
Kirania merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Jam sepuluh kurang dia sampai di rumahnya setelah hangout bersama teman kantornya.
Keputusannya ikut bergabung bersama teman-temannya tadi malah membawanya kembali harus mengingat kisah cintanya bersama Dirga, pria yang sampai detik ini sulit disingkirkan dari ingatannya. Pria yang sampai saat ini masih terus mengisi relung hatinya. Pria yang sampai saat ini masih selalu dirindukannya.
***
Kirania sedikit bergegas memasuki lift saat dia mendapat pesan dari bosnya untuk segera kembali ke kantor karena ada tamu dari Jakarta.
" Mbak, San ...."
" Rania, kamu sudah ditunggu sama Bu Rose di dalam." Santi, sekretaris dari Bu Rose memberitahukan ketika melihat Kirania berlari kecil mendekati ruang ibu bosnya.
" Tamunya sudah datang, Mbak?" Kirania mengikuti langkah kaki Santi yang melangkah menuju ruangan Bu Rose.
" Sudah sekitar sepuluh menit lalu." Santi mengetuk pintu sebelum akhirnya membuka knop pintu ruang Bu Rose. " Permisi, Bu. Rania sudah datang," ucap Santi kepada Bu Rose.
" Suruh masuk saja, San." Bu Rose menjawab.
" Baik, Bu ..." Santi kemudian mempersilahkan Kirania untuk masuk ke dalam ruang kerja Bu Rose.
" Makasih, Mbak San ..." Bisik Kirania sebelum akhirnya dia memasuki ruang kerja Bu Rose.
" Permisi, Bu." Kirania menyapa atasannya, tapi matanya tertuju pada seorang pria yang duduk dengan posisi membelakanginya.
" Kemarilah." Bu Rose menyuruhnya duduk di dekatnya. Kirania pun mengikuti arahan yang diberikan Bu Rose. " Ran, perkenalkan ini klien yang akan memborong unit perumahan di wilayah barat yang rencananya akan kita pasarkan awal tahun depan."
Kirania langsung menoleh kepada orang yang dimaksud oleh Bu Rose.
" Pak Dirgantara, ini karyawan terbaik yang saya ceritakan tadi."
Deg
Bersamaan dengan Kirania menoleh ke arah klien itu, Bu Rose menyebutkan nama seseorang yang pernah sangat berarti di hatinya.
Dirga
Kirania dibuat membeku. Matanya terbelalak, jantungnya serasa terlepas dari posisinya, saat mendapati pria yang sudah enam tahun ini tak pernah ditemuinya. Sedangkan pria itu terlihat duduk santai dengan berpangku kaki melemparkan senyum ke arah Kirania, tak sedikit pun ekspresi kaget nampak di wajahnya.
" Pak Dirga ini tertarik untuk memborong semua unit perumahan untuk karyawannya, Ran."
Kirania masih tercenung, debaran jantungnya kini berdetak sangat kencang dan tak beraturan. Dadanya serasa bergemuruh saat itu juga. Hingga dia tidak fokus mendengar apa yang diucapkan Bu Rose.
" Pak Dirga ingin melihat langsung unit perumahannya. Karena Pak Harun sedang cuti, kamu bisa menemani Pak Dirga ke sana, kan?"
__ADS_1
Kirania masih menatap Dirga tanpa berkedip. Apakah ini nyata? Apa penglihatannya ini tidak salah? Pria yang selama ini dirindukannya kini berada di hadapannya. Tapi kenapa pria itu nampak biasa saja, seolah tak mengenalnya. Apa luka yang dia toreh pada Dirga, membuat pria itu melupakannya? Membuat pria itu seolah tak mengenalnya.
" Ran, kamu kenapa?" Kirania masih tak merespon Bu Rose, dia seolah asyik dengan lamunannya.
" Kirania, kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Bu Rose kembali saat melihat Kirania hanya termenung. Dia mencoba menyadarkan Kirania.
" Ah, eh ... hmmm ... iya, Bu. Gimana?" Kirania mulai menguasai kesadarannya.
" Kamu sakit, Ran?" tanya Bu Rose yang mendapati Kirania tidak konsen dengan pekerjaannya. Karena selama ini karyawannya itu termasuk karyawan yang cepat tanggap atas apa yang diperintahkannya.
" Iya, eh ... hmmm ... tidak, Bu." Gugup yang kini Kirania rasakan. Dan semua ini karena kehadiran Dirga di hadapannya.
Bu Rose mengeryitkan keningnya melihat keanehan yang dia rasakan atas sikap Kirania.
" Pak Dirga ingin melihat unit yang dia minati, apa kamu bisa mengantar beliau ke sana?" Bu Rose seketika nampak ragu.
Kirania bingung harus menjawab apa. Di satu sisi hati kecilnya merasa senang bisa kembali berjumpa dengan mantan kekasihnya itu. Tapi di sisi lain logikanya bekerja, kembali berjumpa dan berurusan dengan pria itu bukanlah hal yang baik untuk hatinya. Setidaknya selama ini dia selalu berusaha melupakan pria itu, walaupun nyatanya tak pernah berhasil dia lakukan.
" Hmmm, kalau Pak Dirga ingin mensurvei properti di sana, nanti saya suruh Arnan atau Hendra yang akan mengantar." Kirania memilih menghindari karena dia melihat Dirga sendiri seolah tak mengenalinya.
" Bagaimana jika Anda saja yang mengantar saya?"
Deg
" Iya Ran. Sebaiknya kamu saja yang menemani Pak Dirga ke sana."
Kirania menelan salivanya. Dia benar-benar tak punya alasan untuk menolak permintaan Dirga dan bosnya itu.
" B-baiklah, saya akan antar Pak Dirga ke sana." Akhirnya mau tak mau Kirania yang menemani Dirga ke lokasi yang dituju.
Kirania, Dirga dan supir dari Dirga yang mengantar mereka. Sebenarnya dia ingin memakai mobil sendiri tapi Dirga melarangnya. Sepanjang perjalanan Kirania hanya terdiam sambil membuang pandangan ke arah luar jendela. Sementara Dirga terlihat sibuk dengan ponsel di tangannya.
Ddrrtt ddrrtt
Terdengar suara ponsel bergetar, dan itu bukan berasal dari ponselnya.
" Hallo, sayang ... "
Deg
Hati Kirania seketika mencelos saat mendengar Dirga menyapa orang yang meneleponnya.
" Iya, aku masih di luar kota. Mesti melihat property yang akan perusahaan beli. Tentu saja aku juga kangen sama kamu, sayang. Sabar sayang, sore ini juga aku akan kembali. Iya ... I love you too, honey ..."
__ADS_1
Kirania memejamkan matanya seraya menelan salivanya. Kata-kata yang meluncur dari mulut Dirga bagaikan anak panah yang berhamburan menancap hatinya. Kirania mendesah, dia mesti menyadari posisinya saat ini. Semua itu buntut dari keputusannya dulu melepas pria itu. Dan sepertinya kehidupan pria itu terlihat sangat bahagia. Entah dengan siapa wanita yang beruntung mendampingi pria itu? Apakah mantan tunangannya dulu, atau ada wanita lain yang berhasil membuat pria itu jatuh hati.
" Bagaimana kabar dosenmu itu? Apa kalian sudah menikah sekarang ini?"
Kirania tersentak, saat Dirga melontarkan pertanyaan yang membuat matanya langsung terbelalak.
" Kamu tahu, sekarang ini aku sudah mempunyai kehidupan yang sangat bahagia. Aku mendapatkan seorang wanita yang aku cintai dan mencintai aku, Dikarunia dua orang anak yang lucu. Apa kehidupan kamu dengan dosenmu itu sebahagia aku?"
Kalimat-kalimat yang diucapkan Dirga kembali serasa mencabik-cabik hatinya. " Aku ... saya tidak tahu, saya tidak punya hubungan apa-apa dengan Pak Reyhan," lirih Kirania.
Seringai tipis terukir di sudut bibir Dirga. " Benarkah? Dia mencampakkan kamu? Setelah kamu lebih memilih dia dan memutuskan aku, ternyata kalian tidak bersama? Sangat menyedihkan." Dirga melontarkan kata-kata berbau sindiran.
" Kamu memilih melepas cintaku yang begitu besar kepadamu, tapi pada akhirnya akulah yang sekarang memiliki kehidupan bahagia. Sedangkan kamu sendiri, kamu masih terbelenggu dengan perasaanmu dulu. Kamu terperangkap pada kisah masa lalu sehingga kamu tak bisa bangkit untuk mendapatkan cinta yang baru. Sangat menyedihkan, sungguh menyedihkan sekali hidupmu Kirania. Apa kamu menyesal telah melepasku dulu?" cibir Dirga kembali.
Kirania menghela nafas dalam-dalam. " Saya tidak menyesali dengan keputusan yang saya ambil."
" Benarkah? Bukankah sampai saat ini kamu masih belum bisa melupakanku? Bukankah sampai detik ini kamu masih belum bisa menghilangkan rasa cinta kamu ke aku? Bukankah selama ini kamu merasa tersiksa dengan rasa rindu yang telah kamu pendam bertahun-tahun ini? Bukankah kamu masih susah move on dari aku?"
Kirania menggelengkan kepalanya, Serbuan pertanyaan yang lebih berupa tudingan yang memang sesuai kenyataan membuat hatinya bergejolak.
" Nggak, itu semua nggak benar!" elak Kirania mengingkari.
" Bohong! Kamu pembohong Rania. Seperti kamu membohongi hatimu dengan mengatakan tidak mencintaiku. Kamu pembohong, Rania! Kamu pembohong!" pekik Dirga begitu memekakkan telinganya.
" Hentikan! Hentikan!! Aku mohon hentikan!" teriak Kirania yang merasa terpojok dengan perkataan-perkataan Dirga. " Hentikan!!"
" Ran, Rania ... bangun, Ran. Istighfar ... kamu mimpi buruk?" Sebuah tepukan di pipi Kirania dan suara Mama Saras seketika membuat Kirania tersadar dari mimpinya.
" Astaghfirullahal adzim ..." Kirania langsung bangkit dan beristighfar.
" Ini minum dulu." Mama Saras menyodorkan air mineral. " Kalau mau tidur jangan lupa berdoa dulu, Ran." Mama Saras menasehati.
" Iya, Mah ..." lirih Kirania
" Kamu mimpi apa? Apa ada yang sedang mengganggu pikiran kamu?" tanya Mama Saras.
Kirania memandang mamanya. " Nggak ada, Ma. Mungkin kebetulan saja dapat mimpi buruk, Ma." Kirania berbohong, dia tidak ingin mamanya tahu apa yang sedang ada di pikirannya.
" Ya sudah, kamu istirahat saja kalau begitu. Jangan lupa baca doa." Mama Saras lalu beranjak meninggalkan Kirania.
Kirania lalu menghela kembali nafas dalam-dalam mengingat kembali mimpinya tadi. Mimpi yang mempertemukannya dengan mantan kekasihnya. Apakah itu karena dia terlalu merindukan Dirga hingga mimpi itu muncul di tidurnya malam ini.
Bersambung...
__ADS_1
Happy Reading,❤️