
Kirania mengerjapkan matanya, saat terdengar suara kencang orang memukul badan mobil Dirga. Dia juga melihat beberapa orang di luar mobil terlihat penuh amarah.
" Kenapa ini, Kak? Ada apa? Kenapa orang-orang itu marah dan kenapa mereka memukul mobil?" Kirania dilanda kepanikan.
" Buka ...!! Woi, buka pintunya ...!!" Suara teriakan orang dari luar memaksa Dirga membuka pintu mobilnya.
" Apa yang sedang kalian lakukan di dalam?"
" Kalian mau berbuat mesum, ya?"
" Keluar! Ayo keluar...!"
Tiga orang berbicara dengan nada setengah berteriak.
" Ayo cepat keluar!" Salah seorang dari pria itu menarik lengan Dirga memaksa agar Dirga segera keluar dari mobil.
" Kak, aku takut." Kirania menahan lengan Dirga, tapi tubuh Dirga lebih dulu tertarik keluar.
" Kalian mau berbuat mesum, kan?" tanya pria pertama.
" Tidak, Pak. Kami tidak berbuat mesum." Dirga menyangkal dengan cepat.
" Bohong, kami tadi melihat kalian berciuman di dalam." Pria kedua ikut bicara.
Dirga menelan salivanya mendengar ucapan kedua, karena memang dia sempat menyentuh bibir Kirania.
" Kami tidak berbuat mesum, Pak. Bapak-bapak ini salah paham." Dirga berusaha bersikap senormal mungkin menghadapi beberapa orang yang memergokinya di dalam mobil.
" Kalau tidak berbuat mesum, lantas sedang apa kalian berhenti di tempat gelap begini? Pria ketiga ikut mengintrogasi.
" Saya, tadi kepala saya mendadak kliyengan Pak, jadi saya berhenti sejenak, karena kalau saya lanjut mengendarai takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." Dirga memberikan alasan yang paling masuk akal.
" Kalian habis mabuk?" tuding Pria ke empat yang tiba-tiba muncul sambil merekam kejadian di depannya dengan kamera ponselnya.
" Tidak. Kami tidak mabuk." Dirga dengan tegas menyangkal. " Pak tolong jauhkan HP nya!" Dirga terusik dengan kelakuan salah seorang pria yang mengarahkan kamera HP ke arahnya.
" Kenapa? Takut perbuatan mesum kalian viral?" sindir pria ke empat ke kemudian.
" Yang cewek suruh keluar, woi ...!" Pria pertama kemudian berjalan ke arah pintu mobil sebelah kiri, dan membuka pintu mobil secara paksa.
" Keluar ...!" Pria pertama itu menarik tangan Kirania yang sedang ketakutan.
" Aawww ... lepaskan!!" Kirania seketika terisak mendapat perlakuan kasar pria pertama.
Tubuh Kirania ditarik hingga mendekat ke arah Dirga.
" Kak, aku takut, hiks ..." Kirania melingkarkan tangannya di lengan Dirga, dia berlindung di balik tubuh tegap Dirga.
" It's oke, kamu tenang saja," tangan Dirga menepuk tangan Kirania yang membelit lengannya.
" Kalian sedang apa, sedang berbuat mesum 'kan di dalam?"
" Pak, saya sudah bilang kalau kami tidak berbuat mesum, kami baru pulang nonton tadi."
Para pria itu tergelak mendengar ucapan Dirga.
" Mana ada nonton pakai baju tidur begini, alasan saja dia." Pria ketiga berkomentar.
" Kita bawa ke mana, pasangan mesum ini?"
" Bawa kantor polisi saja."
" Diarak saja depan warga sini."
__ADS_1
" Iya benar, diarak saja, telanjangi sekalian, biar mereka kapok."
Percakapan empat orang itu membuat Kirania ketakutan.
" Ya sudah, kita arak saja." Pria pertama kembali menarik tangan Kirania kemudian memaksa Kirania melepas jaket Dirga yang masih membalut tubuhnya.
" Aawww ... jangan! Lepaskan ...!" Kirania meronta saat pria itu memaksa menanggalkan jaket. " Kak Dirga, tolooonnngg ...!" Kirania berteriak.
" Tolong lepaskan dia! Kalian jangan kasar terhadap wanita," geram Dirga yang sudah terlihat emosi melihat perlakuan pria yang menarik Kirania.
" Kak Dirga tolong, aku takut hiks ..." Kirania semakin terisak karena jaket Dirga yang dipakainya kini telah terlepas dari tubuhnya.
Dirga hendak menyerang pria yang berlaku kasar pada Kirania, tapi pria lain langsung menghantamkan sebuah pukulan ke perut Dirga, hingga membuat Dirga sempoyongan.
" Mau ngapain kamu? Itu pantas diterima oleh penzinah macam kalian." Pria satu lagi memukul tubuh Dirga yang belum siap menerima pukulan.
Kirania yang melihat Dirga diserang tiga orang sekaligus langsung histeris. Bayangan buruk langsung melintas di pikirannya. Walaupun dilihatnya Dirga melakukan perlawanan tapi menghadapi tiga orang sekaligus membuat pria itu kewalahan.
Di saat Dirga susah payah melawan tiga orang yang menyerangnya, tiba-tiba seorang pengendara motor melintas dan menghentikan laju motornya karena melihat perkelahian itu.
Seorang pemuda berusia dua puluh tahun langsung memarkirkan motornya. Dia tidak paham masalah apa yang terjadi, tapi yang dia tahu ada seorang gadis yang ketakutan karena pakaiannya sedang ditarik-tarik seorang pria.
Dengan cepat pemuda itu menyerang pria yang berlaku kasar pada Kirania. Hanya dengan dua pukulan, pria itu langsung sempoyongan dan terduduk di tanah.
" Mbak, mbak nggak apa-apa?" tanya pemuda itu kepada Kirania. Kirania tidak menjawab pertanyaan pemuda itu. Dia hanya menangis sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Melihat Kirania sudah aman, pemuda itu langsung membantu Dirga menghadapi tiga orang pria. Dan tak membutuhkan waktu lama akhirnya ketiga pria itu tumbang seketika.
" Terima kasih." Dengan tersengal-sengal dan menahan sakit di bagian perutnya Dirga mengucapkan terima kasih kepada pemuda yang menolongnya.
" Sama-sama, Bang." Pemuda itu menyahuti. Tapi tak lama pemuda itu mengeryitkan keningnya. " Ini Bang Dirgantara bukan, ya?" tanya pemuda itu mengenali sosok Dirga.
Dirga kemudian menoleh ke pemuda yang menyebut namanya.
" Iya, Bang. Kita pernah ketemu di kampus Bang Dirga, waktu ada acara lomba karya ilmiah antar mahasiswa setengah tahun lalu. Saya Yoga, Bang. Prayoga Atmajaya."
" Prayoga?" Dirga memicingkan matanya. " Oh iya, saya ingat. Kamu yang menang dapat juara pertama, kan?"
" Iya, Bang."
" Makasih banyak ya, Ga. Lu sudah bantuin gue." Dirga kemudian melihat Kirania yang masih menangis ketakutan.
" Kamu tenang, ya. Semua sudah berakhir, kita baik-baik saja." Dirga langsung memeluk tubuh Kirania yang menggigil antara rasa takut, syok dan kedinginan.
" Sebenarnya apa yang terjadi, Bang? Mereka itu siapa?" tanya Yoga penasaran.
" Mereka hanya salah paham, Ga." Dirga tentu saja malu menceritakan yang sebenarnya.
" Ya sudah, sebaiknya Bang Dirga antar pacar Abang ini. Kasihan dia terlihat syok ketakutan," saran Yoga.
" Iya, sekali lagi gue ucapin makasih, Ga."
" Sama-sama, Bang. Hati-hati."
Akhirnya Dirga pun membawa Kirania kembali ke mobil dan menjalankan mobilnya ke arah rumah Pakde Kirania, sedangkan Yoga sendiri kembali ke rumah kontrakannya.
***
Saat mobil Dirga berhenti di depan gang rumah Pakde Danang, Kirania langsung bergegas turun dan berlari tanpa menunggu Dirga yang memarkirkan mobilnya.
" Bude, Pakde ..." Kirania mengetuk pintu rumah yang terkunci dengan tangis yang belum juga surut. Tak lama pintu rumah pun terbuka.
" Rania?" Pakde Danang terkejut melihat Rania yang terlihat kacau. Kirania sendiri langsung berlari masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
" Rania kenapa, Pak?" tanya Bude Arum yang melihat Kirania berlari masuk ke kamarnya dengan terisak.
" Assalamualaikum, Pakde ... Bude." Dirga yang sudah sampai ke depan rumah langsung menyapa Pakde dan Bude Kirania.
" Waalaikumsalam ...."
" Apa yang terjadi, Nak Dirga? Kenapa Rania menangis?" Bude Arum langsung menyambut Dirga dengan pertanyaan.
Dirga hanya bisa tertunduk. Dia bingung harus menjelaskan seperti apa, karena kejadian ini memang karena kesalahannya. Kalau saja tadi dia tidak berhenti karena tergoda untuk menyentuh Kirania pasti kejadian ini tak akan terjadi. Dan jika dia harus menceritakan kejadian yang sesungguhnya, dia sudah menduga reaksi apa yang akan dia dapat dari Pakde dan Bude Kirania.
" Bu, masuk ..." Pakde Danang memerintahkan istrinya untuk pergi. " Biar Bapak yang bicara sama Nak Dirga."
" Baik, Pak." Bude Arum kemudian masuk ke ruangan dalam.
" Duduk!" Singkat kalimat yang diucapkan Pakde Danang tapi terdengar sangat dingin di telinga Dirga.
" Ceritakan apa yang terjadi pada Kirania?" Pakde Danang bisa melihat beberapa lebam di wajah Dirga.
" Saya ..." Dirga seolah tak punya keberanian untuk berkata-kata.
" Katakan yang sejujurnya, dan jangan ada yang ditutupi."
Dirga tertunduk, kalimat yang diucapkan Pakde Danang terdengar penuh intimidasi.
" Kami tadi dihadang orang di jalan, Pakde. Mereka ... mereka menuduh kami hendak berbuat mesum." Dirga menelan salivanya. Berkata bohong pun rasanya percuma karena pasti Pakde Danang akan mencocokkan ceritanya dengan cerita Kirania.
Pakde Danang mendengus kasar. " Ceritakan, apa yang kalian lakukan hingga orang-orang itu menuduh kalian berbuat mesum?"
Dirga semakin menunduk, dia sungguh tidak berani mengatakan apa-apa lagi.
" Sa-saya ..." suara Dirga tiba-tiba tercekat hingga tidak bisa meneruskan kalimatnya.
" Pakde mengijinkan kamu membawa Kirania pergi karena Pakde menghormati kamu sebagai anak dari atasan Pakde di perusahan Pakde bekerja. Tapi jika hal itu kamu anggap kamu bisa berbuat seenaknya terhadap Kirania, mulai hari ini, tolong jauhi keponakan Pakde!" tandas Pakde Danang tegas.
Dirga langsung mendongakkan kepalanya mendengar keputusan Pakde Danang.
" Ta-tapi, Pakde ...."
" Pulanglah, sudah larut malam, tidak enak dilihat para tetangga."
Dirga menghela nafas yang terasa berat dihirupnya.
" Baikah Pakde, saya minta maaf ... sampaikan maaf saya ke Bude juga ke Kirania. Saya permisi, Assalamu'alaikum ..." Dirga meraih punggung tangan Pakde Danang dan menciumnya.
" Waalaikumsalam ...."
Dirga pun meninggalkan rumah Kirania dengan langkah gontai. Sesekali waktu dia menoleh ke arah rumah Pakde Kirania yang lampunya semakin meredup tanda penghuninya ingin segera mengistirahatkan diri.
*
*
*
Yang belum kenal Yoga, silahkan liat di Novel aku satunya " Mengejar Suami Impian"
Aku selipin Akang Ojol kesayangan emak² di sini ya, ini kan kisahnya masih enam tahun lalu, jadi Yoga masih umur dua puluh tahun, masih berondong seger, masih fresh pikirannya, belum ketemu Natasha alias belum encum pikirannya😂😂😂
Bersambung ..
Happy Reading😘
__ADS_1