernah mengajaknya menemui ibu mertuanya.
" Kamu ingin bertemu mamaku?" tanya Dirga selesai menandatangani beberapa dokumen.
" Iyalah, aku juga 'kan ingin bisa akrab dengan mama mertuaku."
" Nanti aku telepon mama dulu, mama masih ada di Bali atau sudah ada di Jakarta. Kalau sudah ada di Jakarta, pulang kerja nanti kita mengunjungi mama," ucap Dirga.
Mendengar persetujuan dari Dirga, Kirania langsung berjalan mendekati suaminya lalu duduk di pangkuannya.
Dirga tersenyum mendapati sikap istrinya yang belakangan ini dia lihat sudah mulai memberanikan diri bersikap agresif.
" Kamu sekarang mulai berani ya, goda-goda aku, hmm?" Dirga mulai menciumi ceruk leher istrinya. " Nggak takut lagi kepergok orang?" Dirga terkekeh karena dia ingat istrinya itu sempat protes karena aktivitas bercumbu mereka kemarin diketahui Karina dan Ricky kemarin. Alasannya tentu saja karena Dirga membuat acara pertemuan kedua bibir itu semakin lama dan bergairah padahal Kirania saat itu hanya ingin memberi kecupan singkat.
" Pak Ricky dan Mbak Lisna sedang keluar, kan? Jadi tidak ada yang berani masuk ke sini sebelum mengetuk pintu dan mendapat ijin dari Abang." Kirania melingkarkan tangannya di leher sang suami.
Dirga menyeringai mendengar perkataan Kirania.
" Kalau mereka nggak ada berarti aman, dong. Kita bisa lanjut di kamar?" goda Dirga memainkan kedua alisnya.
" Iisshh ... Abang ini. Sudah lanjutkan kerjaannya." Kirania lalu melepas tangannya yang melingkar di lehernya lalu hendak bangun dari pangkuan suaminya namun Dirga lebih dulu mengangkat tubuh Kirania dan bangkit dari kursi.
" Lanjutkan kerjaannya? Kerjaan selanjutnya adalah mengerjaimu." Dirga langsung membawa Kirania ke dalam kamar istirahat yang ada di ruang kerjanya lalu menguncinya.
" Ya ampun, Abang!" Kirania memekik saat Dirga menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur dan dengan cepat pria itu mengungkung tubuh Kirania. " Abang, istighfar, ini kantor." Kirania mencoba mengingatkan saat tangan Dirga dengan terampil melucuti satu persatu kancing baju yang dipakainya. Karena selama menemani suaminya di kantor, ini adalah pertama kalinya Dirga mengajaknya melakukan hubungan suami di kantor.
" Memangnya kenapa kalau ini kantor? Kantor ini milikku, aku berhak melakukan apa saja yang aku inginkan di sini termasuk melakukan aktivitas *** after lunch siang ini." Dirga dengan cepat menyergap kedua bukit indah sang istri dengan lahap setelah dia berhasil menyingkap baju dan kain penutup bukit itu membuat Kirania hanya sanggup mendesah.
__ADS_1
" Aaaakkhh, Abang ..." Kirania memejamkan mata seraya menggigit bibirnya menahan gemuruh di dadanya karena sentuhan-sentuhan sen*sual yang dilancarkan suaminya itu. " A-abang bagaimana jika nanti ada yang datang?" Kirania masih punya kesadaran untuk menanyakan hal itu saat sang suami kini bermain di area intinya membuat tubuh Kirania sedikit melengkung ke atas karena sentuhan memabukkan penuh kenikmatan yang dia rasakan.
" A-abang ..." desah Kirania dengan parau karena serbuan ga*irah yang diberikan Dirga benar-benar membuatnya hampir meledak.
" Ada apa, Adik Abang tersayang?" Kini Dirga mendekatkan bibirnya ke bibir Kirania, memberikan sentuhan dengan lidah saling membelit sambil melakukan penyatuan untuk menyalurkan kehangatan.
" Uugghh ... Abang." Kirania melenguh saat dia merasakan titik sensitif di bagian dalam intinya sudah tersentuh milik suaminya itu.
" Terus panggil namaku, Sayang. Sebut namaku." Dirga yang melihat sorot mata istrinya sudah dipenuhi kabut ga*irah segera mempercepat gerakannya hingga membuat Kirania menggelinjang saat wanita itu mendapatkan pelepasan terlebih dahulu.
" A-abang ..." lirih Kirania.
" Iya, Sayang. Ouugghh ... kau sungguh luar biasa, Sayang. Tubuhmu adalah candu untukku." Dirga sampai memejamkan matanya merasakan sensasi kenikmatan yang dia rasakan setiap melakukan penyatuan dengan wanita yang dicintainya itu.
" Sssshhh ... Kirania aku mencintaimu, sungguh sangat mencintaimu, Aaarrgghh ..." Dirga mengerang karena dia merasakan sebentar lagi dia juga akan mendapatkan pelepasan.
Tok tok tok
" Dirga, kamu ada di dalam? Dirga??"
" Abang, ada yang datang," ucap Kirania dengan nada tersengal seraya berusaha mendorong tubuh suaminya yang mengungkung tubuhnya.
" Tanggung, Yank ... sebentar lagi." Dirga mempercepat gerakannya di inti sang istri.
" Aaaakkhh, Abang ..." Kirania mendesah kencang.
Tok tok tok
" Dirga buka pintunya, ini Mama."
" Aaarrrgghh ..." Bersamaan dengan suara yang ternyata Mama Utami kembali terdengar, Dirga mengerang karena telah berhasil mencapai pelepasan dan menyiramkan kehangatan ke dalam rahim Kirania.
__ADS_1
Dirga menghempaskan tubuhnya di samping Kirania yang terkulai lemas, sementara suara ketukan pintu dan suara Mama Utami masih saja terdengar.
Kirania mencoba bangkit dari tempat tidur dan meraih bajunya yang tadi disingkirkan oleh suaminya kemudian berjalan masuk ke arah toilet. Sedangkan Dirga kemudian bangkit dan memakai celana dan kemejanya. Lalu berjalan membuka pintu kamarnya.
" Mama?" Dirga terkesiap dengan kedatangan mamanya itu yang dia rasa tidak tepat waktu.
" Kamu sedang apa? Dari tadi Mama ketuk-ketuk pintu nggak dibuka-buka." Mama Utami melirik ke dalam ruangan istirahat Dirga, dia melihat sprei yang terlihat kusut dan posisi bantal guling acak-acakan bahkan ada guling dan selimut yang sampai jatuh ke lantai. Mama Utami pun melihat penampilan Dirga yang terlihat semrawut dengan rambut yang terlihat acak dan kemeja tidak dikancing.
" Kamu sedang melakukan apa? Dan tas siapa itu?" Mama Utami menunjuk tas wanita yang ada di sofa ruangan kerja Dirga. " Dirga jangan kamu bilang kamu mengajak wanita berkencan dan melakukan perbuatan mesum di kantor ini." Tuduh Mama Utami merasa curiga karena saat dia memasuki ruang kerja anaknya, sama sekali tak ditemui Dirga di sana tapi dia mendapati tas wanita dan pintu kamar istirahat terkunci.
Dirga mengelus tengkuknya seraya menyeringai.
" Memangnya kenapa, Ma? Memangnya dulu Mama sama papa tidak pernah melakukannya di kantor?"
Mama Utami terkesiap mendengar perkataan putranya. " J-jadi kamu benar-benar melakukan hal itu?!" Mama Utami segera menerobos masuk ke kamar Dirga. " Siapa wanita itu dan mana orangnya?" Mama Dirga langsung berjalan ke arah toilet karena dia mendengar suara gemericik air dari dalam toilet kamar istirahat Dirga.
" Buka pintunya!! Keluar, cepat keluar!!" Mama Utami menggedor kencang pintu toilet itu.
" Ma, apa yang Mama lakukan?" tanya Dirga melihat mamanya terlihat murka.
" Mama tidak suka kamu membawa wanita dan berbuat mesum di kantor ini! Astaga Dirga, kamu itu sudah menikah, kenapa kamu malah membawa wanita dan mengajaknya berzinah seperti ini, Nak?"
Dirga membulatkan matanya mendengar ucapan mamanya tadi.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Readers RTB ditunggu kehadiran kalian di novel aku Kisah Cinta Azzahra, aku lagi mengajukan kontrak untuk novel itu. Jadi minta dukungannya ya, masukin ke favorit dan jangan lupa dukungan dalam bentuk like dan komennya 1 like \= 1 poin, 1 komen \= 1 poin. Kalau kalian kasih like & komen artinya kalian udah menyumbang 2 poin ke karya tsb. Jadi tetap kasih dukungannya ke Othor. Karena masih ada novel² yang mau aku publish. Kalau kalian ingin aku tetap bertahan di platform ini jangan sungkan² beri dukungannya ya, Makasih🙏🙏
Happy Reading