
" Nadia?" seru Dirga saat dia mendapati mantan istrinya itu sedang berdiri di dekat pintu.
" Sejak kapan kamu di sini?" Dirga langsung mematikan loudspeak pada ponselnya tanpa mematikan sambungan teleponnya dan menaruh di saku dalam blazernya.
" Ada apa kamu kemari, Nadia?" Tak seperti sebelum-sebelumnya, nada bicara Dirga terdengar lebih lembut di telinga Nadia. " Masuklah, ada apa?" tanya Dirga saat dilihatnya wanita itu masih terpaku di dekat pintu.
" Ada apa, Nadia?" Dirga berjalan mendekati Nadia hingga kini akhirnya wanita itu terkesiap lalu dia melangkah ke arah sofa.
" A-aku, aku ingin minta ijin dari kamu."
" Ijin? Ijin apa?" tanya Dirga mengerutkan keningnya.
" Aku akan membawa Kayla ke Milan. Aku memutuskan akan kembali ke sana." Ada nada kecewa yang terdengar dari ucapan Nadia.
" Kembali ke Milan? Apa kau yakin?"
" Tak ada lagi yang membuat aku bertahan di sini," lirih Nadia.
" Kamu sudah bicarakan ini dengan mamaku?" Dirga yakin mamanya tak akan mudah melepas Kayla pergi jauh darinya begitu saja.
" Aku sudah mendapatkan ijin dari mamamu."
" Bagaimana dengan Edo? Belakangan ini kalian selalu bersama dan nampak dekat. Tadinya aku pikir kalian akan menjalin hubungan yang serius."
Nadia menggelengkan kepalanya. " Kau dengar sendiri tadi 'kan? Dia tidak menyukaiku." Kini Nadia menundukkan wajahnya, sementara matanya sudah berkaca-kaca.
" Apa kau menyukai Edo?" selidik Dirga.
Nadia mengangkat kembali wajahnya dan kini menampakan senyum getir di sudut bibirnya. " Tak pentinglah membahas hal itu. Aku tidak akan lama," ujarnya seraya berdiri.
" Akhir pekan ini aku dan Rania akan menikah."
" Selamat untuk kalian. Maaf aku tak bisa datang di acara kalian."
" Tak apa, aku mengerti."
" Aku pamit kalau begitu." Nadia kemudian melangkah ke arah pintu.
" Nadia ..." Langkah Nadia terhenti saat Dirga memanggil namanya hingga membuat wanita itu menoleh ke arah Dirga.
" Jika kau menyukai Edo, perjuangkanlah. Jangan lepas kebahagianmu begitu saja. Aku yakin sebenarnya Edo pun menyukaimu, tapi dia terlalu gengsi mengakuinya." Dirga menyemangati wanita yang selama empat tahun lebih menjadi istrinya itu.
Nadia tersenyum samar lalu kembali melangkah keluar ruangan Dirga tanpa sepatah kata pun yang terucap.
Selepas Nadia pergi Dirga kembali mengambil ponselnya yang ternyata panggilan telepon dengan Edward masih berlangsung.
" Kau dengar tadi, Do?" Dirga terkekeh.
" Sialan, kau!"
***
Kirania memandangi ponselnya selepas acara pengajian yang diadakan di rumahnya. Sejak Dirga kembali ke Jakarta, pria itu sama sekali tak menghubunginya, padahal besok adalah hari yang mereka rencanakan akan menikah. Bahkan saat dihubungi pun panggilannya tidak pernah diangkat oleh Dirga.
" Kenapa, Ran?" tanya Mama Saras yang melihat anaknya itu gelisah.
__ADS_1
" Kak Dirga kok nggak ada kabarnya ya, Ma? Sejak pulang 2 hari lalu nggak pernah hubungi aku lagi." Kirania menampakkan kecemasannya.
" Mungkin dia sibuk urus pekerjaannya, kemarin-kemarin 'kan dia nggak fokus sama pekerjaannya gara-gara mencari kamu. Jangan berburuk sangka terlebih dahulu." Mama Saras mencoba menenangkan Kirania.
" Iya sih, Ma. Tapi akad 'kan besok pagi. Sementara dia nggak bisa dihubungi sama sekali. Kalau besok dia nggak datang gimana coba?"
" Jangan berpikiran seperti itu, nggak baik. Sudah sana temui saudara-saudaramu di depan." Mama Saras menyuruh Kirania bergabung dengan beberapa saudara dari luar kota yang sengaja datang untuk menghadiri akad nikah Kirania.
Ddrrtt ddrrtt
Ponsel Mama Saras berbunyi saat Kirania sudah menuju ruang tamu. Mama Saras langsung melangkah menuju kamarnya saat melihat nama Dirga yang muncul di layar ponselnya.
" Assalamualaikum ..." sapa Mama Saras.
" Waalaikumsalam, Ma. Rania gimana kabar, Ma?"
" Kamu ini senang sekali mengusili Rania. Dia cemas sekali karena kamu nggak menghubungi dia."
" Hehe ... biar dia ngerasain kangen, Ma. Habisnya Dirga diusir-usir waktu kemarin itu temui dia." Dirga terkekeh.
" Kamu sudah di Cirebon sekarang?"
" Sudah, Ma. Aku dan mamaku sudah ada di hotel."
" Syukurlah kalau begitu."
" Tapi jangan bilang-bilang Rania dulu ya, Ma."
" Ya sudah, untuk baju besok pagi-pagi saja di antar ke hotel tempat kamu menginap ya?"
" Iya, Ma. Makasih ya, Ma. Aku benar-benar nggak sabar menunggu hari esok. Semoga semua berjalan lancar."
" Oh ya, Ma. Assalamualaikum ..."
" Waalaikumsalam."
***
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tapi Kirania belum juga terlelap, rasa cemas karena tak mendengar kabar dari Dirga membuatnya gelisah. Apa yang terjadi dengan pria itu? Apa pria itu baik-baik saja? Apa pria itu akan datang besok pagi? Pertanyaan itu terus saja berkecamuk di benaknya jelang halal pagi ini.
Dia mengambil ponselnya, beberapa pesan yang dikirimnya tak juga dibaca oleh Dirga. Kirania mencoba kembali mengirimkan pesan kepada Dirga.
" Kak, kamu baik-baik saja, kan? Aku cemas kamu nggak kasih kabar beberapa hari ini."
Sepuluh menit berselang tetap tak ada jawaban dari Dirga, membuat air mata langsung menetes di pipi Kirania. Hingga akhirnya dia terlelap setelah lama terisak dalam kegelisahan.
" Ran, bangun. Sudah jam empat, ayo sebentar lagi Shubuh, sholat dulu terus siap-siap dirias." Mama Saras membangunkan Kirania.
Kirania menggeliat seraya mengerjapkan matanya yang terasa berat.
" Mata kamu sembab gini, kamu habis nangis?" tanya Mama Saras saat mendapati mata Kirania yang sembab.
" Rania belum dapat kabar dari Kak Dirga, Ma." Kirania mengeluh.
" Mama 'kan sudah bilang, kamu jangan berburuk sangka, dia sudah ada di Cirebon kok."
__ADS_1
Kirania langsung bangkit. " Kak Dirga hubungi Mama? Kok dia nggak kasih tahu aku sih?" Kirania langsung meraih ponselnya. Dia melihat satu pesan masuk dan itu ternyata Dirga lah yang mengirim pesan kepadanya.
" Assalamualaikum calon istriku, aku sudah di Cirebon, pagi ini semoga acara berjalan lancar. Aku benar-benar tak sabar untuk menghalalkanmu. Dirga❤️ Kirania."
Kirania langsung terisak membaca pesan dari Dirga, pesan itu dikirim jam dua dini hari tadi.
" Lho, kok malah nangis?" Mama Saras terheran karena Kirania malah menangis saat membaca pesan di ponselnya.
" Ma ..." Kirania langsung memeluk Mama Saras.
" Kenapa? Apa ada yang membuat kamu sedih?" Mama Saras membelai kepala Kirania.
Kirania menggelengkan kepalanya. " Aku bahagia, Ma."
Mama Saras tersenyum mendengar jawaban Kirania. " Ya sudah siap-siap untuk sholat Shubuh, setelah itu kompres matamu, biar sembab di matamu hilang. Hari ini kamu akan menikah, jangan sampai orang mengira yang tidak-tidak melihat matamu seperti itu."
" Iya, Ma."
***
Kirania menatap dirinya di cermin yang sudah dirias dan kini sudah mengenakan kebaya putih.
" Cantik sekali Mbak nya ini," puji perias yang mendandani Kirania.
" Ini 'kan karena saya dirias, Mbak." Kirania merendah.
" Tapi aslinya memang sudah cantik kok Mbaknya." Perias itu jujur mengatakan yang sebenarnya membuat Kirania tersipu.
" Kalau acara resepsi, pakai saya lagi ya Mbak buat riasnya," pinta Mbak perias.
" Kalau resepsi kemungkinan di Jakarta, Mbak. Calon suamiku 'kan orang sana, relasi bisnisnya juga banyak di sana. Jadi kemungkinan besar di sana." Kirania menyahuti.
" Calonnya kerja di mana, Mbak?"
" Hmmm, di perusahaan properti, Mbak."
" Ow, pasti gajinya gede ya, Mbak."
" Nggak tahu, Mbak. Aku nggak pernah tanya-tanya." Kirania tersenyum.
" Kalau dilihat dari penampilannya kemarin pas coba baju sepertinya orang kaya ya, Mbak. Apalagi mobil yang dipakai itu mobil mahal, lho. Beruntung banget Mbak ini, Mas nya sudah ganteng tajir juga."
Kirania kembali tersenyum, mungkin perias itu benar, betapa beruntungnya dia mendapatkan cinta dari seorang Dirgantara. Bukan karena status ekonomi Dirga yang seorang bos besar atau anak dari seorang pengusaha kaya raya, tapi karena cinta pria itu yang begitu besar kepadanya.
" Mbak, sudah selesai? Kak Dirga sudah datang."
Deg
Jantung Kirania berdebar kencang saat mendengar perkataan Karina dari luar kamarnya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️